Special Forces Kerajaan Allah dan Organisme Mahasiswa Katolik
Membangun Komunitas Mahasiswa Katolik di Era Gelombang Ketiga
Mahasiswa adalah penuh potensi. "Berikan saya tiga orang, maka saya akan mengguncang dunia; berikan saya tiga pemuda, maka saya akan mengubah dunia," kata Soekarno. Mahasiswa (Katolik) adalah entiti Gereja yang menjadi tulang punggung Gereja. Dalam waktu 10-20 tahun ke depan, mereka adalah kepala keluarga Katolik, ibu dari anak-anak Allah, Ketua Lingkungan, anggota Dewan Paroki, dan bahkan Pastor. Pentingnya pembimbingan Komunitas Mahasiswa Katolik (KMK) juga membawa tantangan tersendiri, terutama di era gelombang ketiga ini. Tantangan inilah yang perlu dirumuskan dan diatasi, demi masa depan Gereja Allah. Dua solusi yang saya tawarkan: special forces dan organisme.
Sebelum masuk pada solusi, ada dua hal yang perlu diungkap, demi memperjelas permasalahan. Pertama adalah pemuda. Khususnya dalam tulisan ini saya hendak memfokuskan pada mahasiswa, sebagai pemuda tahap akhir menjelang pintu dewasa. Mahasiswa, sebagai seorang muda yang telah melewati luapan hormon masa puber, mulai menetapkan pikiran dan prinsip-prinsip hidupnya. Seorang kontraktor yang sedang menggambar peta bangunan, memilih pondasi, menyusun timeline, dsb. Di sinilah Gereja berperan sebagai perpanjangan tangan Yesus yang mengarahkan menuju yang terbaik bagi Kerajaan Allah dan baginya.
Kedua adalah masalah konteks zaman. Alvin Tofler telah meramalkan so-called gelombang ketiga yang sedang kita alami. Kalau gelombang pertama adalah peradaban pertanian dan gelombang kedua peradaban perindustrian, maka gelombang ketiga ini adalah peradaban informasi dan Iptek. Zaman di mana manusia sudah mampu memperhitungkan dengan tepat bagaimana menempelkan sensor dan pemantau pada badan komet Temple I yang kecepatannya 33.000 Mph dan berjarak 83.000.000 mil dari Bumi (baca: Misi Deep Impact NASA), sudah jelas berbeda dengan zaman Romo Van Lith. Beliau dulu mungkin dapat menyebarkan kabar gembira Kerajaan Allah via rumah ke rumah; mengkoordinir paroki dalam kesatuan kring, stasi, dan lingkungan. Gejala diaspora teritorial (antar rumah jauh, terpencil) memang sudah ada sejak zaman Romo Van Lith, namun kini Gereja memiliki tantangan yang berbeda.
Gereja metropolis di rimba belantara gelombang ketiga memiliki sifat diaspora fungsional dan psikologis. Diaspora fungsional maksudnya bervariasi dalam tugas. Mahasiswa punya tugas yang berbeda: jurusan berlainan, unit kegiatan mahasiswa berbeda, hobi bervariasi, organisasi beragam. Jika Anda penggembala, lebih mudah mana menggembalakan sekawanan domba atau menggembalakan domba, sapi, macan, dan gajah sekaligus? Selanjutnya, diaspora psikologis berarti tercerabut dari akar kultural tradisional. Di belantara beton-metal gelombang ketiga ini, budaya tradisional sedang diserang oleh badai budaya ’tidak jelas’ kerena merupakan melting pot dari berbagai budaya.
Kondisi diaspora mahasiswa ini membuat dua masalah besar. Pertama, minimal ada dua golongan besar mahasiswa dalam KMK, yaitu aktif dan pasif. Golongan aktif adalah mahasiswa katolik yang aktif dalam kegiatan KMK di kampusnya. Yang pasif adalah mereka yang lebih memilih aktif di kegiatan mahasiswa lain atau fokus hanya ke studinya. Termasuk di dalamnya adalah mereka yang tidak tertarik dan menganggap KMK membosankan. Kedua, pembimbingan mahasiswa menjadi sulit; bagai menyetir truk tanpa power steering. Di sisi lain, tugas kegembalaan Pastor malah semakin bertumpuk akibat pertambahan jumlah umat tidak sebanding dengan pertambahan jumlah Pastor.
* * *
Untuk menghadapi itu, diperlukan strategi khusus. Saya sangat setuju pernyataan aggiornamento Rm. Mangun (baca Gereja Diaspora). Betul bahwa tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Gereja harus berhadapan dengan ini. Gereja harus bersifat agile, tetap pada rel, tapi juga menyesuaikan diri.
Setidaknya ada dua hal yang perlu diwujudkan. Pertama, saya percaya betul tentang keampuhan 3-I: inform, involve, invite. Pastor bukan hanya sebagai pemberi bimbingan searah. Lebih dari itu, sesuai dengan dua ’i’ terakhir, pembimbingan harus mengikutsertakan mahasiswa dan memberi kesempatan kepada mahasiswa itu untuk berperan. Tidak boleh ada monolog, harus dialog; bahkan, multi-log. Prinsip ini sesuai dengan dekrit Apostolicam Actuositatem (Kerasulan Awam) hasil Konsili Vatikan II.
Manifestasinya, Pastor harus memberikan pendelegasian khusus terhadap beberapa mahasiswa yang telah dibimbing secara khusus pula. Saya menyebutnya dengan special forces (SF). Mereka adalah gerilyawan sekaligus intelejen Kerajaan Allah yang dapat jauh lebih leluasa bergerak ke dalam relung hati teman-temannya serta memiliki waktu yang lebih banyak dan intensif.
Kedua, di sini, perlu ada dua bentuk yaitu organisasi KMK dan organisme KMK. Bedanya, organisasi akan terpatok melulu pada fungsi dan hierarkis. Sementara itu, organisme lebih mengarah pada suatu mahluk hidup yang mandiri dan terus belajar; seperti tubuh kita yang sebenarnya terdiri dari milyaran sel yang hidup dan berkembang mandiri; dikoordinir oleh pusat syaraf. Dalam terminologi ilmu yang berkembang sekarang, dapat dianalogikan dengan cell automata atau neural network (baca Wolfram Sciences).
cel automata atau neural network
Dalam organisme mahasiswa Katolik akan ada banyak sel/neuron yang menjadi pusat-pusat kecil pembimbingan. Pusat-pusat ini akan tetap dikoordinir oleh Pastor. Masing-masing sel/neuron dikoordinir oleh SF. Dalam kesatuan sel/neuron ini, masing-masing akan memiliki kegiatan bersama per sel/neuron, seperti KKS (Kelompok Kitab Suci), sharing kelompok, dsb. Neuron/sel juga kan dibentuk dalam dunia maya melalui milis dan forum untuk menjaring mahasiswa pasif.
Organisme mahasiswa Katolik
Sementara itu, dalam tubuh organisasi KMK, peran hierarkis tetap berfungsi. Kegiatan-kegiatan selayaknya organisasi KMK pun tetap ada: rapat, Misa bersama, Paskahan/Natalan, dsb.
Organisasi mahasiswa Katolik
Baik organisasi maupun organisme harus dijalankan secara simultan agar sinergis. Dengan model ini, pertama, akan terbentuk pusat-pusat ’sel/neuron’ yang mampu mandiri, berkembang menjadi Mahasiswa Allah sejati, tanpa menghabiskan seluruh tenaga Pastor. Kedua, pusat-pusat ini akan menjadi serangkaian pondasi kecil yang menopang rata kehidupan menggereja komunitas mahasiswa katolik. Yang perlu diingat,. Pastor tetap mahapenting dalam kehidupan menggereja. Dengan ini maka ungkapan Soekarno ini akan tetap terwujud. Semoga, kelak para mahasiswa ini akan menjadi Yesus-Yesus muda yang giat mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini. Amin.
Bandung, 5 September 2005

3 Comments:
tentang gereja katolik
Surabaya, 28 Juni 2006
Salam Perjuangan!
Pertama kali, saya ucapkan terima kasih kepada Bapak karena memiliki kepedulian kepada kami, selaku pelaku dalam Komunitas Mahasiswa Katolik (KMK). Melalui tulisan Bapak, saya semakin dikuatkan karena masih ada orang yang mau memberikan pemikirannya guna perkembangan KMK.
Memang benar, bahwa apa yang dilihat oleh Bapak terkait adanya kelompok aktif dan pasif dalam KMK. Banyak alasan yang sering dilontarkan oleh kelompok pasif bahwa KMK itu membosankan; bahkan ada juga yang mengatakan, KMK itu ekslusif. Artinya, KMK hanya berguna bagi sebagian kecil mahasiswa Katolik (kelompok aktif), padahal masih banyak mahasiswa Katolik yang memerlukan sapaan dan pendampingan(kelompok pasif).
Saya pun sangat setuju jika persoalan ini bukan beban romo mahasiswa saja, melainkan seluruh individu yang terlibat dalam KMK (organisme). Artinya, mau tidak mau seluruh bagian yang ada dalam tubuh KMK harus meluangkan waktunya untuk berpikir dan berkarya guna perkembangan KMK. Mereka harus saling berkomunikasi satu sama lain sehingga akan muncul banyak ide dan teknik yang harus dikerjakan. Alhasil, KMK akan memiliki sebuah pondasi yang kokoh dan rajutan yang kuat antar anggotanya (organisme).
Bertitik tolak dari beberapa hal yang telah saya uraikan di atas, aku bermaksud berbagi pengalaman dengan Bapak. Saya harap, dengan sharing ini, Bapak dapat memberikan pandangan guna perkembangan pribadiku dan tentunya, bagi KMK.
Saya adalah mahasiswa Katolik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Saya aktif di KMK yang ada di kampus saya.
Pada mulanya, saya sedikit kaget ketika melihat bahwa jumlah mahasiswa Katolik di Unair tidak banyak. Kekagetan saya semakin diperkuat karena jumlah mahasiswa Katolik yang mau terlibat dalam berbagai kegiatan yang ada di kampus (selain kuliah), hanya sedikit; demikian pula, dengan keterlibatan mereka di KMK. Apa yang mesti saya perbuat?
Langkah pertama yang saya lakukan (awal kuliah, tahun 2002) adalah menyapa mereka. Dari langkah ini, saya mulai kenal satu per satu mahasiswa Katolik yang ada di Unair (baik yang aktif maupun pasif).
Langkah kedua, saya pun mulai melakukan dialog dengan mereka; awalnya, saya cuma mengajak mereka mengobrol seputar masalah kuliah. Setelah saya semakin kenal, aku pun mulai menggali sampai persoalan-persoalan pribadi mereka. Alahsil, saya menemukan bahwa banyak mahasiswa Katolik yang membutuhkan seorang teman (minimal teman ngobrol dan cangkruk). Ketika saya mampu melakukan hal itu dan terus konsisten, secara otomatis mereka mau saya ajak untuk terlibat dalam kegiatan KMK; tanpa paksaan.
Satu hari, satu minggu, satu tahun, empat tahun; tanpa terasa, saya sudah cukup lama aktif dalam KMK. Tanpa sadar, saya pun mulai kehabisan energi untuk terus menemani mereka. Mau tidak mau, saya pun berpikir, apa yang mesti saya perbuat?
Sebetulnya, sudah sejak lama (memasuki tahun pertama kuliah) saya memiliki ide untuk membangun KMK melalui pengembangan komunitas-komunitas kecil yang ada dalam tubuh KMK; entah itu komunitas satu fakultas, komunitas kitab suci, komunitas doa, dan komunitas cangkruk berkualitas. Akan tetapi, pada waktu itu saya cuma berpikir, jika saya berkarya untuk seluruh warga KMK Unair, energi saya tidak cukup.
Melihat kenyataan ini, saya pun memutuskan untuk mulai mengembangkan KMK hanya pada satu komunitas fakultas yang sudah pasti tidak akan menjangkau seluruh mahasiswa Katolik Unair.
Sebuah kejutan besar, komunitas yang saya bangun ini terus berkembang; lebih hebatnya lagi, yang sejak semula (sejak berdirinya fakultas, tahun 1982) tidak diakui secara resmi, pada tahun 2005 mendapat pengakuan resmi dari pihak fakultas.
Satu sisi, saya merasa sudah berhasil membangun komunitas basis KMK; namun, pada sisi lain saya belum mampu menularkan ini kepada rekan-rekan yang ada dalam komunitas lain. Alhasil, komunitas-komunitas kecil yang ada dalam tubuh KMK semakin solid; sebaliknya, KMK menjadi semakin rapuh karena komunitas-komunitas tersebut tidak mau berinteraksi satu sama lain. Saya pun semakin pusing dan akhirnya kembali lagi bertanya, apa yang mesti saya perbuat?
Saya berharap Bapak tidak bosan membaca tulisan yang begitu panjang. Mengapa? Karena saya ingin Bapak berbagi pemikiran kepada saya terkait problem saya saat ini. Saya ingin Bapak memberikan pendapat terkait sharing saya. Alhasil, saya dapat memperoleh sedikit pencerahan seperti ketika saya membaca tulisan Bapak. Semoga!!!
Penulis,
Agustinus Amapoli Karangora
Mahasiswa Semester VIII
Jurusan Fisika FMIPA Unair
Email:
karangora2k@yahoo.com
pa, krisna murti di mn?
Post a Comment
<< Home