krisnamurti

Saturday, August 13, 2005

Mata Kuliah Umum Terbaru: Kampanye dalam Kampus

(Sebuah Kajian Reflektif terhadap Kampanye dalam Kampus)

Pro-Kontra
Pemilu 2004 memang berbeda dengan Pemilu-Pemilu sebelumnya. Salah satu keunikannya adalah diperbolehkannya partai politik (parpol) mengadakan kampanye di dalam kampus. Dalam waktu singkat, metode baru ini segera memancing pro-kontra yang menimbulkan polemik yang panjang. Sebenarnya, dalam UU Pemilu, lingkungan kampus/pendidikan dan tempat ibadah dilarang dijadikan arena kampanye. Tapi, larangan ini tidak berlaku bila penyelenggaraan kampanye diizinkan oleh pengelolanya. Menteri Pendidikan Nasional, Prof. A. Malik Fadjar sendiri mempersilakan parpol mengadakan kampanye di dalam kampus. Namun, keputusan boleh/tidaknya suatu parpol berkampanye dalam kampus tetap bergantung rektor masing-masing Perguruan Tinggi (PT). Alhasil, ada kampus yang memperbolehkan parpol berkampanye di dalam kampus, tapi ada juga yang melarang.
Artikel ini hendak mencoba meninjau lebih mendalam mengenai metode baru berkampanye ini melalui analisis reflektif dan berdasarkan observasi empiris terhadap pengalaman kampanye dalam kampus di ITB. Lewat secuil tulisan ini, peran mahasiswa dalam dunia politik negeri ini dicoba untuk saya ungkap secara vulgar karena bagi saya, politik bukanlah hal tabu dan tidak perlu dihindari oleh civitas academica, terutama mahasiswa. Mahasiswa adalah backbone nusantara ini. Mau tidak mau, suatu saat nanti, jiwa-jiwa intelektual muda ini akan menjadi motor negeri ini. Artinya, mereka pun akan terjun ke dunia politik. Ajang kampanye dalam kampus ini akan menjadi suatu momen pembelajaran politik yang baik, suatu mata kuliah baru yang riil.

All Beginning is Difficult
Di ITB Prof. Kusmayanto Kadiman, selaku Rektor ITB memperbolehkan parpol berkampanye. Untuk itu, disediakan tempat khusus, yaitu Aula Timur ITB pada tanggal 15-27 Maret 2004 untuk kampanye parpol dan 28-31 Maret 2004 untuk kampanye calon DPD. Kampanye parpol tersebut diikuti oleh 15 parpol dengan total juru kampanye (jurkam) 33 orang. Total pengunjung selama kampanye parpol sebanyak 1271 yang terdiri dari simpatisan partai, mahasiswa, dan masyarakat umum. Sementara itu, untuk kampanye calon DPD, hanya diikuti lima calon. Pengunjung selama kampanye calon DPD ini hanyalah 84 orang.
Melihat jumlah pengunjung kampanye dalam kampus yang hanya sedikit itu (perlu disadari, bila kita mengandaikan jumlah pengunjung hanya mahasiswa ITB saja, dari mahasiswa ITB berjumlah sekitar 10 ribu, yang hadir hanya 1%-nya saja!), dapat timbul berbagai hipotesis. Bisa jadi, karena kurangnya publikasi pihak panitia, namun, juga hal itu bisa terjadi karena penolakan mahasiswa. Alasan ini muncul karena hari pertama kampanye diwarnai oleh demonstrasi beberapa elemen kampus, menolak kampanye dalam kampus. Tampak pula bahwa masih ada ketidakpedulian mahasiswa terhadap ajang kampanye dalam kampus ini.
Memulai sesuatu memang sulit, all beginning is difficult. Apalagi, memulai sesuatu yang baru dan kontras dengan sebelumnya. Pada pemilu-pemilu sebelumnya, kampus tidak pernah dijadikan ajang kampanye. Pengalaman NKK/BKK membuat dunia mahasiswa dan dunia politik seakan bermusuhan. Selama ini, mahasiswa dan politik praktis dianggap sebagai dua elemen yang bagaikan tesis dan anti-tesis. Pendapat itu salah! Memang, mahasiswa dan segenap elemen pendidikan harus menjaga netralitasnya, namun, ini bukan berarti politik adalah tabu bagi mahasiswa.

Mencoba Melihat Lebih Dekat
Lepas dari kesimpulan gagal atau berhasilnya kampanye dalam kampus di ITB, perkenankan saya sedikit menganalisis metode baru kampanye ini dengan melihatnya lebih dekat. Akan ada imbas positif bagi kedua pihak: mahasiswa dan parpol; serta akhirnya akan berimbas positif pula bagi Indonesia. Mahasiswa akan mendapatkan pembelajaran politik. Parpol akan semakin menghasilkan program dan visi-misi yang mampu memecahkan masalah bangsa.
Di awal analisis yang pertama ini saya hendak mengutip konsep universitas oleh Newman: A university is a place where inquiry is pushed forward, and discoveries verified and perfected, and rashness rendered innocuous, and error exposed, by the collision of mind with mind, and knowledge with knowledge (The Idea of University, John Henry Newman, 1852). Metode kampanye dalam kampus menyaratkan parpol berkampanye sesuai tradisi kampus. Artinya, konsep Newman ini akan terimplementasikan dalam pelaksanaan kampanye dalam kampus. Akan ada pertanyaan (inquiry) yang akan diajukan; akan ada verifikasi dan penyempurnaan misi dan visi parpol; akan ada metode diskusi dan dialog, bukan sebuah rashness; kesalahan dan kelemahan (error) parpol akan terungkap; akan ada benturan (collision) ide dan pengetahuan antara mahasiswa dan parpol demi memecahkan masalah bangsa. Memandang itu semua, betapa banyaknya sisi positif yang sebenarnya bisa diraih dengan adanya kampanye dalam kampus.
Melalui kampanye dalam kampus, mahasiswa dapat menjadi mitra parpol dalam memberi arah dan merancang masa depan Indonesia. Jika masih merasa risih menggunakan kata mitra, boleh pula dinyatakan bahwa mahasiswa menjadi pengontrol (baca: memposisikan diri sebagai oposisi) parpol.
Indikator analisis saya selanjutnya adalah Tri Dharma PT yang ketiga, yaitu pengabdian pada masyarakat. Kampanye dalam kampus adalah suatu bentuk manifestasi pengabdian pada masyarakat, yaitu kegiatan masyarakat kampus (terutama mahasiswa) dengan kekayaan intelektualnya, terjun ke tengah-tengah masyarakat. Ini pun sesuai dengan pendapat Whitehead: “..there is only one subject matter for education, and that is life in all its manifestation.” (Alfred North Whitehead, The Aims of Education, 1929). Politik adalah suatu unsur dalam kehidupan manusia. Lewat kampanye dalam kampus, mahasiswa mampu secara nyata memanifestasikan pengetahuan dan wawasannya (tentunya dalam bidang sosial-politik-kemasyarakatan), karena itulah tujuan dari pendidikan.

Akhir Sebuah Awal
Penolakan dan bentuk ketidakpedulian terhadap kampanye dalam kampus perlu disayangkan karena itu berarti bentuk ketidakpedulian terhadap masa depan demokrasi negeri ini. Memang betul bahwa metode ini adalah baru; karenanya terdapat kelemahan dan perlu banyak penyempurnaan dalam pelaksanaannya. Tapi, jika tidak pernah dicoba, kapan negeri ini akan maju. Manusia belajar dari kesalahannya. Itulah sebabnya ada pepatah: experiece is the best teacher. Negeri ini memang sedang belajar berdemokrasi; dan kampanye dalam kampus adalah sebuah mata rantai dari proses pembelajaran demokrasi yang panjang. Mahasiswa perlu mendapatkan suatu mata kuliah baru: kampanye dalam kampus. Why not?

Antonius Krisna Murti
Mahasiswa Teknik Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

0 Comments:

Post a Comment

<< Home