krisnamurti

Tuesday, January 14, 2003

Signifikansi Pelajaran PPKn

Kala pelajaran PPKn berlangsung, umumnya, suasana kelas lesu, tidak bersemangat. Pasalnya, PPKn, selama ini, dianggap sebagai pelajaran yang mboseni, tidak menarik, dan bahkan, tidak relevan lagi. Ngerinya lagi, ada tanggapan bahwa PPKn dihapuskan saja.
Padahal, sebenarnya, pelajaran PPKn itu memiliki peran penting yang tidak tergantikan oleh pelajaran lain. Hebatnya lagi, tidak semua negara memberlakukan pelajaran semacam PPKn. Benarkah PPKn memiliki posisi yang signifikan?

Penunjang Demokratisasi
Pada hakekatnya, PPKn adalah pelajaran penunjang demokratisasi. Dalam PPKn didapatkan pelajaran politik seorang warga negara. Dengan adanya PPKn tata cara, nuansa, dan nilai-nilai positif demokrasi Pancasila dibina semenjak Warga Negara Indonesia (WNI) masih berusia dini. Ia akan mengetahui hak-haknya, kewajiban-kewajiban, dan larangan-larangannya sebagai WNI. Diharapkan kelak, saat ia dewasa nanti, ia akan memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai demokrasi di Indonesia dan mampu berperan secara positif demi kemajuan dan pembangunan bangsa.
Jadi intinya, keberadaan PPKn menunjang usaha-usaha demokratisasi. Tanpa keberadaan PPKn bisa-bisa generasi depan tidak memiliki pengetahuan dan wawasan demokrasi yang memadai.

Refleksi Pancasila
Pancasila adalah falsafah, dasar, sekaligus norma umum kehidupan bangsa Indonesia. Melihat itu, diperlukan sosialisasi Pancasila. PPKn adalah wadah yang tepat dalam usaha sosialisasi Pancasila. Dalam kerangka sosialisasi ini, hakekatnya, PPKn tidak hanya semata memberi materi tentang Pancasila, tapi yang terpenting, PPKn memberikan refleksi Pancasila.
Ingat, bung Hatta pernah berkata: “... maka, Pancasila itu perlu dipahami sejarah pembentukannya. Dengan mengetahui itu, akan terasa makna dan tujuannya.” Refleksi Pancasila yang disumbangkan melalui PPKn akan memaknai Pancasila sehingga Pancasila bukan semata-mata menjadi pajangan, melainkan menjadi bagian dari hidup setiap WNI.

Metode Baru
Jadi, sekarang, semuanya sudah jelas, PPKn memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Karenanya tidak sepantasnya PPKn dianggap tidak relevan dan bahkan, dihapuskan. Respon negatif semacam itu muncul karena metode penyampaian pelajaran PPKn tidak tepat dan tidak mengena di kalangan anak didik.
Yang perlu dibenahi adalah metode penyampaian pelajaran PPKn. Pembelajaran PPKn harus bersifat aktual, fleksibel, dinamis, kontekstual, dan lebih mengutamakan metode dialog dan diskusi daripada ceramah. Aktual berarti nyata dan masih hangat dalam kehidupan sehari-hari, bukan suatu pengandaian. Bersifat fleksibel, maksudnya tidak terlalu tegang, terpancang pada satu metode dan satu sumber buku. Dinamis, artinya sesuai dengan perkembangan jaman. Bersifat kontekstual, berarti sesesuai dengan konteks lingkungan dan sistem sosial yang berlaku.
Jangan sampai pelajaran PPKn berkutat pada hapalan semata. Jika hanya hapalan, artinya pelajaran PPKn selama ini masih dangkal dan belum menyentuh dua fungsi utama di atas. Pelajaran PPKn harus mencapai dasar-dasar yang bersifat reflektif.
Sekaligus dalam kerangka kurikulum berbasis kompetensi, siswa juga perlu diberdayakan. Jangan sampai model ceramah yang membosankan mendominasi metode pembelajaran PPKn. Baiknya, model yang digunakan adalah model yang membuat siswa aktif. Siswa harus mencari dan menemukan sendiri nilai-nilai demokrasi Indonesia dan hakekat Pancasila. Metode yang dipakai bisa dalam bentuk presentasi kelompok, diskusi atau dengan metode yang lebih menarik seperti metode debat.
Sumber yang digunakan juga jangan berkutat pada sumber buku paket dari pemerintah. Itu akan menyebabkan kebosanan. Akan lebih baik jika digunakan sumber-sumber lain selain buku paket yang aktual dan menarik.

Pandangan negatif pelajaran PPKn di mata siswa harus dihapuskan. Pada dasarnya, PPKn dapat menjadi pelajaran yang menyenangkan. Hanya saja, untuk itu diperlukan metode pendekatan pembelajaran yang tepat.
Dari pihak siswa juga diharapkan ada respon positif akan metode baru yang ditawarkan. Sikap negative thinking terhadap PPKn harus dihindari. Sebaliknya, harus disadari peran penting PPKn dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Kampus hijauku yang indah nan permai,
Mertoyudan, 5 Desember 2002

1 Comments:

At 5:19 PM, Blogger ghkj said...

I would gold für wow cultivate courage.buy wow gold “Nothing is so mild wow gold cheap and gentle as courage, nothing so cruel and pitiless as cowardice,” syas a wise author. We too often borrow trouble, and anticipate that may never appear.”wow gold kaufen The fear of ill exceeds the ill we fear.” Dangers will arise in any career, but presence of mind will often conquer the worst of them. Be prepared for any fate, and there is no harm to be freared. If I were a boy again, I would look on the cheerful side. life is very much like a mirror:sell wow gold if you smile upon it,maple mesos I smiles back upon you; but if you frown and look doubtful on it,cheap maplestory mesos you will get a similar look in return. Inner sunshine warms not only the heart of the owner,world of warcraft power leveling but of all that come in contact with it. “ who shuts love out ,in turn shall be shut out from love.” If I were a boy again, I would school myself to say no more often.billig wow gold I might cheap mesos write pages maple meso on the importance of learning very early in life to gain that point where a young boy can stand erect, and decline doing an unworthy act because it is unworthy.wow powerleveling If I were a boy again, I would demand of myself more courtesy towards my companions and friends,wow leveling and indeed towards strangers as well.Maple Story Account The smallest courtesies along the rough roads of life are wow powerleveln like the little birds that sing to us all winter long, and make that season of ice and snow more endurable. Finally,maple story powerleveling instead of trying hard to be happy

 

Post a Comment

<< Home