krisnamurti

Thursday, November 13, 2003

Biarkan Aku Bebas

Sebuah Volvo melintas pasti, menampilkan keangkuhan dihadapan orang-orang malang yang berdesak-desakan dalam kesumpekan bus umum. Di dalamnya, seorang anak kecil menatap keluar dengan mata penuh harap. Dari balik jendela, ia menatap sekelompok anak seusianya bermain bola.

Mobil mewah itu memang telah menyekat segala suara dari luar. Namun, tidak ada yang dapat menyekat imajinasinya. Dengan jelas ia dapat mengilustrasikan suasana ramai di lapangan sana.

“Gooool....” Doni berlari dan berjingkrak-jingkrak bak Ronaldo yang berhasil menjebol pertahanan Oliver Khan.
Riuh anak-anak lain menyambutnya. Lalu, anak-anak lain menggotongnya sebagaimana seorang pahlawan yang pulang perang dengan membawa kemenangan
“Don..”
“Doni Setyawan”
“Hah?” Lamunannya terputus begitu nama lengkapnya disebut. Mama selalu menyebut nama lengkapnya saat ia serius.
“Doni, kamu kok ngelamun terus sih?” Mama menegurnya. Tapi, Doni diam saja. Ia ingin mengungkapkan perasaannya tapi pengalaman kemarahan mama sudah keburu menguburkan niatnya.

“Kamu sakit? Kalau kamu merasa nggak enak badan, nanti pulang sekolah, sebelum privat, kita pergi ke tempatnya dokter Erwin.” Mamanya berusaha menjamah kening anak semata wayangnya tanpa kehilangan kontrol Volvo yang harganya selangit itu. “Ini hari Senin lho, kamu punya waktu berharga selama enam hari ke depan untuk menimba ilmu. Kalo sakit, bisa rugi! Nanti Mama belikan multivitamin untuk menambah staminamu!”

“Doni Setyawan! Jawab Mama dong, kok kamu begitu sih!” Nada suara Mama mulai meninggi.
“Ah Mama, Doni nggak ‘pa-apa kok!”
“Bener?”
“Swear !” Kata Doni seraya memasukkan suasana hening di antara mereka berdua.
Doni menatap keluar, gejolak jiwa mudanya mengombang-ambingkan dirinya hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada mamanya.
“Mama.”
“Apa sayang?”
“Doni mau omong, tapi mama jangan marah yah!”
“Ya, pasti nggak dong, sayang. Kenapa sih?”
“Ee.. Doni males privat, Ma!”

“Ya ampun, Doni, dulu mama kan pernah omong sama Doni. Kok, masalah ini diungkit-ungkit lagi sih? Kalo itu sih nggak boleh! Mama-Papa udah kerja keras, banting tulang, supaya kamu bisa sekolah dan lebih lagi, bisa privat ini-itu.”
“Tapi, ma...”

“Nanti dulu, mama belum selesai. Kamu harus ikut privat supaya kamu nanti bisa jadi anak yang cerdas. Kamu nggak tau, dulu mama sekolah aja harus nyambi kerja. Papa juga. Sekarang kamu tinggal konsentrasi belajar aja, masak nggak bisa mengerti. Mama-papa mengikutkan kamu privat ini-itu kan supaya kamu bisa jadi anak yang cerdas, hebat; supaya kamu nanti bisa jadi arsitek. Katanya kamu mau jadi arsitek. Ya, kan?”
“Iya sih...”

“Nah, arsitek itu harus pinter matematika dan IPA. Selain itu juga harus bisa bahasa Inggris dan bahasa Perancis, jadi nanti kamu bisa nerusin ke Havard atau ke University of Paris. Mana ada arsitek yang goblok. Makanya, mama sudah susah-susah nyariin guru privat yang jago. Tuh, buktinya, kamu selalu ranking satu di kelas kan? Mama nggak mau nanti kamu jadi gelandangan. Tiap hari kerjanya cuman korek-korek di tempat sampah. Lusuh, bau, dan jorok. Iiih..., Mama sih nggak mau anak mama jadi seperti itu. Doni ngerti kan?”

Doni hanya mengangguk sepi. Ia tahu benar bahwa mamanya sulit untuk dibantah lagi. Dari pada mendengarkan amarah mamanya, ia memilih hening hingga Volvo itu mencapai sekolahnya, sekolah bergengsi yang membuat orang-orang pun merinding mendengar nama sekolah itu disebut.

***
“Don, kamu mau ikutan drama buat HUT sekolah?” Seorang gadis sebayanya menegurnya.
“Hah? Eh.. Santi, apa katamu?”
“Aduh, kamu ini, pagi-pagi udah bengong. Bahaya tahu!”
“Sorry, aku lagi nggak feeling well nih”
“How come?” Di sekolahnya, lingua franca yang digunakan memang bahasa Inggris.
“Masalahnya ribet deh! You pasti BT ! Tadi kamu tanya apa?”
“Bulan depan kan ada HUT sekolah. Trus, mau diadakan drama... Nah, kamu mau ikut nggak?”

“Wah, mau dong” Untuk pertama kalinya Doni menampakkan wajah ceria di hari ini.
“Kalau gitu, nanti siang, pulang sekolah, latihan yah!”
“Nanti siang?”
“Iya, jam dua”
“Duh, San, kamu kan tau, tiap siang aku ada privat. Jadi aku nggak bisa dateng dong. Hmm.. misalnya latihannya diganti malem, bisa nggak?”
“Malem? Mana bisa, rumah kita kan berjauhan; paling pas itu siang, pulang sekolah.”
“Ya, udah deh, aku nggak jadi ikut.”
“Don, kamu itu kebanyakan privat sih!” Santi mengakhiri pembicaraan dengan kalimat yang sebenarnya selaras dengan perasaan Doni. Tapi, ia tidak tahu bagaimana cara meyakinkan mamanya.

***
Sepulang sekolah, seperti biasanya, mamanya menjemputnya.
“Hallo, anakku sayang! Gimana sekolahnya”
Doni hanya diam. Ia sudah keburu malas berbicara dengan mamanya.
“Kok kamu masih diam saja sih!”
“Ma, Doni itu...”
“Aha... mama tahu. Pasti Doni males ikut privat. Ya, kan?”
Doni cemberut dan menyilangkan tangannya di dadanya, begitu mamanya berkata seperti itu. Tebakan mamanya memang benar sekali.

“Doni sayang, seharusnya kamu merasa beruntung.” Mama berkata dengan lembut. “Bayangkan, kamu disekolahkan di sekolah yang baik. Segala kebutuhanmu dipenuhi. Kemana-mana dianterin. Kamu diberi guru privat yang bermutu. Jarang ada anak yang seberuntung kamu, bisa mendapat banyak sekali ilmu. Lalu kurang apa lagi?”
“Doni, mau main bareng teman-teman! Doni nggak pernah bisa main bareng teman-teman. Doni nggak mau main di dalam rumah terus. Doni ingin main bola bareng tetangga Doni. Doni ingin main layangan di lapangan. Doni ingin bebas bermain.”
“Doni! Kamu nggak tahu, semua itu bahaya. Bisa-bisa kamu terluka. Doni masih kecil, belum tahu apa-apa. Mama-papa sayang sama Doni, jadi mama memutuskan seperti itu. Semuanya demi kebaikan Doni.”

Lagi-lagi Doni memilih mendapatkan keheningan interior Volvo itu ketimbang mendengarkan omelan mamanya.
Volvo itu berhenti di depan sebuah rumah -atau mungkin tepat disebut istana- lalu, meneriakkan klakson. Seorang tua tergopoh-gopoh mendorong gerbang besi yang tingginya dua kali lipat dirinya.

“Ma, Doni ingin bebas main di luar!”
“Eh, kamu ini nakal banget sih! Mama nggak mau tahu lagi, pokoknya Doni harus privat!”
Doni langsung menghambur keluar dari mobil, menuju kamarnya.
“Doni... itu, ibu Chaterine sudah datang!” Yang terdengar hanyalah suara bantingan pintu kamar Doni.
“Doni... Doni...” Berkali-kali Mama memanggil Doni, tapi Doni tidak menjawab.
Mama memutuskan membiarkan Doni mengurung dirinya di dalam kamar. Ia merasa bahwa anaknya itu butuh ketenangan beberapa saat. Dengan terpaksa, ia membatalkan privat siang itu.
Hingga malam, tak ada tanda-tanda apapun tentang Doni dari dalam kamarnya. Berkali-kali mama mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada jawaban. Akhirnya, saat papa pulang, mereka memutuskan untuk mendobrak pintu kamarnya. Mereka khawatir ada apa-apa dengan anak mereka. Namun, setelah pintu didobrak, di dalam, tidak ada siapapun. Yang ada hanyalah kamar kosong. Pintu menuju balkon belakang rumah terbuka, angin malam itu melambai-lambaikan tirai yang seharusnya menutupinya. Tampaknya dari balkon Doni memanjat pohon dan keluar melalui pintu belakang.

Mengetahui bahwa putra semata wayang mereka kabur dari rumah, kedua pasangan muda itu panik. Merekapun segera memanggil Polisi. Polisi pun panik. Pasalnya, klien mereka kali ini adalah orang yang punya nama dan berduit. Hingga tiga hari selanjutnya, tidak ada kabar sedikit pun tentang Doni. Mama tidak henti-hentinya menangis dari hari ke hari. Papa rela cuti selama beberapa hari dan menemani Polisi mencari anaknya.

Pada hari keempat, seorang tua yang lusuh datang dan meminta bertemu dengan orang tua Doni.
“Nyonya, ada tamu.” Mbok Iyah memberitahu majikannya.
“Siapa?” Mama Doni menjawab dengan ketus. Emosinya belum mereda karena kehilangan putranya.
“Ndak tahu, Nyonya. Tapi, katanya ia tahu di mana Doni.”
Mendengar itu, dengan penuh antusiasme, kedua pasangan yang sudah merindukan anak semata wayangnya itu menemui orang tua lusuh itu.
“Doni ada di rumah saya.” Kata orang tua itu singkat.
“Apa, kamu menculik anak saya?” Mama Doni sudah berang.
“Bukan, Bu. Anak Anda sendiri yang datang ke rumah saya!”
“Kembalikan anakku! Kalau tidak, aku akan panggil Polisi!”
“Ma, sabar dong!” Papa Doni menenangkan istrinya. “Pak tua, tolong, antarkan kami kepada anak kami. Kami sudah rindu kepadanya!”

Dengan Volvo, ketiganya segera pergi menuju tempat yang ditunjukkan bapak tua itu. Mereka berhenti di pinggir jalan yang berdekatan dengan sebuah lapangan bola. Dari kejauhan mereka dapat melihat segerombolan anak bermain sepak bola.
“Goool.....” seorang anak, yang tidak lain adalah Doni, berlari-lari kegirangan di tengah lapangan itu karena baru saja mencetak gol. Anak-anak lain mengerumuninya dan membopongnya bak seorang pahlawan.

Mama Doni langsung tergerak untuk mendapatkan anaknya, tapi bapak tua itu menghalanginya.
“Eh, apa-apaan sih, kamu itu nggak punya hak menghalangi saya!”
“Nyonya, lihatlah anak Anda. Ia bergembira!”
“Saya tahu!”
“Justru itulah!”
“Apa maksud bapak?” Papa Doni bertanya.
“Selama ini, Doni merasa terkekang. Anda terlalu banyak memberikannya beban.”
“Bapak nggak usah turut campur urusan pendidikan anak kami!” Mama membentak.
“Mama, dengarkan dulu dong!” Papa membela bapak tua itu.

Bapak itu, sepertinya, tidak terpengaruh. “Tiga hari lalu, ia datang ke lapangan ini dan langsung ikutan bermain bola. Ketika hari sudah magrib dan anak-anak lainnya pulang, ia hanya celingak-celinguk di sana. Saya menghampirinya dan menawarinya tempat tinggal. Ia menceritakan banyak tentang keinginannya untuk bebas bermain bola di situ, tentang keinginannya bermain layang-layang, tentang keinginannya ikut drama sekolah. Matanya begitu berbinar-binar, memperlihatkan semangat mudanya yang begitu berapi-api. Tapi, wajah ceria itu seketika lenyap ketika ia menceritakan bahwa semuanya itu tidak pernah ia dapatkan, diganti oleh tangisan yang membuat hati tuaku ini terenyuh.”

Mendengar semuanya itu, kedua pasangan muda itu hanya bisa diam. Kemudian, mereka itu menatap ke arah lapangan, ke arah anak semata wayang mereka yang sedang dibopong oleh teman-teman barunya.

Mereka menatap semuanya itu dari kejauhan dengan tatapan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan karena melihat anaknya begitu gembira. Belum pernah mereka melihat Doni segembira itu. Bahkan lebih gembira daripada saat mereka membelikannya sepeda baru. Wajah kegembiraan Doni kali ini adalah wajah kegembiraan sejati, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Mama Doni meneteskan air matanya. Kali ini adalah air mata kebahagiaan. Dalam hatinya ia berjanji, tidak akan mengekang Doni lagi dengan berbagai beban akademis dan akan memberikan kesempatan bagi Doni untuk bisa mewujudkan keinginan-keinginannya itu tadi.

Mertoyudan, 23 Oktober 2002

0 Comments:

Post a Comment

<< Home