krisnamurti

Monday, September 12, 2005

Cinta Kami dan Balas Kalian

Udara dingin yang berhembus petang itu agak kencang dan lembab, membuat hatiku tenteram. Sejenak aku pindah ke pohon pinus yang paling tinggi yang kutemui. Dengan tanganku yang panjang dalam hitungan detik aku sudah sampai ke pucuk dahan itu. Dari sana aku melihat dengan jelas, sebidang ladang beton dipenuhi sinar warna-warni yang menyilaukan mataku. Tapi lebih lagi, itu semua menyakitkan hatiku. Terkenang masa lalu yang pahit.

Seratus lima puluh tahun yang lalu, aku masih bersama dengan ibuku, menjadi anak semata wayang yang selalu merasakan kehangatan kasihnya. Kami hidup di pohon beringin besar yang sekarang sudah jadi segumpal beton. Padahal, aku senang sekali tinggal di pohon beringin. Julur-julurnya selalu menjadi tempat bermain yang mengasyikkan.

Setiap malam bulan purnama, banyak manusia-manusia yang mendatangi rumah kami. Mereka membawakan kami sesaji. Sering pula, ada manusia yang duduk bersila di depan rumah kami itu; ia tidak bergerak selama tiga hari tiga malam. Mulutnya komat-kamit. Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Namun, ibuku dengan setia mendengarkannya.
“Dia ngomong apa sih, bu?”

“Dia mohon bantuan kita, supaya anaknya kelak dapat dilahirkan dengan lancar.”

“Lalu, ibu mau membantunya?”

“Ya jelas dong!” kata ibuku sambil meraihku ke dalam pangkuannya “Manusia itu lemah. Sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan, kita yang kuat hendaknya membantu mereka yang lemah.”

“Tapi, ibu harus bersusah payah, menahan silau dan panasnya sinar matahari, membuang-buang tenaga dan waktu. Dulu ibu harus menguras banyak tenaga dalam ibu demi menyelamatkan manusia tua dari sakitnya hingga ibu sendiri lemes selama beberapa hari. Bahkan, harus menahan awan hujan demi menyelamatkan panenan manusia-manusia itu. Terus, yang kita dapatkan cuman sepiring nasi dan sayur-sayuran yang nggak enak.” Aku protes sebab sering aku terbangun di siang hari tanpa keberadaan ibu di sisiku. Aku tahu pasti bahwa ia pasti sedang pergi membantu manusia-manusia lemah itu.

“Eh, jangan begitu, anakku, bukanlah imbalan yang kita cari. Ibu mau, dengan senang hati, membantu mereka demi persaudaraan antara manusia dengan kita. Kamu kan bisa melihat, selama ini, kita dan manusia-manusia itu hidup berdampingan dengan rukun. Mereka juga, secara tidak langsung, membantu kita, melestarikan hutan sehingga kamu bisa main-main dengan bebas. Terus, sekitar rumah kita selalu bersih. Mereka selalu membersihkannya dan bahkan memasang pagar di sekitar rumah kita sehingga ayam tidak bisa nelek.” begitulah ibuku berkata sambil tersenyum.
Aku mengangguk tanda sadar.

***
Seiring dengan berjalannya waktu, makin jarang manusia yang datang ke rumah kami. Tiap bulan purnama, kami hanya ditemani oleh musik lirih serangga-serangga malam; tidak ada lagi upacara sesajen untuk kami. Tidak ada lagi manusia yang sudi berhari-hari bersila di bawah pohon beringin kami. Tapi kami tidak ambil peduli, justru kami dapat lebih meluangkan banyak waktu bersama. Sering kali, ibu menyisiri rambutku yang mulai panjang itu sambil bersenda gurau. Ia pun mulai mengajariku banyak hal mengenai manusia.

“Bu, kenapa belakangan ini tidak ada manusia yang datang ke tempat kita lagi?”

“Entahlah, anakku. Aku pun tidak tahu. Mungkin mereka sudah tidak membutuhkan bantuan kita. Bukankah, dulu kau malah senang kalau ibu tidak perlu direpotkan oleh urusan membantu manusia?”

“Iya sih, tapi... lihat bu, pagar di sekitar rumah kita sudah rusak. Sekeliling rumah kita jadi kotor karena tidak pernah dibersihkan.”

“Biarlah, nak, yang penting, kita sekarang punya banyak waktu luang untuk bersama bukan?” senyumannya kembali menghangatkan jiwaku.

“Betul!” sambutku dengan ceria “Ayo kita cari tupai lagi; aku lapar bu!”

“OK, ayo”

***

Namun, masa-masa indah ini dengan cepat berlalu karena manusia-manusia lemah itu mulai mengusik kedamaian kami dan bahkan, akhirnya menghancurkan kebahagiaan kami.
Awalnya, kami mulai merasakan suasana yang lebih ramai. Seringkali tidur kami terganggu oleh suara-suara aneh yang memekakkan telinga. Ibu mulai curiga. Maka, ia mulai menyelidiknya.

“Ibu, itu tadi suara apa” aku langsung menyerobotnya dengan pertanyaan ketika ia pulang.

“Entahlah, anakku, ibu sendiri tidak tahu. Rumah-rumah manusia itu kini tinggal sedikit; bahkan, sawah-sawahnya pun entah sekarang kemana. Tapi, ada banyak manusia-manusia laki-laki yang mengenakan penutup kepala bulat berwarna merah. Lalu, ada melihat benda-benda aneh berbentuk seperti gerobak manusia-manusia yang dulu sering kita lihat itu. Tapi kali ini gerobaknya besaaar sekali! Kotak yang bisa berjalan itu dapat dimuati oleh pasir yang banyak sekali. Suaranya keras sekali. Ada lagi yang lebih aneh. Ibu melihat benda yang punya tangan raksasa, seperti cangkul. Benda itu mengeruk tanah dengan mudah sekali. Lalu, ada lagi batangan-batangan yang tadinya ibu kira kayu. Tapi, ternyata itu bukan kayu, warnanya abu-abu dan keras sekali. Pokoknya, ibu melihat banyak sekali benda-benda aneh!”

“Apa itu mahluk jahat, bu?”

“Semoga tidak, kelihatannya itu milik manusia. Manusia kan sahabat kita!”

“Tapi, Bu... aku takut bu, bisakah kita pindah?”

“Entahlah, anakku, aku belum menemukan tempat yang baik untuk kita di tempat lain; apalagi, kelihatannya di barat dan selatan hutan ini pun dipenuhi manusia-manusia dan benda-benda aneh itu.”

***

Aksi manusia-manusia itu semakin aneh, membuatku penasaran. Suatu Maghrib yang remang-remang, pernah aku memergoki dua manusia melakukan hal yang aneh dan tidak kumengerti maksudnya. Saat itu, ibu sedang pergi mencari makan malam. Dua manusia itu berjalan-jalan sambil berangkulan. Yang satu kukenali sebagai manusia perempuan sebab ia berambut panjang dan dadanya menggelembung, persis seperti deskripsi ibuku saat ia mengajariku bagaimana mengenai manusia perempuan dan laki-laki. Yang satunya lagi kupastikan adalah manusia laki-laki. Rambutnya pendek dan badannya tambun. Mereka berjalan menuju pohon pinus yang ada di sebelah rumahku. Di bawah pohon, keduanya duduk berangkulan. Manusia laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah manusia perempuan. Terdengar suara cekikikan sebentar-sebentar. Tangannya mulai menggerayangi tubuh manusia perempuan itu. Aku penasaran setengah mati, ingin lihat lebih dekat. Spontan, aku langsung meraih salah satu julur rumahku dan mengayunkan diriku ke dekat mereka berdua. Dengan halus aku mendarat di belakang manusia pria yang sedang asyik membuka kancing manusia perempuan. Manusia perempuan itu melotot, melihatku. Aku mencoba tersenyum. Dia langsung berteriak. Laki-laki itu kaget dan turut melihat ke arahku. Aku menyengir. Kini, ia pun turut berteriak. Keduanya langsung lari sambil berteriak-teriak. Aku sedih. Kenapa mereka meninggalkan aku.
Ketika kami makan malam, aku menceritakan pengalamanku Maghrib tadi. Ibu tertawa cekakakkan. Aku jadi agak kesal. Tapi ia langsung merangkulku.

“Anakku, manusia itu penakut. Hanya sedikit orang yang berani menatap wajah kita.”

“Kenapa bu, apa ada yang aneh dengan wajah kita?”

“Tidak ada yang aneh dari wajah kita. Hanya saja, wajah dan fisik kita berbeda dengan wajah dan fisik manusia. Manusia itu takut pada sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Dan kemudian, mereka merasa terancam. Dan kalau mereka merasa terancam ada dua hal yang biasanya mereka lakukan, pertama melarikan diri, dan yang kedua membunuh yang menjadi ancaman mereka itu.”

“Jadi sebenarnya, tadi aku bisa dibunuh.”

“Ah.... Jangan kuatir anakku, manusia belum cukup kuat menghadapi kita.” Ibu meyakinkan aku.

***

Pagi itu aku terjaga dari tidurku. Kupingku sakit karena suara-suara yang memekakkan telinga. Tampaknya, ibu terbangun lebih awal. Dengan wajah yang tegang ia memandang ke arah bawah, aku pun datang ke sisinya.

Mataku terbelalak karena kaget dan takut. Benda-benda aneh berukuran raksasa yang mengeluarkan suara yang keras berkeliaran di sekitar rumahku. Dengan mudahnya mereka meratakan pepohonan. Beberapa manusia-manusia laki-laki yang memegang pedang raksasa yang bergerigi. Pedang itu pun mengeluarkan suara yang memekakkan telingaku. Mereka mengarahkannya pada pohon, dan dalam sekejap, pohon itu roboh.

Kemudian, salah satu dari manusia laki-laki yang membawa sebuah pedang raksasa yang bergerigi itu mendekati rumah kami. Mengetahui bahwa beringin kami adalah sasaran berikutnya, dalam sekejap, ibu melompat dari dahan dan masuk ke dalam tubuh manusia laki-laki itu.

Manusia malang itu langsung meronta-ronta. Tidak ada manusia laki-laki lain yang berani mendekat sebab manusia malang itu memegang pedang raksasa yang meraung-raung. Kemudian, ibu mengarahkan orang itu ke salah satu benda kotak raksasa yang meratakan tanah. Pedang itu tebaskan mengenai benda itu, menghasilkan bunyi melengking tinggi yang menyakitkan telinga. Begitu terus, ibuku mengendalikan manusia laki-laki itu sesuka hatinya, membuat manusia-manusia lain lari terbirit-birit karena takut.
Dalam waktu sepuluh menit saja, suasana menjadi sepi. Ibu meninggalkan manusia laki-laki itu dalam keadaan tergeletak. Pedang bergerigi yang sudah tidak berbentuk lagi itu tergeletak di sisinya. Ketika manusia lainnya yakin bahwa manusia itu tidak berbahaya lagi, mereka mengerumuninya, menggotongnya dan meninggalkan kami berdua sendirian.

“Kenapa manusia-manusia itu mau mengganggu kita, bu?”

“Mungkin tadi mereka lupa bahwa kita tinggal di sini.”

“Ibu membunuhnya?”

“Tidak.” Wajah ibu tampak lelah.

“Kenapa mereka tidak ibu bunuh? Manusia-manusia itu telah menebangi pepohon di sekitar rumah kita, bu, membuat keributan. Padahal dulu, ibu selalu setia membantu mereka. Lihat balasan mereka, bu! Mereka pantas dihukum!”

“Anakku, sayang, ibu senang karena kamu ternyata sudah semakin dewasa dan kritis. Tapi, ibu sedih karena kamu berpikiran seperti itu. Kita kan sama-sama mahluk ciptaan Tuhan. Tadi ibu cuma menakuti mereka supaya mereka tidak mengganggu lagi.”

“Ibu dulu pernah bilang kalo manusia takut dan merasa terancam, ia akan membunuh. Jadi, nanti mereka akan membunuh kita, bu!”

“Ah, tidak anakku, mereka hanya akan menghindari kita.”

“Ibu seharusnya membunuh mereka!”

Ibu menghela napas. “Anakku, Tuhan tidak menghendaki ada bunuh-bunuhan di antara ciptaanNya. Kalaupun manusia itu suka merusak, membuat gaduh, menebangi pohon... janganlah kita meniru perbuatan buruk itu. Kalau ibu tadi membunuh mereka, ibu berarti sama jahatnya dengan mereka ya, kan!”

Aku mengangguk pelan.

“Sudahlah, jangan banyak dipikirkan. Ayo, bobok lagi!” ibu meraihku ke dalam pelukannya yang hangat itu. Pelukan hangat yang terakhir yang kurasakan. Karena petang hari ini, adalah petang hari yang menjadi saksi kekejaman manusia terhadap cinta kami.

Petang itu kami kembali terbangun. Kali ini, riuh puluhan manusia-manusia mendatangi rumah kami. Kerumunan manusia itu berhenti beberapa meter di sekeliling rumah kami, membentuk benteng api. Saat itu aku sangat takut.

Dua manusia keluar dari kerumunan itu, mendekat ke arah rumah kami dengan pasti. Yang satunya adalah manusia laki-laki tua berpakaian hitam-hitam. Rambutnya panjang dan berwarna putih. Di jari tangannya terpasang berbagai jenis akik. Yang satunya lagi juga manusia laki-laki. Ia bertubuh tambun. Rambutnya hitam mengkilat, tersisir rapi. Dia menghirup rokok. Pakaiannya aneh, berlapis-lapis. Riuh kerumunan manusia itu langsung senyap begitu manusia tambun itu mengangkat tangannya. Kemudian, manusia tua itu berlutut persis di depan rumah kami. Mulutnya mulai komat-kamit.

“Dia mengucapkan mantra” kata ibu sambil menatapku dengan cemas.

”Lawan dia bu!” kataku dengan lirih.

“Tidak bisa, ibu tidak sanggup”

Kami mulai merasakan efeknya. Tiba-tiba rasa sakit kepala yang hebat menyerang kami. Ibu segera memelukku dengan erat.

“Anakku, jika ini adalah kesempatan terakhir bagimu untuk melihat ibumu, relakanlah. Kuatkanlah hatimu. Ingatlah selalu kata-kata dan nasehatku. Anakku tersayang, jangan kau menaruh dendam terhadap manusia-manusia ini, sekejam apapun tindakan mereka terhadap kita, jangan kau dendam. Biarlah Tuhan yang akan membalas perbuatan mereka kelak di alam baka” kata ibu tanpa melepaskan pelukannya.

“Ibu...” Aku belum selesai mengucapkan kata-kataku tapi ibu segera mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk melompat ke dahan pohon seberang.

“Lari...lari anakku, lari” katanya dengan wajah yang cemas begitu ia berhasil membawaku ke dahan pohon seberang. Aku tahu benar, tenaganya sudah habis demi menahan mantra itu.

“Tapi bu...”

“Demi Tuhan, larilah anakku, jangan kau pedulikan aku! Aku akan menahan manusia-manusia ini. Ayo lari dan jangan lihat ke belakang. Lari!”

Aku langsung melompat dari satu pohon ke pohon yang lain begitu terus, tidak menggubris kelelahan yang menyerangku. Akhirnya, ketika aku merasa sudah berada pada jarak yang aman, aku pun berhenti. Dengan nafas yang masih terengah-engah, aku segera memanjat pohon yang tertinggi yang kutemui.

Sayup-sayup namun pasti, gemuruh suara manusia-manusia itu terdengar begitu mengerikan. Aku melihat api membubung tinggi ke angkasa. Aku hanya terpaku menatapnya.

Beberapa saat kemudian keadaan menjadi senyap. Remang-remang cahaya hasil pantulan api masih tampak dari kejauhan. Aku tahu bahwa sekarang aku sendirian. Ibuku telah tiada

Malam itu juga aku memutuskan untuk kembali ke sana.

Aku berhenti di salah satu pohon pinus yang belum sempat ditebang, dekat bekas rumahku. Dari sana aku melihat rumahku yang hancur. Sejenak aku hanya termangu menghadapi semua ini.

Kemudian, aku mendengar gelak tawa. Manusia tambun dan manusia tua berpakaian hitam-hitam itu tampak bersenda gurau. Entah kenapa, spontan, kemarahanku muncul; aku langsung meronta-ronta dan berteriak marah.

Sekejap, aku melesat masuk ke dalam salah satu manusia yang masih berkeliaran di situ. Dia masih memegang pedang raksasa bergerigi. Aku membuatnya berlari ke arah kedua manusia itu. Aku bermaksud menikam manusia tua itu dari belakang. Manusia laki-laki tambun yang berdiri dihadapannya berteriak, melihatku. Manusia tua itu menengok ke arahku dan melongo kaget. Tapi, ia tidak kubiarkan melongo terlalu lama. Dalam hitungan detik, pedang bergerigi itu bersarang di perutnya. Dia melotot, jatuh bersimbah darah.

Dalam ketakutan, manusia laki-laki tambun itu berlari menghindariku. Aku mengejarnya. Aku ingat dengan jelas pesan ibuku untuk tidak menaruh dendam pada manusia. Tapi, aku tidak sanggup menanggungnya.

Ia masuk ke sebuah lorong yang buntu. Kini, ia ada persis di hadapanku. Pedang raksasa bergerigi yang sudah bersimbah darah itu kuangkat ke atas, siap menebas manusia laki-laki itu. Dia memandangku dengan memelas. Tapi aku tidak ambil peduli.

“Mas...” Aku menengok dan melihat seorang manusia perempuan yang menggendong manusia kecil.

“Dewi, pergi, pergi dari sini, bahaya... orang ini kesurupan.” Manusia tambun itu berteriak dengan nada yang bergetar.

“Papa...papa...” Manusia kecil itu berteriak panik.

“Bang, jangan bunuh suami saya, bang!” Manusia perempuan itu mendekat sambil menangis.

“Mama..., papa mau diapakan?” Manusia kecil itu berteriak.

“Ayo Dewi, pergi, bawa Dimas pergi, jangan ke sini, berbahaya.”

Aku berdiri diantara mereka. Termangu. Pedang raksasa yang bergerigi itu kujatuhkan ke tanah.

“Maafkan aku ibu,...” gumamku. Lalu, aku meninggalkan tubuh manusia itu dalam keadaan tidak sadar.

Dari atas sebuah pohon, tak jauh dari situ, aku memandang, ketiga manusia itu berpelukan.

***

Sejak peristiwa itu, aku mengembara ke tempat yang masih sepi. Manusia telah menyulap hutan di sekitar rumahku menjadi hutan beton. Hingga kini, seratus tahun kemudian, aku masih belum mengerti tentang manusia. Manusia itu aneh. Terlalu, sulit untuk kumengerti.

Aku menghela napas dan mendongak, mencari dukungan dari langit atas kebingunganku. Tapi, rembulan hanya bersembunyi dibalik mega, seolah malu melihat kehidupan ini, menyisakan kegelapan meliputi bumi. Tapi, kompleks bangunan beton itu tetap kokoh, tak mau kalah dengan gelap, menyombongkan cahayanya pada alam dan semua ciptaan Tuhan yang lain.

Persetan! Aku tidak peduli lagi dengan kesombongan dan sikap manusia yang tidak tahu terimakasih itu. Ibuku sudah mengajariku tentang cinta yang sejati. Cinta pada orang yang menyiksa dan membunuhnya sekalipun. Biarlah manusia-manusia itu berbuat sesukanya. Suatu saat, aku yakin benar, Tuhan pasti akan menegakkan keadilan.


Mertoyudan, 11 September 2002