krisnamurti

Friday, May 13, 2005

Kesadaran Politik Kaum Muda

Sebuah tim olah raga, tim sepak bola misalnya, akan selalu aktif beregenerasi demi mempertahankan eksistensi dan juga, meningkatkan mutu. Pemain-pemain yang sudah uzur, mau tidak mau, harus gantung sepatu, dan diganti oleh pemain-pemain muda berbakat yang masih tangkas dan leibh gesit. Identik seperti itulah sebuah negara. Ya.. kalau sebuah negara masih mau ada dan juga, meningkatkan kesejahteraan warga negaranya ia harus terus beregenerasi. Sumber regenerasi itu, juga sama seperti analogi tim sepak bola tadi, adalah generasi muda. Makanya, tepat kalau ada ungkapan: generasi muda adalah tulang punggung suatu negara.
Sekarang sudah jelas bahwa generasi muda itu memegang posisi poros dalam kehidupan dan kelangsungan suatu negara. Lalu dengan berawal dari kesadaran ini apa yang hendak kita (baca: generasi muda) lakukan?
Kita tidak bisa menjadi generasi penerus yang asal-asalan. Mirip pula dengan tim sepak bola, para pemain muda pengganti itu tentu pemain muda yang berbakat dan menjanjikan. Kita pun wajib berusaha supaya kelak dapat menjadi pemain pengganti yang qualified.
Salah satu yang wajib dimiliki adalah kesadaran berpolitik. Kesadaran berpolitik ini penting kelak sebagai salah satu penunjang demokratisasi. Kalau mengenai politik saja buta total, bagaimana kita dapat mengusahakan demokrasi. Itu sama saja dengan punya cita-cita tapi nggak berusaha. Ingat, negara Indonesia tercinta ini sedang berusaha mencapai demokrasi di tengah-tengah banyak usaha-usaha KKN dan penyelewengan-penyelewengan demokrasi. Jelas bahwa Indonesia memerlukan generasi penerus yang mampu mewujudkan demokrasi yang sehat sehingga cita-cita mewujudkan masyarakat adil-makmur-sejahtera pun dapat tercapai. Dengan memiliki kesadaran berpolitik kita pun tidak muda ditipu oleh janji gombal politikus gadungan atau iming-iming yang lain. Kita dapat menjadi generasi penerus yang kritis dan mampu berdemokrasi dengan baik.
Memiliki kesadaran berpolitik bukan berarti harus ikut-ikutan mendirikan partai, nggak juga harus ikutan demo. Politik jangan dipandang sebagai sesuatu yang elit, atau bahkan dipandang negatif sebagai alat peraih kekuasaan. Idealnya tiap warga negara -apalagi kita yang nanti menjadi penerus Indonesia ini- harus memiliki kesadaran berpolitik. Justru dengan memiliki kesadaran berpolitik, kita (baca: generasi muda) mampu berpolitik dengan sehat.
Kesadaran berpolitik bisa dimulai dengan turut mengikuti berita-berita yang marak. Tapi, jangan sekedar membaca. Baik, kalau secara pribadi atau dalam kelompok kecil kita mengutarakan sikap kita atas peristiwa-peristiwa yang ada. Dulu, pada zaman pra-pembentukan Boedi Utomo, Dr. Sutomo, dkk memiliki kelompok semacam ini; studieclub, namanya.
Cara lain, dengan memperhatikan pelajaran PPKn dengan serius. Mengapa PPKn? Karena pelajaran PPKn itu, sebenarnya, memang ditujukan untuk membina kesadaran berpolitik warga negara muda Indonesia. Kalau dirasa membosankan, yang harus disalahkan adalah metode penyampaiannya. Baisa saja, kamu mengusulkan ke guru yang bersangkutan untuk menggunakan metode lain yang lebih menarik dan dapat aktual. Misalnya, memperdebatkan mengenai pro-kontra penaikan harga BBM sambil mendalami nilai kepedulian; atau berdiskusi mengenai makna pahlawan sambil mendalami nilai patriotisme.
Pada era kebangkitan nasional hingga awal kemerdekaan, Indonesia memiliki banyak tokoh-tokoh nasional yang sungguh memiliki kesadaran politik yang tinggi. Dari merekalah Indonesia yang demokratis dibentuk. Kita pun, selayaknya, meneladan mereka: mengembangkan kesadaran berpolitik semenjak dini, bukan demi meraih kekuasaan, tapi demi mencapai Indonesia yang demokratis, yang adil-makmur-sejahtera.

Antonius Krisna Murti

0 Comments:

Post a Comment

<< Home