krisnamurti

Tuesday, July 13, 2004

Internalisasi Vs. Homogenitas Budaya Pop

Kalau Anda sudi sejenak berhenti dari kesibukan dan kebisingan dunia ini, baik kalau kita bersama menjadi nabi kecil-kecilan, mengamati tendensi suatu spesies yang menamai dirinya homo sapiens. Di kota-kota yang kini mulai banyak ditumbuhi oleh mal-mal -bak jamur di musim hujan-, Anda dapat melihat remaja-remaja hedonis berseliweran dengan potongan rambut lurus ala F4, dengan busana tank top atau junkies. Atau, di sekolah-sekolah lanjutan dan kampus-kampus, Anda dapat melihat hampir setiap siswa atau mahasiswa membawa handphone. Sekilas, tampaknya wajar melihat itu semua. Iklim masyarakat sekarang memang sudah jauh berbeda. Namun, bila gejala-gejala ini ditelaah dan dilihat (baca: diobservasi) dengan lebih lanjut, ada tendensi di mana manusia mulai jatuh ke dalam homogenitas budaya pop. Selanjutnya, manusia-manusia yang seharusnya menjadi homo significans malahan jatuh ke dalam pendangkalan.

Artikel ini hanyalah hendak merenungi tendensi manusia pasca-modernisasi ini. Bagaimana keadaan manusia-manusia sekarang dan bagaimana seharusnya.

Homogenitas Budaya Pop: Buah Globalisasi
People change! Mungkin itu adalah ungkapan yang paling tepat utuk memulai bagian ini. Betul, manusia dengan segala budaya hasil akal budinya itu memang terus berkembang, semakin mengkokohkan kedudukannya di muka bumi ini. Tak ada satu God’s creature lain yang mampu menyaingi kebudayaan manusia itu.

Kali ini, manusia beralih menuju suatu rentang waktu yang kontradiksional dengan fase-fase sebelumnya. Disebut kontradiksional karena memang, fase yang satu ini berbeda jauh dengan fase-fase sebelumnya. Kita menyebutnya dengan globalisasi.
Di satu sisi, manusia memang terus berkembang menuju ke arah yang lebih baik, baik dari segi fisik maupun non-fisik. Sistem politik, kekuasaan, dan hukum semakin disempurnakan. Bahkan, demokratisasi dan transparansi begitu disanjung-sanjung dan menjadi bahan demonstrasi. Teknologi bidang komunikasi dan transportasi mengatasi batas-batas wilayah; membuat Bumi terasa sempit. Ilmu hayat dan kedokteran semakin meningkatkan tingkat kesejahteraan manusia.

Namun, juga tidak boleh dilupakan bahwa tidak ada gading yang tak retak. Hasil perkembangan manusia ini pun bersifat ambivalen. Salah satu pengaruh negatif yang dibawa globalisasi adalah homogenitas budaya pop. Perdagangan bebas, kemajuan teknologi, dsb hasil globalisasi telah membentuk suatu budaya baru yang di dalamnya manusia-manusia terjebak dalam arus budaya pop.

Hidup yang Semakin Mendangkal
Ilustrasi di awal permenungan tadi hanyalah secuil gambaran yang membuktikan eksistensi tendensi itu dalam diri manusia-manusia sekarang, termasuk manusia-manusia Indonesia. Masih ada jutaan contoh homogenitas budaya pop yang melanda dunia di era globalisasi ini. Dulu, orang yang hidupnya berkecukupan merasa cukup rumahnya hanya dihiasi oleh radio. Namun, sekarang, bahkan rumah-rumah tipe 36 (baca: RSS) pun wajib memiliki televisi. Terutama di kalangan remaja (baca: generasi penerus bangsa), yang marak adalah bacaan-bacaan novel-novel ringan dan bahkan, komik. Bacaan-bacaan dengan analisis yang mendalam dan novel-novel tebal nan bermutu hanya menjadi minoritas dalam urutan prioritas mereka. Buku-buku semacam itu, umumnya, hanya tersentuh jika terpaksa, misalnya saat menjadi tugas akademis. Begitu pula dengan musik. Musik-musik klasik yang rumit masih menjadi barang yang asing. Bahkan, penghayatan musik malah jatuh dalam pragmatisme. Musik-musik Mozart yang dipercaya mengandung Mozart effect dinikmati dan dihayati bukan karena keindahannya, melainkan hanya karena ingin lebih cerdas. Bahasa Jawa juga mengalami nasib yang sama. Jarang masyarakat Jawa yang masih menguasai kromo inggil.

Anda dapat mengelak bahwa semua gejala itu adalah bentuk adaptasi demi mengikuti perkembangan zaman. Tapi, itu adalah rasionalisasi. Sebenarnya, kenyataan tendensi manusia-manusia sekarang ini bukan sekedar masalah mengikuti perkembangan zaman melainkan, ini adalah masalah gengsi dan penghayatan hidup.

Bukti yang paling mengena, rasanya, adalah layar kaca segi empat yang telah menjadi narkoba bagi banyak manusia (baca: televisi). Ketika Anda menonton televisi Anda semakin menjadi manusia yang dangkal. Setiap hari Anda disuguhi puluhan program tayang yang berbeda, dan itu berlangsung terus-menerus setiap hari. Sebagian besar dari tayangan-tayangan itu hanyalah meninggalkan kesan-kesan dangkal yang tidak mendalam. Hanya beberapa yang mengena, selebihnya dilupakan. Tayangan mengenai bencana kekeringan, perang, kelaparan yang sedemikian banyak membuat hati kita menjadi semakin tidak peka. Tidak ada proses batin dan intelektual lebih lanjut. Penghayatan makna-makna luhur kehidupan ter-reduksi.

Dikatakan bahwa ini masalah gengsi karena kalau tidak turut menghanyutkan diri dalam budaya pop, kaum muda merasa dirinya tidak diakui. Kalau seorang siswa SMU apalagi mahasiswa tidak memiliki handphone seakan-akan ia adalah alien. Sebuah rumah tangga harus memiliki mesin cuci, cold-case (baca: kulkas), atau minimal sebuah televisi. Anak-anak merengek-rengek minta dibelikan play station. Manusia jatuh dalam konformitas buta; sikap meniru-niru yang semata-mata karena gengsi.

Manusia-manusia sekarang ini juga jatuh dalam pendangkalan makna hidup. Penghayatan akan hidup -akan makna hidup, tepatnya- menjadi dangkal. Kaum muda merasa keberadaannya tidak diakui jika tidak memiliki barang-barang duniawi semacam televisi, handphone, dsb. Dirinya hanyalah dihargai sebatas kepemilikan barang-barang itu. Tanpa memilikinya ia merasa dirinya mati.

Bila pendangkalan ini terus dipelihara dan dibudidayakan, makna dan penghargaan terhadap insan manusia semakin jatuh. Hasilnya adalah tidak adanya bentuk-bentuk penghargaan terhadap manusia sebagai insan, misalnya: perang, terorisme, pemboman, pembunuhan, pemerkosaan, tawuran, dan 1001 macam lainnya. Contoh-contoh itu sudah marak dalam kehidupan manusia sekarang. Ini pun dapat menjadi indikasi kehancuran sebuah kebudayaan.

Jalan Keluar: Internalisasi
Seperti yang telah diungkap secuil dalam pengantar, manusia, hakekatnya, adalah homo significans; manusia dicipta sebagai manusia pemberi makna. Kenyataan yang ada, manusia-manusia pasca-modern ini terjebak dalam pendangkalan hidup. Tendensi mereka mengarah kepada homogenitas budaya pop, bertolakbelakang 180 derajat. Maka, diperlukan usaha-usaha untuk menetralisir kecenderungan negatif ini tanpa menghilangkan unsur-unsur positif globalisasi.

Jurus paling ampuh dalam mengatasi gejala homogenitas budaya pop semacam itu adalah pengendapan; atau yang saya bahasakan dengan terminologi internalisasi. Mengapa internalisasi? Pasalnya, kalau homogenitas budaya pop itu mengarah pada pen-dangkal-an, solusi yang harus dilakukan adalah pen-dalam-an. Internalisasi merupakan suatu proses memaknai kembali -secara mendalam, tentunya- makna-makna hidup. Makna hidup yang tadinya dihargai secara dangkal, kali ini digali dan diselami.

Ada dua metode internalisasi yang ditawarkan, yaitu: budaya refleksi dan keheningan. Keduanya saling komplementer dan tidak dapat dipisahkan jika hendak melawan arus budaya pop. Refleksi membutuhkan suasana hening. Keheningan jiwa dapat tercapai saat berefleksi.

Secara etimologis, refleksi berasal dari verbum compositum bahasa latin re-flectere, artinya antara lain, memutar balik, memalingkan, mengembalikan, memantulkan, dan memikirkan. Kiranya, dua arti terakhir yang cocok untuk mendefinisikan refleksi dalam kerangka permenungan ini. Refleksi adalah usaha untuk melihat kembali sesuatu secara lebih mendalam dengan menggunakan pikiran dan afeksi hingga menemukan nilai yang mulia yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bekal hidup.

Homogenitas budaya pop di masa globalisasi menawarkan begitu banyak hal yang hanya berakhir sebagai kesan-kesan tanpa ada satupun yang dapat didalami. Dengan budaya refleksi, kesan-kesan itu dapat diendapkan. Secara satu-persatu, kejadian yang dialami selama satu hari itu dianalisis, dipertimbangkan (to consider), disimpulkan, dan akhirnya, diendapkan dalam nurani. Dalam proses berrefleksi manusia diajak untuk turut men-follow-up sekian banyak pengalaman itu dengan proses-proses batin dan intelektual yang lebih lanjut dan mendalam. Alhasil, sejelek apapun kejadian hari itu, tetap didapatkan suatu nilai yang dapat menjadi bekal hidup selanjutnya.
Peran refleksi dalam kerangka ini juga sebagai nabi. Secara harafiah, nabi adalah utusan Tuhan untuk memperingatkan dan membimbing umat-Nya. Refleksi yang berperan sebagai nabi ini akan menjadi fungsi kritis dalam diri kaum muda. Saat ia mengalami pendangkalan nilai-nilai hidup dalam bentuk pragmatisme, konformitas buta, dsb, refleksi berperan dalam mengolah masalah itu, menunjukkan kesalahannya, dan mengarahkan kepada yang benar.

Yang kedua, keheningan. Keheningan di zaman globalisasi juga menjadi problem tersendiri. Kecuali dalam keadaan tidak sadar (tidur, misalnya) kecenderungan manusia zaman ini, terutama kaum mudanya, tidak betah dalam suasana yang sunyi dan tenang. Minimal, harus terdapat suara, entah itu dari radio, televisi, atau teman ngobrol. Di sisi lain, lingkungan yang ada memang mengkondisikan minimnya tempat-tempat sunyi dan tenang. Keheningan sering dianggap menakutkan, menjadi phobia.
Memang, keheningan itu berhubungan erat dengan kesendirian. Dalam bahasa latin, terjemahan untuk keheningan adalah solitudo. Akar katanya solus, yang artinya sendiri. Tapi, kesendirian bukanlah suatu yang negatif dan pantas dijadikan phobia. Kalau kesendirian itu menjadi kesepian, barulah itu dihindari. Mengapa? Walaupun antara keduanya sama-sama memiliki unsur sendiri, keheningan dan kesepian itu adalah dua hal yang bertolak belakang. Keheningan bukan hanya milik rahib-rahib pertapa. Bahkan, keheningan bisa didapatkan ditengah-tengah kesibukan dan bisingnya kota. Bahkan dalam kesemerawutan bursa effek, seorang pialang dapat mencapai keheningan. Semuanya tinggal tergantung pada masing-masing pribadi. Bagaimana ia dapat menempatkan dan menyempatkan diri untuk dapat hening.

Sebenarnya keheningan memegang peranan yang penting dalam proses internalisasi. Keheningan adalah highway (baca: jalan bebas hambatan) menuju budaya refleksi. Proses pengendapan (baca: internalisasi) membutuhkan keheningan, seperti halnya pada gelas yang berisi keruh. Untuk mendapatkan air yang jernih, perlu terlebih dahulu, partikel-partikel kotoran yang tercampur dalam air itu mengendap. Modal dasar supaya partikel-partikel itu dapat mengendap adalah ketenangan. Biarkan gelas itu selama beberapa menit, partikel-partikel pengotor akan mengendap di bagian bawah gelas dan yang tersisa hanyalah air jernih. Bila gelas itu digoyang-goyang, tidak akan pernah didapatkan air jernih. Senada dengan itu, ditengah-tengah kekeruhan zaman globalisasi ini, perlu ada sikap hening sebagai pengantar refleksi menuju pengendapan makna-makna hidup. Bahkan, keheningan dapat membuat orang semakin efisien (hubungkan dengan analogi air keruh dalam gelas!).

Homogenitas budaya pop akan menawarkan sejuta kesan-kesan yang berseliweran di sekitar kehidupan manusia modern. Bila manusia-manusia itu malah menambah diri dengan kesibukan dan kebisingan lain, yang didapatkan hanyalah kehidupan yang tidak bermakna. Dalam mengatasi homogenitas budaya pop, perlu manusia-manusia zaman globalisasi ini bersikap hening, tenang, sunyi.

Akhir sebuah Awal
Di akhir permenungan ini, baik kalau kembali disadari bahwa manusia-manusia dunia sekarang ini telah mengarah pada pendangkalan makna-makna hidup dengan adanya homogenitas budaya pop. Dan, bila tendensi ini terus dipelihara -atau bahkan, malahan dibudidayakan-, kehidupan ini semakin tidak ada artinya. Maka, yang menjadi urgensi adalah usaha-usaha internalisasi.

Bagaimanapun juga, permenungan ini hanyalah semata menjadi pemercik api. Kelak, api harus berkobar dengan sendirinya. Tanpa tindak lanjut yang jelas, permenungan ini hanyalah menjadi seonggok ide yang membusuk. Jadi, semuanya kembali pada diri masing-masing: apakah selama ini saya telah terjebak dalam arus homogenitas budaya pop. Lalu, maukah saya berbenah dan mengusahakan usaha-usaha internalisasi. Kembali pada diri sendiri itu penting karena sebuah pepatah mengatakan jangan mengubah orang lain sebelum bisa mengubah diri sendiri. Selamat berefleksi dan menciptakan hening!

Mertoyudan, 30 Oktober 2002

0 Comments:

Post a Comment

<< Home