krisnamurti

Wednesday, November 19, 2003

Di Balik Mayat

Mentari masih setia hari itu. Ia datang menggantikan tugas jaga hari. Pendar tubuhnya menghangatkan jiwa, memberikan makanan kehidupan bagi yang menerimanya. Kehadirannya membawa suasana biru ceria yang menghampar luas hingga terbelah oleh seutas benang cakrawala. Dengan lugas, ia bermain-main dengan awan-awan di sekelilingnya seperti gembala bermain-main dengan domba-dombanya.

Dibawahnya terhampar bongkahan raksasa pegunungan abu-abu yang kokoh curam. Ujung-ujung jarinya menjulang tinggi, hendak meraih langit. Abu-abu itu ditemani oleh warna-warna hijau segar pepohonan yang memenuhi kaki-kaki pegunungan itu.
Di salah satu sudut alam itu, terdapat ngarai yang dalam nan terjal. Tak ada satu pun manusia yang pernah memasukinya. Bagi manusia, ngarai itu terlalu misterius; masuk ke sana pasti akan dianggap mati sebab tidak ada jalan keluar lain kecuali dinding-dinding terjal yang tegak lurus.

Yang ada di sana hanyalah sepi. Setidaknya, itulah yang diketahui manusia. Tetapi, memang betul, suara yang ada hanyalah deru bisikan angin yang bermain-main di antara pepohonan dan bebatuan, atau derak ranting dan desah dedaunan yang menandai kesediaan mereka untuk turut serta dalam permainan atau paduan suara burung-burung yang menyanyikan lagu kehidupan.

Sebenarnya, ada yang lebih dari itu semua. Hanya mereka yang memiliki nurani seputih salju saja yang mempu mengetahuinya. Bagi mereka yang memilikinya, mereka akan mendengar senda gurau penuh kegembiraan, cekikikan lugu, serta gelak tawa riang suara-suara sopran yang pasti akan memikat setiap perjaka di muka bumi ini. Merekalah peri-peri hutan. Mereka bermain-main seharian, menghibur pepohonan dan hewan-hewan yang sedih pilu karena kekejaman manusia, menemani Dewa Bumi yang pusing akan dominasi manusia yang semakin sombong dan munafik. Mereka juga kerap menyanyikan lagu-lagu gembira bernada harapan akan suatu kehidupan Bumi yang lebih baik.

Seharusnya, semenjak pagi hari, mereka telah meramaikan alam ini. Tapi, ternyata, pagi itu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Tidak ada gelak tawa dan senda gurau yang menghibur pada pagi itu. Tidak ada paduan suara merdu. Yang jelas, bukan karena Dewa Bumi memerintahkan langit untuk berduka. Bukan pula karena dewa Bumi menggeram dan meronta marah, menggetarkan dirinya. Langit pagi ini adalah langit yang cerah, tidak mendung seperti hari-hari lalu. Namun, suara-suara sopran itu tak terdengar.
Ternyata, pagi itu, mereka menemukan sesosok mayat manusia, manusia muda laki-laki, tepatnya. Kulitnya masih putih, serasih dengan rambutnya yang keemasan. Wajahnya melankolis sehingga semakin mendukung suasana kelam hati para peri yang mengerumuninya. Kelopak matanya tertutup, bibirnya yang merah turut mengatup, dan tubuhnya tergeletak diatas batu. Tangan kanannya mengepal, seperti menggenggam sesuatu. Dari belakang kepalanya, mengalir cairan merah tua yang sudah hampir kering. Sekumpulan peri berdiri mengerumuni mayat pemuda laki-laki itu.
“Ini kan manusia!” Seorang peri akhirnya memecah keheningan.

“Ya. Tepatnya, manusia yang mati.”

“Kasihan sekali dia ini.”

“Dia terlalu muda untuk mati.”

“Tapi, lebih-lebih, wajahnya… aku tidak tega memandang wajahnya.”

“Kasihan.”

“Kenapa ia bisa ada di sini, yah?”

“Entah.”

“Ah, aku tahu. Dia adalah peziarah” kata seorang peri dengan semangat, “pemuda dengan suatu harapan besar bahwa keinginannya tercapai. Maka, ia pergi ke puncak Aturis dan bernazar dengan Dewa Bumi. Hmm... kemudian, keinginannya tercapai berkat Dewa Bumi. Namun, ia tidak memenuhi nazarnya. Lalu, Dewa Bumi pun marah dan membuat rohnya menghantarkan dirinya terjun ke ngarai ini.”

“Huss... jangan berpikiran seburuk itu! Dewa Bumi tidak pernah bertindak sekejam itu! Bisa-bisa kamu kena marah nanti.”

“Tapi manusia ini kan telah mengingkari nazarnya. Ia memang pantas dihukum!”

“Ingat, bahkan, walaupun manusia-manusia itu mengkhianatinya, Dewa Bumi selalu sabar.”

“Betul juga. Lalu, siapa dong?”

“Kalau menurutku, dia adalah pemuda dengan semangat petualang” Seorang peri mengusulkan. “Pemuda malang yang memaksakan dirinya berpetualang ke ngarai ini. Ia hendak menginjakkan kakinya pada tanah ngarai ini yang belum pernah terjamah oleh seorang manusia pun. Namun ia belum siap... tapi ia tetap memaksakan dirinya! Sebenarnya, ia belum mampu menghadapi tebing terjal dan hawa beku ngarai Alturis ini!”

“Mungkin saja... manusia itu ‘kan sukanya memaksakan kehendaknya, apalagi, di usia muda seperti dia... di mana ambisinya masih meluap-luap”

“Ah, kurasa tidak. Wajahnya terlalu melankolis. Tidak mungkin ia bersifat seperti itu. Dia bukan tipe manusia ambisius.”

“Betul juga... kalau begitu, mungkin dia adalah seorang pecinta. Ia adalah seorang pemuda romantis nan sensitif. Kekasihnya direbut oleh orang lain berkat kuasa otoritas adat. Sebagai seorang pemuda biasa... ia kalah. Ia yang begitu terluka perasaannya merasa diperlakukan tidak adil... putus asa” kata peri lain mengusulkan.
“Ya... betul, pemuda yang sensitif. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dalam belantara ngarai Alturis yang sepi... sesepi jiwanya.”

“Ah, romantis sekali.”

“Sayangnya, tragis.”

“Ya, hanya gara-gara adat.”

“Yah, itulah manusia.”

“Bisa seperti itu memang. Tapi, menurutku, bisa jadi dia adalah pencuri.”

“Pencuri?”

“Ya, manusia itu suka menganggap dirinya Dewa.”

“Maksudmu?”

“Yaa... menganggap dirinya Dewa Bumi, penguasa Bumi ini. Karena ia berpikir bahwa ialah yang berkuasa di atas Bumi ini, ia seenaknya, mengambil.. eh, maksudku mencuri apa saja yang ada di alam Bumi ini. Lalu, Dewa Bumi yang merasa kecurian itu menjadi marah. Jadi, setelah ia melakukan perbuatan mencurinya itu, Dewa Bumi mencelakainya hingga ia masuk dalam ngarai ini.” Peri lain mengusulkan.

“Gila benar, masak Dewa Bumi sekejam itu.”

“Iya, kamu ini bagaimana. Dewa Bumi mana pernah berbuat seperti itu.”

“Ya, aku jadi sangsi dengan perkataanmu itu. Apalagi melihat wajahnya.”

“Wajahnya?”

“Ya, wajahnya. Lihat, wajahnya bukanlah wajah pencuri!”

“Masak? Yang benar saja? Semua manusia itu memiliki jiwa pencuri. Kita semua ‘kan tahu mengenai hal itu.”

Beberapa peri memperhatikan dengan seksama mayat manusia itu.

“Benar juga, tidak untuk yang satu ini.” Yang lain turut mengangguk. “Pencuri itu memiliki wajah yang khas. Manusia ini tidak berwajah seperti itu.

“Berarti, dia bukanlah seorang pencuri.”

“Tepat. Dia termasuk segelintir manusia yang tidak berjiwa pencuri.”

“Lalu, dia ini siapa?”

“Hei, aku tahu.” Seorang peri mengusulkan. “Kurasa, dia adalah pejuang... manusia yang hendak melawan tiran yang membelenggu dirinya dan bangsanya dalam suatu penderitaan yang berkepanjangan.”

“Lalu?”

“Yah... Tiran itu terlalu kuat. Ia memiliki banyak senjata dan prajurit. Sementara itu, ia hanya sendirian. Makanya, dengan mudah ia dapat diringkus, dilumpuhkan, dan dibunuh.”

“Wah, Hebat yah! Sungguh berani. Aku baru tahu ada manusia yang seperti itu.”

“Memang ada manusia yang berani, walaupun cuman sedikit.”

“Tapi, kalau kejadiannya seperti yang kamu ceritakan, itu sih namanya bodoh!”

“Mungkin ia sudah tidak tahan lagi hidup dalam belenggu penderitaan. Mana ada manusia yang setia dengan penderitaan. Ia pasti akan melawan.”

“Ya... mungkin baginya lebih baik mati sebagai orang bebas daripada hidup sebagai tawanan ketidakadilan.”

“Kalau begitu, kasihan yah, manusia itu.”

“Kasihan?”

“Ya... kasihan. Mereka itu maunya bebas. Tapi, mereka sendiri saling menindas dan berperang. Bukankah itu sebuah ironi.”

“Itulah buah ambisi busuk manusia.”

“Jadi, intinya, mayat ini korban kekejian manusia lain.”
“Bisa jadi.”

“Tapi, kurasa tidak. Lihatlah! Tubuhnya tidak terdapat banyak luka-luka. Hanya ada luka di kepala.”

“Betul juga.. biasanya, hasil siksaan manusia itu amat mengerikan. Apalagi, kalau kurban tiran atau kurban perang. Ihh, mengerikan.”

“Jadi, ia ini siapa?”

“Entahlah.”

“Bagaimana kalau kita memeriksa kantong-kantongnya.”

“Menggeledahnya?”

“Ya. Kita langsung menggeledahnya saja. Kita ‘kan tidak terikat oleh peraturan dan hukum seperti manusia. Manusia butuh peraturan karena dirinya memang sulit diatur. Beda dengan kita.”

“Betul. Lagian, ini demi kebaikannya juga; supaya setidaknya, arwahnya dapat kembali kepada Sang Khalik tanpa prasangka buruk dari kita.”

Peri-peri lainnya mengangguk tanda setuju. Salah satu dari mereka merogoh kantung di bajunya. Ia menemukan secarik surat yang sudah agak kusam. “Ah, lihatlah! Sebuah surat.”

“Bacakan! Bacakan!” Peri-peri lain memintanya dengan bersemangat. “Ya, bacakanlah!”
“Baiklah, aku akan membacakannya.” Kemudian, peri itu membacakan surat itu. Peri-peri lain mengambil posisi santainya masing-masing, persis seperti anak kecil hendak dibacakan cerita dongeng.

“Kakanda yang terkasih, cinta sejatiku, aku begitu merindukanmu. Jiwaku terasa kering, terbakar oleh kesepian, tercambuk oleh kerinduan. Hidupku terasa sepi. Tatkala aku pergi melewati Taman Kala, aku selalu terisak karena ingatanku menyubuhi aku kenangan-kenangan indah bersamamu semenjak kita kecil dahulu. Aku begitu merindukan mengalami lagi masa-masa indah bersamamu. Kau yang kini tidak ada lagi di sisiku.

Aku ingat benar kata demi kata yang kau katakan padaku di saat kau akan pergi, sebagaimana aku memimpikannya setiap malam, sebagai suatu mimpi yang pilu. ’Aku mencintaimu, Adinda. Tapi aku harus memenuhi panggilan hidupku. Aku takkan meninggalkanmu. Jiwaku akan selalu besertamu dan jiwaku akan selalu bersertamu. Aku hanya akan pergi sebentar karena hidup ini memang terlalu singkat. Percayalah kelak, kita akan bertemu lagi dalam kehidupan yang abadi, bukan kehidupan yang dipenuhi kemunafikan dan kesombongan ini. Relakanlah aku pergi, menyelami kemurnian Sang Khalik di dalam jiwa-jiwa yang miskin dan lemah, di antara keluguan alam.’ Kata-katamu itu sungguh manis tapi juga pahit. Pahit karena semenjak itulah kita terpisah oleh jarak ribuan mil. Manis karena walaupun terpisah, kau menyatakan cinta kita tetap abadi.

O, Belahan Jiwaku, walaupun dirundung oleh kerinduan dan kesepian, aku bangga padamu. Aku bangga pada keputusanmu. Kau memang pantas bagiNya. Karenanya, Kakanda, berjuanglah terus. Temukan dan raih tujuan hidupmu. Jangan sekali-kali kau menengok ke belakang. Jangan kau sekali-kali mendengarkan pilu cengeng gadis bodoh ini. Teruskan usaha muliamu ini!

Kakanda tercinta, ada satu hal yang perlu Dinda utarakan. Kerinduan mendalam dalam jiwaku ini akan kehadiranmu semakin disesakkan oleh kekhawatiran akan keselamatan jiwamu. Aku telah mendapat kabar dari Odin, saudagar kaya yang kau temui di Nexus bahwasanya kau hendak mencari tanaman obat demi melawan wabah penyakit disana yaitu, bunga Amor yang hanya ada di sekitar ngarai di pegunungan Alturis. Cinta suciku, aku tidak akan menghalang-halangi usaha luhurmu itu. Hanya saja, sebagai gadis yang hatinya telah tertambat dalam hatimu, aku mengingatkanmu supaya kau berhati-hati oleh terjalnya tebing-tebing Alturis dan awan-awan kelam yang mencurahkan hujan sehingga membasahinya dan membuat jadi licin.

Kakanda yang amat kucinta, demi keberhasilanmu, aku berdoa senantiasa kepada Sang Khalik. Di sela-sela kerinduan dan kekhawatiran ini, aku percaya bahwa kau akan berhasil karena Sang Khalik yang Maha-ilahi besertamu.
Cinta abadimu, Auriel.”

Seketika, keheningan merebak di antara mereka. Para peri memandang mayat manusia laki-laki itu. Kini, wajahnya menunjukkan kedamaian yang memancarkan belaian lembut, menjamah hati mereka. Surat itu ditempatkan kembali di kantong mayat laki-laki itu. Lalu, peri-peri itu berdiri dan bergandengan.

“Cinta manusia...” kata salah satu dari mereka seraya meneteskan air keharuan.
Tangan kanan mayat laki-laki yang tadinya mengepal itu, lalu, merekah, membiarkan bunga-bunga Amor diterbangkan oleh sang angin. Lepas dari kehangatan telapak tangannya, menyatu kembali dengan keteduhan alam.

Mertoyudan, 29 Oktober 2002

0 Comments:

Post a Comment

<< Home