Berkah dari Sampah
Masalah global dunia mengenai jumlah penduduk yang membludak ternyata bukan hanya berdasar pada teori Robert Maltus yang berakhir pada kesimpulan bahwa akan ada kekurangan pangan. Namun, jumlah penduduk yang tinggi juga berarti jumlah sampah yang tinggi pula. Di sisi lain, tidak ada manusia pun yang mau tinggal di antara sampah. Karena memang, sampah itu jelek dari sisi estetis, bau, dan tidak sehat. Dalam lingkungan kota terlebih, masalah sampah telah menyentuh puncak kritis.
Itulah sebabnya diperlukan usaha-usaha mengatasi hal ini. Yang jelas tidak bisa kita (warga biasa) menunggu tindakan para policymakers dan para petinggi. Kita pun harus bertindak.
Sampah selama ini hanya dianggap sebagai hal yang tidak berguna dan wajib dijauhi. Padahal sebenarnya sampah dapat menjadi suatu berkah tersendiri, terutama di tengah badai kenaikan harga seperti sekarang ini. Sampah, termasuk sampah rumah tangga, dapat diolah menjadi kompos. Bahkan awam biasa pun dapat mengolahnya secara tradisional hanya dengan menggunakan modal dan sarana yang sederhana.
Pertama, yang dibutuhkan adalah kontainer penampung sampah. Drum bekas (200 liter) adalah sarana yang paling cocok karena sederhana, praktis, dan bebas dari gangguan binatang. Bagian bawah dan atas drum ini dilubangi secukupnya dan dipasangi pipa PVC tiga inchi. Fungsinya sebagai ventilasi dan peresapan.
Untuk sampah dari kebun (daun atau ranting), kita perlu memotong-motongnya terlebih dahulu supaya proses dekomposisi lebih sempurna. Untuk sampah dapur (sisa makanan, dsb), sebaiknya, sampah tersebu ditampung terlebih dahulu dalam ember 10 liter yang tertutup rapat. Saat ember tersebut penuh baru sampah dipindah ke drum. Baik pula jika setiapkali memasukkan sampah ke dalam drum diselingi dengan pemberian serbuk gergaji atau tanah gembur.
Selanjutnya, dibutuhkan aktivator untuk memicu dekomposisi fermentasi alami. Wujudnya bisa berupa mikroorganisme, yang telah dikomersialkan, dengan merek dagang: Stardec, Orgadec, EM4, Harmony, Five Up Plus,dsb. Aktivator juga bisa berupa kotoran ternak atau cacing tanah. Sedikit air diperlukan untuk menjaga kelembaban. Setelah penuh, drum ditutup rapat dan dibiarkan selama 20 hari hingga menjadi kompos.
Kompos hasil pengolahan sampah ini dapat digunakan sebagai pupuk untuk kepentingan sendiri atau bahkan, dijual. Dengan sistem manajemen yang lebih baik, usaha ini dapat dijadikan salah satu usaha wiraswasta yang berprospek cerah. Ingat, jumlah sampah di dunia ini terus meningkat. Jadi, tidak perlu khawatir kekurangan bahan dasar. Dengan demikian, sampah pun dapat menjadi berkah! (Diolah dari berbagai sumber)
A. Krisna Murti

0 Comments:
Post a Comment
<< Home