krisnamurti

Monday, November 22, 2004

Solidaritas: Pemenuhan Arti Natal
(Sebuah Permenungan Kecil tentang Makna Natal)
oleh: Antonius Krisna Murti

“Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangnya di Timur dan kami datang untuk menyembah dia.”
(Mat 2:2)

Demikianlah ketiga majus dari Timur masuk ke istana Herodes untuk mencari Sang Juruselamat yang telah hadir di Bumi untuk membesuk-Nya. Mendekati istana Herodes di Yerusalem, mereka kehilangan arah karena bintang itu tiba-tiba menghilang. Lalu, tampaklah di mata mereka istana megah Herodes. Tentu saja, mereka mengira Sang Juruselamat, raja orang Yahudi akan lahir dalam istana megah di Yerusalem. Untunglah mereka salah besar!
Begitu mereka keluar istana Herodes, bintang yang selama perjalanan selalu menjadi guide mereka muncul kembali. Sampai akhirnya, mereka menemukan Sang Juru Selamat, Raja Orang Yahudi tertidur pulas di atas palungan, di tengah-tengah seorang bapa dan ibu yang sederhana; lengkap dengan ternak-ternak plus baunya. Tiada tetua masyarakat, kepala suku, atau pun orang pemerintahan di sana. Yang ada hanyalah para gembala. Tiada iringan musik fanfare yang biasa dimainkan pada saat kelahiran seorang pangeran. Yang ada hanyalah desah angin malam serta nyanyian jangkrik.
Seluruh sketsa megah kelahiran Sang Juru Selamat ketiga majus itu runtuh seketika; tidak ada kemewahan, tidak ada kemegahan, tidak ada kenyamanan; tidak ada keamanan; tidak ada kehangatan; tidak ada kemeriahan. Namun, di sinilah mereka terharu dan terenyuh menyadari kerendahan Sang Juru Selamat, Raja Orang Yahudi, apalagi dibandingkan dengan kesombongan, kemunafikan, dan niat busuk yang mereka dapatkan di istana Herodes.
Di bulan Desember, selepas saudara-saudara kita Muslim merayakan Lebaran, giliran musik-musik Natal bertebaran di mana-mana, apalagi di pusat-pusat perbelanjaan yang sudah memasang dekorasi khas Natal: pohon Cemara, mistletoe, serta Sinterklas plus reindeers-nya. Surat kabar, televisi, dan media massa lainnya mulai mengiklankan berbagai macam promosi barang ini-itu dengan diskon yang besar dalam rangka Natal. Namun, makna Natal tidak akan dapat ditemukan di sana. Hakekat sebuah Natal juga tidak akan kesampaian dalam wujud pesta perayaan Natal yang megah, kotbah-kotbah Natal yang berapi-api, kado-kado mewah nan gemerlap.
Yesus hadir di dunia bukan dalam kehangatan rumah sakit megah, atau kenyamanan hotel mewah. Bukan juga dalam kelincahan penanganan bidan-bidan. Tidak juga dihadiri tamu-tamu kehormatan. Tanpa pula kado-kado gemerlap. Tanpa nyanyian dan iringan musik. Sang Putra Allah memilih lahir di Bumi ini dalam suasana yang sungguh bersahaja dan sederhana, dalam kondisi yang miskin dan tidak berdaya.
Dengan hadir ke dunia seperti itu, Ia hendak menunjukkan solidaritasnya kepada manusia. Ya, seorang Allah penguasa langit dan bumi turun ke dunia dalam kondisi miskin dan lemah, menjalani hidupnya dengan resiko yang tinggi, hingga mati dengan cara yang mengenaskan. Bukankah itu adalah wujud cinta yang tiada bandingnya! Solidaritas Yesus sungguh mutlak hingga ia dengan senang hati melalui itu semua.
Solidaritas. Inilah pemenuhan arti Natal. Natal adalah awal perjanjian baru, pemenuhan janji Allah yang dulu telah disampaikan melalui nabi-nabiNya. Natal adalah kehadirannya untuk memulai serangkaian misi demi menyelamatkan manusia. Jadi, kalau Anda mencari makna Natal dalam kemegahan gereja, atau dalam kemeriahan pesta dan nyanyian Natal, atau dalam gemerlap pusat perbelanjaan, atau dalam kemewahan kado Natal, Anda tidak akan menemukan hakekat Natal yang sebenarnya.
Bukan berarti Anda dilarang untuk melakukan itu semua. Semua itu baik, hanya saja itu tidak cukup! Makna Natal akan terpenuhi dalam wujud solidaritas. Bukan solidaritas kepada mereka yang kaya, berkuasa, dan penuh gemerlap, hidup dalam glamour dan kemewahan, melainkan, solidaritas kepada mereka yang lemah, miskin, tersingkir, tidak berdaya, bau, kotor, menjijikan.
Makna Natal justru akan terwujud secara nyata dalam diri saudara-saudara kita yang hina. Di tengah deru badai bencana yang menghempas bahtera Indonesia ini, justru inilah kesempatan emas untuk mendapatkan makna Natal yang sesungguhnya. Krisis ekonomi semenjak 1997 telah meluas menulari aspek-aspek kehidupan lain di Indonesia. Menelorkan krisis-krisis baru: dari krisis politik, budaya, identitas, hingga moral. Entah sudah beberapa juta orang menderita berkat krisis multidimensional yang menghantam Indonesia dari berbagai sisi, mulai dari korban PHK, korban kriminalitas, hingga korban bencana alam.
Yesus, Sang Putera Allah, Raja Orang Yahudi sendiri telah memberikan teladan yang mengagumkan dalam solidaritasnya pada manusia. Ia sungguh turun langsung dalam stratum sosial yang rendah, dalam kondisi miskin, lemah, lengkap dengan bau kandang. Kini semuanya beralih pada kita (baca: kaum Kristiani), sudahkan kita selama ini secara sungguh-sungguh memenuhi makna Natal? Mampukah kita bersolidaritas kepada saudara-saudara kita yang hina, miskin, lemah, tersingkir, bau, menjijikkan? Atau, kita hanya sibuk mencari makna natal dalam “istana Herodes” yang isinya tak lebih dari kemewahan semu, kenyamanan fana, dan kehangatan sementara? Ingatlah: “Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kau telah melakukannya untuk Aku!” (Mat 25: 40)
Selamat Natal dalam semangat solidaritas!