<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325</id><updated>2011-04-21T20:02:57.425-07:00</updated><title type='text'>krisnamurti</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188676858785645</id><published>2005-11-13T04:59:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:48:59.900-08:00</updated><title type='text'>Di Balik Mayat</title><content type='html'>Mentari masih setia hari itu. Ia datang menggantikan tugas jaga hari. Pendar tubuhnya menghangatkan jiwa, memberikan makanan kehidupan bagi yang menerimanya. Kehadirannya membawa suasana biru ceria yang menghampar luas hingga terbelah oleh seutas benang cakrawala. Dengan lugas, ia bermain-main dengan awan-awan di sekelilingnya seperti gembala bermain-main dengan domba-dombanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawahnya terhampar bongkahan raksasa pegunungan abu-abu yang kokoh curam. Ujung-ujung jarinya menjulang tinggi, hendak meraih langit. Abu-abu itu ditemani oleh warna-warna hijau segar pepohonan yang memenuhi kaki-kaki pegunungan itu. &lt;br /&gt;Di salah satu sudut alam itu, terdapat ngarai yang dalam nan terjal. Tak ada satu pun manusia yang pernah memasukinya. Bagi manusia, ngarai itu terlalu misterius; masuk ke sana pasti akan dianggap mati sebab tidak ada jalan keluar lain kecuali dinding-dinding terjal yang tegak lurus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada di sana hanyalah sepi. Setidaknya, itulah yang diketahui manusia. Tetapi, memang betul, suara yang ada hanyalah deru bisikan angin yang bermain-main di antara pepohonan dan bebatuan, atau derak ranting dan desah dedaunan yang menandai kesediaan mereka untuk turut serta dalam permainan atau paduan suara burung-burung yang menyanyikan lagu kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ada yang lebih dari itu semua. Hanya mereka yang memiliki nurani seputih salju saja yang mempu mengetahuinya. Bagi mereka yang memilikinya, mereka akan mendengar senda gurau penuh kegembiraan, cekikikan lugu, serta gelak tawa riang suara-suara sopran yang pasti akan memikat setiap perjaka di muka bumi ini. Merekalah peri-peri hutan. Mereka bermain-main seharian, menghibur pepohonan dan hewan-hewan yang sedih pilu karena kekejaman manusia, menemani Dewa Bumi yang pusing akan dominasi manusia yang semakin sombong dan munafik. Mereka juga kerap menyanyikan lagu-lagu gembira bernada harapan akan suatu kehidupan Bumi yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, semenjak pagi hari, mereka telah meramaikan alam ini. Tapi, ternyata, pagi itu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Tidak ada gelak tawa dan senda gurau yang menghibur pada pagi itu. Tidak ada paduan suara merdu. Yang jelas, bukan karena Dewa Bumi memerintahkan langit untuk berduka. Bukan pula karena dewa Bumi menggeram dan meronta marah, menggetarkan dirinya. Langit pagi ini adalah langit yang cerah, tidak mendung seperti hari-hari lalu. Namun, suara-suara sopran itu tak terdengar. &lt;br /&gt;Ternyata, pagi itu, mereka menemukan sesosok mayat manusia, manusia muda laki-laki, tepatnya. Kulitnya masih putih, serasih dengan rambutnya yang keemasan. Wajahnya melankolis sehingga semakin mendukung suasana kelam hati para peri yang mengerumuninya. Kelopak matanya tertutup, bibirnya yang merah turut mengatup, dan tubuhnya tergeletak diatas batu. Tangan kanannya mengepal, seperti menggenggam sesuatu. Dari belakang kepalanya, mengalir cairan merah tua yang sudah hampir kering. Sekumpulan peri berdiri mengerumuni mayat pemuda laki-laki itu. &lt;br /&gt;“Ini kan manusia!” Seorang peri akhirnya memecah keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Tepatnya, manusia yang mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasihan sekali dia ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia terlalu muda untuk mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, lebih-lebih, wajahnya… aku tidak tega memandang wajahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasihan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa ia bisa ada di sini, yah?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, aku tahu. Dia adalah peziarah” kata seorang peri dengan semangat, “pemuda dengan suatu harapan besar bahwa keinginannya tercapai. Maka, ia pergi ke puncak Aturis dan bernazar dengan Dewa Bumi. Hmm... kemudian, keinginannya tercapai berkat Dewa Bumi. Namun, ia tidak memenuhi nazarnya. Lalu, Dewa Bumi pun marah dan membuat rohnya menghantarkan dirinya terjun ke ngarai ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huss... jangan berpikiran seburuk itu! Dewa Bumi tidak pernah bertindak sekejam itu! Bisa-bisa kamu kena marah nanti.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi manusia ini kan telah mengingkari nazarnya. Ia memang pantas dihukum!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat, bahkan, walaupun manusia-manusia itu mengkhianatinya, Dewa Bumi selalu sabar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul juga. Lalu, siapa dong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau menurutku, dia adalah pemuda dengan semangat petualang” Seorang peri mengusulkan. “Pemuda malang yang memaksakan dirinya berpetualang ke ngarai ini. Ia hendak menginjakkan kakinya pada tanah ngarai ini yang belum pernah terjamah oleh seorang manusia pun. Namun ia belum siap... tapi ia tetap memaksakan dirinya! Sebenarnya, ia belum mampu menghadapi tebing terjal dan hawa beku ngarai Alturis ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin saja... manusia itu ‘kan sukanya memaksakan kehendaknya, apalagi, di usia muda seperti dia... di mana ambisinya masih meluap-luap”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kurasa tidak. Wajahnya terlalu melankolis. Tidak mungkin ia bersifat seperti itu. Dia bukan tipe manusia ambisius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul juga... kalau begitu, mungkin dia adalah seorang pecinta. Ia adalah seorang pemuda romantis nan sensitif. Kekasihnya direbut oleh orang lain berkat kuasa otoritas adat. Sebagai seorang pemuda biasa... ia kalah. Ia yang begitu terluka perasaannya merasa diperlakukan tidak adil... putus asa” kata peri lain mengusulkan. &lt;br /&gt;“Ya... betul, pemuda yang sensitif. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dalam belantara ngarai Alturis yang sepi... sesepi jiwanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, romantis sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangnya, tragis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, hanya gara-gara adat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, itulah manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa seperti itu memang. Tapi, menurutku, bisa jadi dia adalah pencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pencuri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, manusia itu suka menganggap dirinya Dewa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaa... menganggap dirinya Dewa Bumi, penguasa Bumi ini. Karena ia berpikir bahwa ialah yang berkuasa di atas Bumi ini, ia seenaknya, mengambil.. eh, maksudku mencuri apa saja yang ada di alam Bumi ini. Lalu, Dewa Bumi yang merasa kecurian itu menjadi marah. Jadi, setelah ia melakukan perbuatan mencurinya itu, Dewa Bumi mencelakainya hingga ia masuk dalam ngarai ini.” Peri lain mengusulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila benar, masak Dewa Bumi sekejam itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kamu ini bagaimana. Dewa Bumi mana pernah berbuat seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku jadi sangsi dengan perkataanmu itu. Apalagi melihat wajahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wajahnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, wajahnya. Lihat, wajahnya bukanlah wajah pencuri!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak? Yang benar saja? Semua manusia itu memiliki jiwa pencuri. Kita semua ‘kan tahu mengenai hal itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa peri memperhatikan dengan seksama mayat manusia itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar juga, tidak untuk yang satu ini.” Yang lain turut mengangguk. “Pencuri itu memiliki wajah yang khas. Manusia ini tidak berwajah seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti, dia bukanlah seorang pencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat. Dia termasuk segelintir manusia yang tidak berjiwa pencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, dia ini siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, aku tahu.” Seorang peri mengusulkan. “Kurasa, dia adalah pejuang... manusia yang hendak melawan tiran yang membelenggu dirinya dan bangsanya dalam suatu penderitaan yang berkepanjangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah... Tiran itu terlalu kuat. Ia memiliki banyak senjata dan prajurit. Sementara itu, ia hanya sendirian. Makanya, dengan mudah ia dapat diringkus, dilumpuhkan, dan dibunuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, Hebat yah! Sungguh berani. Aku baru tahu ada manusia yang seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang ada manusia yang berani, walaupun cuman sedikit.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kalau kejadiannya seperti yang kamu ceritakan, itu sih namanya bodoh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin ia sudah tidak tahan lagi hidup dalam belenggu penderitaan. Mana ada manusia yang setia dengan penderitaan. Ia pasti akan melawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya... mungkin baginya lebih baik mati sebagai orang bebas daripada hidup sebagai tawanan ketidakadilan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, kasihan yah, manusia itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasihan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya... kasihan. Mereka itu maunya bebas. Tapi, mereka sendiri saling menindas dan berperang. Bukankah itu sebuah ironi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah buah ambisi busuk manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, intinya, mayat ini korban kekejian manusia lain.”&lt;br /&gt;“Bisa jadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kurasa tidak. Lihatlah! Tubuhnya tidak terdapat banyak luka-luka. Hanya ada luka di kepala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul juga.. biasanya, hasil siksaan manusia itu amat mengerikan. Apalagi, kalau kurban tiran atau kurban perang. Ihh, mengerikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, ia ini siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita memeriksa kantong-kantongnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menggeledahnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Kita langsung menggeledahnya saja. Kita ‘kan tidak terikat oleh peraturan dan hukum seperti manusia. Manusia butuh peraturan karena dirinya memang sulit diatur. Beda dengan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul. Lagian, ini demi kebaikannya juga; supaya setidaknya, arwahnya dapat kembali kepada Sang Khalik tanpa prasangka buruk dari kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peri-peri lainnya mengangguk tanda setuju. Salah satu dari mereka merogoh kantung di bajunya. Ia menemukan secarik surat yang sudah agak kusam. “Ah, lihatlah! Sebuah surat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bacakan! Bacakan!” Peri-peri lain memintanya dengan bersemangat. “Ya, bacakanlah!”&lt;br /&gt;“Baiklah, aku akan membacakannya.” Kemudian, peri itu membacakan surat itu. Peri-peri lain mengambil posisi santainya masing-masing, persis seperti anak kecil hendak dibacakan cerita dongeng.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakanda yang terkasih, cinta sejatiku, aku begitu merindukanmu. Jiwaku terasa kering, terbakar oleh kesepian, tercambuk oleh kerinduan. Hidupku terasa sepi. Tatkala aku pergi melewati Taman Kala, aku selalu terisak karena ingatanku menyubuhi aku kenangan-kenangan indah bersamamu semenjak kita kecil dahulu. Aku begitu merindukan mengalami lagi masa-masa indah bersamamu. Kau yang kini tidak ada lagi di sisiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat benar kata demi kata yang kau katakan padaku di saat kau akan pergi, sebagaimana aku memimpikannya setiap malam, sebagai suatu mimpi yang pilu. ’Aku mencintaimu, Adinda. Tapi aku harus memenuhi panggilan hidupku. Aku takkan meninggalkanmu. Jiwaku akan selalu besertamu dan jiwaku akan selalu bersertamu. Aku hanya akan pergi sebentar karena hidup ini memang terlalu singkat. Percayalah kelak, kita akan bertemu lagi dalam kehidupan yang abadi, bukan kehidupan yang dipenuhi kemunafikan dan kesombongan ini. Relakanlah aku pergi, menyelami kemurnian Sang Khalik di dalam jiwa-jiwa yang miskin dan lemah, di antara keluguan alam.’ Kata-katamu itu sungguh manis tapi juga pahit. Pahit karena semenjak itulah kita terpisah oleh jarak ribuan mil. Manis karena walaupun terpisah, kau menyatakan cinta kita tetap abadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, Belahan Jiwaku, walaupun dirundung oleh kerinduan dan kesepian, aku bangga padamu. Aku bangga pada keputusanmu. Kau memang pantas bagiNya. Karenanya, Kakanda, berjuanglah terus. Temukan dan raih tujuan hidupmu. Jangan sekali-kali kau menengok ke belakang. Jangan kau sekali-kali mendengarkan pilu cengeng gadis bodoh ini. Teruskan usaha muliamu ini! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakanda tercinta, ada satu hal yang perlu Dinda utarakan. Kerinduan mendalam dalam jiwaku ini akan kehadiranmu semakin disesakkan oleh kekhawatiran akan keselamatan jiwamu. Aku telah mendapat kabar dari Odin, saudagar kaya yang kau temui di Nexus bahwasanya kau hendak mencari tanaman obat demi melawan wabah penyakit disana yaitu, bunga Amor yang hanya ada di sekitar ngarai di pegunungan Alturis. Cinta suciku, aku tidak akan menghalang-halangi usaha luhurmu itu. Hanya saja, sebagai gadis yang hatinya telah tertambat dalam hatimu, aku mengingatkanmu supaya kau berhati-hati oleh terjalnya tebing-tebing Alturis dan awan-awan kelam yang mencurahkan hujan sehingga membasahinya dan membuat jadi licin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakanda yang amat kucinta, demi keberhasilanmu, aku berdoa senantiasa kepada Sang Khalik. Di sela-sela kerinduan dan kekhawatiran ini, aku percaya bahwa kau akan berhasil karena Sang Khalik yang Maha-ilahi besertamu. &lt;br /&gt;Cinta abadimu, Auriel.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika, keheningan merebak di antara mereka. Para peri memandang mayat manusia laki-laki itu. Kini, wajahnya menunjukkan kedamaian yang memancarkan belaian lembut, menjamah hati mereka. Surat itu ditempatkan kembali di kantong mayat laki-laki itu. Lalu, peri-peri itu berdiri dan bergandengan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta manusia...” kata salah satu dari mereka seraya meneteskan air keharuan. &lt;br /&gt;Tangan kanan mayat laki-laki yang tadinya mengepal itu, lalu, merekah, membiarkan bunga-bunga Amor diterbangkan oleh sang angin. Lepas dari kehangatan telapak tangannya, menyatu kembali dengan keteduhan alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188676858785645?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188676858785645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188676858785645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2005/11/di-balik-mayat.html' title='Di Balik Mayat'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188619988669064</id><published>2005-11-13T04:49:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T04:49:59.943-08:00</updated><title type='text'>Belajar dari Bambu</title><content type='html'>Kalau Anda menonton film-film Cina atau Jepang, atau melihat lukisan-lukisan dari kebudayaan mereka, sosok tanaman bambu tampak begitu lekat dengan mereka. Ada apa dengan bambu. Tampaknya bambu memang menyimpan makna khusus bagi saudara-saudara kita di Asia Timur itu. Memang, bila kita merenungkannya lebih jauh, bambu ternyata menyimbolkan banyak sifat-sifat mulia dalam dirinya. Tentunya, sifat-sifat ini dapat menjadi pelajaran bagi manusia supaya bisa turut memiliki kebijaksanaan sama seperti tanaman bambu ini. &lt;br /&gt;Bagi Anda penggemar komik Kung Fu Boy, tokoh Chinmi pernah belajar salah satu ilmu bela dirinya melalui perbandingan serumpun bambu dengan sebuah pohon beringin raksasa. Saat itu, sang guru menyuruh Chinmi untuk bermeditasi di sebuah kuil. Maka, ia pun bermeditasi menghadap ke halaman kuil. Di sebelah kiri halaman kuil, terdapat serumpun bambu; sementara di sebelah kanannya terdapat sebuah pohon beringin raksasa. Ceritanya, saat ia bermeditasi, terjadi hujan badai disertai angin yang amat kencang. Dalam badai itu, pohon beringin besar itu tumbang oleh angin kencang. Sementara, serumpun bambu itu tetap pada posisinya. Sungguh diluar dugaan Chinmi, padahal, sebelumnya, ia mengira bahwa yang akan tumbang adalah bambu-bambu itu. Ya... saat diterpa angin kencang serumpun bambu itu membengkok mengikuti arah angin. Tampaknya, ia rapuh namun sebenarnya bukan rapuh, tapi lentur, adaptif. Berbeda dengan pohon beringin yang awalnya tampak tidak terpengaruh oleh angin, keras kepala, namun berakhir tragis. Dari sini saja, Anda dapat memetik sebuah nilai mengenai keluwesan. Dalam hidup, hendaknya kita tidak boleh keras kepala dengan pemikiran kita. Perlu kita bersikap seperti bambu yang luwes, terbuka pada kemungkinan lain yang lebih baik, dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Alhasil, ia pun berhasil selamat dari badai. &lt;br /&gt;Saat diterpa angin, bambu tidak kisruh (ribut, gelisah). Ia hanya mengikuti arah angin, dan mengeluarkan suara mendesah yang lembut. Berbeda dengan pohon kebanyakan, yang saat diterpa angin, mengeluarkan suara derak dan gemerisik yang mengkhawatirkan. Untuk yang ini, kita dapat belajar bahwa dalam menghadapi suatu masalah, kita tidak perlu gelisah dan ribut. Yang diperlukan adalah keheningan. Partikel pengotor yang bercampur dengan air sehingga menjadikan air keruh pun akan mengendap, terpisah dari airnya jika gelas penampung air keruh itu didiamkan. Bambu adalah simbol ketenangan dan keheningan. Dua hal yang langka pad zaman sekarang ini.&lt;br /&gt;Bambu memiliki perakaran yang berbeda dengan pohon beringin. Dari luar ia tampak rapuh -selain karena posturnya yang kecil- juga karena akar-akarnya tidak tampak. Berbeda dengan pohon beringin yang mempertontonkan akar-akarnya. Identik dengan binaragawan yang mempertontonkan otot-otot dan urat-uratnya. Sebenarnya, justru bambu itu memiliki kelebihan. Perakarannya justru kuat dan mendalam, walaupun tidak kelihatan. Bambu tidak sombong, ia rendah hati. Rasanya ini pun dapat menjadi pelajaran bagi manusia: supaya tidak sombong. Justru sikap sombong dapat mengganggu orang lain; identik dengan akar pohon beringin yang menyebar ke segala arah, dan sering merusak pondasi bangunan. &lt;br /&gt;Merenungi ini juga, kita dapat belajar supaya hidup kita tidak semata-mata dangkal. Hidup ini haruslah berakar dalam. Artinya, kita memiliki nilai-nilai baik tertentu yang menjadi pegangan hidup sehingga hidup ini dapat menjadi indah dan bahagia. &lt;br /&gt;Bila kita mengamati serumpun bambu, di bandingkan dengan tanaman lain yang umum, akan tampak perbedaan yang amat mencolok, yaitu: bunga dan buah. Bambu tidak memiliki bunga ataupun buah. Walaupun demikian, ia tetap berdiri tegak dan tidak minder. Justru ia tetap dapat menjadi penghias taman yang unik dan indah. Ia tidak sombong, dan lebih lagi, dengan kerendahan hatinya, ia tetap dapat memberikan yang terbaik. &lt;br /&gt;Masih ada banyak lagi, keutamaan hidup yang dapat diperoleh dari merenungi bambu. Dari permenungan singkat di atas saja, kita sudah mendapat banyak nilai, tentang kesederhanaan hati, keheningan, dan kehidupan yang berakar mendalam. Sudahkah kita belajar dari bambu yang ternyata bijaksana itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antonius Krisna Murti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188619988669064?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188619988669064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188619988669064' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188619988669064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188619988669064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2005/11/belajar-dari-bambu.html' title='Belajar dari Bambu'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188590147117022</id><published>2005-11-13T04:44:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T04:45:10.196-08:00</updated><title type='text'>Special Forces Kerajaan Allah dan Organisme Mahasiswa Katolik</title><content type='html'>Membangun Komunitas Mahasiswa Katolik di Era Gelombang Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa adalah penuh potensi. "Berikan saya tiga orang, maka saya akan mengguncang dunia; berikan saya tiga pemuda, maka saya akan mengubah dunia," kata Soekarno. Mahasiswa (Katolik) adalah entiti Gereja yang menjadi tulang punggung Gereja. Dalam waktu 10-20 tahun ke depan, mereka adalah kepala keluarga Katolik, ibu dari anak-anak Allah, Ketua Lingkungan,  anggota Dewan Paroki, dan bahkan Pastor. Pentingnya pembimbingan Komunitas Mahasiswa Katolik (KMK) juga membawa tantangan tersendiri, terutama di era gelombang ketiga ini. Tantangan inilah yang perlu dirumuskan dan diatasi, demi masa depan Gereja Allah. Dua solusi yang saya tawarkan: special forces dan organisme.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuk pada solusi, ada dua hal yang perlu diungkap, demi memperjelas permasalahan. Pertama adalah pemuda. Khususnya dalam tulisan ini saya hendak memfokuskan pada mahasiswa, sebagai pemuda tahap akhir menjelang pintu dewasa. Mahasiswa, sebagai seorang muda yang telah melewati luapan hormon masa puber, mulai menetapkan pikiran dan prinsip-prinsip hidupnya. Seorang kontraktor yang sedang menggambar peta bangunan, memilih pondasi, menyusun timeline, dsb. Di sinilah Gereja berperan sebagai perpanjangan tangan Yesus yang mengarahkan menuju yang terbaik bagi Kerajaan Allah dan baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah masalah konteks zaman. Alvin Tofler telah meramalkan so-called gelombang ketiga yang sedang kita alami. Kalau gelombang pertama adalah peradaban pertanian dan gelombang kedua peradaban perindustrian, maka gelombang ketiga ini adalah peradaban informasi dan Iptek. Zaman di mana manusia sudah mampu memperhitungkan dengan tepat bagaimana menempelkan sensor dan pemantau pada badan komet Temple I yang kecepatannya 33.000 Mph dan berjarak 83.000.000 mil dari Bumi (baca: Misi Deep Impact NASA), sudah jelas berbeda dengan zaman Romo Van Lith. Beliau dulu mungkin dapat menyebarkan kabar gembira Kerajaan Allah via rumah ke rumah; mengkoordinir paroki dalam kesatuan kring, stasi, dan lingkungan. Gejala diaspora teritorial (antar rumah jauh, terpencil) memang sudah ada sejak zaman Romo Van Lith, namun kini Gereja memiliki tantangan yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja metropolis di rimba belantara gelombang ketiga memiliki sifat diaspora fungsional dan psikologis. Diaspora fungsional maksudnya bervariasi dalam tugas. Mahasiswa punya tugas yang berbeda: jurusan berlainan, unit kegiatan mahasiswa berbeda, hobi bervariasi, organisasi beragam. Jika Anda penggembala, lebih mudah mana menggembalakan sekawanan domba atau menggembalakan domba, sapi, macan, dan gajah sekaligus? Selanjutnya, diaspora psikologis berarti tercerabut dari akar kultural tradisional. Di belantara beton-metal gelombang ketiga ini, budaya tradisional sedang diserang oleh badai budaya ’tidak jelas’ kerena merupakan melting pot dari berbagai budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi diaspora mahasiswa ini membuat dua masalah besar. Pertama, minimal ada dua golongan besar mahasiswa dalam KMK, yaitu aktif dan pasif. Golongan aktif adalah mahasiswa katolik yang aktif dalam kegiatan KMK di kampusnya. Yang pasif adalah mereka yang lebih memilih aktif di kegiatan mahasiswa lain atau fokus hanya ke studinya. Termasuk di dalamnya adalah mereka yang tidak tertarik dan menganggap KMK membosankan. Kedua, pembimbingan mahasiswa menjadi sulit; bagai menyetir truk tanpa power steering. Di sisi lain, tugas kegembalaan Pastor malah semakin bertumpuk akibat pertambahan jumlah umat tidak sebanding dengan pertambahan jumlah Pastor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Untuk menghadapi itu, diperlukan strategi khusus. Saya sangat setuju pernyataan aggiornamento Rm. Mangun (baca Gereja Diaspora). Betul bahwa tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Gereja harus berhadapan dengan ini. Gereja harus bersifat agile, tetap pada rel, tapi juga menyesuaikan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua hal yang perlu diwujudkan. Pertama, saya percaya betul tentang keampuhan 3-I:  inform, involve, invite. Pastor bukan hanya sebagai pemberi bimbingan searah. Lebih dari itu, sesuai dengan dua ’i’ terakhir, pembimbingan harus mengikutsertakan mahasiswa dan memberi kesempatan kepada mahasiswa itu untuk berperan. Tidak boleh ada monolog, harus dialog; bahkan, multi-log. Prinsip ini sesuai dengan dekrit Apostolicam Actuositatem (Kerasulan Awam) hasil Konsili Vatikan II. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manifestasinya, Pastor harus memberikan pendelegasian khusus terhadap beberapa mahasiswa yang telah dibimbing secara khusus pula. Saya menyebutnya dengan special forces (SF). Mereka adalah gerilyawan sekaligus intelejen Kerajaan Allah yang dapat jauh lebih leluasa bergerak ke dalam relung hati teman-temannya serta memiliki waktu yang lebih banyak dan intensif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, di sini, perlu ada dua bentuk yaitu organisasi KMK dan organisme KMK. Bedanya, organisasi akan terpatok melulu pada fungsi dan hierarkis. Sementara itu, organisme lebih mengarah pada suatu mahluk hidup yang mandiri dan terus belajar; seperti tubuh kita yang sebenarnya terdiri dari milyaran sel yang hidup dan berkembang mandiri; dikoordinir oleh pusat syaraf. Dalam terminologi ilmu yang berkembang sekarang, dapat dianalogikan dengan cell automata atau neural network (baca Wolfram Sciences). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;cel automata atau neural network&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam organisme mahasiswa Katolik akan ada banyak sel/neuron yang menjadi pusat-pusat kecil pembimbingan. Pusat-pusat ini akan tetap dikoordinir oleh Pastor. Masing-masing sel/neuron dikoordinir oleh SF. Dalam kesatuan sel/neuron ini, masing-masing akan memiliki kegiatan bersama per sel/neuron, seperti KKS (Kelompok Kitab Suci), sharing kelompok, dsb. Neuron/sel juga kan dibentuk dalam dunia maya melalui milis dan forum untuk menjaring mahasiswa pasif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Organisme mahasiswa Katolik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam tubuh organisasi KMK, peran hierarkis tetap berfungsi. Kegiatan-kegiatan selayaknya organisasi KMK pun tetap ada: rapat, Misa bersama, Paskahan/Natalan, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Organisasi mahasiswa Katolik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik organisasi maupun organisme harus dijalankan secara simultan agar sinergis. Dengan model ini, pertama, akan terbentuk pusat-pusat ’sel/neuron’ yang mampu mandiri, berkembang menjadi Mahasiswa Allah sejati, tanpa menghabiskan seluruh tenaga Pastor. Kedua, pusat-pusat ini akan menjadi serangkaian pondasi kecil yang menopang rata kehidupan menggereja komunitas mahasiswa katolik. Yang perlu diingat,. Pastor tetap mahapenting dalam kehidupan menggereja. Dengan ini maka ungkapan Soekarno ini akan tetap terwujud. Semoga, kelak para mahasiswa ini akan menjadi Yesus-Yesus muda yang giat mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 5 September 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188590147117022?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188590147117022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188590147117022' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188590147117022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188590147117022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2005/11/special-forces-kerajaan-allah-dan.html' title='Special Forces Kerajaan Allah dan Organisme Mahasiswa Katolik'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188805236593881</id><published>2005-11-04T05:19:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:20:52.426-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Membangun Kota yang Sehat melalui &lt;br /&gt;Kebijakan Transportasi yang Ramah Lingkungan &lt;br /&gt;Oleh: Antonius Krisna Murti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D&lt;br /&gt;i tengah deru globalisasi dan badai kemajuan Iptek, lingkungan kota (di Indonesia) malah cenderung menjelma menjadi kota yang tidak sehat. Kesegaran tidak ditemui lagi, hingga para penduduk urban ini mesti berjubel menuju daerah peristirahatan di luar kota, hanya demi udara segar. Suasana yang mendominasi kota-kota di Indonesia --apalagi kota-kota besar-- adalah suasana yang sumpek, panas, tidak nyaman --membuat tidak betah. Polusi udara, utamanya dari sektor trasportasi telah menyebabkan hal itu. Karenanya, diperlukan usaha-usaha yang nyata nan konkret dalam mewujudkan kota yang sehat, segar, menyenangkan, dan ,t terutama, membuat betah. &lt;br /&gt;Sektor transportasi, yang mendominasi sebagian besar polusi udara di kota jelas perlu dibenahi. Berikut ini hanyalah cuilan ide-ide demi mewujudkan kota yang alami dan menyenangkan. Setidaknya ada dua hal yang mendesak dilakukan dalam kebijakan transportasi kota-kota di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menuju public-transport oriented dan tidak memanjakan mobil pribadi&lt;br /&gt;Umumnya, kota-kota di Indonesia masih private-car oriented. Inilah yang salah satu sebab utama tingkat polusi yang tinggi dari sektor transportasi. Karenanya, kota-kota perlu mewujudkan public-transport oriented (berwawasan transportasi masal). Intinya, menganugerahi insentif pada sarana dan prasarana trasportasi masal dan memberikan disinsentif pada sarana dan prasarana mobil pribadi. &lt;br /&gt;Yang pertama harus dilakukan adalah memberi insentif pada sarana dan prasarana transportasi masal. Misalnya: peningkatan pelayanan (termasuk didalamnya: menjamin keamanan dan kenyamanan penumpang), menurunkan harga tiket, memberikan subsidi bahan bakar, melengkapi prasarana lainnya (termasuk: terminal, halte, jalur khusus bus, dsb). Wujud public-transport oriented juga bisa berupa usaha perusahaan-perusahaan memberikan fasilitas antar-jemput para karyawannya, ketimbang memberikan fasilitas mobil kantor atau memberikan uang transport. Hal ini dapat juga mendukung makin eratnya sosialisasi antar karyawan. &lt;br /&gt;Selanjutnya, perlu sarana dan prasarana kendaraan pribadi perlu diberikan disinsentif. Bentuknya bisa bermacam-macam; mengurangi jumlah lapangan parkir, misalnya. Kota Paris telah menutup lebih dari 200.000 tempat parkir di kotanya . Contoh lain, kenaikan retribusi parkir, tingginya bea impor kendaraan pribadi, mencabut subsidi bahan bakar khusus untuk kendaraan pribadi atau kenaikan pajak kendaraan pribadi. Atau, adanya daerah-daerah yang tidak boleh dilewati oleh kendaraan pribadi pada waktu-waktu tertentu. &lt;br /&gt;Di Inggris, ada konsep kiss and ride untuk transportasi antar pekerja atau pelajar yang tinggal di pinggir kota atau di kota satelit. Ibu dapat mengantarkan anak dan/atau suaminya menuju ke stasiun atau terminal. Mencium dan membiarkan mereka pergi ke kantor/sekolah. Atau, bisa pula kendarannya dititipkan di stasiun dan terminal.  Sementara itu, konsep park and ride diberlakukan di daerah-daerah di pusat-pusat perbelanjaan, perkantoran, dsb. Mereka yang menggunakan kendaraan pribadi harus memarkir kendaraannya di lahan parkir yang telah disediakan di luar kompleks pusat-pusat itu. Hanya kendaraan umum yang memiliki akses untuk keluar-masuk kompleks itu. Dengan public-transport oriented, akan juga dicapai efisiensi tenaga dan waktu yang lebih tinggi; termasuk mengurangi macet dan stress.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Turut memihak pejalan kaki (pedestrianisasi) dan kendaraan tidak bermotor&lt;br /&gt;Kecenderungan kota-kota di Indonesia, pejalan kaki dan kendaran tidak bermotor menjadi pengguna jalan kelas dua. Sayang sekali, padahal, berjalan kaki dan berpergian dengan kendaraan tidak bermotor amatlah efisien karena tidak memerlukan bahan bakar, juga menyehatkan, dan terlebih lagi, tidak mencemari lingkungan. Karena itu, demi mewujudkan kota yang sehat, nyaman, dan menyenangkan, kebijaksanaan transportasi perlu pula memihak pada pejalan kaki dan pengendara kendaraan tidak bermotor sebagai pengguna jalan yang memiliki hak yang sama dengan pengendara kendarana bermotor. &lt;br /&gt;Wujudnya, bisa berupa pembuatan jalur-jalur lambat atau lajur-lajur khusus (ditandai dengan marka jalan yang khusus) untuk kendaraan tidak bermotor tertentu. Untuk sepeda, misalnya. Kota-kota di daratan Eropa dan Amerika amat menghargai para pengguna sepeda hingga mereka pasti menyediakan lajur khusus sepeda yang tidak boleh diterobos oleh kendaraan lain. Di kota-kota besar di AS, dalam dasawarsa 1990-an saja, sudah direalisasikan sekitar 500 proyek lajur khusus sepeda .&lt;br /&gt;Bagi pejalan kaki, wujud keberpihakan pada para pejalan kaki (saya istilahkan dengan pedestrianisasi) dapat berupa perbaikan trotoar, termasuk memperindah estetika trotoar. Wujud lainnya bisa berupa mengubah shopping street menjadi shopping precinct. Aspal pada ruas jalan shopping street dibongkar dan diganti oleh conblock yang umumnya digunakan pada trotoar. Lalu, yang boleh memasuki kompleks pusat perbelanjaan itu hanyalah pejalan kaki. Kota-kota di Eropa banyak yang mewujudkan hal ini. Dan terbukti meningkatkan pendapatan sektor niaga, terutama cafe-cafe. Saat lelah berjalan-jalan sambil berbelanja, para pengunjung dapat mampir di cafe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan transportasi yang ramah lingkungan merupakan hal yang urgen dalam usaha membangun kota yang sehat, segar, nyaman, menyenangkan, dan membuat betah. Sekarang tinggal pelaksanaannya. Beranikah, kota-kota di Indonesia ber-reformasi dan mewujudkan kebijakan transprtasi yang ramah lingkungan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188805236593881?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188805236593881/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188805236593881' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188805236593881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188805236593881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2005/11/membangun-kota-yang-sehat-melalui.html' title=''/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188822321695934</id><published>2005-09-22T05:23:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:23:43.290-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Ekonomi dalam Lingkungan: &lt;br /&gt;Ecodevelopment plus Etika Lingkungan Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi dan lingkungan bukanlah dialektis yang merupakan tesis dan anti-tesis. Keduanya, bahkan, merupakan dua elemen yang harus (baca: wajib) saling komplementer. Ketika pertimbangan ekonomi dipisahkan dengan pertimbangan lingkungan, bumi yang maha indah ini akan menjelma menjadi neraka. Sebaliknya, jika keduanya saling melengkapi, bumi ini akan menjadi Firdaus baru yang mengagumkan. Jadi, yang telah diungkapkan oleh Prof. Dr. Emil Salim dalam artikel beliau Ekonomi dalam Lingkungan, Kompas (26/11/02) sangatlah tepat. Selanjutnya, manifestasi ekonomi dalam lingkungan itu akan terejawantahkan dalam ecodevelopment dan etika lingkungan hidup. Keduanya adalah paradigma yang harus dipegang oleh seluruh manusia, terutama para pelaku bisnis dan para ekonomist lainnya demi mewujudkan Bumi (baca: rumah) yang aman, nyaman, dan sehat. &lt;br /&gt;Dalam dunia yang semakin terbius dalam globalisasi dengan pasar bebas dan ekonomi liberalnya, lingkungan hidup terus berteriak kesakitan berkat perbuatan manusia. Sayangnya, hanya segelintir manusia yang mendengarnya, sementara itu yang lain sibuk mencari uang dan terus menyiksa manusia. Manusia-manusia pasca-modernisasi telah terbius oleh semangat untuk terus mengeksploitasi alam demi memenuhi kebutuhan ekonomisnya. &lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, para pengusaha menuntut pemerintah supaya mengamandemen UU No. 41/99 tentang Kehutanan supaya mencabut status kawasan hutan lindung. Dengan ini mereka bebas mengeksploitasi lebih jauh hutan-hutan itu, termasuk menjadikannya wilayah pertambangan. Ada sekitar 11,4 juta hektar kawasan hutan lindung dan konservasi yang terancam. Ngerinya, mereka menyodorkan pilihan yang dikotomis kepada pemerintah antara mempertahankan status kawasan itu atau investor akan kabur. Pemerintah jatuh dalam posisi sulit, mengingat Indonesia, di lain pihak membutuhkan investor demi menyelamatkan ekonomi negara. Itu hanyalah contoh kecil kenyataan bumi yang menjadi neraka, gara-gara pertimbangan ekonomi dipisahkan dari pertimbangan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;“Die natur ist dasz einzige buch dasz auf allen blattern groszen inhalt bietet” (alam adalah satu-satunya buku yang pada tiap-tiap lembarnya mengandung isi yang sangat luas). Begitulah kira-kira yang diungkapkan oleh Goethe, sastrawan, pujangga besar, dan sekaligus penyelidik alam yang terkemuka mengungkapkan kekagumannya pada kemahadasyatan alam. Namun, amatlah benar ungkapannya itu. Manusia itu amatlah kecil di hadapan alam. Dalam hitungan menit, sebuah angin siklon raksasa dapat dengan mudah menghancurkan sebuah kota pelabuhan yang dibangun puluhan tahun.&lt;br /&gt;Namun, manusia yang sebenarnya tidak ada apa-apanya itu, nyatanya mampu mendominasi dan menyakiti alam sekitarnya. Dan seiring dengan makin cepatnya roda globalisasi berputar, siksaan terhadap alam semakin mengerikan. Di sinilah diperlukan sebuah turning point. Manusia harus berhenti menyiksa alam dan berbalik: back to nature. Mencapai turning point ini, diperlukan dua konsep yang saling berpadu, yaitu ecodevelopment dan etika lingkungan hidup.&lt;br /&gt;Ecodevelopment alias pembangunan berwawasan lingkungan adalah pembangunan (termasuk di bidang ekonomi, tentunya) yang mengikutsertakan pertimbangan lingkungan sebagai bagian dari proses pengambilan kebijakan pembangunan. Sebenarnya konsep ini sudah mulai dimunculkan dalam Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Stockholm, tahun 1972. Membangun sektor ekonomi lengkap dengan pertimbangan lingkungan sama sekali bukan membuang uang atau mengurangi untung. Mewujudkan konsep ecodevelopment berarti menabung kehidupan untuk masa depan anak cucu.&lt;br /&gt;Sementara itu, etika lingkungan hidup adalah pedoman yang menopang ecodevelopment. Percaya atau tidak, masalah lingkungan hidup bukan semata-mata masalah fisik saja. Masalah lingkungan hidup memerlukan suatu etika. Etika lingkungan hidup pada dasarnya lahir dari kesadaran manusia bahwa alam semesta ini dieksploitasi tanpa kira-kira.&lt;br /&gt;Etika lingkungan hidup adalah pertimbangan filosofis dan biologis mengenai hubungan manusia dengan tempat tinggalnya serta dengan semua mahluk nonmanusia. Dengan etika lingkungan hidup, manusia dipaksa untuk me-review segala aktivitasnya yang berhubungan dengan lingkungan hidup; mana yang benar, mana yang salah. James A. Nash (1996: 10) menyatakan bahwa etika lingkungan hidup adalah an expansion of every branch of ethics. Setiap cabang etika, memiliki unsur etika lingkungan hidup sebagai pengembangannya. Etika kehidupan ekonomi pun tidak hanya berpikir secara sosiologis-ekonomis, melainkan juga secara ekologis. &lt;br /&gt;Setidaknya ada dua unsur utama dalam mengusahakan etika lingkungan hidup yang ditawarkan oleh William Chang, OFMCap (Chang, William. 2001: 77-83), yaitu deep ecology dan penghijauan diri. Deep ecology (Macy, Joanna. 1994: 292) menyadarkan bahwa manusia bukanlah penguasa alam. Dalam hal ini perlu diubah sikap manusia yang antroposentrik, yaitu menganggap bahwa hanya dirinya yang pantas menerima pertimbangan moral. Akibatnya, semuanya yang diluar manusia tidak berharga dan pantas dieksploitasi tanpa kira-kira. Manusia harus menyadari adanya nilai intrinsik dalam tiap unsur nonmanusia.  &lt;br /&gt;Dalam penghijauan diri, identitas diri manusia beralih dari pribadi egoistik-antroposentrik menjadi pribadi yang terbuka dan mampu menyelami kedalaman mahluk ciptaan lain. Dalam kerangka ini, filsafat hidup manusia pasca-modernisme yang dipenuhi oleh prinsip-prinsip utilitarianisme dan pragmatisme diubah menjadi berprinsip ekologis. Pada dasarnya, manusia harus menyangkal egoismenya dan menyadari bahwa -sesuai dengan pandangan kaum ekstensialis-, exist is to coexist (Driyarkara, 1991: 40-41). Manusia tidak bisa hidup sendirian. Manusia adalah bagian dari kesatuan alam secara holistik. Lalu, dalam kerangka itu, manusia menjadi memiliki dan menunjukkan kesetiakawanan dengan makhluk ciptaan lain non manusia dan lingkungan sekitarnya.  &lt;br /&gt;Saat ekonomi dipisahkan dari lingkungan, dan pertimbangan lingkungan hidup diabaikan meraih keuntungan ekonomis yang besar-besaran, justru bumi Indonesia yang indah, subur, gemah ripah loh jinawi ini akan menjelma menjadi neraka duniawi. Orissa, salah satu negara bagian India, adalah contoh yang baik untuk membuktikan hal ini. (IPS, 1997: 34) Di sana, privatisasi sektor listrik dilakukan (atas nasehat Bank Dunia) demi kehidupan ekonomi yang lebih baik. Sektor ekonomi dibangun, dalam wujud tambang-tambang dan PLTU, utamanya. Alhasil, kehidupan sosial-kemasyarakatan hancur. Sungai-sungai tercemar oleh residu dari tambang, sehingga mematikan sektor perikanan dan pertanian. Sementara itu, penyakit baru muncul, terutama berhubungan dengan paru-paru dan kulit. Banyak penduduk di usir dari tanah kelahirannya tanpa ganti rugi yang jelas. &lt;br /&gt;Bila hendak melihat contoh yang lebih dekat, lihatlah ibukota Indonesia. Jakarta dipenuhi oleh proyek-proyek yang hanya mementingkan unsur ekonomi, dan melalaikan pertimbangan lingkungan (ekologis). Kawasan hijau di sekitar senayan dikonversi menjadi kompleks Plaza Senayan. Hutan bakau di kawasan Ancol ludes, diganti oleh pelabuhan dan surga sintetis untuk anak-anak. Daerah Jabotabek sebenarnya memiliki 176 situ sebagai reservoir air, namun tinggal 20 yang masih utuh (Tempo, 17/02/02; Forum, 10/02/02). Proyek Pantai Kapuk Indah sudah menyulap, hutan bakau dan rawa tempat parkir 16 juta meter kubik air menjadi perumahan, tempat rekreasi dan lapangan golf. Hasil yang didapat bukanlah kesejahteraan ekonomi, melainkan bencana. Banjir melumpuhkan Jakarta selama beberapa hari. &lt;br /&gt;Jadi, siapa bilang dengan mengutamakan lingkungan, ekonomi akan hancur. Justru dengan menyatukannya, keduanya akan terpenuhi: lingkungan yang sehat, aman, dan nyaman plus kesejahteraan dan kemakmuran yang memadai. Memahami ini, membutuh pemikiran jauh ke depan (bukan hanya selangkah)! Ekonomi dalam lingkungan adalah bentuk investasi jangka panjang, yang memang di tengah arus globalisasi ini sulit untuk diwujudkan, namun believe it or not, konsep ini wajib diwujudkan for our own sake and our next generation. Setiap orang tua pasti memberikan anaknya yang terbaik. Tegakah kita (baca: manusia Indonesia) mewariskan Indonesia (baca: rumah) yang hancur dan tidak bisa didiami lagi kepada anak-cucu kita? &lt;br /&gt;Namun, walaupun para environmentalis berteriak-teriak membela lingkungan hidup, tanpa dukungan dari semua pihak, percuma. Konsep ecodevelopment dan etika lingkungan hidup harus merasuk dalam diri tiap manusia, terutama para pelaku bisnis, policymakers, dan kaum ekonomist lainnya.  Pertimbangan lingkungan adalah sine qua non dalam membangun ekomomi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188822321695934?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188822321695934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188822321695934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2005/09/ekonomi-dalam-lingkungan.html' title=''/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188758507418498</id><published>2005-09-12T05:09:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:13:05.133-08:00</updated><title type='text'>Cinta Kami dan Balas Kalian</title><content type='html'>Udara dingin yang berhembus petang itu agak kencang dan lembab, membuat hatiku tenteram. Sejenak aku pindah ke pohon pinus yang paling tinggi yang kutemui. Dengan tanganku yang panjang dalam hitungan detik aku sudah sampai ke pucuk dahan itu. Dari sana aku melihat dengan jelas, sebidang ladang beton dipenuhi sinar warna-warni yang menyilaukan mataku. Tapi lebih lagi, itu semua menyakitkan hatiku. Terkenang masa lalu yang pahit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seratus lima puluh tahun yang lalu, aku masih bersama dengan ibuku, menjadi anak semata wayang yang selalu merasakan kehangatan kasihnya. Kami hidup di pohon beringin besar yang sekarang sudah jadi segumpal beton. Padahal, aku senang sekali tinggal di pohon beringin. Julur-julurnya selalu menjadi tempat bermain yang mengasyikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam bulan purnama, banyak manusia-manusia yang mendatangi rumah kami. Mereka membawakan kami sesaji. Sering pula, ada manusia yang duduk bersila di depan rumah kami itu; ia tidak bergerak selama tiga hari tiga malam. Mulutnya komat-kamit. Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Namun, ibuku dengan setia mendengarkannya. &lt;br /&gt;“Dia ngomong apa sih, bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia mohon bantuan kita, supaya anaknya kelak dapat dilahirkan dengan lancar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, ibu mau membantunya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya jelas dong!” kata ibuku sambil meraihku ke dalam pangkuannya “Manusia itu lemah. Sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan, kita yang kuat hendaknya membantu mereka yang lemah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, ibu harus bersusah payah, menahan silau dan panasnya sinar matahari, membuang-buang tenaga dan waktu. Dulu ibu harus menguras banyak tenaga dalam ibu demi menyelamatkan  manusia tua dari sakitnya hingga ibu sendiri lemes selama beberapa hari. Bahkan, harus menahan awan hujan demi menyelamatkan panenan manusia-manusia itu. Terus, yang kita dapatkan cuman sepiring nasi dan sayur-sayuran yang nggak enak.” Aku protes sebab sering aku terbangun di siang hari tanpa keberadaan ibu di sisiku. Aku tahu pasti bahwa ia pasti sedang pergi membantu manusia-manusia lemah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, jangan begitu, anakku, bukanlah imbalan yang kita cari. Ibu mau, dengan senang hati, membantu mereka demi persaudaraan antara manusia dengan kita. Kamu kan bisa melihat, selama ini, kita dan manusia-manusia itu hidup berdampingan dengan rukun. Mereka juga, secara tidak langsung, membantu kita, melestarikan hutan sehingga kamu bisa main-main dengan bebas. Terus, sekitar rumah kita selalu bersih. Mereka selalu membersihkannya dan bahkan memasang pagar di sekitar rumah kita sehingga ayam tidak bisa nelek.” begitulah ibuku berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;Aku mengangguk tanda sadar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Seiring dengan berjalannya waktu, makin jarang manusia yang datang ke rumah kami. Tiap bulan purnama, kami hanya ditemani oleh musik lirih serangga-serangga malam; tidak ada lagi upacara sesajen untuk kami. Tidak ada lagi manusia yang sudi berhari-hari bersila di bawah pohon beringin kami. Tapi kami tidak ambil peduli, justru kami dapat lebih meluangkan banyak waktu bersama. Sering kali, ibu menyisiri rambutku yang mulai panjang itu sambil bersenda gurau. Ia pun mulai mengajariku banyak hal mengenai manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, kenapa belakangan ini tidak ada manusia yang datang ke tempat kita lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, anakku. Aku pun tidak tahu. Mungkin mereka sudah tidak membutuhkan bantuan kita. Bukankah, dulu kau malah senang kalau ibu tidak perlu direpotkan oleh urusan membantu manusia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya sih, tapi... lihat bu, pagar di sekitar rumah kita sudah rusak. Sekeliling rumah kita jadi kotor karena tidak pernah dibersihkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarlah, nak, yang penting, kita sekarang punya banyak waktu luang untuk bersama bukan?” senyumannya kembali menghangatkan jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul!” sambutku dengan ceria “Ayo kita cari tupai lagi; aku lapar bu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK, ayo”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, masa-masa indah ini dengan cepat berlalu karena manusia-manusia lemah itu mulai mengusik kedamaian kami dan bahkan, akhirnya menghancurkan kebahagiaan kami.&lt;br /&gt;Awalnya, kami mulai merasakan suasana yang lebih ramai. Seringkali tidur kami terganggu oleh suara-suara aneh yang memekakkan telinga. Ibu mulai curiga. Maka, ia mulai menyelidiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu, itu tadi suara apa” aku langsung menyerobotnya dengan pertanyaan ketika ia pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, anakku, ibu sendiri tidak tahu. Rumah-rumah manusia itu kini tinggal sedikit; bahkan, sawah-sawahnya pun entah sekarang kemana. Tapi, ada banyak manusia-manusia laki-laki yang mengenakan penutup kepala bulat berwarna merah. Lalu, ada melihat benda-benda aneh berbentuk seperti gerobak manusia-manusia yang dulu sering kita lihat itu. Tapi kali ini gerobaknya besaaar sekali! Kotak yang bisa berjalan itu dapat dimuati oleh pasir yang banyak sekali. Suaranya keras sekali. Ada lagi yang lebih aneh. Ibu melihat benda yang punya tangan raksasa, seperti cangkul. Benda itu mengeruk tanah dengan mudah sekali. Lalu, ada lagi batangan-batangan yang tadinya ibu kira kayu. Tapi, ternyata itu bukan kayu, warnanya abu-abu dan keras sekali. Pokoknya, ibu melihat banyak sekali benda-benda aneh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu mahluk jahat, bu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga tidak, kelihatannya itu milik manusia. Manusia kan sahabat kita!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Bu... aku takut bu, bisakah kita pindah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, anakku, aku belum menemukan tempat yang baik untuk kita di tempat lain; apalagi, kelihatannya di barat dan selatan hutan ini pun dipenuhi manusia-manusia dan benda-benda aneh itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi manusia-manusia itu semakin aneh, membuatku penasaran. Suatu Maghrib yang remang-remang, pernah aku memergoki dua manusia melakukan hal yang aneh dan tidak kumengerti maksudnya. Saat itu, ibu sedang pergi mencari makan malam. Dua manusia itu berjalan-jalan sambil berangkulan. Yang satu kukenali sebagai manusia perempuan sebab ia berambut panjang dan dadanya menggelembung, persis seperti deskripsi ibuku saat ia mengajariku bagaimana mengenai manusia perempuan dan laki-laki. Yang satunya lagi kupastikan adalah manusia laki-laki. Rambutnya pendek dan badannya tambun. Mereka berjalan menuju pohon pinus yang ada di sebelah rumahku. Di bawah pohon, keduanya duduk berangkulan. Manusia laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah manusia perempuan. Terdengar suara cekikikan sebentar-sebentar. Tangannya mulai menggerayangi tubuh manusia perempuan itu. Aku penasaran setengah mati, ingin lihat lebih dekat. Spontan, aku langsung meraih salah satu julur rumahku dan mengayunkan diriku ke dekat mereka berdua. Dengan halus aku mendarat di belakang manusia pria yang sedang asyik membuka kancing manusia perempuan. Manusia perempuan itu melotot, melihatku. Aku mencoba tersenyum. Dia langsung berteriak. Laki-laki itu kaget dan turut melihat ke arahku. Aku menyengir. Kini, ia pun turut berteriak. Keduanya langsung lari sambil berteriak-teriak. Aku sedih. Kenapa mereka meninggalkan aku. &lt;br /&gt;Ketika kami makan malam, aku menceritakan pengalamanku Maghrib tadi. Ibu tertawa cekakakkan. Aku jadi agak kesal. Tapi ia langsung merangkulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku, manusia itu penakut. Hanya sedikit orang yang berani menatap wajah kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa bu, apa ada yang aneh dengan wajah kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada yang aneh dari wajah kita. Hanya saja, wajah dan fisik kita berbeda dengan wajah dan fisik manusia. Manusia itu takut pada sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Dan kemudian, mereka merasa terancam. Dan kalau mereka merasa terancam ada dua hal yang biasanya mereka lakukan, pertama melarikan diri, dan yang kedua membunuh yang menjadi ancaman mereka itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi sebenarnya, tadi aku bisa dibunuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah.... Jangan kuatir anakku, manusia belum cukup kuat menghadapi kita.” Ibu meyakinkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu aku terjaga dari tidurku. Kupingku sakit karena suara-suara yang memekakkan telinga. Tampaknya, ibu terbangun lebih awal. Dengan wajah yang tegang ia memandang ke arah bawah, aku pun datang ke sisinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terbelalak karena kaget dan takut. Benda-benda aneh berukuran raksasa yang mengeluarkan suara yang keras berkeliaran di sekitar rumahku. Dengan mudahnya mereka meratakan pepohonan. Beberapa manusia-manusia laki-laki yang memegang pedang raksasa yang bergerigi. Pedang itu pun mengeluarkan suara yang memekakkan telingaku. Mereka mengarahkannya pada pohon, dan dalam sekejap, pohon itu roboh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, salah satu dari manusia laki-laki yang membawa sebuah pedang raksasa yang bergerigi itu mendekati rumah kami. Mengetahui bahwa beringin kami adalah sasaran berikutnya, dalam sekejap, ibu melompat dari dahan dan masuk ke dalam tubuh manusia laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia malang itu langsung meronta-ronta. Tidak ada manusia laki-laki lain yang berani mendekat sebab manusia malang itu memegang pedang raksasa yang meraung-raung. Kemudian, ibu mengarahkan orang itu ke salah satu benda kotak raksasa yang meratakan tanah. Pedang itu tebaskan mengenai benda itu, menghasilkan bunyi melengking tinggi yang menyakitkan telinga. Begitu terus, ibuku mengendalikan manusia laki-laki itu sesuka hatinya, membuat manusia-manusia lain lari terbirit-birit karena takut. &lt;br /&gt;Dalam waktu sepuluh menit saja, suasana menjadi sepi. Ibu meninggalkan manusia laki-laki itu dalam keadaan tergeletak. Pedang bergerigi yang sudah tidak berbentuk lagi itu tergeletak di sisinya. Ketika manusia lainnya yakin bahwa manusia itu tidak berbahaya lagi, mereka mengerumuninya,  menggotongnya dan meninggalkan kami berdua sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa manusia-manusia itu mau mengganggu kita, bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mungkin tadi mereka lupa bahwa kita tinggal di sini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu membunuhnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak.” Wajah ibu tampak lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa mereka tidak ibu bunuh? Manusia-manusia itu telah menebangi pepohon di sekitar rumah kita, bu, membuat keributan. Padahal dulu, ibu selalu setia membantu mereka. Lihat balasan mereka, bu! Mereka pantas dihukum!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku, sayang, ibu senang karena kamu ternyata sudah semakin dewasa dan kritis. Tapi, ibu sedih karena kamu berpikiran seperti itu. Kita kan sama-sama mahluk ciptaan Tuhan. Tadi ibu cuma menakuti mereka supaya mereka tidak mengganggu lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu dulu pernah bilang kalo manusia takut dan merasa terancam, ia akan membunuh. Jadi, nanti mereka akan membunuh kita, bu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tidak anakku, mereka hanya akan menghindari kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu seharusnya membunuh mereka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu menghela napas. “Anakku, Tuhan tidak menghendaki ada bunuh-bunuhan di antara ciptaanNya. Kalaupun manusia itu suka merusak, membuat gaduh, menebangi pohon... janganlah kita meniru perbuatan buruk itu. Kalau ibu tadi membunuh mereka, ibu berarti sama jahatnya dengan mereka ya, kan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, jangan banyak dipikirkan. Ayo, bobok lagi!” ibu meraihku ke dalam pelukannya yang hangat itu. Pelukan hangat yang terakhir yang kurasakan. Karena petang hari ini, adalah petang hari yang menjadi saksi kekejaman manusia terhadap cinta kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang itu kami kembali terbangun. Kali ini, riuh puluhan manusia-manusia mendatangi rumah kami. Kerumunan manusia itu berhenti beberapa meter di sekeliling rumah kami, membentuk benteng api. Saat itu aku sangat takut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua manusia keluar dari kerumunan itu, mendekat ke arah rumah kami dengan pasti. Yang satunya adalah manusia laki-laki tua berpakaian hitam-hitam. Rambutnya panjang dan berwarna putih. Di jari tangannya terpasang berbagai jenis akik. Yang satunya lagi juga manusia laki-laki. Ia bertubuh tambun. Rambutnya hitam mengkilat, tersisir rapi. Dia menghirup rokok. Pakaiannya aneh, berlapis-lapis. Riuh kerumunan manusia itu langsung senyap begitu manusia tambun itu mengangkat tangannya. Kemudian, manusia tua itu berlutut persis di depan rumah kami. Mulutnya mulai komat-kamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia mengucapkan mantra” kata ibu sambil menatapku dengan cemas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lawan dia bu!” kataku dengan lirih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisa, ibu tidak sanggup”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mulai merasakan efeknya. Tiba-tiba rasa sakit kepala yang hebat menyerang kami. Ibu segera memelukku dengan erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku, jika ini adalah kesempatan terakhir bagimu untuk melihat ibumu, relakanlah. Kuatkanlah hatimu. Ingatlah selalu kata-kata dan nasehatku. Anakku tersayang, jangan kau menaruh dendam terhadap manusia-manusia ini, sekejam apapun tindakan mereka terhadap kita, jangan kau dendam. Biarlah Tuhan yang akan membalas perbuatan mereka kelak di alam baka” kata ibu tanpa melepaskan pelukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu...” Aku belum selesai mengucapkan kata-kataku tapi ibu segera mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk melompat ke dahan pohon seberang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lari...lari anakku, lari” katanya dengan wajah yang cemas begitu ia berhasil membawaku ke dahan pohon seberang. Aku tahu benar, tenaganya sudah habis demi menahan mantra itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Tuhan, larilah anakku, jangan kau pedulikan aku! Aku akan menahan manusia-manusia ini. Ayo lari dan jangan lihat ke belakang. Lari!” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku langsung melompat dari satu pohon ke pohon yang lain begitu terus, tidak menggubris kelelahan yang menyerangku. Akhirnya, ketika aku merasa sudah berada pada jarak yang aman, aku pun berhenti. Dengan nafas yang masih terengah-engah, aku segera memanjat pohon yang tertinggi yang kutemui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup namun pasti, gemuruh suara manusia-manusia itu terdengar begitu mengerikan. Aku melihat api membubung tinggi ke angkasa. Aku hanya terpaku menatapnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian keadaan menjadi senyap. Remang-remang cahaya hasil pantulan api masih tampak dari kejauhan. Aku tahu bahwa sekarang aku sendirian. Ibuku telah tiada &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu juga aku memutuskan untuk kembali ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti di salah satu pohon pinus yang belum sempat ditebang, dekat bekas rumahku. Dari sana aku melihat rumahku yang hancur. Sejenak aku hanya termangu menghadapi semua ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, aku mendengar gelak tawa. Manusia tambun dan manusia tua berpakaian hitam-hitam itu tampak bersenda gurau. Entah kenapa, spontan, kemarahanku muncul; aku langsung meronta-ronta dan berteriak marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekejap, aku melesat masuk ke dalam salah satu manusia yang masih berkeliaran di situ. Dia masih memegang pedang raksasa bergerigi. Aku membuatnya berlari ke arah kedua manusia itu. Aku bermaksud menikam manusia tua itu dari belakang. Manusia laki-laki tambun yang berdiri dihadapannya berteriak, melihatku. Manusia tua itu menengok ke arahku dan melongo kaget. Tapi, ia tidak kubiarkan melongo terlalu lama. Dalam hitungan detik, pedang bergerigi itu bersarang di perutnya. Dia melotot, jatuh bersimbah darah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ketakutan, manusia laki-laki tambun itu berlari menghindariku. Aku mengejarnya. Aku ingat dengan jelas pesan ibuku untuk tidak menaruh dendam pada manusia. Tapi, aku tidak sanggup menanggungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masuk ke sebuah lorong yang buntu. Kini, ia ada persis di hadapanku. Pedang raksasa bergerigi yang sudah bersimbah darah itu kuangkat ke atas, siap menebas manusia laki-laki itu. Dia memandangku dengan memelas. Tapi aku tidak ambil peduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas...” Aku menengok dan melihat seorang manusia perempuan yang menggendong manusia kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dewi, pergi, pergi dari sini, bahaya... orang ini kesurupan.” Manusia tambun itu berteriak dengan nada yang bergetar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa...papa...” Manusia kecil itu berteriak panik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang, jangan bunuh suami saya, bang!” Manusia perempuan itu mendekat sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama..., papa mau diapakan?” Manusia kecil itu berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Dewi, pergi, bawa Dimas pergi, jangan ke sini, berbahaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri diantara mereka. Termangu. Pedang raksasa yang bergerigi itu kujatuhkan ke tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku ibu,...” gumamku. Lalu, aku meninggalkan tubuh manusia itu dalam keadaan tidak sadar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari atas sebuah pohon, tak jauh dari situ, aku memandang, ketiga manusia itu berpelukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa itu, aku mengembara ke tempat yang masih sepi. Manusia telah menyulap hutan di sekitar rumahku menjadi hutan beton. Hingga kini, seratus tahun kemudian, aku masih belum mengerti tentang manusia. Manusia itu aneh. Terlalu, sulit untuk kumengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela napas dan mendongak, mencari dukungan dari langit atas kebingunganku. Tapi, rembulan hanya bersembunyi dibalik mega, seolah malu melihat kehidupan ini, menyisakan kegelapan meliputi bumi. Tapi, kompleks bangunan beton itu tetap kokoh, tak mau kalah dengan gelap, menyombongkan cahayanya pada alam dan semua ciptaan Tuhan yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persetan! Aku tidak peduli lagi dengan kesombongan dan sikap manusia yang tidak tahu terimakasih itu. Ibuku sudah mengajariku tentang cinta yang sejati. Cinta pada orang yang menyiksa dan membunuhnya sekalipun. Biarlah manusia-manusia itu berbuat sesukanya. Suatu saat, aku yakin benar, Tuhan pasti akan menegakkan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertoyudan, 11 September 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188758507418498?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188758507418498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188758507418498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2005/09/cinta-kami-dan-balas-kalian.html' title='Cinta Kami dan Balas Kalian'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188613265197043</id><published>2005-08-13T04:48:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T04:48:52.706-08:00</updated><title type='text'>Mata Kuliah Umum Terbaru: Kampanye dalam Kampus</title><content type='html'>(Sebuah Kajian Reflektif terhadap Kampanye dalam Kampus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pro-Kontra&lt;br /&gt;Pemilu 2004 memang berbeda dengan Pemilu-Pemilu sebelumnya. Salah satu keunikannya adalah diperbolehkannya partai politik (parpol) mengadakan kampanye di dalam kampus. Dalam waktu singkat, metode baru ini segera memancing pro-kontra yang menimbulkan polemik yang panjang. Sebenarnya, dalam UU Pemilu, lingkungan kampus/pendidikan dan tempat ibadah dilarang dijadikan arena kampanye. Tapi, larangan ini tidak berlaku bila penyelenggaraan kampanye diizinkan oleh pengelolanya. Menteri Pendidikan Nasional, Prof. A. Malik Fadjar sendiri mempersilakan parpol mengadakan kampanye di dalam kampus. Namun, keputusan boleh/tidaknya suatu parpol berkampanye dalam kampus tetap bergantung rektor masing-masing Perguruan Tinggi (PT). Alhasil, ada kampus yang memperbolehkan parpol berkampanye di dalam kampus, tapi ada juga yang melarang. &lt;br /&gt;Artikel ini hendak mencoba meninjau lebih mendalam mengenai metode baru berkampanye ini melalui analisis reflektif dan berdasarkan observasi empiris terhadap pengalaman kampanye dalam kampus di ITB. Lewat secuil tulisan ini, peran mahasiswa dalam dunia politik negeri ini dicoba untuk saya ungkap secara vulgar karena bagi saya, politik bukanlah hal tabu dan tidak perlu dihindari oleh civitas academica, terutama mahasiswa. Mahasiswa adalah backbone nusantara ini. Mau tidak mau, suatu saat nanti, jiwa-jiwa intelektual muda ini akan menjadi motor negeri ini. Artinya, mereka pun akan terjun ke dunia politik. Ajang kampanye dalam kampus ini akan menjadi suatu momen pembelajaran politik yang baik, suatu mata kuliah baru yang riil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All Beginning is Difficult&lt;br /&gt;Di ITB Prof. Kusmayanto Kadiman, selaku Rektor ITB memperbolehkan parpol berkampanye. Untuk itu, disediakan tempat khusus, yaitu Aula Timur ITB pada tanggal 15-27 Maret 2004 untuk kampanye parpol dan 28-31 Maret 2004 untuk kampanye calon DPD. Kampanye parpol tersebut diikuti oleh 15 parpol dengan total juru kampanye (jurkam) 33 orang. Total pengunjung selama kampanye parpol sebanyak 1271 yang terdiri dari simpatisan partai, mahasiswa, dan masyarakat umum. Sementara itu, untuk kampanye calon DPD, hanya diikuti lima calon. Pengunjung selama kampanye calon DPD ini hanyalah 84 orang. &lt;br /&gt;Melihat jumlah pengunjung kampanye dalam kampus yang hanya sedikit itu (perlu disadari, bila kita mengandaikan jumlah pengunjung hanya mahasiswa ITB saja, dari mahasiswa ITB berjumlah sekitar 10 ribu, yang hadir hanya 1%-nya saja!), dapat timbul berbagai hipotesis. Bisa jadi, karena kurangnya publikasi pihak panitia, namun, juga hal itu bisa terjadi karena penolakan mahasiswa. Alasan ini muncul karena hari pertama kampanye diwarnai oleh demonstrasi beberapa elemen kampus, menolak kampanye dalam kampus. Tampak pula bahwa masih ada ketidakpedulian mahasiswa terhadap ajang kampanye dalam kampus ini.&lt;br /&gt;Memulai sesuatu memang sulit, all beginning is difficult. Apalagi, memulai sesuatu yang baru dan kontras dengan sebelumnya. Pada pemilu-pemilu sebelumnya, kampus tidak pernah dijadikan ajang kampanye. Pengalaman NKK/BKK membuat dunia mahasiswa dan dunia politik seakan bermusuhan. Selama ini, mahasiswa dan politik praktis dianggap sebagai dua elemen yang bagaikan tesis dan anti-tesis. Pendapat itu salah! Memang, mahasiswa dan segenap elemen pendidikan harus menjaga netralitasnya, namun, ini bukan berarti politik adalah tabu bagi mahasiswa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba Melihat Lebih Dekat&lt;br /&gt;Lepas dari kesimpulan gagal atau berhasilnya kampanye dalam kampus di ITB, perkenankan saya sedikit menganalisis metode baru kampanye ini dengan melihatnya lebih dekat.  Akan ada imbas positif bagi kedua pihak: mahasiswa dan parpol; serta akhirnya akan berimbas positif pula bagi Indonesia. Mahasiswa akan mendapatkan pembelajaran politik. Parpol akan semakin menghasilkan program dan visi-misi yang mampu memecahkan masalah bangsa. &lt;br /&gt;Di awal analisis yang pertama ini saya hendak mengutip konsep universitas oleh Newman: A university is a place where inquiry is pushed forward, and discoveries verified and perfected, and rashness rendered innocuous, and error exposed, by the collision of mind with mind, and knowledge with knowledge (The Idea of University, John Henry Newman, 1852). Metode kampanye dalam kampus menyaratkan parpol berkampanye sesuai tradisi kampus. Artinya, konsep Newman ini akan terimplementasikan dalam pelaksanaan kampanye dalam kampus. Akan ada pertanyaan (inquiry) yang akan diajukan; akan ada verifikasi dan penyempurnaan misi dan visi parpol; akan ada metode diskusi dan dialog, bukan sebuah rashness; kesalahan dan kelemahan (error) parpol akan terungkap; akan ada benturan (collision) ide dan pengetahuan antara mahasiswa dan parpol demi memecahkan masalah bangsa. Memandang itu semua, betapa banyaknya sisi positif yang sebenarnya bisa diraih dengan adanya kampanye dalam kampus. &lt;br /&gt;Melalui kampanye dalam kampus, mahasiswa dapat menjadi mitra parpol dalam memberi arah dan merancang masa depan Indonesia. Jika masih merasa risih menggunakan kata mitra, boleh pula dinyatakan bahwa mahasiswa menjadi pengontrol (baca: memposisikan diri sebagai oposisi) parpol. &lt;br /&gt;Indikator analisis saya selanjutnya adalah Tri Dharma PT yang ketiga, yaitu pengabdian pada masyarakat. Kampanye dalam kampus adalah suatu bentuk manifestasi pengabdian pada masyarakat, yaitu kegiatan masyarakat kampus (terutama mahasiswa) dengan kekayaan intelektualnya, terjun ke tengah-tengah masyarakat. Ini pun sesuai dengan pendapat Whitehead: “..there is only one subject matter for education, and that is life in all its manifestation.” (Alfred North Whitehead, The Aims of Education, 1929).  Politik adalah suatu unsur dalam kehidupan manusia. Lewat kampanye dalam kampus, mahasiswa mampu secara nyata memanifestasikan pengetahuan dan wawasannya (tentunya dalam bidang sosial-politik-kemasyarakatan), karena itulah tujuan dari pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Sebuah Awal&lt;br /&gt;Penolakan dan bentuk ketidakpedulian terhadap kampanye dalam kampus perlu disayangkan karena itu berarti bentuk ketidakpedulian terhadap masa depan demokrasi negeri ini. Memang betul bahwa metode ini adalah baru; karenanya terdapat kelemahan dan perlu banyak penyempurnaan dalam pelaksanaannya. Tapi, jika tidak pernah dicoba, kapan negeri ini akan maju. Manusia belajar dari kesalahannya. Itulah sebabnya ada pepatah: experiece is the best teacher. Negeri ini memang sedang belajar berdemokrasi; dan kampanye dalam kampus adalah sebuah mata rantai dari proses pembelajaran demokrasi yang panjang. Mahasiswa perlu mendapatkan suatu mata kuliah baru: kampanye dalam kampus. Why not? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antonius Krisna Murti&lt;br /&gt;Mahasiswa Teknik Lingkungan&lt;br /&gt;Institut Teknologi Bandung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188613265197043?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188613265197043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188613265197043' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188613265197043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188613265197043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2005/08/mata-kuliah-umum-terbaru-kampanye.html' title='Mata Kuliah Umum Terbaru: Kampanye dalam Kampus'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-112303393214234147</id><published>2005-08-02T18:50:00.000-07:00</published><updated>2005-08-02T18:52:12.150-07:00</updated><title type='text'>Honors Program Departemen Kimia: Menuju Academic Leaders Kimia</title><content type='html'>Dengan berbekalkan proposal bertajuk "Creating 'Honors Program' to Produce First Class Graduates", Departemen Kimia FMIPA ITB mendapatkan Program Hibah Kompetisi (PHK) Program B. Program yang nilai bantuannya mencapai 1,5 milyar dengan jangka waktu program tiga tahun ini diterima Departemen Kimia langsung, pada batch I, tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Promoting academic exellences -core dari program B Dikti- hendak dicapai dengan menciptakan so-called honors program. Sesuai dengan namanya, honors, fokus utama program ini adalah mengapresiasi mahasiswa berprestasi. Dengan berawal itu, diharapkan mahasiswa yang berprestasi tersebut akan tumbuh menjadi academic leaders ilmu kimia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi Perhatian Lebih&lt;br /&gt;Honours Program yang diajukan oleh Departemen Kimia sebenarnya merupakan bentuk 'perhatian lebih' yang diberikan kepada mahasiswa berprestasi. "Selama ini kan umumnya jurusan suka mengurusi mahasiswa yang bermasalah," tutur Ismunandar, Sekretaris Departemen Kimia, "Mahasiswa yang berprestasi malah cenderung dicuekin." Perhatian yang lebih kepada mereka yang berprestasi akan memicu mereka sehingga dapat menjadi bibit-bibit academic leaders bagi perkembangan ilmu Kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa yang telah lulus tingkat dua dengan IPK sama dengan atau lebih dari tiga berhak mengikuti program honors. Setelah mahasiswa yang berhak itu menerima tawaran melalui wawancara, mahasiswa honors diwajibkan mengambil minimal 12 sks tambahan di luar total 144 sks tahap sarjana standar ITB. Enam sks dari 12 sks tambahan tersebut merupakan mata kuliah yang dirancang khusus untuk mahasiswa program honors, sedangkan enam sks sisanya dikembangkan dari mata kuliah yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat karakter pembelajaran dalam program honors meliputi: (1) tugas-tugas perkuliahan yang lebih mendalam, (2) kuliah pilihan yang dirancang khusus, (3) pekerjaan laboratorium yang lebih bersifat investigatif, serta (4) keterlibatan yang lebih intensif dalam kelompok penelitian. Mahasiswa yang lulus tahap sarjana melalui program honors ini akan menerima sertifikat khusus dan memfasilitasi lulusan ini untuk dapat bekerja di bidang yang berkaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Program honors, diharapkan mahasiswa berprestasi merasa dihargai sehingga selalu berusaha mempertahankan prestasinya. Selain itu, bagi angkatannya, keberadaan mereka dapat mempertahankan suasana akademik di kelas serta meningkatkan semangat teman-teman yang lain dalam belajar.  Hipotesisnya, para mahasiswa honor ini akan ‘menjadi lokomotif dan menarik gerbong’,”  kata Dr. Muhamad A. M, ketua program honors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan lain adalah mahasiswa Kimia yang lulus program ini dapat segera melanjutkan program pascasarjana dengan lebih cepat. Melalui kerjasama yang erat dengan program pascasarjana, lulusan honors hanya memerlukan waktu satu tahun untuk mendapatkan gelar Magister di Departemen Kimia ITB. Bahkan dapat juga diusahakan langsung mengikuti Program Doktor tanpa melalui program Magister. “Kalo di eropa ini istilahnya master leading to Ph.D. Jadi mahasiswa master yang memenuhi syarat, hanya perlu satu tahun kemudian langsung meneruskan ke tahap Ph.D.” tutur Dr. Akhmaloka, Kepala Depatemen Kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran&lt;br /&gt;Sebenarnya dalam perancangan program B, terdapat kekuatiran akan adanya keirihatian dari mahasiswa lain."Stigma anak emas itulah yang muncul banyak dalam diskusi perencanaan honors program ini," ungkap Akhmaloka, "kami berdebat panjang lebar mengenai munculnya iri hati di kalangan mahasiswa yang non-honors program" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya melalui evaluasi yang dilakukan berkala, tidak muncul keirihatian di kalangan mahasiswa lain. "Mahasiswa lain (non-honors program -red.) biasa aja," ungkap Ismunandar yang juga menjadi salah satu staf pengajar program ini, "Kawan-kawannya ya sudah terbiasa bahwa kawan-kawannya yang ikut program honors menerima tugas yang lebih banyak, presentasi yang lebih rumit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada juga diungkapkan oleh Muhamad. "Justru kelas menjadi hidup dengan keberadaan mereka," tambahnya, "kawan-kawannya juga dapat belajar banyak dari mahasiswa honors program. Mereka bisa mendapatkan ilmu yang lebih karena tugas-tugas serta presentasi mahasiswa honors program kan lebih rumit dan lebih luas." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi&lt;br /&gt;Pada jeda semester ganjil lalu telah dilakukan evaluasi sederhana mengenai keberadaan program honors. Hasilnya, kekhawatiran itu tidak terbukti. “Kami sering ngobrol dengan mahasiswa, berkenaan dengan program honors ini. Nyatanya tidak ada masalah apapun,” tutur Ismunandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi yang menyeluruh baru akan dilakukan Agustus 2005 ini, saat program ini resmi berusia setahun. “Nanti setelah evaluasi, baru akan terlihat secara nyata imbas positif program ini,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Sandwich: Menularkan pada Jurusan Lain&lt;br /&gt;Selain membuka program honors bagi mahasiswa sendiri Departemen Kimia juga membuka program honors bagi mahasiswa Ilmu Kimia dari perguruan tinggi lain. "Sebenarnya kami merasa belum siap membuka program ini ke luar karena usia program ini bahkan belum ada setahun," tutur Muhammad, "Tapi Dikti mendesak agar Honors Program ini segera dibuka untuk perguruan tinggi lain."  Karena desakan inilah, program honors mulai dibuka bagi mahasiswa Ilmu Kimia perguruan tinggi lain mulai tahunajaran 2005-2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Honors membuka tiga jenis sandwich. Pertama adalah program sandwich honors. Melalui program ini, mahasiswa Kimia terbaik perguruan tinggi lain belajar di perguruan tinggi tersebut selama dua tahun, lalu dua tahun terakhir masa belajar tahap sarjananya diselesaikan di Departemen Kimia ITB dengan mengikuti seluruh kurikulum program honors. Selain itu, bagi mereka yang tidak mau mengikuti seluruh kurikulum program honors, Departemen Kimia juga membuka dua jenis sandwich yang lain yaitu sandwich parsial dan sandwich tugas akhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandwich parsial adalah program sandwich di mana pada masa dua tahun terakhir, mahasiswa Kimia terbaik dari perguruan tinggi lain turut pada kuliah program honors tertentu yang ia pilih sendiri. Selanjutnya, sandwich tugas akhir merupakan program sandwich di mana pada masa dua tahun terakhir, mahasiswa Kimia terbaik dari perguruan tinggi lain turut pada program honors dalam kerangka menyelesaikan tugas akhirnya. Untuk program sandwich yang terakhir ini, mahasiswa perguruan tinggi lain diharuskan memiliki co-pembimbing tugas akhir dari perguruan tinggi asal juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sertifikat sarjana akan diberikan oleh perguruan tinggi mahasiswa sandwich. Departemen Kimia hanya akan memberikan sertifikat honors dengan catatan yang berisi jenis program sandwich mana yang ia ikuti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini bukan sekedar berbagi bagi orang lain, tapi juga semakin menyebarkan gagasan pentingnya memberikan perhatian yang lebih kepada mahasiswa yang berprestasi,” tutur Muhamad, “Tujuannya sehingga terbentuk semakin banyak academic leaders.” “Buntutnya adalah peningkatan daya saing bangsa,” tambah Ismunandar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buat ngetes...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-112303393214234147?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/112303393214234147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=112303393214234147' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/112303393214234147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/112303393214234147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2005/08/honors-program-departemen-kimia-menuju.html' title='Honors Program Departemen Kimia: Menuju Academic Leaders Kimia'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188870338158504</id><published>2005-06-13T05:30:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:31:43.450-08:00</updated><title type='text'>Tawuran, Kegelisahan Jiwa Muda</title><content type='html'>Nampaknya, kata “tawuran pelajar” sudah terlalu kerap didengar di telinga kita. Tapi, mengapa tawuran itu bisa terjadi; apakah inhern dalam diri kaum muda? Artikel ini hendak menyeka permasalahan ini dengan berangkat dari faktor-faktor psikologis dan sosiologis yang menyusun pribadi seorang muda. Arahnya, mengapa kaum muda tawuran. Lalu, akan diberikan solusi yang juga berangkat dari faktor-faktor yang sama; bagaimana faktor-faktor itu dihidupi sedemikian rupa sehingga dapat menjadi modal untuk mengarahkan kaum muda kepada kegiatan yang lebih baik; bukannya tawuran. Sebelumnya, demi memperdalam analisis dan solusi, fokus analisis artikel ini pada tawuran yang dilakukan kaum muda pelajar SMU (usia 15-18 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Masalah: Tawuran dari Segi Psikologis dan Sosiologis&lt;br /&gt;Faktor psikologis amatlah signifikan berperan dalam hidup seorang muda. Analisis dari segi psikologis ini akan dibagi ke dalam dimensi perkembangan kognitif, moral, dan identitas.&lt;br /&gt;Menurut Jean Piget, psikolog yang mengembangkan teori perkembangan kognitif, kaum muda dimasukkan dalam tahap pemikiran formal-operasional (formal-operational thought). Pada masa ini, mereka mencoba menyusun hipotesa dan menguji berbagai alternatif pemecahan masalah hidup sehari-hari. Kini, ia makin menyadari keberadaan masalah-masalah disekelilingnya. Salah satunya, bagaimana membuktikan kesetiakawanan. Konsekuensi logis sesuai perkembangan kognitifnya mengatakan supaya ia mengikuti segala aturan kelompok, walaupun aturan kelompok itu negatif, misalnya tawuran. Ini adalah salah satu bentuk uji coba pemecahan masalah mereka.   &lt;br /&gt;Kohlberg, psikolog yang mengembangkan teori moral, mengklasifikasikan kaum muda dalam tahap konvensional. Pada masa ini, seorang muda mulai sadar adanya tuntutan dari luar dirinya, terutama teman-temannya.. Secara lebih khusus, Kohlberg mengkelompokkan kaum muda pada tingkat perkembangan moral keempat: orientasi hukum dan ketertiban (law and order orientation). Usaha-usaha konformitas mendominasi dirinya; bagaimana ia dapat menjalankan tugas kelompoknya dengan sebaik-baiknya, walaupun itu negatif, tawuran, misalnya. Baginya, ikut tawuran adalah pertimbangan moral yang paling tepat.&lt;br /&gt;Menurut teori perkembangan kepribadian Erikson, seorang muda akan memasuki masa kekaburan identitas. Ia menjadi sadar bahwa dunia yang didiaminya kompleks; jawaban-jawaban yang diperolehnya pada masa kecil kini tidak memadai. Pertanyaan who am I semakin menguat. Selanjutnya, Richard Logan, mengutarakan bahwa pada masa ini, akan ada suatu mekanisme pertahanan untuk mengurangi kecemasan yang timbul akibat kekaburan identitas, yaitu munculnya identitas negatif. Identitas negatif ini akan menjadi pelarian dan barang pengganti atas kecemasan akan kekaburan identitas yang dialaminya. Salah satu bentuk identitas negatif adalah tawuran itu. &lt;br /&gt;Robert Selman, yang mengembangkan teori perkembangan penalaran sosial (social reasoning) dan interpersonal mengelompokkan kaum muda ke dalam tingkat penalaran sosial keempat, yaitu pengambilan pandangan yang dalam dan simbolis (indepth and societal-symbolic perspective thingking).&lt;br /&gt;Kaum muda tidak hanya mahluk individu, melainkan juga mahluk sosial. Karenanya, faktor-faktor sosiologis juga berperan signifikan dalam pembentukan pribadi seorang muda. &lt;br /&gt;Kaum muda sekarang adalah jeunesse d’ore (kaum muda emas). Bila ditelusuri, kaum muda yang usianya 15-18 tahun itu lahir pada tahun 1984-1987. Pada rentang tahun itu, ORBA sedang gencar-gencarnya menjalankan program KB dengan mottonya: keluarga kecil sejahtera. Jadi, kaum muda sekarang umumnya berasal dari keluarga yang relatif kecil. Di satu sisi memang baik, tapi, mereka tidak memiliki pengalaman berinteraksi dengan banyak macam pribadi dalam keluarga. Berbeda dengan keluarga generasi sebelumnya yang bisa mencapai belasan orang dalam satu keluarga, umumnya, keluarga mereka terdiri dari empat hingga lima orang. Jadi, mereka hanya bisa berinteraksi dengan maksimal tiga hingga empat orang. Perlu diingat bahwa pendidikan keluarga amat dominan dalam pembentukkan pribadi hingga usia 12-13 tahun. Pengalaman yang miskin interaksi ini, mau tidak mau, akan berpengaruh pada ketika ia memasuki masa muda. Bisa jadi, orang muda ini belum mampu membina interaksi dan menyikapi masalah-masalah dalam interaksi sosial, sehingga berakhir pada tindakan yang tidak bijaksana, tawuran misalnya. &lt;br /&gt;Mereka yang mengalami keluarga yang berantakan, misalnya orang tua yang bercerai, saudara selalu bertengkar, berperangai buruk, dsb. akan mengalami luka batin. Keberadaan luka batin ini dapat merusak pembentukan kepribadian seorang muda. &lt;br /&gt;Orang muda yang menjadi fokus kali ini berstatus pelajar SMU. Selain keluarga, lingkungan yang mendominasi adalah lingkungan formal akademis di sekolah. Nyatanya, lingkungan formal akademi ini justru menekan mereka. Ahli pendidikan, J. Drost SJ mengungkapkan bahwa sebenarnya, hanya 30% siswa SMU sekarang yang benar-benar mampu engikuti kurikulum 1994. Sisanya akan keteteran. Padahal, tuntutan untuk menaati kurikulum dan mencapai prestasi yang terbaik terus menekan mereka. Tekanan ini akan terakumulasi dan dapat muncul dalam identitas negatif; salah satunya adalah meluapkan emosi dalam wujud tawuran. &lt;br /&gt;Kaum muda jaman sekarang hidup di dalam masa globalisasi. Ada dua sifat menonjol dalam masa ini, yaitu keterbukaan dan kebebasan. IPTEK yang berkembang dengan begitu pesat membuat dunia yang tadinya tampak luas kini terasa sempit. Fenomena alam yang tadi dianggap magis kini terkuak dan bisa dijelaskan secara logis. Arus informasi dari yang ideal dan luhur hingga yang bejat dan porno dapat diakses oleh kaum muda dengan mudah. Kebebasan juga cenderung berlebihan sekarang. Zaman ini tepat kalau disebut zaman euphorial. Puluhan media masa lahir, dari yang bermutu tinggi hingga yang hanya mengandalkan gambar wanita berpakaian minim. Jalan dialog damai ditinggalkan, jalan pintas yaitu demonstrasi terjadi di mana-mana. Dalam masa ini, batas-batas tertentu, kebebasan diperlukan, namun, ketika kebebasan diartikan sebagai kebebasan tanpa batas, demokrasi menjadi anarkis, kedisiplinan diremehkan, nilai kebebasan jatuh. Di sisi lain, kaum muda ini belum memiliki pegangan moral yang kuat untuk menyaring informasi dan mengolah kebebasan itu. Karenanya, berbagai informasi dan pemenuhan kebutuhan yang negatif dengan mudah meracuni mereka. Budaya kekerasan yang diexpose oleh berbagai media dengan mudah berakar dalam diri mereka. Inilah titik tolak munculnya benih-benih budaya kekerasan yang akan mereka wujudkan dalam tawuran, misalnya. &lt;br /&gt;Jika keseluruhan analisis di atas dirangkum, semuanya mengarah pada jiwa-jiwa yang gelisah. Gelisah karena perubahan psikologis yang belum pernah dialami sebelumnya; membingungkan sekaligus menegangkan. Gelisah karena menyadari faktor-faktor sosiologis yang kini amat terasa dalam kehidupannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi: Cinta dan Persaudaraan&lt;br /&gt;Dua hal yang mendasari dan menjiwai usaha-usaha mengarahkan jiwa-jiwa yang gelisah ini menuju cerahnya masa depan adalah cinta dan persaudaraan. Pendekatan represif, apalagi militeristik, hanya akan memperkeruh jiwa yang gelisah itu. Arah solusi ini adalah membentuk pribadi yang sehat, integral, purnawan, utuh karena dengan modal ini tidak mungkin ada tawuran. &lt;br /&gt;Sebenarnya, dengan modal pikiran formal-operasional, sesuai dengan Piget, kaum muda dapat diarahkan kepada pola-pola pemecahan masalah yang positif. Caranya, adalah dengan memberikan mereka kesempatan bertanggungjawab. Mereka harus diikutsertakan dalam organisasi seperti OSIS, Karang Taruna, serta berbagai kegiatan positif lainnya misalnya, pencinta alam, perkumpulan teater, lomba band. Dengan begitu, mereka akan belajar menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Selain itu, mereka akan belajar bahwa eksistensi mereka itu diakui; mereka akan merasa diperhatikan. Mereka akan belajar bersama-sama dalam menghadapi masalah dan rintangan yang muncul dan menyelesaikannya dengan bijaksana. Tentu, ini pun membutuhkan pendampingan dari banyak pihak; orang tua, guru, sekolah.&lt;br /&gt;Selanjutnya, dengan modal pertimbangan moral konvensional dang orientasi hukum dan ketertiban, menurut Kohlberg, kaum muda sebenarnya dapat mengarahkan dominasi usaha-usaha konformitas yang positif. Untuk mencapainya, diperlukan peranan mereka yang telah dewasa dalam pertimbangan moral, misalnya orang tua, guru, sesepuh di lingkungan, pembimbing organisasi dsb. Peranan mereka adalah mengarahkan. Mengarahkan dalam artian menunjukkan jalan, bukannya memerintah; berperan sebagai seorang sahabat bukannya formator. &lt;br /&gt;Solusi ini juga berkaitan erat dalam menjawab pertanyaan who am I yang selalu membayang dalam benak mereka. Dalam membantu para muda ini mencapai identitas yang sehat, diperlukan pendekatan sebagai sahabat. Dalam pendampingan, perlu dikembangkan suasana yang aman sehingga dapat meringankan beban yang ada serta suasana penuh kepercayaan sehingga kaum muda dapat jujur. Keadaan yang tanpa bbeban dan jujur akan sangat membantu proses pengarahan. Pembentukan identitas yang sehat akan membuat mereka terlepas dari identitas negatif. &lt;br /&gt;Dalam lingkungan sosial, tanggungjawab pendidikan kaum muda berada di tangan semua elemen masyarakat. Pendidikan di sini senada dengan pendapat Driyarkara, bahwa pendidikan itu memanusiakan manusia muda. Ingat bahwa pendidikan bukan hanya mengutamakan segi kognitif dan psikomotorik saja, tapi juga afektif. Justru dengan memperhatikan afeksi, kaum muda akan mencapai identitas yang sehat.&lt;br /&gt;Untuk institusi sekolah, janganlah menekan siswa dengan berbagai tuntutan yang berlebihan. Begitu pula dengan orang tua. Bahkan Philomena Aqudo mengungkapkan bahwa kaum muda jangan diberikan tantangan yang terlalu berat karena hal itu justru dapat merusak disiplin diri. Sebaliknya, perhatikan dan kembangkan kompetensi tiap pribadi. Dengan begitu, ia akan dapat mengembangkan dirinya dalam kegiatan yang positif; ia tidak sempat ikut tawuran. Mitos bahwa kelas III-IPA  adalah kelas unggulan harus ditepis. Bila seorang muda mampu dan berminat di kelas IPS, biarkanlah mereka! Sebaliknya senada dengan yang diungkapkan tadi, sekolah harus mengembangakan usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan positif yang melibatkan kaum muda, apalagi, jika melibatkan sekolah lain, misalnya pentas seni bersama, lomba-lomba, merayakan HUT sekolah, dsb. Di sini, kaum muda akan memperkaya interaksi sosial yang mungkin kurang didapat di dalam keluarga sehingga akan lebih baik dalam bersosialisasi. &lt;br /&gt;Senasib dengan lingkungan sekolah, pada lingkungan masyarakat perlu pula dibangun organisasi dan kegiatan-kegiatan yang menampung aspirasi dan semangat muda. Pemerintah diharapkan dapat memberikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. &lt;br /&gt;Program bimbingan dan penyuluhan pun harus dikembangkan dalam lingkungan sekolah. Peran seorang guru BP sangat penting. Karenanya, penugasan guru BP tidak boleh asal-asalan. Guru BP haruslah orang yang mampu berinteraksi dengan luwes dengan kaum muda, tanpa meninggalkan tugasnya dalam mengarahkan siswanya. &lt;br /&gt;Dengan menjalankan solusi-solusi ini, seorang muda akan merasa dicintai dan diperhatikan. Ia akan mengalami indahnya persaudaraan dan kedamaian. Kegelisahan-kegelisahan itu pun sirna. Dan bertitik tolak dari ini, tidak akan terpikir dalam benaknya untuk melakukan tawuran. Kaum muda ini butuh bimbingan dari mereka yang lebih dewasa dan mapan. Kita membutuhkan mereka untuk membangun negara dan bangsa ini kelak. Jangan biarkan mereka mengekspresikan kegelisahan mereka dalam bentuk tawuran!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188870338158504?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188870338158504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188870338158504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2005/06/tawuran-kegelisahan-jiwa-muda.html' title='Tawuran, Kegelisahan Jiwa Muda'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188853830233873</id><published>2005-05-13T05:28:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:28:58.373-08:00</updated><title type='text'>Kesadaran Politik Kaum Muda</title><content type='html'>Sebuah tim olah raga, tim sepak bola misalnya, akan selalu aktif beregenerasi demi mempertahankan eksistensi dan juga, meningkatkan mutu. Pemain-pemain yang sudah uzur, mau tidak mau, harus gantung sepatu, dan diganti oleh pemain-pemain muda berbakat yang masih tangkas dan leibh gesit. Identik seperti itulah sebuah negara. Ya.. kalau sebuah negara masih mau ada dan juga, meningkatkan kesejahteraan warga negaranya ia harus terus beregenerasi. Sumber regenerasi itu, juga sama seperti analogi tim sepak bola tadi, adalah generasi muda. Makanya, tepat kalau ada ungkapan: generasi muda adalah tulang punggung suatu negara.  &lt;br /&gt;Sekarang sudah jelas bahwa generasi muda itu memegang posisi poros dalam kehidupan dan kelangsungan suatu negara. Lalu dengan berawal dari kesadaran ini apa yang hendak kita (baca: generasi muda) lakukan?&lt;br /&gt;Kita tidak bisa menjadi generasi penerus yang asal-asalan. Mirip pula dengan tim sepak bola, para pemain muda pengganti itu tentu pemain muda yang berbakat dan menjanjikan. Kita pun wajib berusaha supaya kelak dapat menjadi pemain pengganti yang qualified. &lt;br /&gt;Salah satu yang wajib dimiliki adalah kesadaran berpolitik. Kesadaran berpolitik ini penting kelak sebagai salah satu penunjang demokratisasi. Kalau mengenai politik saja buta total, bagaimana kita dapat mengusahakan demokrasi. Itu sama saja dengan punya cita-cita tapi nggak berusaha. Ingat, negara Indonesia tercinta ini sedang berusaha mencapai demokrasi di tengah-tengah banyak usaha-usaha KKN dan penyelewengan-penyelewengan demokrasi. Jelas bahwa Indonesia memerlukan generasi penerus yang mampu mewujudkan demokrasi yang sehat sehingga cita-cita mewujudkan masyarakat adil-makmur-sejahtera pun dapat tercapai. Dengan memiliki kesadaran berpolitik kita pun tidak muda ditipu oleh janji gombal politikus gadungan atau iming-iming yang lain. Kita dapat menjadi generasi penerus yang kritis dan mampu berdemokrasi dengan baik. &lt;br /&gt;Memiliki kesadaran berpolitik bukan berarti harus ikut-ikutan mendirikan partai, nggak juga harus ikutan demo. Politik jangan dipandang sebagai sesuatu yang elit, atau bahkan dipandang negatif sebagai alat peraih kekuasaan. Idealnya tiap warga negara -apalagi kita yang nanti menjadi penerus Indonesia ini- harus memiliki kesadaran berpolitik. Justru dengan memiliki kesadaran berpolitik, kita (baca: generasi muda) mampu berpolitik dengan sehat. &lt;br /&gt;Kesadaran berpolitik bisa dimulai dengan turut mengikuti berita-berita yang marak. Tapi, jangan sekedar membaca. Baik, kalau secara pribadi atau dalam kelompok kecil kita mengutarakan sikap kita atas peristiwa-peristiwa yang ada. Dulu, pada zaman pra-pembentukan Boedi Utomo, Dr. Sutomo, dkk memiliki kelompok semacam ini; studieclub, namanya.&lt;br /&gt;Cara lain, dengan memperhatikan pelajaran PPKn dengan serius. Mengapa PPKn? Karena pelajaran PPKn itu, sebenarnya, memang ditujukan untuk membina kesadaran berpolitik warga negara muda Indonesia. Kalau dirasa membosankan, yang harus disalahkan adalah metode penyampaiannya. Baisa saja, kamu mengusulkan ke guru yang bersangkutan untuk menggunakan metode lain yang lebih menarik dan dapat aktual. Misalnya, memperdebatkan mengenai pro-kontra penaikan harga BBM sambil mendalami nilai kepedulian; atau berdiskusi mengenai makna pahlawan sambil mendalami nilai patriotisme. &lt;br /&gt;Pada era kebangkitan nasional hingga awal kemerdekaan, Indonesia memiliki banyak tokoh-tokoh nasional yang sungguh memiliki kesadaran politik yang tinggi. Dari merekalah Indonesia yang demokratis dibentuk. Kita pun, selayaknya, meneladan mereka: mengembangkan kesadaran berpolitik semenjak dini, bukan demi meraih kekuasaan, tapi demi mencapai Indonesia yang demokratis, yang adil-makmur-sejahtera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antonius Krisna Murti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188853830233873?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188853830233873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188853830233873' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188853830233873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188853830233873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2005/05/kesadaran-politik-kaum-muda.html' title='Kesadaran Politik Kaum Muda'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188876321855411</id><published>2005-01-23T05:31:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:32:43.273-08:00</updated><title type='text'>Berkah dari Sampah</title><content type='html'>Masalah global dunia mengenai jumlah penduduk yang membludak ternyata bukan hanya berdasar pada teori Robert Maltus yang berakhir pada kesimpulan bahwa akan ada kekurangan pangan. Namun, jumlah penduduk yang tinggi juga berarti jumlah sampah yang tinggi pula. Di sisi lain, tidak ada manusia pun yang mau tinggal di antara sampah. Karena memang, sampah itu jelek dari sisi estetis, bau, dan tidak sehat. Dalam lingkungan kota terlebih, masalah sampah telah menyentuh puncak kritis. &lt;br /&gt;Itulah sebabnya diperlukan usaha-usaha mengatasi hal ini. Yang jelas tidak bisa kita (warga biasa) menunggu tindakan para policymakers dan para petinggi. Kita pun harus bertindak. &lt;br /&gt;Sampah selama ini hanya dianggap sebagai hal yang tidak berguna dan wajib dijauhi. Padahal sebenarnya sampah dapat menjadi suatu berkah tersendiri, terutama di tengah badai kenaikan harga seperti sekarang ini. Sampah, termasuk sampah rumah tangga, dapat diolah menjadi kompos. Bahkan awam biasa pun dapat mengolahnya secara tradisional hanya dengan menggunakan modal dan sarana yang sederhana. &lt;br /&gt;Pertama, yang dibutuhkan adalah kontainer penampung sampah. Drum bekas (200 liter) adalah sarana yang paling cocok karena sederhana, praktis, dan bebas dari gangguan binatang. Bagian bawah dan atas drum ini dilubangi secukupnya dan dipasangi pipa PVC tiga inchi. Fungsinya sebagai ventilasi dan peresapan. &lt;br /&gt;Untuk sampah dari kebun (daun atau ranting), kita perlu memotong-motongnya terlebih dahulu supaya proses dekomposisi lebih sempurna. Untuk sampah dapur (sisa makanan, dsb), sebaiknya, sampah tersebu ditampung terlebih dahulu dalam ember 10 liter yang tertutup rapat. Saat ember tersebut penuh baru sampah dipindah ke drum. Baik pula jika setiapkali memasukkan sampah ke dalam drum diselingi dengan pemberian serbuk gergaji atau tanah gembur. &lt;br /&gt;Selanjutnya, dibutuhkan aktivator untuk memicu dekomposisi fermentasi alami. Wujudnya bisa berupa mikroorganisme, yang telah dikomersialkan, dengan merek dagang: Stardec, Orgadec, EM4, Harmony, Five Up Plus,dsb. Aktivator juga bisa berupa kotoran ternak atau cacing tanah. Sedikit air diperlukan untuk menjaga kelembaban. Setelah penuh, drum ditutup rapat dan dibiarkan selama 20 hari hingga menjadi kompos. &lt;br /&gt;Kompos hasil pengolahan sampah ini dapat digunakan sebagai pupuk untuk kepentingan sendiri atau bahkan, dijual. Dengan sistem manajemen yang lebih baik, usaha ini dapat dijadikan salah satu usaha wiraswasta yang berprospek cerah. Ingat, jumlah sampah di dunia ini terus meningkat. Jadi, tidak perlu khawatir kekurangan bahan dasar. Dengan demikian, sampah pun dapat menjadi berkah! (Diolah dari berbagai sumber)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Krisna Murti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188876321855411?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188876321855411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188876321855411' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188876321855411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188876321855411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2005/01/berkah-dari-sampah.html' title='Berkah dari Sampah'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188903342464419</id><published>2004-12-13T05:36:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:37:15.276-08:00</updated><title type='text'>Menilai Terorisme dalam Segi Hukum dan Politik</title><content type='html'>Kekuatan buta dan mengerikan telah menghancurkan bangunan yang didirikan oleh generasi masa lalu. Kematian yang kejam telah mencengkeram leher dengan kuku-kuku tajamnya, menginjaknya dengan kasar. Kobaran api telah melahap harta dan nyawa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kahlil Gibran, “Musik Dahaga Jiwa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terorisme menjadi paham yang menegrikan setelah melihat apa yang terjadi dalam tragedi World Trade Center dan Pentagon 11 September 2001 lalu. Kahlil Gibran menyebut terorisme sebagai “kekuatan yang mengerikan”, bahkan dunia international mengecamnya sebagai “ancaman dunia yang kejam dan tidak mengindahkan perikemanusiaan”&lt;br /&gt;terorisme dari arti kata teror, dalam bahasa Latin berarti ketakutan, kengerian, dan kegelisahan. Teror digunakan oleh penguasa yang tidak mempunyai legitimasi untuk membuat suasana ketakutan, mencari dukungan, menarik perhatian dunia international atau sebagai kegiatan anarkhis yang bertujuan merusak. (Ensiklopedi Politik dan Pembangunan Pancasila)&lt;br /&gt;Sedangkan kata teror dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang dan golongan. Dengan demikian terorisme merupakan penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan.&lt;br /&gt;Definisi lain dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan olh RAND Corporation, sebuah lembaga penelitian dan pengembangan swasta terkemuka di Amerika Serikat yang menyimpulkan bahawa setiap tindakan terorisme adalah tindakan kriminal. Dalam kesimpulannya, mereka menilai :&lt;br /&gt;a. Terorisme bukan bagian dari tindakan perang, sehingga disebut sebagai tindakan &lt;br /&gt;     kriminal, juga dalam situasi diberlakukannya perang.&lt;br /&gt;b.  Sasaran utama terorisme adalah warga sipil sehingga tidak dapat dikategorikan &lt;br /&gt;     sebagai  tindakan militer.&lt;br /&gt;c.  Aksi terorisme dapat mengklaim tuntutan bersifat politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi terorisme memang cenderung ke arah politik. Hal inilah yang menyebabkan PBB nyaris tidak dapat merumuskan batasan atau definisi terorisme selama diskusi panjang selama 10 tahun. Sebagai contoh, tindakan kaum revolusioner Revolusi Sosial Rusia tahun 1900-1901 yang berhasil melakukan sejumlah besar aksi pembunuhan terhadap pejabat-pejabat pemerintah Kekaisaran Rusia  dipandang sebagai aksi pahlawan. Akan tetapi setelah kekaisaran tumbangdan Kaum Bolshevik memerintah tahun 1917, kaum revolusioner tidak puas dan melakukan cara serupa dengan membunuh V.I.Lenin. Mereka kemudian dicap sebagai kelompok teroris.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188903342464419?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188903342464419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188903342464419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2004/12/menilai-terorisme-dalam-segi-hukum-dan.html' title='Menilai Terorisme dalam Segi Hukum dan Politik'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188829505144225</id><published>2004-11-22T05:24:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:24:55.106-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Solidaritas: Pemenuhan Arti Natal&lt;br /&gt;(Sebuah Permenungan Kecil tentang Makna Natal)&lt;br /&gt;oleh: Antonius Krisna Murti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangnya di Timur dan kami datang untuk menyembah dia.” &lt;br /&gt;(Mat 2:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ketiga majus dari Timur masuk ke istana Herodes untuk mencari Sang Juruselamat yang telah hadir di Bumi untuk membesuk-Nya. Mendekati istana Herodes di Yerusalem, mereka kehilangan arah karena bintang itu tiba-tiba menghilang. Lalu, tampaklah di mata mereka istana megah Herodes. Tentu saja, mereka mengira Sang Juruselamat, raja orang Yahudi akan lahir dalam istana megah di Yerusalem. Untunglah mereka salah besar! &lt;br /&gt;Begitu mereka keluar istana Herodes, bintang yang selama perjalanan selalu menjadi guide mereka muncul kembali. Sampai akhirnya, mereka menemukan Sang Juru Selamat, Raja Orang Yahudi tertidur pulas di atas palungan, di tengah-tengah seorang bapa dan ibu yang sederhana; lengkap dengan ternak-ternak plus baunya. Tiada tetua masyarakat, kepala suku, atau pun orang pemerintahan di sana. Yang ada hanyalah para gembala. Tiada iringan musik fanfare yang biasa dimainkan pada saat kelahiran seorang pangeran. Yang ada hanyalah desah angin malam serta nyanyian jangkrik. &lt;br /&gt;Seluruh sketsa megah kelahiran Sang Juru Selamat ketiga majus itu runtuh seketika; tidak ada kemewahan, tidak ada kemegahan, tidak ada kenyamanan; tidak ada keamanan; tidak ada kehangatan; tidak ada kemeriahan. Namun, di sinilah mereka terharu dan terenyuh menyadari kerendahan Sang Juru Selamat, Raja Orang Yahudi, apalagi dibandingkan dengan kesombongan, kemunafikan, dan niat busuk yang mereka dapatkan di istana Herodes.&lt;br /&gt;Di bulan Desember, selepas  saudara-saudara kita Muslim merayakan Lebaran, giliran musik-musik Natal bertebaran di mana-mana, apalagi di pusat-pusat perbelanjaan yang sudah memasang dekorasi khas Natal: pohon Cemara, mistletoe, serta Sinterklas plus reindeers-nya. Surat kabar, televisi, dan media massa lainnya mulai mengiklankan berbagai macam promosi barang ini-itu dengan diskon yang besar dalam rangka Natal. Namun, makna Natal tidak akan dapat ditemukan di sana. Hakekat sebuah Natal juga tidak akan kesampaian dalam wujud pesta perayaan Natal yang megah, kotbah-kotbah Natal yang berapi-api, kado-kado mewah nan gemerlap.&lt;br /&gt;Yesus hadir di dunia bukan dalam kehangatan rumah sakit megah, atau kenyamanan hotel mewah. Bukan juga dalam kelincahan penanganan bidan-bidan. Tidak juga  dihadiri tamu-tamu kehormatan. Tanpa pula kado-kado gemerlap. Tanpa nyanyian dan iringan musik. Sang Putra Allah memilih lahir di Bumi ini dalam suasana yang sungguh bersahaja dan sederhana, dalam kondisi yang miskin dan tidak berdaya.&lt;br /&gt;Dengan hadir ke dunia seperti itu, Ia hendak menunjukkan solidaritasnya kepada manusia. Ya, seorang Allah penguasa langit dan bumi turun ke dunia dalam kondisi miskin dan lemah, menjalani hidupnya dengan resiko yang tinggi, hingga mati dengan cara yang mengenaskan. Bukankah itu adalah wujud cinta yang tiada bandingnya! Solidaritas Yesus sungguh mutlak hingga ia dengan senang hati melalui itu semua. &lt;br /&gt;Solidaritas. Inilah pemenuhan arti Natal. Natal adalah awal perjanjian baru, pemenuhan janji Allah yang dulu telah disampaikan melalui nabi-nabiNya. Natal adalah kehadirannya untuk memulai serangkaian misi demi menyelamatkan manusia. Jadi, kalau Anda mencari makna Natal dalam kemegahan gereja, atau dalam kemeriahan pesta dan nyanyian Natal, atau dalam gemerlap pusat perbelanjaan, atau dalam kemewahan kado Natal, Anda tidak akan menemukan hakekat Natal yang sebenarnya. &lt;br /&gt;Bukan berarti Anda dilarang untuk melakukan itu semua. Semua itu baik, hanya saja itu tidak cukup! Makna Natal akan terpenuhi dalam wujud solidaritas. Bukan solidaritas kepada mereka yang kaya, berkuasa, dan penuh gemerlap, hidup dalam glamour dan kemewahan, melainkan, solidaritas kepada mereka yang lemah, miskin, tersingkir, tidak berdaya, bau, kotor, menjijikan. &lt;br /&gt;Makna Natal justru akan terwujud secara nyata dalam diri saudara-saudara kita yang hina. Di tengah deru badai bencana yang menghempas bahtera Indonesia ini, justru inilah kesempatan emas untuk mendapatkan makna Natal yang sesungguhnya. Krisis ekonomi semenjak 1997 telah meluas menulari aspek-aspek kehidupan lain di Indonesia. Menelorkan krisis-krisis baru: dari krisis politik, budaya, identitas, hingga moral. Entah sudah beberapa juta orang menderita berkat krisis multidimensional yang menghantam Indonesia dari berbagai sisi, mulai dari korban PHK, korban kriminalitas, hingga korban bencana alam.&lt;br /&gt;Yesus, Sang Putera Allah, Raja Orang Yahudi sendiri telah memberikan teladan yang mengagumkan dalam solidaritasnya pada manusia. Ia sungguh turun langsung dalam stratum sosial yang rendah, dalam kondisi miskin, lemah, lengkap dengan bau kandang. Kini semuanya beralih pada kita (baca: kaum Kristiani), sudahkan kita selama ini secara sungguh-sungguh memenuhi makna Natal? Mampukah kita bersolidaritas kepada saudara-saudara kita yang hina, miskin, lemah, tersingkir, bau, menjijikkan? Atau, kita hanya sibuk mencari makna natal dalam “istana Herodes” yang isinya tak lebih dari kemewahan semu, kenyamanan fana, dan kehangatan sementara? Ingatlah: “Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kau telah melakukannya untuk Aku!” (Mat 25: 40)&lt;br /&gt;Selamat Natal dalam semangat solidaritas!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188829505144225?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188829505144225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188829505144225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2004/11/solidaritas-pemenuhan-arti-natal.html' title=''/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188954218142038</id><published>2004-11-13T05:44:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:45:42.246-08:00</updated><title type='text'>The Generation of Hope</title><content type='html'>(a contemplation for youngsters)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Each nation have to regenerate in order to be survive and to keep his existence in this world. A nation needs their successor to replace the old ones. Guess, who will be the successor!! The answer’s we. Yes! We are the one; we will inherit this beautiful archipelago. We, as he young generation, is the only heir of Indonesia. We are the generation of hope. &lt;br /&gt;Therefore, as the consequences, whether we wants to or not, we will find and face many obstacles and challenges in our effort to fulfilled this noble task. The obstacles and challenges not just come from the external aspect but also from the internal aspect. To tell you the truth, to manage obstacles which came from the intern aspect is more hard instead which came from the extern aspect because obstacles from intern aspect means that the obstacles came from ourselves. It’s difficult to defeat an enemy which is in the fort. &lt;br /&gt;The foundation to be a good successor for this huge archipelago is the sense of nationalism. The sense of nationalism is an ideology or concept of a citizen of a country which place the existence, safety and prosperity of his country and nation in the highest place of his heart and mind. A nationalist have a huge loyalty upon his nation. The primary priority of is life is to make his live useful for his country. If every of young generation of this country has the sense of nationalism, this country won’t worry about its future. But, unfortunately, there’s many problem which are contaminated in our youngsters. &lt;br /&gt;The external problem which is starting to ruin our youngsters come from the phase of globalisation and industrialism. The globalisation and industrialism which have spread all over the world have brought many effects to human civilization. The majority of effects which are brought by them is negative. In the economic aspect, it has known that on the year of 1800, only 74% of the world citizen which are poor. But, on the year of 1995, the poor increase into the percentage of 80%. &lt;br /&gt;In the other point of view, globalisation and industrialism also have brought changes in human culture, attitude and livestyle. Those changes is dangerous for the existence of a nation because these changes can make the sense of nationalism faded and ruined. The changes are the concept of profanism, such as hedonism, conformism, consumerism and westernism. &lt;br /&gt;Hedonism is a kond of lifestyle which deify secular pleasure. A hedonistic doesn’t think about school for his future; but on the contrary, he only think how to make himself feel happy. Consumerism is a kind of attitude which always buys anthing to fulfill his desire. Conformism is a lifestyle which directly imitate other people’s habitual or buy other people’s goods in order to follow the trend at that time. Westernism is an attitude which imitate western culture directly without any conscience consideration or other further judgement. Whereas western culture is not always fit with east livestyle. &lt;br /&gt;All of those bad seeds have infected the young generation of this country. Even, maybe, you have one of those above in yourself. If you pay attention to those ‘viruses’, you’ll agree that all of those will make the sense of nationalism of our young generation faded, or even ruined. If that’s happen, how gonna be our nation in the future? This nation will extinct. The word ‘extinct’ is consider to be rude and impolite, but an extinction will really happen if we, as the young generation don’t have the sense of nationalism. How do we inherit this country? How do we fulfilled our noble task? There’s no other answer except to bring to life the sense of nationalism in the heart of the young generation as the generation of hope. &lt;br /&gt;The effort to rekindle the concept of nationalism isn’t an easy job to do. We, as the generation of hope itself, need to have the sense of belonging, first. If we have the sense of belonging for this nation, automatically, we’ll take care this nation and conserve its culture. But to build a sense of belonging isn’t easy at all. First of all, we must to know well our nation. We need to build the Archipelago concept in ourselves. In this case, the education institution must takes part in it. The institution of education must build a curiculum in which young generations can know well their own nation. Last but not least, one thing which must be implanted in heart of the young generation is the sense of proud. Indonesia must be the pride of all its citizen, especially the generation of hope. With all of those above, it will emerge the etnosentrism and the sense of patriotism at the heart of young generation. &lt;br /&gt;To block the bad seeds from globalisation, the young generations need to have pure conscience and integrity between mind (rasio) and feeling (emotion). Those are the main weapon to defend our self from the concept of profanism. &lt;br /&gt;There’s still much what we can do, there’s no place for the word ‘late’. The most importing point is having the same aim; that is to be a good sucessor for this beautiful archipelago. The future of this nation depends on ourselves, as the generation of hope. Remember what President Kennedy have said! “Ask not what your country can do for you, but ask what you can do for your country.“ So, now the question’s what can we do for the sake of Indonesia?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188954218142038?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188954218142038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188954218142038' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188954218142038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188954218142038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2004/11/generation-of-hope.html' title='The Generation of Hope'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188892062861998</id><published>2004-09-18T05:34:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:35:20.696-08:00</updated><title type='text'>Dari Non Vitae sed Scholae Discimus Menuju Non Scholae sed Vitae Discimus</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan sejak dahulu kala memang cocok bila disebut “kegelisahan sepanjang zaman.” Masing-masing zaman mempunyai problem pendidikan yang berlainan. Bahkan, dalam dunia yang serba modern ini, masih ada epidemi yang meracuni dunia pendidikan, termasuk di Indonesia. Realitas pendidikan yang selama ini ada di Indonesia menjadi indikasi yang kuat. Kali ini, problemanya, pendidikan telah jatuh pada pragmatisme. Pendidikan tidak lagi berpegang pada filosofi dasarnya lagi, melainkan, semata-mata, menjadi sarana penghasil “alat” yang berguna bagi masyarakat. Tujuan pendidikan yang esensial dan mulia dikalahkan oleh berbagai macam lembaga atau isme yang hendak memenangkan kepentingannya. Pendidikan hanya mengabdi kepada kepentingan negara, sebagai wadah sebuah masyarakat. &lt;br /&gt;Karya tulis ini disusun berdasarkan tema: “Mengembalikan paradigma filosofi pendidikan Indonesia agar tidak terjebak dalam pragmatisme pendidikan.” Jadi, karya tulis ini hendak menanggapi keprihatinan yang ada dalam realitas dunia pendidikan di Indonesia, yaitu bahwa pendidikan Indonesia mulai jatuh dalam pragmatisme.&lt;br /&gt;Selanjutnya, karya tulis ini bertujuan menjelaskan mengapa pendidikan Indonesia jatuh dalam pragmatisme dan memberikan solusi supaya dunia pendidikan Indonesia dapat tetap berpegang pada filosofi pendidikan, bukannya jatuh terus dalam pragmatisme. Karya tulis ini hendak merangsang para policymakers pendidikan Indonesia untuk membangun suatu bentuk sistem pendidikan yang bermutu.&lt;br /&gt;Karya tulis ini disusun dengan metode studi kepustakaan serta observasi empiris, walau secara tidak langsung. Selanjutnya, data-data tersebut dianalisa dan disintesa demi menjawab permasalahan pendidikan Indonesia ini. &lt;br /&gt;Karya Tulis ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama menjadi pendahuluan yang memaparkan latar belakang, tujuan, metode, dan sistematika penulisan karya tulis ini. Selanjutnya, bab dua melukiskan penyebab dunia pendidikan Indonesia mulai jatuh dalam pragmatisme.  Bab tiga akan memberikan solusi serta metode agar dunia pendidikan Indonesia tidak jatuh terus dalam pragmatisme. Bagian terakhir akan menjadi penutup dari seluruh perjalanan ide karya tulis ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab II&lt;br /&gt;Pendidikan Indonesia: Non Vitae sed Scholae Discimus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan mendasar yang ada, mengapa pendidikan Indonesia mulai jatuh dalam pragmatisme. Untuk menjawabnya, diperlukan refleksi atas realitas sejarah dunia pendidikan Indonesia. Dalam hal ini, orde baru mempunyai peranan yang signifikan karena selama 32 tahun, sejak kejatuhan orde lama, orde baru menguasai seluruh aspek hidup bangsa Indonesia, termasuk dunia pendidikan. &lt;br /&gt;Sebenarnya, hanya terdapat satu sebab utama yang melatarbelakangi hal itu. Semuanya bermula dari tujuan pembangunan yang menjadi ambisi orde baru, yaitu keberhasilan sektor ekonomi. Dunia ekonomi dianggap sebagai faktor yang urgen dan menempati posisi poros dalam memajukan negara. Karena itu, pendidikan dijadikan pabrik produksi manusia-manusia yang nantinya dapat memenuhi kebutuhan ekonomi negara semata-mata. Artinya, pendidikan harus bisa memenuhi permintaan tenaga kerja dari sektor industri sebagai sektor ekonomi yang diutamakan pada zaman globalisasi ini. &lt;br /&gt;Hitam di atas putih, perjalanan sasaran yang terungkap dalam lima Pelita dalam PJPT I menunjukkan runtutan sasaran yang sistematis; dimulai dengan sektor agraris dan secara bertahap sampai dengan sektor industri. Sayangnya, dalam prakteknya, sektor agraris seakan-akan ditinggalkan begitu saja, dan diganti sepenuhnya dengan industrialisasi. Tampak pemerintah begitu berambisi mengikuti pola Barat, yaitu industrialisasi.&lt;br /&gt;Selanjutnya, melalui indoktrinasi, pemerintah orde baru telah membuat dunia pendidikan Indonesia lepas dari filosofi dasar pendidikan. Dunia pendidikan Indonesia dijadikan abdi industrialisasi. Dunia pendidikan Indonesia dipaksa harus bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja sektor industri semata-mata. Praktik pendidikan lalu cenderung mengutamakan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi ( kognitif dan psikomotorik ) dan melupakan aspek-aspek kepribadian anak didik yang lain ( afektif). Demi terwujudnya obsesi itu, orde baru menerapkan sistem target yang tidak menekankan pada proses, melainkan, pada jumlah bahan dan hasil semata-mata. Sistem target semacam itu hanya mementingkan kuantitas. Padahal, yang seharusnya ditekankan adalah kualitas. Yang jelas, tujuan pendidikan tidak sesempit itu (mengenai filosofi pendidikan akan dijelaskan pada bab tiga). Sejak itulah, dunia pendidikan Indonesia mulai jatuh pada pragmatisme. &lt;br /&gt;Pendidikan Indonesia tidak lagi menekankan pendidikan untuk kehidupan, namun pendidikan hanya diarahkan pada sekolah yang telah dituntut memenuhi ambisi pihak-pihak tertentu. Kesimpulannya, pendidikan Indonesia bercorak non vitae sed scholae discimus. Dalam bahasa Indonesia, non vitae sed scholae discimus berarti kita belajar bukan untuk kehidupan, melainkan untuk sekolah. Jadi, sekolah menjadi tujuan utama sehingga hakekat pendidikan yang seharusnya menjadi tujuan utama diabaikan. Nilai-nilai kehidupan yang seharusnya ditanamkan tertutupi oleh ambisi ikut dalam industrialisasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab III&lt;br /&gt;Non Scholae sed Vitae Discimus: Pendidikan Nilai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Kembali ke Filosofi Dasar Pendidikan&lt;br /&gt;Setelah melihat keprihatinan mengenai pendidikan Indonesia serta penyebabnya, yang harus dilakukan adalah kembali ke filosofi dasar pendidikan. Pendidikan adalah sebuah tindakan fundamental, yaitu perbuatan yang menyentuh akar-akar hidup kita sehingga mengubah dan menentukan hidup manusia. Jadi, mendidik adalah suatu perbuatan yang fundamental karena mendidik itu mengubah dan menentukan hidup manusia. Kesejahteraan suatu bangsa amat bergantung pada tingkat pendidikannya, apalagi pada zaman sekarang. Kesimpulannya, pendidikan itu me-manusia-kan manusia muda Pendidikan adalah suatu bentuk hidup bersama yang membawa manusia muda ke tingkat manusia purnawan. (Driyarkara, 1991). Jadi, corak pendidikan Indonesia harus dibalik, dari non vitae sed scholae discimus menjadi non scholae sed vitae discimus yang artinya, kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk kehidupan. Jadi, pendidikan Indonesia harus dilaksanakan demi kehidupan. Hal ini menjadi solusi supaya pendidikan Indonesia tidak jatuh dalam pragmatisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Revitalisasi Pendidikan Nilai&lt;br /&gt;Mewujudkan pendidikan bercorak non scholae sed vitae discimus berarti menumbuhkan pendidikan nilai. Pendidikan pada hakekatnya bersendikan nilai-nilai yang tinggi dan esensial kedudukannya dalam kebudayaan. Salah satu konsep filosofi dasar pendidikan menurut Theodore Bramelt adalah bahwa pendidikan harus mampu menjadi agen atau perantara yang menanamkan nilai-nilai yang ada dalam jiwa stake holder (Barnadib, 1990). Mendidik juga berarti memasukkan anak ke dalam alam nilai-nilai, atau, memasukkan dunia nilai-nilai ke dalam jiwa anak (Driyarkara, 1991).&lt;br /&gt;Pendidikan nilai bukan saja perlu karena dapat mengembalikan filosofi dasar pendidikan Indonesia yang seharusnya non scholae sed vitae discimus, namun juga perlu karena Indonesia, sebagai negara Pancasila, pada hakekatnya, menuntut pendidikan nilai karena ciri khasnya justru terletak dalam komitmen terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai landasan negara. Dunia masa kini menghadapi suatu perubahan budaya akibat kemajuan ilmu dan teknologi yang juga membawa dampak negatif berupa lunturnya nilai-nilai yang vital, misalnya, nilai kegotong-royongan, nilai kesopanan, nilai kesusilaan. Maka, harus ada usaha reservasi nilai-nilai kehidupan supaya tidak punah. Dalam hal ini, pendidikan nilai berperan penting.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Konsep Pendidikan Nilai&lt;br /&gt;Pertama, perlu diperjelas dahulu mengenai konsep nilai dan norma. Bertens mengungkapkan bahwa nilai adalah sesuatu yang menarik bagi kita, sesuatu yang kita cari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai dan diinginkan, singkatnya, sesuatu yang baik (Adimassana; 2001). Pendapat ini sejalan dengan pemikiran Piet G.O. bahwa konsep nilai dalam arti sifat yang berharga menurutnya adalah sifat dari suatu hal, benda, atau pribadi yang memenuhi kebutuhan elementer manusia yang memang serba butuh atau menyempurnakan manusia yang memang tak kunjung selesai dalam pengembangan dirinya secara utuh, menyeluruh, dan tuntas (Piet GO, 1990). Menurut Sinurat, nilai dan perasaan tidak dapat dipisahkan, keduanya saling mengandaikan, perasaan adalah aktifitas psikis di mana manusia menghayati nilai (Adimassana; 2001). Yang bernilai menimbulkan perasaan positif dan yang tidak bernilai menimbulkan perasaan negatif. Selaras dengan pemikiran-pemikiran diatas, Hans Jonas mengatakan bahwa nilai itu the addresse of a yes (Adimassana; 2001). Jadi, nilai adalah sesuatu yang selalu kita setujui. Sementara itu, norma adalah aturan atau patokan baik tertulis atau tidak tertulis yang berfungsi sebagai pedoman bertindak. Bila tiap manusia punya suatu sistem nilai dalam dirinya, dan sistem nilai itu dihidupi dan dijadikan pedoman hidup, berarti manusia itu sudah memenuhi kriteria manusia purnawan   &lt;br /&gt;Tujuan pendidikan nilai secara global adalah mencapai manusia yang seutuhnya; menjadi manusia purnawan, jika menggunakan bahasa Driyarkara. Pendidikan nilai hendak mencapai manusia yang sehat; mencapai pribadi yang terintegrasi jika menggunakan bahasa Philomena Agudo. Integrasi pribadi memadukan semua bakat dan kemampuan daya manusia dalam kesatuan utuh menyeluruh. Pembawaan fisik, emosi, budi, dan rohani diselaraskan menjadi kesatuan harmonis. GBHN 1988 Bab II B mendukung pernyataan ini : Landasan Pembangunan Nasional: “Berdasarkan pola pikiran bahwa hakekat Pembangunan Nasional adalah Pembangunan Manusia Indonesia seutuhnya…..” Jadi, pendidikan nilai itu manifestasi non scholae sed vitae discimus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Pendidikan Nilai vs Pendidikan Pragmatis&lt;br /&gt;Pada awalnya, tujuan pendidikan Indonesia yang bercorak pragmatis (diistilahkan non vitae sed scholae discimus) baik. Dengan penekanan di sektor ekonomi, terutama lewat industrialisasi, negara hendak meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh bangsa Indonesia, dan dari situ, akan dicapai keadilan sosial. Namun, pendidikan menjadi produsen tenaga-tenaga terampil semata, tidak menghasilkan manusia purnawan atau manusia utuh atau manusia terintegrasi. Pada masa-masa krisis multidimensional sekarang ini, pendidikan yang bercorak pragmatis itu malahan memperparah keadaan. Mengapa? Pendidikan pragmatis ini menghasilkan manusia-manusia yang mungkin cerdas dan terampil namun belum tentu berbudi baik. Ada segudang problem yang bisa dijadikan indikator, mulai dari masalah sosial, politik, rasial, lingkungan hidup, ketakwaan, susila, rasa kebangsaan, dan banyak lagi. Masing-masing mengacu pada kesimpulan bahwa sumber daya manusia (yang notabene dihasilkan oleh pendidikan pragmatis) itu kurang dalam segi humaniora. &lt;br /&gt;Pendidikan nilai menghasilkan sumber daya manusia yang utuh, menyeluruh, sehat, purnawan, terintegrasi. Pribadi yang dibentuk oleh pendidikan nilai tetap mampu memenuhi tuntutan sektor ekonomi, tanpa harus kehilangan keutuhannya sebagai seorang manusia. Justru dalam masa-masa krisis multidimensional yang sedang dialami bangsa Indonesia inilah, pendidikan nilai amat berperan. Pendidikan nilai menghasilkan manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya. Menurut Maslow (Agudo, 1999),  aktualisasi itu akan nampak pada:&lt;br /&gt;1. Penerimaan diri, orang lain, dan kenyataan kodrat.&lt;br /&gt;2. Spontan dan jujur dalam pemikiran, perasaan, dan perbuatan.&lt;br /&gt;3. Membutuhkan dan menghargai keintiman diri (privasi).&lt;br /&gt;4. Pandangan realitas mantap.&lt;br /&gt;5. Kekuatan untuk menghadapi problem di luar dirinya sendiri. &lt;br /&gt;6. Pribadi mandiri. &lt;br /&gt;7. Menghargai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sendiri. &lt;br /&gt;8. Menjalin hubungan pribadi dengan yang Transenden.&lt;br /&gt;9. Persahabatan dekat dengan beberapa sahabat atau orang-orang tercinta.&lt;br /&gt;10. Ramah terbuka karena dapat menghargai dan menerima pribadi yang lain. &lt;br /&gt;11. Perasaan tajam, peka akan nilai-nilai rasa moral susila teguh dan kuat.&lt;br /&gt;12. Humor tanpa menyakitkan. &lt;br /&gt;13. Kreativitas, bisa menemukan diri sendiri, tidak selalu ikut-ikutan. &lt;br /&gt;14. Mampu menolak pengaruh yang mau menguasai atau memaksakan diri. &lt;br /&gt;15. Dapat menemukan identitasnya &lt;br /&gt;Kelimabelas manifestasi aktualisasi diri hasil pendidikan nilai itu menjadi modal dasar untuk menyelesaikan krisis multidimensional yang menjangkiti bangsa Indonesia. Kesimpulannya, pendidikan nilai bukan hanya menyediakan sumber daya manusia bagi sektor ekonomi tanpa kehilangan keutuhannya tapi, pendidikan nilai juga membentuk manusia-manusia yang mampu mengatasi krisis yang rumit sekalipun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab IV&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik pendidikan zaman orde baru yang diabdikan pada kepentingan industrialisasi telah melepaskan pendidikan dari filosofi dasarnya. Ini berarti pendidikan Indonesia telah jatuh dalam pragmatisme. Pendidikan hanya mengutamakan kognitif dan psikomotorik  dan melupakan aspek-aspek afektif sehingga bercorak non vitae sed scholae discimus. &lt;br /&gt;Solusi yang harus dilakukan adalah kembali kepada filosofi dasar pendidikan dengan mengubah non vitae sed scholae discimus menjadi non scholae sed vitae discimus. Metode yang paling tepat untuk mewujudkannya adalah pendidikan nilai. &lt;br /&gt;Akhirulkalam, penulis berharap karya tulis ini dapat merangsang perevitalisasian pendidikan nilai supaya pendidikan Indonesia tidak jatuh terus dalam pragmatisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Atmadi, A. &amp; Setiyaningsih (eds.), Transformasi Pendidikan  (Yogyakarta: Kanisius, 2001)&lt;br /&gt;Agudo, Philomena, Aku Memilih Engkau  (Yogyakarta: Kanisius, 1999)&lt;br /&gt;Barnadib, Imam, Filsafat Pendidikan (Yogyakarta: Andi Offset, 1990)&lt;br /&gt;Driyarkara, Driyarkara: tentang Pendidikan  (Yogyakarta: Kanisius, 1991)&lt;br /&gt;Eyre, Richard &amp; Linda, Mengajarkan Nilai-Nilai kepada Anak (Jakarta: Gramedia, 1997)&lt;br /&gt;Piet , Pendidikan Nilai di Sekolah Katolik (Malang: Dioma, 1991)&lt;br /&gt;Sindhunata (ed.), Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 2001)&lt;br /&gt;Sindhunata (ed.), Menggagas Paradigma Baru Pendidikan (Yogyakarta: Kanisius, 2000)&lt;br /&gt;Tilaar, H.A.R, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional (Magelang: Indonesia Tera, 1999)&lt;br /&gt;Witherington, H.C, Psikologi Pendidikan. (Jakarta: Aksara Baru, 1982)&lt;br /&gt;BASIS edisi khusus Paulo Freire&lt;br /&gt;BASIS edisi khusus Pendidikan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188892062861998?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188892062861998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188892062861998' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188892062861998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188892062861998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2004/09/dari-non-vitae-sed-scholae-discimus.html' title='Dari Non Vitae sed Scholae Discimus Menuju Non Scholae sed Vitae Discimus'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188897962239860</id><published>2004-08-23T05:35:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:36:19.710-08:00</updated><title type='text'>Antara Generasi Muda, Globalisasi, dan Peranan ICT</title><content type='html'>Bagi umat manusia, dimensi waktu telah berubah menuju suatu fase yang jelas amat kontradiksional. Fase baru ini kita sebut dengan terminologi globalisasi. Menurut Jenderal (Pur.) TNI Soemitro, globalisasi adalah konsep semu pengisi kevakuman. Setelah parang dingin berakhir seiring dengan runtuhnya hegemoni Blok Timur, dunia dilanda kevakuman konsepsi, strategi, dan kepemimpinan politik. Setelah melewati Perang Dunia I dan II, masyarakat internasional mendambakan perdamaian. Sebagai negara adidaya yang tersisa, Amerika Serikat (AS) mengubah strategi konfrontasi menjadi strategi rekonsiliasi. Selanjutnya, AS mengkampanyekan konsep globalisasi dengan tiga sasaran utama yaitu: perwujudan HAM, kemerdekaan, dan ekonomi liberal sebagai sasaran utamanya.   &lt;br /&gt;Proses yang melanda dunia ini membawa banyak konsekuensi. Melihat dari ketiga sasaran utama yang sejak awal dimaksudkan, seharusnya, globalisasi membawa dampak yang positif bagi seluruh umat manusia, namun, kenyataan yang ada bertolak belakang. Dulu, pada tahun 1800, 74% penduduk dunia terkategori miskin dan hanya menikmati 44% GDP dunia. Tapi, pada tahun 1995, keadaan bertambah parah. Jumlah penduduk dunia yang terkategori miskin mencapai 80% dan hanya menikmati 20% GDP dunia. Sisanya, 20% penduduk dunia yang kaya menikmati 80% GDP dunia.  &lt;br /&gt;Di lain pihak, globalisasi membawa manusia pada suatu dunia tanpa batas (borderless world) dengan arus informasi supercepat (information superhighway) yang mengglobal. Globalisasi dunia memicu revolusi (bukan evolusi) di bidang ICT (Information and Communication Technology). Singkatnya, globalisasi akan membawa serta globalisasi arus informasi serta akselerasi perkembangan ICT. Globalisasi memaksa manusia untuk dapat beradapatasi dengan globalisasi arus informasi serta akselerasi perkembangan ICT yang berlangsung. Untuk beradaptasi dengan transfromasi yang supercepat ini, tiap bangsa dituntut untuk memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Globalisasi akan berdampak negatif pada suatu nasion bila nasion itu tidak memiliki SDM yang berkualitas. Untuk yang terakhir ini, perlu diakui bahwa Indoneisa belum memilikinya, secara umum. Bila dilihat dari mutu hasil pendidikannya, Indonesia kalah jauh dengan negara-negara Asia lainnya. Majalah Hidup dalam tajuk rencananya pernah mengungkapkan bahwa pendidikan Indonesia tergolong kelas kambing.  Jajak pendapat Kompas secara umum menyimpulkan bahwa kiprah generasi muda Indonesia belum memuaskan. Selain itu, ada banyak masalah yang dimiliki oleh generasi muda Indonesia.  Konsekuensinya, Indonesia akan berhadapan dengan banyak dampak negatif globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT. &lt;br /&gt;Tulisan ini hendak merangsang seluruh bangsa Indonesia terutama para pemimpin dan policymakers industri ICT sebagai pihak yang memegang peranan penting dalam globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT. Secara khusus tulisan ini hendak melihat imbasnya terhadap generasi muda. Ini perlu ditekankan karena suatu nasion itu bak sebuah tim sepak bola yang mau tidak mau harus terus beregenerasi supaya tetap eksis. Apabila generasi muda Indonesia --yang notabene adalah tulang punggung bangsa-- telah teracuni dengan berbagai dampak negatif globalisasi, mau jadi apa nasion ini kelak?&lt;br /&gt;Terlebih dahulu, tulisan ini akan memberikan pandangan bercorak reflektif sekaligus futuristik tentang dampak negatif yang mengancam generasi muda Indonesia, mengingat SDM kita belum dapat bersaing. Pandangan ini akan dibagi menjadi tiga segi, yaitu: sosial, ekonomi, budaya. Sebenarnya, ketiganya berhubungan erat, namun, demi lebih jelasnya akan diklasifikasikan dalam ketiga segi itu. Selanjutnya, adalah upaya memperbaiki keadaan dengan penekanan pada peran ICT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi Informasi dan Akselerasi Perkembangan ICT&lt;br /&gt;Kita harus berangkat dari pemahaman bahwa manusia itu, pada dasarnya, mahluk sosial. Menurut teori ekstensialisme, manusia “ada” berarti “ada bersama” . Kata “aku “ justru mengandaikan adanya orang lain. Komunikasi alias communication itu berawal dari communion alias kesatuan, maksudnya adalah bentuk “ada bersama” dari manusia. Jadi, komunikasi itu intermedium antar pribadi. Bertitik pangkal pada komunikasi itulah, manusia dapat semakin memanusiakan dirinya; manusia menjadi semakin berbudaya. &lt;br /&gt;Sekali lagi diungkapkan bahwa globalisasi yang melanda dunia ini membawa pada borderless world  dengan ditandai information superhighway. Perkembangan ICT menjadi amat cepat. Dalam beberapa dasawarsa teknologi informasi dan telekomunikasi terus diup-grade secara revolutif; mulai dari PC tanpa hardisk hingga PC lengkap dengan multimedia; mulai dari telepon dengan kabel, ponsel, hingga teknologi iridium. Kalau dahulu orang berhubungan lewat telepon, telegraf, atau surat biasa, kini semuanya bisa diatasi dengan internet. Kini para sepakbola mania tidak perlu pergi ke Eropa untuk mengikuti perebutan piala Champion. Mereka dapat mengikuti piala Champion melalui TV. Dunia yang dulu tampak luas, kini terlihat amat sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak di Bidang Sosial &lt;br /&gt;Globalisasi yang disertai dengan globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan melahirkan masyarakat yang lebih menghargai kualitas individu. Dari situ, akan terformat masyarakat kompetitif, artinya, persaingan antar individu akan memuncak. Di satu sisi, persaingan yang ketat semacam ini akan meningkatkan kinerja dan produktifitas manusia. Mereka yang mampu bersaing akan menduduki posisi atas dalam stratum sosial. Namun, dengan bermodal dari kenyataan bahwa sumber daya manusia muda Indonesia belum cukup baik, resikonya, SDM kita malah menjadi masyarakat frustasi. Hasilnya, adalah bentuk-bentuk kekerasan seperti tawuran, “lukisan” di badan bus dan dinding-dinding. &lt;br /&gt;Globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan memperluas wawasan dan relasi kaum muda dengan adanya sarana-sarana yang memungkinkan mereka memperoleh informasi atau berelasi dengan lebih efisien dan berjangkauan luas. Namun, di sisi lain, TV, internet, majalah, koran, VCD, handphone, dsb. yang terus di-up grade itu akan mengantarkan generasi muda dalam mode baru relasi manusia yaitu: virtual relation. Dalam relasi ini, generasi muda berhubungan dengan orang atau gambaran yang secara fisik belum pernah bertemu, atau bahkan mustahil. Yang perlu ditekankan adalah dengan melihat kenyataan saat ini, virtual relation  itu akan melemahkan proses sosialiasi generasi muda dalam masyarakat. Dengan adanya sarana dan fasilitas yang begitu canggih, tidak akan ada dorongan untuk secara langsung terjun ke masyarakat; kemampuan interaksi akan menurun. Buktinya, bentuk-bentuk gotong royong dalam masyarakat kita, terutama generasi muda, menurun jauh bila dibandingkan dengan pada masa-masa sebelumnya. Rasanya, ungkapan mangan ora mangan kumpul yang menggambarkan begitu eratnya kebersamaan dalam lingkungan sosial masyarakat Indonesia sudah tidak relevan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak di Bidang Ekonomi&lt;br /&gt;Dampak di bidang ekonomi akan tampak jelas. Globalisasi arus informasi dan perkembangan ICT akan membawa angin segar bagi konsumerisme untuk tumbuh subur dalam diri generasi muda Indonesia. Tingkat konsumsi akan meningkat dan produktifitas menurun. Di lain pihak, pasar bebas yang menjadi salah satu perwujudan globalisasi akan menuntut manusiua yang kreatif; mampu berkreasi; singkatnya, manusia produktif. Di sinilah terjadi tension, generasi muda Indoneisa menjadi semakin tidak mampu memenuhi tuntutan jaman karena sudah teracuni konsumerisme sehingga hanya ahli dalam menkonsumsi. Buktinya, persentasi penemu dan peneliti di Indonesia amat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk. Selanjutnya apabila produktifitas dari generasi muda --yang sebenarnya amat diharapkan dapat memulihkan keadaan ekonomi negara-- menurun, negara kesatuan ini akan semakin terpuruk dalam lingkaran setan yang tidak ada habisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak di Bidang Budaya&lt;br /&gt;Segi budaya adalah segi yang paling rentan terkena dampak negatifnya. Pada sub-bab sebelumnya diungkapkan mengenai virtual relation. Selain berdampak pada bidang sosial, dampak negatifnya juga mengimbas bidang budaya. Bentuk-bentuk sarana dan fasilitas informasi semacam itu akan mempengaruhi pola berindak dan berpikir generasi muda. Contoh yang memperihatinkan adalah masalah budaya membaca; tampaknya generasi muda sekarang sudah terhipnotis dengan layar kaca segi empat sehingga menomorduakan membaca. Kekerasan yang ada terbias dari TV juga akan terhisap oleh pikiran. Ada banyak orangtua yang menyayangkan anaknya menjadi nakal akibat nonton TV.&lt;br /&gt;Pada sub-bab sebelumnya juga telah dipaparkan mengenai konsumerisme. Sikap konsumeris itu pada akhirnya akan mencapai titik jenuh dalam bentuk quasi religion . Hal-hal duniawi yang semu dan tidak kekal justru dicari dan dinomorsatukan. Sementara itu, justru yang merupakan agama murni ditinggalkan. Materi didewakan, ini akan membuat manusia-manusia yang rakus; homo homini lupus. Ini sering diungkapkan dengan terminologi hedonisme.&lt;br /&gt;Keadaan yang ada di lingkungan generasi muda sekarang ini akan membawa pada pada homogenitas budaya pop. Gejala ini akan menyeragamkan selera dan simbol, sekaligus juga melarutkan sebaga batas identitas dalam keseragaman yang dangkal dan pragmentaris. Dan corak keseragaman akan ditentukan oleh siapa yang paling kuat , itu artinya negara-negara industri. Akibatnya timbul transformasi budaya yang bercorak revolutif. Pada titik ini, generasi muda akan mengalami alienasi budaya.  Alienasi dimaksudkan untuk mengungkapkan suatu persaan terpisah, terpecah dalam arti yang lebih dalam. Jadi, generasi muda Indonesia akan mengalami keterasingan dengan budayanya sendiri. Mereka akan mengalami krisis idenditas yang intensif karena pergeseran budaya yang amat cepat dan tidak disadarinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharap Peran Pihak Industri ICT&lt;br /&gt;Lewat perjalanan ide ini, dapat ditangkap dengan jelas bahwa ICT mempunyai peran dan pengaruh yang besar dalam fase ini. Dengan bertitik tolak dari pemahaman ini, muncul harapan peranan industri-industri ICT untuk memutarbalikkan keadaan dengan menghalau dampak negatif akselerasi arus informasi dan perkembangan ICT ini. Harapannya, justru dengan adanya keadaan dimana arus informasi sedemikian mengglobal dan perkembangan ICT yang begitu cepat, generasi muda Indonesia justru mendapatkan buahnya.  &lt;br /&gt;Yang jelas restrukturisasi ICT itu diperlukan. Hal paling mendasar yang sejak pertama harus diperhatikan adalah mengenai visi dan misi ICT. Selama ini, terkesan bahwa ICT hanya mengharap supply tenaga kerja dari sektor pendidikan. Karena ini, pendidikan Indonesia jatuh dalam corak pendidikan yang pragmatis. Ini membuktikan masih kecilnya kepedulian industri ICT terhadap generasi muda. Industri ICT perlu peduli terhadap generasi muda; mengingat mau tidak mau, tenaga kerja yang akan dipakai industri ICT berasal dari generasi muda. Kepedulian itu diwujudkan dengan mengikutsertakan program yang berkenaan dengan peningkatan kualitas SDM generasi muda Indonesia dalam visi dan misinya. Ini diperlukan mengingat keadaan generasi muda Indonesia yang belum mepunyai SDM yang berkualitas benar. Realitas era ini menuntut orang untuk tidak hanya melek huruf melainkan juga melek teknologi. Setelah visi dan misi diperbaharui, yang perlu dilakukan adalah melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Ini dapat diwujudkan lewat program beasiswa bagi pelajar yang berpotensi atau mengadakan program-program pelatihan, kursus, seminar. Karenanya diharapkan ICT dapat menjalin kerja sama dengan pihak-pihak di sektor pendidikan formal maupun informal. Dalam mengusahakan ini, perlu diarahkan format pribadi yang hendak dibentuk. Memang globalisasi informasi dan akselerasi perkembangan ICT akan memicu masyarakat kompetitif. Namun, janganlah nantinya program pendidikan dan pelatihan itu membentuk pribadi individualistik. Yang harus dibentuk adalah pribadi yang unggul-partisipatoris. &lt;br /&gt;Dalam menghadapi globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT, yang perlu dilakukan justru memanfaatkan sarana yang ada. Tepatlah jika kita mencontoh peran pihak ICT di Jepang. Pihak ICT Jepang melakukan sosialisasi sains dan teknologi kepada masyarakat Jepang melalui TV. Bagi mereka, pengembangan iptek mutlak, dan karenanya, sosialisasi amat diperlukan. Stasiun TV berlomba-lomba menyajikan acara yang berbau ilmiah. Seseorang juga dapat belajar autodidak dengan menonton TV pendidikan Jepang karena memberikan pelajaran berbagai macam bahasa dan juga menyiarkan kuliah-kuliah dari profesor-profesor terkenal. Atau meniru Filipina yang menggunakan sarana radio untuk mensosialisasikan hasil-hasil penelitiannya. Cara-cara ini berhasil di kalangan generasi muda karena yang digunakan bukanya pendekatan indoktrinatif normatif melainkan pendekatan persuasif.&lt;br /&gt;Yang perlu ditekankan juga adalah pengembangan potensi-potensi SDM generasi muda berdasarkan kebudayaan riil dalam masyarakat. Ingat bahwa bangsa Indonesia punya karakteristik yang berbeda dengan bangsa Barat dan itu juga berarti bangsa Indonesia memiliki kelebihan tersendiri. Jadi dalam usaha berkompetisi, kita tidak perlu mati-matian mengejar ketertinggalan dengan mengikuti teknologi bangsa Barat. Sebaliknya, industri ICT harus menjadi bentuk industri yang nasionalis. Contoh mudahnya adalah dengan menggunakan nama-nama Indonesia. Dengan bertindak seperti itu, industri ICT akan sekaligus menjadi kebanggaan bangsa dan penopang nasionalisme bangsa. Ini amat diperlukan karena nasionalisme generasi muda Indonesia sekarang ini memudar. &lt;br /&gt;Akhirulkalam, penulis hanya akan menguatkan bahwa globalisasi yang membawa serta globalisasi arus informasi dan akselerasi perkembangan ICT memang sedang terjadi. Sayangnya, karena generasi muda Indonesia belum dapat bersaing dengan yang lain, mereka justru akan terjangkiti dampak negatifnya. Maka, peran industri ICT amat diperlukan. Sebagai sesama bangsa Indonesia, kita harus bersatu padu menghalau badai ini, supaya pada akhrinya, bahtera negara kesatuan ini tidak hancur. “Ask not what your country can do for you, but ask what you can do for your country?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;--------, ------------, Kompas, 14 April 1997, hal. 12&lt;br /&gt;Berhani, Ahmad Najib, “Quasi-Religions,” Gerakan Protes atas Modernisme, Kompas, 26 September 1997&lt;br /&gt;Driyarkara, Prof. Dr., SJ, 1993, “Pendidikan menurut Driyarkara”, Kanisius, Yogyakarta&lt;br /&gt;Helianti, Is, Memasyarakatkan Iptek, Belajar dari Jepang, Kompas, 16 September 2001&lt;br /&gt;Jemadu, Aleksius, “Globalisasi: Antara Tantangan dan Peluang”, Kompas, 12 Desember 2000, hal 4-5&lt;br /&gt;Kartodirdjo, Sartono, 1999, imensi Pembangunan Bangsa, Kanisius, Yogyakarta&lt;br /&gt;LITBANG, Jajak Pendapat “Kompas”: Generasi Muda, Patutkah Dibanggakan?, Kompas, 29 Oktober 2001&lt;br /&gt;Soemitro, Jend. TNI (Pur), “Tantangan dan Peluang Wawasan Kebangsaan”. Pendidikan Wawasan Kebangsaan, Grasindo, Jakarta, 1994, hal. 23-28 &lt;br /&gt;Suseno, Frans Magnis, “Orang Muda Kita Dapat Mengharapkan Apa?”, Kompas, 28 Oktober 1996&lt;br /&gt;Suharto, A. Sandiwan, Pendidikan Indonesia Kelas Kambing, Hidup, 16 September 2001&lt;br /&gt;Tilaar, H.A.R., 1999, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional, Indonesia Terra, Magelang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188897962239860?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188897962239860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188897962239860' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188897962239860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188897962239860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2004/08/antara-generasi-muda-globalisasi-dan.html' title='Antara Generasi Muda, Globalisasi, dan Peranan ICT'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188717949288660</id><published>2004-07-13T05:01:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:06:19.556-08:00</updated><title type='text'>Internalisasi Vs. Homogenitas Budaya Pop</title><content type='html'>Kalau Anda sudi sejenak berhenti dari kesibukan dan kebisingan dunia ini, baik kalau kita bersama menjadi nabi kecil-kecilan, mengamati tendensi suatu spesies yang menamai dirinya homo sapiens. Di kota-kota yang kini mulai banyak ditumbuhi oleh mal-mal -bak jamur di musim hujan-, Anda dapat melihat remaja-remaja hedonis berseliweran dengan potongan rambut lurus ala F4, dengan busana tank top atau junkies. Atau, di sekolah-sekolah lanjutan dan kampus-kampus, Anda dapat melihat hampir setiap siswa atau mahasiswa membawa handphone. Sekilas, tampaknya wajar melihat itu semua. Iklim masyarakat sekarang memang sudah jauh berbeda. Namun, bila gejala-gejala ini ditelaah dan dilihat (baca: diobservasi) dengan lebih lanjut, ada tendensi di mana manusia mulai jatuh ke dalam homogenitas budaya pop. Selanjutnya, manusia-manusia yang seharusnya menjadi homo significans malahan jatuh ke dalam pendangkalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini hanyalah hendak merenungi tendensi manusia pasca-modernisasi ini. Bagaimana keadaan manusia-manusia sekarang dan bagaimana seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Homogenitas Budaya Pop: Buah Globalisasi&lt;br /&gt;People change! Mungkin itu adalah ungkapan yang paling tepat utuk memulai bagian ini. Betul, manusia dengan segala budaya hasil akal budinya itu memang terus berkembang, semakin mengkokohkan kedudukannya di muka bumi ini. Tak ada satu God’s creature lain yang mampu menyaingi kebudayaan manusia itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, manusia beralih menuju suatu rentang waktu yang kontradiksional dengan fase-fase sebelumnya. Disebut kontradiksional karena memang, fase yang satu ini berbeda jauh dengan fase-fase sebelumnya. Kita menyebutnya dengan globalisasi.  &lt;br /&gt;Di satu sisi, manusia memang terus berkembang menuju ke arah yang lebih baik, baik dari segi fisik maupun non-fisik. Sistem politik, kekuasaan, dan hukum semakin disempurnakan. Bahkan, demokratisasi dan transparansi begitu disanjung-sanjung dan menjadi bahan demonstrasi. Teknologi bidang komunikasi dan transportasi mengatasi batas-batas wilayah; membuat Bumi terasa sempit. Ilmu hayat dan kedokteran semakin meningkatkan tingkat kesejahteraan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, juga tidak boleh dilupakan bahwa tidak ada gading yang tak retak. Hasil perkembangan manusia ini pun bersifat ambivalen. Salah satu pengaruh negatif yang dibawa globalisasi adalah homogenitas budaya pop. Perdagangan bebas, kemajuan teknologi, dsb hasil globalisasi telah membentuk suatu budaya baru yang di dalamnya manusia-manusia terjebak dalam arus budaya pop. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup yang Semakin Mendangkal&lt;br /&gt;Ilustrasi di awal permenungan tadi hanyalah secuil gambaran yang membuktikan eksistensi tendensi itu dalam diri manusia-manusia sekarang, termasuk manusia-manusia Indonesia. Masih ada jutaan contoh homogenitas budaya pop yang melanda dunia di era globalisasi ini. Dulu, orang yang hidupnya berkecukupan merasa cukup rumahnya hanya dihiasi oleh radio. Namun, sekarang, bahkan rumah-rumah tipe 36 (baca: RSS) pun wajib memiliki televisi. Terutama di kalangan remaja (baca: generasi penerus bangsa), yang marak adalah bacaan-bacaan novel-novel ringan dan bahkan, komik. Bacaan-bacaan dengan analisis yang mendalam dan novel-novel tebal nan bermutu hanya menjadi minoritas dalam urutan prioritas mereka. Buku-buku semacam itu, umumnya, hanya tersentuh jika terpaksa, misalnya saat menjadi tugas akademis. Begitu pula dengan musik. Musik-musik klasik yang rumit masih menjadi barang yang asing. Bahkan, penghayatan musik malah jatuh dalam pragmatisme. Musik-musik Mozart yang dipercaya mengandung Mozart effect dinikmati dan dihayati bukan karena keindahannya, melainkan hanya karena ingin lebih cerdas. Bahasa Jawa juga mengalami nasib yang sama. Jarang masyarakat Jawa yang masih menguasai kromo inggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda dapat mengelak bahwa semua gejala itu adalah bentuk adaptasi demi mengikuti perkembangan zaman. Tapi, itu adalah rasionalisasi. Sebenarnya, kenyataan tendensi manusia-manusia sekarang ini bukan sekedar masalah mengikuti perkembangan zaman melainkan, ini adalah masalah gengsi dan penghayatan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti yang paling mengena, rasanya, adalah layar kaca segi empat yang telah menjadi narkoba bagi banyak manusia (baca: televisi). Ketika Anda menonton televisi Anda semakin menjadi manusia yang dangkal. Setiap hari Anda disuguhi puluhan program tayang yang berbeda, dan itu berlangsung terus-menerus setiap hari. Sebagian besar dari tayangan-tayangan itu hanyalah meninggalkan kesan-kesan dangkal yang tidak mendalam. Hanya beberapa yang mengena, selebihnya dilupakan. Tayangan mengenai bencana kekeringan, perang, kelaparan  yang sedemikian banyak membuat hati kita menjadi semakin tidak peka. Tidak ada proses batin dan intelektual lebih lanjut. Penghayatan makna-makna luhur kehidupan ter-reduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa ini masalah gengsi karena kalau tidak turut menghanyutkan diri dalam budaya pop, kaum muda merasa dirinya tidak diakui. Kalau seorang siswa SMU apalagi mahasiswa tidak memiliki handphone seakan-akan ia adalah alien. Sebuah rumah tangga harus memiliki mesin cuci, cold-case (baca: kulkas), atau minimal sebuah televisi. Anak-anak merengek-rengek minta dibelikan play station. Manusia jatuh dalam konformitas buta; sikap meniru-niru yang semata-mata karena gengsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia-manusia sekarang ini juga jatuh dalam pendangkalan makna hidup. Penghayatan akan hidup -akan makna hidup, tepatnya- menjadi dangkal. Kaum muda merasa keberadaannya tidak diakui jika tidak memiliki barang-barang duniawi semacam televisi, handphone, dsb. Dirinya hanyalah dihargai sebatas kepemilikan barang-barang itu. Tanpa memilikinya ia merasa dirinya mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pendangkalan ini terus dipelihara dan dibudidayakan, makna dan penghargaan terhadap insan manusia semakin jatuh. Hasilnya adalah tidak adanya bentuk-bentuk penghargaan terhadap manusia sebagai insan, misalnya: perang, terorisme, pemboman, pembunuhan, pemerkosaan, tawuran, dan 1001 macam lainnya. Contoh-contoh itu sudah marak dalam kehidupan manusia sekarang. Ini pun dapat menjadi indikasi kehancuran sebuah kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Keluar: Internalisasi&lt;br /&gt;Seperti yang telah diungkap secuil dalam pengantar, manusia, hakekatnya, adalah homo significans; manusia dicipta sebagai manusia pemberi makna. Kenyataan yang ada, manusia-manusia pasca-modern ini terjebak dalam pendangkalan hidup. Tendensi mereka mengarah kepada homogenitas budaya pop, bertolakbelakang 180 derajat. Maka, diperlukan usaha-usaha untuk menetralisir kecenderungan negatif ini tanpa menghilangkan unsur-unsur positif globalisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus paling ampuh dalam mengatasi gejala homogenitas budaya pop semacam itu adalah pengendapan; atau yang saya bahasakan dengan terminologi internalisasi. Mengapa internalisasi? Pasalnya, kalau homogenitas budaya pop itu mengarah pada pen-dangkal-an, solusi yang harus dilakukan adalah pen-dalam-an. Internalisasi merupakan suatu proses memaknai kembali -secara mendalam, tentunya- makna-makna hidup. Makna hidup yang tadinya dihargai secara dangkal, kali ini digali dan diselami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua metode internalisasi yang ditawarkan, yaitu: budaya refleksi dan keheningan. Keduanya saling komplementer dan tidak dapat dipisahkan jika hendak melawan arus budaya pop. Refleksi membutuhkan suasana hening. Keheningan jiwa dapat tercapai saat berefleksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologis, refleksi berasal dari verbum compositum bahasa latin                re-flectere, artinya antara lain, memutar balik, memalingkan, mengembalikan, memantulkan, dan memikirkan. Kiranya, dua arti terakhir yang cocok untuk mendefinisikan refleksi dalam kerangka permenungan ini. Refleksi adalah usaha untuk melihat kembali sesuatu secara lebih mendalam dengan menggunakan pikiran dan afeksi hingga menemukan nilai yang mulia yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bekal hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Homogenitas budaya pop di masa globalisasi menawarkan begitu banyak hal yang hanya berakhir sebagai kesan-kesan tanpa ada satupun yang dapat didalami. Dengan budaya refleksi, kesan-kesan itu dapat diendapkan. Secara satu-persatu, kejadian yang dialami selama satu hari itu dianalisis, dipertimbangkan (to consider), disimpulkan, dan akhirnya, diendapkan dalam nurani. Dalam proses berrefleksi manusia diajak untuk turut  men-follow-up sekian banyak pengalaman itu dengan proses-proses batin dan intelektual yang lebih lanjut dan mendalam. Alhasil, sejelek apapun kejadian hari itu, tetap didapatkan suatu nilai yang dapat menjadi bekal hidup selanjutnya.&lt;br /&gt;Peran refleksi dalam kerangka ini juga sebagai nabi. Secara harafiah, nabi adalah utusan Tuhan untuk memperingatkan dan membimbing umat-Nya. Refleksi yang berperan sebagai nabi ini akan menjadi fungsi kritis dalam diri kaum muda. Saat ia mengalami pendangkalan nilai-nilai hidup dalam bentuk pragmatisme, konformitas buta, dsb, refleksi berperan dalam mengolah masalah itu, menunjukkan kesalahannya, dan mengarahkan kepada yang benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, keheningan. Keheningan di zaman globalisasi juga menjadi problem tersendiri. Kecuali dalam keadaan tidak sadar (tidur, misalnya) kecenderungan manusia zaman ini, terutama kaum mudanya, tidak betah dalam suasana yang sunyi dan tenang. Minimal, harus terdapat suara, entah itu dari radio, televisi, atau teman ngobrol. Di sisi lain, lingkungan yang ada memang mengkondisikan minimnya tempat-tempat sunyi dan tenang. Keheningan sering dianggap menakutkan, menjadi phobia. &lt;br /&gt;Memang, keheningan itu berhubungan erat dengan kesendirian. Dalam bahasa latin, terjemahan untuk keheningan adalah solitudo. Akar katanya solus, yang artinya sendiri. Tapi, kesendirian bukanlah suatu yang negatif dan pantas dijadikan phobia. Kalau kesendirian itu menjadi kesepian, barulah itu dihindari. Mengapa? Walaupun antara keduanya sama-sama memiliki unsur sendiri, keheningan dan kesepian itu adalah dua hal yang bertolak belakang. Keheningan bukan hanya milik rahib-rahib pertapa. Bahkan, keheningan bisa didapatkan ditengah-tengah kesibukan dan bisingnya kota. Bahkan dalam kesemerawutan bursa effek, seorang pialang dapat mencapai keheningan. Semuanya tinggal tergantung pada masing-masing pribadi. Bagaimana ia dapat menempatkan dan menyempatkan diri untuk dapat hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya keheningan memegang peranan yang penting dalam proses internalisasi. Keheningan adalah highway (baca: jalan bebas hambatan) menuju budaya refleksi. Proses pengendapan (baca: internalisasi) membutuhkan keheningan, seperti halnya pada gelas yang berisi keruh. Untuk mendapatkan air yang jernih, perlu terlebih dahulu, partikel-partikel kotoran yang  tercampur dalam air itu mengendap. Modal dasar supaya partikel-partikel itu dapat mengendap adalah ketenangan. Biarkan gelas itu selama beberapa menit, partikel-partikel pengotor akan mengendap di bagian bawah gelas dan yang tersisa hanyalah air jernih. Bila gelas itu digoyang-goyang, tidak akan pernah didapatkan air jernih. Senada dengan itu, ditengah-tengah kekeruhan zaman globalisasi ini, perlu ada sikap hening sebagai pengantar refleksi menuju pengendapan makna-makna hidup. Bahkan, keheningan dapat membuat orang semakin efisien (hubungkan dengan analogi air keruh dalam gelas!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Homogenitas budaya pop akan menawarkan sejuta kesan-kesan yang berseliweran di sekitar kehidupan manusia modern. Bila manusia-manusia itu malah menambah diri dengan kesibukan dan kebisingan lain, yang didapatkan hanyalah kehidupan yang tidak bermakna. Dalam mengatasi homogenitas budaya pop, perlu manusia-manusia zaman globalisasi ini bersikap hening, tenang, sunyi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir sebuah Awal&lt;br /&gt;Di akhir permenungan ini, baik kalau kembali disadari bahwa manusia-manusia dunia sekarang ini telah mengarah pada pendangkalan makna-makna hidup dengan adanya homogenitas budaya pop. Dan, bila tendensi ini terus dipelihara -atau bahkan, malahan dibudidayakan-, kehidupan ini semakin tidak ada artinya. Maka, yang menjadi urgensi adalah usaha-usaha internalisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, permenungan ini hanyalah semata menjadi pemercik api. Kelak, api harus berkobar dengan sendirinya. Tanpa tindak lanjut yang jelas, permenungan ini hanyalah menjadi seonggok ide yang membusuk. Jadi, semuanya kembali pada diri masing-masing: apakah selama ini saya telah terjebak dalam arus homogenitas budaya pop. Lalu, maukah saya berbenah dan mengusahakan usaha-usaha internalisasi. Kembali pada diri sendiri itu penting karena sebuah pepatah mengatakan jangan mengubah orang lain sebelum bisa mengubah diri sendiri. Selamat berefleksi dan menciptakan hening!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mertoyudan, 30 Oktober 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188717949288660?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188717949288660/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188717949288660' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188717949288660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188717949288660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2004/07/internalisasi-vs-homogenitas-budaya.html' title='Internalisasi Vs. Homogenitas Budaya Pop'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188673961699970</id><published>2003-11-19T04:56:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T04:58:59.683-08:00</updated><title type='text'>Di Balik Mayat</title><content type='html'>Mentari masih setia hari itu. Ia datang menggantikan tugas jaga hari. Pendar tubuhnya menghangatkan jiwa, memberikan makanan kehidupan bagi yang menerimanya. Kehadirannya membawa suasana biru ceria yang menghampar luas hingga terbelah oleh seutas benang cakrawala. Dengan lugas, ia bermain-main dengan awan-awan di sekelilingnya seperti gembala bermain-main dengan domba-dombanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawahnya terhampar bongkahan raksasa pegunungan abu-abu yang kokoh curam. Ujung-ujung jarinya menjulang tinggi, hendak meraih langit. Abu-abu itu ditemani oleh warna-warna hijau segar pepohonan yang memenuhi kaki-kaki pegunungan itu. &lt;br /&gt;Di salah satu sudut alam itu, terdapat ngarai yang dalam nan terjal. Tak ada satu pun manusia yang pernah memasukinya. Bagi manusia, ngarai itu terlalu misterius; masuk ke sana pasti akan dianggap mati sebab tidak ada jalan keluar lain kecuali dinding-dinding terjal yang tegak lurus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada di sana hanyalah sepi. Setidaknya, itulah yang diketahui manusia. Tetapi, memang betul, suara yang ada hanyalah deru bisikan angin yang bermain-main di antara pepohonan dan bebatuan, atau derak ranting dan desah dedaunan yang menandai kesediaan mereka untuk turut serta dalam permainan atau paduan suara burung-burung yang menyanyikan lagu kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ada yang lebih dari itu semua. Hanya mereka yang memiliki nurani seputih salju saja yang mempu mengetahuinya. Bagi mereka yang memilikinya, mereka akan mendengar senda gurau penuh kegembiraan, cekikikan lugu, serta gelak tawa riang suara-suara sopran yang pasti akan memikat setiap perjaka di muka bumi ini. Merekalah peri-peri hutan. Mereka bermain-main seharian, menghibur pepohonan dan hewan-hewan yang sedih pilu karena kekejaman manusia, menemani Dewa Bumi yang pusing akan dominasi manusia yang semakin sombong dan munafik. Mereka juga kerap menyanyikan lagu-lagu gembira bernada harapan akan suatu kehidupan Bumi yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, semenjak pagi hari, mereka telah meramaikan alam ini. Tapi, ternyata, pagi itu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Tidak ada gelak tawa dan senda gurau yang menghibur pada pagi itu. Tidak ada paduan suara merdu. Yang jelas, bukan karena Dewa Bumi memerintahkan langit untuk berduka. Bukan pula karena dewa Bumi menggeram dan meronta marah, menggetarkan dirinya. Langit pagi ini adalah langit yang cerah, tidak mendung seperti hari-hari lalu. Namun, suara-suara sopran itu tak terdengar. &lt;br /&gt;Ternyata, pagi itu, mereka menemukan sesosok mayat manusia, manusia muda laki-laki, tepatnya. Kulitnya masih putih, serasih dengan rambutnya yang keemasan. Wajahnya melankolis sehingga semakin mendukung suasana kelam hati para peri yang mengerumuninya. Kelopak matanya tertutup, bibirnya yang merah turut mengatup, dan tubuhnya tergeletak diatas batu. Tangan kanannya mengepal, seperti menggenggam sesuatu. Dari belakang kepalanya, mengalir cairan merah tua yang sudah hampir kering. Sekumpulan peri berdiri mengerumuni mayat pemuda laki-laki itu. &lt;br /&gt;“Ini kan manusia!” Seorang peri akhirnya memecah keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Tepatnya, manusia yang mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasihan sekali dia ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia terlalu muda untuk mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, lebih-lebih, wajahnya… aku tidak tega memandang wajahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasihan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa ia bisa ada di sini, yah?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, aku tahu. Dia adalah peziarah” kata seorang peri dengan semangat, “pemuda dengan suatu harapan besar bahwa keinginannya tercapai. Maka, ia pergi ke puncak Aturis dan bernazar dengan Dewa Bumi. Hmm... kemudian, keinginannya tercapai berkat Dewa Bumi. Namun, ia tidak memenuhi nazarnya. Lalu, Dewa Bumi pun marah dan membuat rohnya menghantarkan dirinya terjun ke ngarai ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huss... jangan berpikiran seburuk itu! Dewa Bumi tidak pernah bertindak sekejam itu! Bisa-bisa kamu kena marah nanti.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi manusia ini kan telah mengingkari nazarnya. Ia memang pantas dihukum!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat, bahkan, walaupun manusia-manusia itu mengkhianatinya, Dewa Bumi selalu sabar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul juga. Lalu, siapa dong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau menurutku, dia adalah pemuda dengan semangat petualang” Seorang peri mengusulkan. “Pemuda malang yang memaksakan dirinya berpetualang ke ngarai ini. Ia hendak menginjakkan kakinya pada tanah ngarai ini yang belum pernah terjamah oleh seorang manusia pun. Namun ia belum siap... tapi ia tetap memaksakan dirinya! Sebenarnya, ia belum mampu menghadapi tebing terjal dan hawa beku ngarai Alturis ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin saja... manusia itu ‘kan sukanya memaksakan kehendaknya, apalagi, di usia muda seperti dia... di mana ambisinya masih meluap-luap”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kurasa tidak. Wajahnya terlalu melankolis. Tidak mungkin ia bersifat seperti itu. Dia bukan tipe manusia ambisius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul juga... kalau begitu, mungkin dia adalah seorang pecinta. Ia adalah seorang pemuda romantis nan sensitif. Kekasihnya direbut oleh orang lain berkat kuasa otoritas adat. Sebagai seorang pemuda biasa... ia kalah. Ia yang begitu terluka perasaannya merasa diperlakukan tidak adil... putus asa” kata peri lain mengusulkan. &lt;br /&gt;“Ya... betul, pemuda yang sensitif. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dalam belantara ngarai Alturis yang sepi... sesepi jiwanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, romantis sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangnya, tragis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, hanya gara-gara adat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, itulah manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa seperti itu memang. Tapi, menurutku, bisa jadi dia adalah pencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pencuri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, manusia itu suka menganggap dirinya Dewa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaa... menganggap dirinya Dewa Bumi, penguasa Bumi ini. Karena ia berpikir bahwa ialah yang berkuasa di atas Bumi ini, ia seenaknya, mengambil.. eh, maksudku mencuri apa saja yang ada di alam Bumi ini. Lalu, Dewa Bumi yang merasa kecurian itu menjadi marah. Jadi, setelah ia melakukan perbuatan mencurinya itu, Dewa Bumi mencelakainya hingga ia masuk dalam ngarai ini.” Peri lain mengusulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila benar, masak Dewa Bumi sekejam itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kamu ini bagaimana. Dewa Bumi mana pernah berbuat seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku jadi sangsi dengan perkataanmu itu. Apalagi melihat wajahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wajahnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, wajahnya. Lihat, wajahnya bukanlah wajah pencuri!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak? Yang benar saja? Semua manusia itu memiliki jiwa pencuri. Kita semua ‘kan tahu mengenai hal itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa peri memperhatikan dengan seksama mayat manusia itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar juga, tidak untuk yang satu ini.” Yang lain turut mengangguk. “Pencuri itu memiliki wajah yang khas. Manusia ini tidak berwajah seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti, dia bukanlah seorang pencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat. Dia termasuk segelintir manusia yang tidak berjiwa pencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, dia ini siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, aku tahu.” Seorang peri mengusulkan. “Kurasa, dia adalah pejuang... manusia yang hendak melawan tiran yang membelenggu dirinya dan bangsanya dalam suatu penderitaan yang berkepanjangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah... Tiran itu terlalu kuat. Ia memiliki banyak senjata dan prajurit. Sementara itu, ia hanya sendirian. Makanya, dengan mudah ia dapat diringkus, dilumpuhkan, dan dibunuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, Hebat yah! Sungguh berani. Aku baru tahu ada manusia yang seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang ada manusia yang berani, walaupun cuman sedikit.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kalau kejadiannya seperti yang kamu ceritakan, itu sih namanya bodoh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin ia sudah tidak tahan lagi hidup dalam belenggu penderitaan. Mana ada manusia yang setia dengan penderitaan. Ia pasti akan melawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya... mungkin baginya lebih baik mati sebagai orang bebas daripada hidup sebagai tawanan ketidakadilan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, kasihan yah, manusia itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasihan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya... kasihan. Mereka itu maunya bebas. Tapi, mereka sendiri saling menindas dan berperang. Bukankah itu sebuah ironi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah buah ambisi busuk manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, intinya, mayat ini korban kekejian manusia lain.”&lt;br /&gt;“Bisa jadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kurasa tidak. Lihatlah! Tubuhnya tidak terdapat banyak luka-luka. Hanya ada luka di kepala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul juga.. biasanya, hasil siksaan manusia itu amat mengerikan. Apalagi, kalau kurban tiran atau kurban perang. Ihh, mengerikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, ia ini siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita memeriksa kantong-kantongnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menggeledahnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Kita langsung menggeledahnya saja. Kita ‘kan tidak terikat oleh peraturan dan hukum seperti manusia. Manusia butuh peraturan karena dirinya memang sulit diatur. Beda dengan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul. Lagian, ini demi kebaikannya juga; supaya setidaknya, arwahnya dapat kembali kepada Sang Khalik tanpa prasangka buruk dari kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peri-peri lainnya mengangguk tanda setuju. Salah satu dari mereka merogoh kantung di bajunya. Ia menemukan secarik surat yang sudah agak kusam. “Ah, lihatlah! Sebuah surat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bacakan! Bacakan!” Peri-peri lain memintanya dengan bersemangat. “Ya, bacakanlah!”&lt;br /&gt;“Baiklah, aku akan membacakannya.” Kemudian, peri itu membacakan surat itu. Peri-peri lain mengambil posisi santainya masing-masing, persis seperti anak kecil hendak dibacakan cerita dongeng.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakanda yang terkasih, cinta sejatiku, aku begitu merindukanmu. Jiwaku terasa kering, terbakar oleh kesepian, tercambuk oleh kerinduan. Hidupku terasa sepi. Tatkala aku pergi melewati Taman Kala, aku selalu terisak karena ingatanku menyubuhi aku kenangan-kenangan indah bersamamu semenjak kita kecil dahulu. Aku begitu merindukan mengalami lagi masa-masa indah bersamamu. Kau yang kini tidak ada lagi di sisiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat benar kata demi kata yang kau katakan padaku di saat kau akan pergi, sebagaimana aku memimpikannya setiap malam, sebagai suatu mimpi yang pilu. ’Aku mencintaimu, Adinda. Tapi aku harus memenuhi panggilan hidupku. Aku takkan meninggalkanmu. Jiwaku akan selalu besertamu dan jiwaku akan selalu bersertamu. Aku hanya akan pergi sebentar karena hidup ini memang terlalu singkat. Percayalah kelak, kita akan bertemu lagi dalam kehidupan yang abadi, bukan kehidupan yang dipenuhi kemunafikan dan kesombongan ini. Relakanlah aku pergi, menyelami kemurnian Sang Khalik di dalam jiwa-jiwa yang miskin dan lemah, di antara keluguan alam.’ Kata-katamu itu sungguh manis tapi juga pahit. Pahit karena semenjak itulah kita terpisah oleh jarak ribuan mil. Manis karena walaupun terpisah, kau menyatakan cinta kita tetap abadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, Belahan Jiwaku, walaupun dirundung oleh kerinduan dan kesepian, aku bangga padamu. Aku bangga pada keputusanmu. Kau memang pantas bagiNya. Karenanya, Kakanda, berjuanglah terus. Temukan dan raih tujuan hidupmu. Jangan sekali-kali kau menengok ke belakang. Jangan kau sekali-kali mendengarkan pilu cengeng gadis bodoh ini. Teruskan usaha muliamu ini! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakanda tercinta, ada satu hal yang perlu Dinda utarakan. Kerinduan mendalam dalam jiwaku ini akan kehadiranmu semakin disesakkan oleh kekhawatiran akan keselamatan jiwamu. Aku telah mendapat kabar dari Odin, saudagar kaya yang kau temui di Nexus bahwasanya kau hendak mencari tanaman obat demi melawan wabah penyakit disana yaitu, bunga Amor yang hanya ada di sekitar ngarai di pegunungan Alturis. Cinta suciku, aku tidak akan menghalang-halangi usaha luhurmu itu. Hanya saja, sebagai gadis yang hatinya telah tertambat dalam hatimu, aku mengingatkanmu supaya kau berhati-hati oleh terjalnya tebing-tebing Alturis dan awan-awan kelam yang mencurahkan hujan sehingga membasahinya dan membuat jadi licin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakanda yang amat kucinta, demi keberhasilanmu, aku berdoa senantiasa kepada Sang Khalik. Di sela-sela kerinduan dan kekhawatiran ini, aku percaya bahwa kau akan berhasil karena Sang Khalik yang Maha-ilahi besertamu. &lt;br /&gt;Cinta abadimu, Auriel.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika, keheningan merebak di antara mereka. Para peri memandang mayat manusia laki-laki itu. Kini, wajahnya menunjukkan kedamaian yang memancarkan belaian lembut, menjamah hati mereka. Surat itu ditempatkan kembali di kantong mayat laki-laki itu. Lalu, peri-peri itu berdiri dan bergandengan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta manusia...” kata salah satu dari mereka seraya meneteskan air keharuan. &lt;br /&gt;Tangan kanan mayat laki-laki yang tadinya mengepal itu, lalu, merekah, membiarkan bunga-bunga Amor diterbangkan oleh sang angin. Lepas dari kehangatan telapak tangannya, menyatu kembali dengan keteduhan alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertoyudan, 29 Oktober 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188673961699970?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188673961699970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188673961699970' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188673961699970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188673961699970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2003/11/di-balik-mayat.html' title='Di Balik Mayat'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188636649202262</id><published>2003-11-13T04:50:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T04:52:46.570-08:00</updated><title type='text'>Biarkan Aku Bebas</title><content type='html'>Sebuah Volvo melintas pasti, menampilkan keangkuhan dihadapan orang-orang malang yang berdesak-desakan dalam kesumpekan bus umum. Di dalamnya, seorang anak kecil menatap keluar dengan mata penuh harap. Dari balik jendela, ia menatap sekelompok anak seusianya bermain bola. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil mewah itu memang telah menyekat segala suara dari luar. Namun, tidak ada yang dapat menyekat imajinasinya. Dengan jelas ia dapat mengilustrasikan suasana ramai di lapangan sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gooool....” Doni berlari dan berjingkrak-jingkrak bak Ronaldo yang berhasil menjebol pertahanan Oliver Khan. &lt;br /&gt;Riuh anak-anak lain menyambutnya. Lalu, anak-anak lain menggotongnya sebagaimana seorang pahlawan yang pulang perang dengan membawa kemenangan&lt;br /&gt;“Don..”&lt;br /&gt;“Doni Setyawan” &lt;br /&gt;“Hah?” Lamunannya terputus begitu nama lengkapnya disebut. Mama selalu menyebut nama lengkapnya saat ia serius. &lt;br /&gt;“Doni, kamu kok ngelamun terus sih?” Mama menegurnya. Tapi, Doni diam saja. Ia ingin mengungkapkan perasaannya tapi pengalaman kemarahan mama sudah keburu menguburkan niatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sakit? Kalau kamu merasa nggak enak badan, nanti pulang sekolah, sebelum privat, kita pergi ke tempatnya dokter Erwin.” Mamanya berusaha menjamah kening anak semata wayangnya tanpa kehilangan kontrol Volvo yang harganya selangit itu. “Ini hari Senin lho, kamu punya waktu berharga selama enam hari ke depan untuk menimba ilmu. Kalo sakit, bisa rugi! Nanti Mama belikan multivitamin untuk menambah staminamu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doni Setyawan! Jawab Mama dong, kok kamu begitu sih!” Nada suara Mama mulai meninggi. &lt;br /&gt;“Ah Mama, Doni nggak ‘pa-apa kok!”&lt;br /&gt;“Bener?”&lt;br /&gt;“Swear !” Kata Doni seraya memasukkan suasana hening di antara mereka berdua. &lt;br /&gt;Doni menatap keluar, gejolak jiwa mudanya mengombang-ambingkan dirinya hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada mamanya. &lt;br /&gt;“Mama.”&lt;br /&gt;“Apa sayang?”&lt;br /&gt;“Doni mau omong, tapi mama jangan marah yah!”&lt;br /&gt;“Ya, pasti nggak dong, sayang. Kenapa sih?” &lt;br /&gt;“Ee.. Doni males privat, Ma!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun, Doni, dulu mama kan pernah omong sama Doni. Kok, masalah ini diungkit-ungkit lagi sih? Kalo itu sih nggak boleh! Mama-Papa udah kerja keras, banting tulang, supaya kamu bisa sekolah dan lebih lagi, bisa privat ini-itu.”&lt;br /&gt;“Tapi, ma...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti dulu, mama belum selesai. Kamu harus ikut privat supaya kamu nanti bisa jadi anak yang cerdas. Kamu nggak tau, dulu mama sekolah aja harus nyambi kerja. Papa juga. Sekarang kamu tinggal konsentrasi belajar aja, masak nggak bisa mengerti. Mama-papa mengikutkan kamu privat ini-itu kan supaya kamu bisa jadi anak yang cerdas, hebat; supaya kamu nanti bisa jadi arsitek. Katanya kamu mau jadi arsitek. Ya, kan?”&lt;br /&gt;“Iya sih...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, arsitek itu harus pinter matematika dan IPA. Selain itu juga harus bisa bahasa Inggris dan bahasa Perancis, jadi nanti kamu bisa nerusin ke Havard atau ke University of Paris. Mana ada arsitek yang goblok. Makanya, mama sudah susah-susah nyariin guru privat yang jago. Tuh, buktinya, kamu selalu ranking satu di kelas kan? Mama nggak mau nanti kamu jadi gelandangan. Tiap hari kerjanya cuman korek-korek di tempat sampah. Lusuh, bau, dan jorok. Iiih..., Mama sih nggak mau anak mama jadi seperti itu. Doni ngerti kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doni hanya mengangguk sepi. Ia tahu benar bahwa mamanya sulit untuk dibantah lagi. Dari pada mendengarkan amarah mamanya, ia memilih hening hingga Volvo itu mencapai sekolahnya, sekolah bergengsi yang membuat orang-orang pun merinding mendengar nama sekolah itu disebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Don, kamu mau ikutan drama buat HUT sekolah?” Seorang gadis sebayanya menegurnya.&lt;br /&gt;“Hah? Eh.. Santi, apa katamu?”&lt;br /&gt;“Aduh, kamu ini, pagi-pagi udah bengong. Bahaya tahu!”&lt;br /&gt;“Sorry, aku lagi nggak feeling well nih”&lt;br /&gt;“How come?” Di sekolahnya, lingua franca  yang digunakan memang bahasa Inggris. &lt;br /&gt;“Masalahnya ribet  deh! You pasti BT ! Tadi kamu tanya apa?”&lt;br /&gt;“Bulan depan kan ada HUT sekolah. Trus, mau diadakan drama... Nah, kamu mau ikut nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, mau dong” Untuk pertama kalinya Doni menampakkan wajah ceria di hari ini. &lt;br /&gt;“Kalau gitu, nanti siang, pulang sekolah, latihan yah!”&lt;br /&gt;“Nanti siang?”&lt;br /&gt;“Iya, jam dua”&lt;br /&gt;“Duh, San, kamu kan tau, tiap siang aku ada privat. Jadi aku nggak bisa dateng dong. Hmm.. misalnya latihannya diganti malem, bisa nggak?”&lt;br /&gt;“Malem? Mana bisa, rumah kita kan berjauhan; paling pas itu siang, pulang sekolah.”&lt;br /&gt;“Ya, udah deh, aku nggak jadi ikut.”&lt;br /&gt;“Don, kamu itu kebanyakan privat sih!” Santi mengakhiri pembicaraan dengan kalimat yang sebenarnya selaras dengan perasaan Doni. Tapi, ia tidak tahu bagaimana cara meyakinkan mamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sepulang sekolah, seperti biasanya, mamanya menjemputnya. &lt;br /&gt;“Hallo, anakku sayang! Gimana sekolahnya”&lt;br /&gt;Doni hanya diam. Ia sudah keburu malas berbicara dengan mamanya. &lt;br /&gt;“Kok kamu masih diam saja sih!”&lt;br /&gt;“Ma, Doni itu...”&lt;br /&gt;“Aha... mama tahu. Pasti Doni males ikut privat. Ya, kan?”&lt;br /&gt;Doni cemberut dan menyilangkan tangannya di dadanya, begitu mamanya berkata seperti itu. Tebakan mamanya memang benar sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doni sayang, seharusnya kamu merasa beruntung.” Mama berkata dengan lembut. “Bayangkan, kamu disekolahkan di sekolah yang baik. Segala kebutuhanmu dipenuhi. Kemana-mana dianterin. Kamu diberi guru privat yang bermutu. Jarang ada anak yang seberuntung kamu, bisa mendapat banyak sekali ilmu. Lalu kurang apa lagi?” &lt;br /&gt;“Doni, mau main bareng teman-teman! Doni nggak pernah bisa main bareng teman-teman. Doni nggak mau main di dalam rumah terus. Doni ingin main bola bareng tetangga Doni. Doni ingin main layangan di lapangan. Doni ingin bebas bermain.”&lt;br /&gt;“Doni! Kamu nggak tahu, semua itu bahaya. Bisa-bisa kamu terluka. Doni masih kecil, belum tahu apa-apa. Mama-papa sayang sama Doni, jadi mama memutuskan seperti itu. Semuanya demi kebaikan Doni.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Doni memilih mendapatkan keheningan interior Volvo itu ketimbang mendengarkan omelan mamanya. &lt;br /&gt;Volvo itu berhenti di depan sebuah rumah -atau mungkin tepat disebut istana- lalu, meneriakkan klakson. Seorang tua tergopoh-gopoh mendorong gerbang besi yang tingginya dua kali lipat dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ma, Doni ingin bebas main di luar!” &lt;br /&gt;“Eh, kamu ini nakal banget sih! Mama nggak mau tahu lagi, pokoknya Doni harus privat!”&lt;br /&gt;Doni langsung menghambur keluar dari mobil, menuju kamarnya. &lt;br /&gt;“Doni... itu, ibu Chaterine sudah datang!” Yang terdengar hanyalah suara bantingan pintu kamar Doni. &lt;br /&gt;“Doni... Doni...” Berkali-kali Mama memanggil Doni, tapi Doni tidak menjawab. &lt;br /&gt;Mama memutuskan membiarkan Doni mengurung dirinya di dalam kamar. Ia merasa bahwa anaknya itu butuh ketenangan beberapa saat. Dengan terpaksa, ia membatalkan privat siang itu. &lt;br /&gt;Hingga malam, tak ada tanda-tanda apapun tentang Doni dari dalam kamarnya. Berkali-kali mama mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada jawaban. Akhirnya, saat papa pulang, mereka memutuskan untuk mendobrak pintu kamarnya. Mereka khawatir ada apa-apa dengan anak mereka. Namun, setelah pintu didobrak, di dalam, tidak ada siapapun. Yang ada hanyalah kamar kosong. Pintu menuju balkon belakang rumah terbuka, angin malam itu melambai-lambaikan tirai yang seharusnya menutupinya. Tampaknya dari balkon Doni memanjat pohon dan keluar melalui pintu belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui bahwa putra semata wayang mereka kabur dari rumah, kedua pasangan muda itu panik. Merekapun segera memanggil Polisi. Polisi pun panik. Pasalnya, klien mereka kali ini adalah orang yang punya nama dan berduit. Hingga tiga hari selanjutnya, tidak ada kabar sedikit pun tentang Doni. Mama tidak henti-hentinya menangis dari hari ke hari. Papa rela cuti selama beberapa hari dan menemani Polisi mencari anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari keempat, seorang tua yang lusuh datang dan meminta bertemu dengan orang tua Doni. &lt;br /&gt;“Nyonya, ada tamu.” Mbok Iyah memberitahu majikannya. &lt;br /&gt;“Siapa?” Mama Doni menjawab dengan ketus. Emosinya belum mereda karena kehilangan putranya. &lt;br /&gt;“Ndak tahu, Nyonya. Tapi, katanya ia tahu di mana Doni.”&lt;br /&gt;Mendengar itu, dengan penuh antusiasme, kedua pasangan yang sudah merindukan anak semata wayangnya itu menemui orang tua lusuh itu. &lt;br /&gt;“Doni ada di rumah saya.” Kata orang tua itu singkat.&lt;br /&gt;“Apa, kamu menculik anak saya?” Mama Doni sudah berang. &lt;br /&gt;“Bukan, Bu. Anak Anda sendiri yang datang ke rumah saya!”&lt;br /&gt;“Kembalikan anakku! Kalau tidak, aku akan panggil Polisi!”&lt;br /&gt;“Ma, sabar dong!” Papa Doni menenangkan istrinya. “Pak tua, tolong, antarkan kami kepada anak kami. Kami sudah rindu kepadanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Volvo, ketiganya segera pergi menuju tempat yang ditunjukkan bapak tua itu. Mereka berhenti di pinggir jalan yang berdekatan dengan sebuah lapangan bola. Dari kejauhan mereka dapat melihat segerombolan anak bermain sepak bola. &lt;br /&gt;“Goool.....” seorang anak, yang tidak lain adalah Doni, berlari-lari kegirangan di tengah lapangan itu karena baru saja mencetak gol. Anak-anak lain mengerumuninya dan membopongnya  bak seorang pahlawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Doni langsung tergerak untuk mendapatkan anaknya, tapi bapak tua itu menghalanginya. &lt;br /&gt;“Eh, apa-apaan sih, kamu itu nggak punya hak menghalangi saya!”&lt;br /&gt;“Nyonya, lihatlah anak Anda. Ia bergembira!”&lt;br /&gt;“Saya tahu!”&lt;br /&gt;“Justru itulah!”&lt;br /&gt;“Apa maksud bapak?” Papa Doni bertanya.&lt;br /&gt;“Selama ini, Doni merasa terkekang. Anda terlalu banyak memberikannya beban.”&lt;br /&gt;“Bapak nggak usah turut campur urusan pendidikan anak kami!” Mama membentak.&lt;br /&gt;“Mama, dengarkan dulu dong!” Papa membela bapak tua itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak itu, sepertinya, tidak terpengaruh. “Tiga hari lalu, ia datang ke lapangan ini dan langsung ikutan bermain bola. Ketika hari sudah magrib dan anak-anak lainnya pulang, ia hanya celingak-celinguk  di sana. Saya menghampirinya dan menawarinya tempat tinggal. Ia menceritakan banyak tentang keinginannya untuk bebas bermain bola di situ, tentang keinginannya bermain layang-layang, tentang keinginannya ikut drama sekolah. Matanya begitu berbinar-binar, memperlihatkan semangat mudanya yang begitu berapi-api. Tapi, wajah ceria itu seketika lenyap ketika ia menceritakan bahwa semuanya itu tidak pernah ia dapatkan, diganti oleh tangisan yang membuat hati tuaku ini terenyuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar semuanya itu, kedua pasangan muda itu hanya bisa diam. Kemudian, mereka itu menatap ke arah lapangan, ke arah anak semata wayang mereka yang sedang dibopong oleh teman-teman barunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menatap semuanya itu dari kejauhan dengan tatapan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan karena melihat anaknya begitu gembira. Belum pernah mereka melihat Doni segembira itu. Bahkan lebih gembira daripada saat mereka membelikannya sepeda baru. Wajah kegembiraan Doni kali ini adalah wajah kegembiraan sejati, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Doni meneteskan air matanya. Kali ini adalah air mata kebahagiaan. Dalam hatinya ia berjanji, tidak akan mengekang Doni lagi dengan berbagai beban akademis dan akan memberikan kesempatan bagi Doni untuk bisa mewujudkan keinginan-keinginannya itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertoyudan, 23 Oktober 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188636649202262?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188636649202262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188636649202262' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188636649202262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188636649202262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2003/11/biarkan-aku-bebas.html' title='Biarkan Aku Bebas'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188943407179484</id><published>2003-10-23T05:42:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:43:54.153-08:00</updated><title type='text'>Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Menunjang Peningkatan Kualitas Lingkungan dalam Menghadapi AFTA 2003</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Latar belakang&lt;br /&gt;Dalam waktu yang singkat, Indonesia dan negara-negara ASEAN akan turut mengikuti apa yang telah dibentuk beberapa region dengan Free Trade Agreement (FTA)-nya masing-masing, misalnya: North America Free Trade Agreement (NAFTA); European Free Trade Association (EFTA); Free Trade Agreements of the Americas (FTAA) . Bentuk FTA adalah salah satu manifestasi pasar bebas dan ekonomi liberal yang menjadi unsur globalisasi dunia -di samping perwujudan HAM . &lt;br /&gt;Dalam era globalisasi ini, negara-negara dunia dituntut untuk mengikuti proses global. Mereka yang tidak mengikuti arus yang menggiurkan ini akan tenggelam dalam keterpurukan ekonomi. Dengan diberlakukannya AFTA (ASEAN Free Trade Agreement) di Indonesia dan di negara-negara ASEAN, artinya ASEAN telah memenuhi tuntutan untuk mengikuti arus globalisasi .  &lt;br /&gt;AFTA mulai dibicarakan oleh para petinggi ASEAN pada tahun 1992 dan direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2008. Kenyataannya, pelaksanaannya dimajukan hingga tahun 2003. Salah satu wujud yang sudah terasa pemotongan beban pajak produk-produk yang diperjualbelikan oleh enam negara ASEAN inti, yaitu: Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darrusallam. Sementara itu, empat negara sisanya -yang hanya berperan empat persen dalam perdagangan di ASEAN- akan melakukan hal yang sama pada tahun 2006-2010. Pemotongan beban pajak besarnya nol hingga lima persen. Rata-rata beban pajak enam negara inti ASEAN masih berkisar 2,9 persen. Namun, kelak, memasuki tahun 2010, diperkirakan besarnya beban pajak adalah nol persen (tidak ada pajak yang diberlakukan) . Kemudian, empat negara ASEAN sisanya akan menyusul pada jangka tahun yang sesuai. &lt;br /&gt;Motivasi diberlakukannya AFTA sebenarnya adalah demi menyaingi RRC. Dengan populasinya yang sedemikian besar ditambah reformasi besar-besaran di sana-sini, RRC menyedot banyak dana investor-investor asing. Dulu, pada kurun waktu sebelum 1997-1998, ASEAN memiliki 30 persen FDI (Foreign Direct Investment) dalam regio Asia. Kini (2002), FDI ASEAN hanyalah sebesar 10 persen. Sementara itu, RRC memiliki FDI 70 persen. Selain motivasi itu, AFTA juga diadakan dengan tujuan membentuk pasar internal yang lebih kuat. Kalau pasar ini terbentuk, AFTA akan memiliki sekitar 400 juta konsumen . &lt;br /&gt;AFTA akan menjadi Free Trade Agreement (FTA) yang potensial. Bahkan RRC sudah mulai memperhitungkannya dengan membangun FTA bersama RRC-AFTA . Jepang juga melihat hal yang sama dan kini dalam proses untuk membentuk FTA yang serupa dengan RRC-AFTA. Sementara itu, Kanada sudah mengadakan perjanjian FTA dengan Singapura semenjak 2001 dan kini sedang dalam proses pula untuk membentuk FTA dengan ASEAN secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Jika ada ada gaya aksi pasti ada reaksi, itulah hukum Newton yang ke III. Dan, nampaknya, ini berlaku untuk masalah AFTA. Pencetusan wilayah-wilayah negara-negara anggota ASEAN ke dalam suatu Free Trade Agreement, mau tidak mau, pasti akan membawa reaksi lebih lanjut, baik itu positif maupun negatif. Dan dampak ini tidak hanya berimbas dalam aspek kehidupan ekonomi, namun juga dalam aspek hidup lainnya. Namun, yang menjadi fokus utama karya tulis ini adalah aspek lingkungan hidup. Masalahnya, keberadaan AFTA bisa menjadi ancaman bagi lingkungan hidup alami. Kualitas lingkungan hidup dapat menurun dengan adanya AFTA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Tema dan Pembatasan Masalah&lt;br /&gt;Tema utama karya tulis ini adalah AFTA dan Kelangsungan Pembangunan Berwawasan Lingkungan di Indonesia. Selanjutnya, tema ini difokuskan dalam sub-tema Perkembangan dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Menunjang Pembangunan Kualitas Lingkungan. Melihat itu, karya tulis ini awalnya, akan menimbang dan memperhitungkan masalah-masalah lingkungan hidup yang muncul sebagai imbas diberlakukannya AFTA di Indonesia. Selanjutnya, sebagai solusi, karya tulis ini akan menawarkan sekian banyak bentuk perkembangan dan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas lingkungan Indonesia yang mulai menurun kualitasnya berkat keberadaan AFTA di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Metode Penulisan dan Sumber Data &lt;br /&gt;Karya tulis ini utamanya menggunakan metode studi kepustakaan. Penulis telah mempelajari sekian banyak referensi tertulis yang termuat dalam buku-buku, koran-koran, majalah-majalah, dan beberapa jurnal lingkungan hidup. Selain itu, penulis juga mendapatkan data dari Internet. Selanjutnya, Penulis akan melakukan analisa, kompilasi dan cross-check atas sekian banyak data-data yang ada demi menyusun ide-ide penulis dalam karya tulis ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. Sistematika Penulisan&lt;br /&gt;Karya tulis ini akan dibagi menjadi empat bagian besar. Bagian pertama adalah Bab I, Pendahuluan. Pada bab ini, akan dijelaskan mengenai latar belakang diadakannya AFTA serta beberapa hal yang berhubungan langsung dengan karya tulis ini, yaitu: tema dan pembatasan masalah, metode penulisan dan sumber data, serta sistematika penulisan. Selanjutnya, adalah Bab II: Pembahasan. Pada bab ini, latar belakang tentang AFTA yang telah diberikan pada Bab I itu akan dilanjutkan dengan analisis mengenai dampak diberlakukannya AFTA di Indonesia bagi kualitas lingkungan hidup Indonesia. Kemudian bab II ini akan disusul oleh Bab III: Solusi dan Saran Kesimpulan. Pada bab ini, Penulis akan mengungkapkan solusi yang harus dilakukan demi meningkatkan kualitas lingkungan hidup Indonesia yang menurun berkat diadakannya AFTA. Terakhir, akan diberikan tinjauan pustaka demi menegaskan data-data dan perjalanan ide karya tulis ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bab II&lt;br /&gt;AFTA: Ancaman Bagi Kualitas Lingkungan Hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan singkat itu menjadi dasar dalam pembahasan bab ini. Benarkah AFTA itu mengancam lingkungan hidup. Atau, justru AFTA itu dapat menjadi modal dalam meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Demi menjawab pertanyaan ini, akan ditelaah apa saja yang akan ditimbulkan oleh keberadaan AFTA di Indonesia. Bagaimana sisi-sisi positif dan negatif yang terkandung dalam AFTA menyusupi aspek-aspek kehidupan Indonesia dan mempengaruhinya.&lt;br /&gt;Pada dasarnya, keberadaan FTA itu baik bagi negara-negara Dunia Ketiga demi mengikuti arus globalisasi dan meningkatkan kualitas hidupnya. Namun, menghadapi AFTA negara-negara harus siap. Bila tidak, yang didapat bukanlah dampak-dampak positif yang membangun negara itu, melainkan dampak-dampak negatif yang semakin memperparah negara itu.&lt;br /&gt;Berikut ini akan diberikan analisis prediktif mengenai imbas diberlakukannya AFTA bagi Indonesia. Analisis ini selain didasarkan pada prediksi berdasarkan teori-teori, juga akan didasarkan pada pengalaman negara-negara lain (atau region lain) dalam menghadapi gelombang globalisasi. Analisis ini akan merefleksikan pengalaman-pengalaman negara-negara dalam mengarungi arus globalisasi dan secara khusus, FTA (Free Trade Agreement) di region lain di muka bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Obsesi Membangun yang Meluap-luap&lt;br /&gt;Dalam menanggapi AFTA munculah obsesi untuk membangun. Dan sering kali obsesi ini begitu besarnya hingga melupakan (baca: mengubur dalam-dalam) aspek-aspek lingkungan hidup. Masalahnya, dalam hal ini, Indonesia belum siap. Alhasil, kualitas lingkungan hidup Indonesia akan menurun. &lt;br /&gt;Dengan keberadaan AFTA, industri-industri akan bermunculan; termasuk milik MNC. Salah satu contoh muktahir adalah investasi Honda (Perusahaan Otomotif terbesar kedua di Jepang) di Indonesia. Honda Motor Co. Ltd. telah menanamkan dana investasi awal sebesar US$ 64 juta untuk mendirikan sebuah industri komponen di Cikampek, Indonesia . Dan ini menjadi satu-satunya basis industri di Asia di luar Jepang. &lt;br /&gt;Industri-industri lokal pun akan bermunculan. Keberadaan mereka, mau tidak mau, akan berimbas pada lingkungan hidup di sekitarnya. Sebuah contoh kasus yang juga marak adalah masalah konservasi kawasan karst di Kebumen, Jawa Barat. Kasus ini menjadi amat alot gara-gara hendak dibangun Pabrik Semen Gombong . Menurut ahli gua RKT Ko, pembangunan pabrik itu akan merusak hidrologi (sistem tata air) kawasan Kebumen, dan juga akan mengganggu habitat burung walet.&lt;br /&gt;Pasar yang semakin bersatu akan menuntut suplay produk yang makin meningkat. Industri-industri ekstratif yang mendominasi Indonesia akan terdorong untuk semakin mengeksploitasi Sumber Daya Alam (SDA). Pemikiran-pemikiran mengenai pelestarian lingkungan akan tergeser dan bahkan, dilupakan. Sektor usaha ekstratif adalah contoh yang baik untuk membuktikan keegoisan manusia ini. Para pelaku pertambangan mulai bertingkah seiring dengan tuntutan pasar yang semakin tinggi terhadap produk-produknya. Di sisi lain, hampir setiap pertambangan berada pada wilayah ekosistem hutan. Banyak yang mulai mendesak adanya amandemen UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, agar mengubah status kawasan hutan lindung menjadi wilayah penambangan. Ada sekitar 11,4 juta hektar kawasan lindung dan konservasi yang terancam. Luas kawasan itu terdiri dari 8,68 juta hektar hutan lindung dan 2,8 juta hektar kawasan konservasi yang tersebar pada 85 kabupaten di seluruh Indonesia. Liciknya lagi, mereka menyodorkan pilihan yang dikotomis kepada pemerintah antara mempertahankan status kawasan hutan lindung atau investor akan kabur. Pemerintah berada pada posisi yang lemah, apalagi, industri ekstratif adalah andalan utama untuk mendatangkan investasi demi perbaikan ekonomi negara. &lt;br /&gt;Beberapa kawasan hutan lindung/konsevasi yang sudah pada titik kritis: hutan lindung Pulau Gag-Papua yang sudah resmi menjadi lokasi proyek PT Gag Nickel/BHP, Tahura Poboya-Paneki oleh PT Citra Palu Mineral/Rio Tinto, Palu (Sulteng) dan Taman Nasional Meru Betiri di Jember Jawa Timur oleh PT Jember Metal, Banyuwangi Mineral dan PT Hakman. Belum lagi ancaman terhadap kawasan konservasi lainnya yang hampir semuanya dijarah oleh perusahaan tambang, seperti; Taman Nasional Lore LIndu-Sulawesi Tengah oleh PT Mandar Uli Minerals/Rio Tinto, Taman Nasional Kerinci Sebelat oleh PT Barisan Tropikal Mining dan Sari Agrindo Andalas; Kawasan Hutan Lindung Cagar Alam Aketajawe dan Lalobata, Maluku Tengah oleh Weda Bay Minerals; Hutan Lindung Meratus - Kalimantan Selatan oleh PT Pelsart Resources NL dan Placer Dome; Taman Nasional Wanggameti oleh PT BHP; Cagar Alam Nantu oleh PT Gorontalo Minerals; dan Taman Wisata Pulau Buhubulu, oleh PT Antam Tbk .&lt;br /&gt;Sektor pariwisata juga akan semakin menggiurkan apalagi, di Indonesia dengan keindahan alamnya yang masih banyak yang belum terjamah. Di Jakarta terdapat proyek pantai Kapuk Indah. Proyek itu akan melibas 1.154,9 hektar tanah rawa-rawa dan hutan bakau yang sebenarnya menjadi tempat parkir bagi 16 juta meter kubik air di musim hujan. Developer PT Mandara Permai menyulap kawasan reservoir air ini menjadi kawasan perumahan, tempat rekreasi, dan lapangan golf yang luasnya mencapai 831,63 hektar . Keberadaan AFTA akan semakin menambah marak kasus-kasus mengerikan semacam ini.&lt;br /&gt;Di satu sisi, AFTA akan menggelitik kota-kota di Indonesia menjadi global cities. Namun, di sisi lain, kota-kota di Indonesia itu juga akan berevolusi -bahkan berrevolusi- menjadi kota-kota yang tidak ramah lingkungan. Kawasan Ancol yang dulu dipenuhi oleh hutan bakau dan menjadi tempat penampungan air hujan sebelum masuk ke laut, semenjak 1970 telah disulap menjadi pelabuhan dan surga sintetis bagi anak-anak. Daerah Jabotabek sebenernya memiliki 176 situ  sebagai reservoir air . Tapi kini, berkat obsesi membangun, hanya tinggal 20 yang masih utuh . Selanjutnya, bencana alam seperti banjir pun datang. Jalur hijau di kawasan Slipi, Jakarta Barat, sekarang disulap menjadi Mall Taman Anggrek. Kemudian, kawasan hijau di sekitar Senayan, kini juga telah dikonversi menjadi Plaza Senayan. Kecenderungan kota-kota di Indonesia, mereka akan mengutamakan para pengendara kendaraan pribadi. Kelak pada masa AFTA keadaan ini dapat bertambah parah. Sektor angkutan massal, kendaraan non bermotor, dan pejalan kaki dinomorduakan. Alhasil, kota-kota akan dipenuhi oleh polusi dari kendaraan bermotor; sumpek dan panas. &lt;br /&gt;Dorongan untuk membangun juga seringkali tidak disertai oleh pertimbangan planologis yang baik. Sehingga banyak kota-kota tidak menunjang efisiensi. Data statistik di Indonesia (BPS,1997) mengungkapkan bahwa hanya 33 juta KK (Kepala Keluarga) yang bertempat tinggal kurang dari 4 km dari pasar/toko; sementara itu, hanya 11 juta KK yang bertempat tinggal kurang dari 4 km dari tempat rekreasi; hanya 44 juta KK tinggal kurang dari 4 km dari SD; sementara itu, dari SMP dan SMA, berturut-turut hanya 37 juta KK dan 27 juta KK . Kota-kota di Indonesia akan menjadi dingin (terhadap lingkungan alami -pen.). Keberadaan AFTA akan semakin memperparah in-efisiensi kota-kota ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Dorongan Negatif Demi Efektivitas dan Efisiensi &lt;br /&gt;Selain itu, AFTA akan juga menuntut efisiensi dan efektifitas yang tinggi. Ini memang baik bila usaha untuk mencapai keduanya halal. Masalahnya, kecenderungan yang ada,  efisiensi dan efektifitas sering dicapai dengan mengorbankan lingkungan hidup sekitarnya. Misalnya, demi menurunkan biaya operasional, limbah buangan tidak dioleh terlebih dahulu dan asal dibuang. Contoh lain yang lebih nyata adalah yang terjadi di Solo. Terdapat sekian banyak industri yang nakal setelah disurvei oleh Kantor Lingkungan Hidup. Industri-industri itu mengajukan izin pengeboran air tanah guna keperluan industri, namun ternyata banyak yang tidak sesuai kenyataan dan merusak lingkungan . Padahal, cekungan Air Bawah Tanah (ABT) itu harus dirawat dengan baik. Solo misalnya, yang secara geografis lebih rendah dibanding daerah lain. Jika pemanfaatan ABT tidak ramah lingkungan demi efisiensi dan efektivitas, akan berakibat fatal bagi daerah lain yang secara geografis lebih tinggi letaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3. Ekploitasi SDA dan SDM oleh Negara-Negara Maju&lt;br /&gt;Selain obsesi membangun, ada satu hal lagi yang juga banyak terwujud dalam FTA dan kelak pun dalam AFTA, hal ini akan muncul. Banyak negara-negara maju dengan MNC (Multi National Corporation)-nya yang mementingkan diri sendiri. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa banyak negara-negara maju, terutama yang tergabung dalam G-8 (dulu masih G-7, kini ditambah Rusia, menjadi G-8), cenderung memanfaatkan (baca: mengeksploitasi) negara-negara dunia ketiga. Bahkan institusi seperti Bank Dunia pun terlibat di dalamnya.  &lt;br /&gt;Contoh yang paling tepat adalah Orissa, India .  Orissa adalah negara bagian India yang pertama yang memprivatisasi sektor listriknya -tentunya dengan nasehat Bank Dunia dan G-8. Hasilnya, subsidi dicabut. Harga listrik naik lima kali lipat, padahal yang punya akses listrik pun hanya 20 persenya. Selain itu, lebih ngerinya lagi adalah dampak pada sektor lingkungan dan sosial-kemasyarakatan. Karena privatisasi, penambangan batu bara meluas (andalan pembangkit listrik adalah PLTU).  Banyak yang diusir dari tanah kelahirannya dan ganti rugi tanahnya tidak seimbang. Sungai-sungai makin kotor sehingga sektor perikanan darat hancur. Selain itu, sektor agraris juga hancur  karena lahannya dilahap pertambangan dan adanya residu racun hasil tambang. Penyakit paru-paru, kulit, serta penyakit-penyakit kronis, seperti kanker dan bronkitis bermunculan. Ironisnya, laporan yang sampai ke Bank Dunia hanya berisi daftar kesuksesan proyek privatisasi Orissa. Imbas di bidang lain yang mengerikan ditutupi. AFTA pun dapat menjadi ladang potensial untuk dieksploitasi oleh negara-negara maju itu. &lt;br /&gt;Pada masa AFTA, akan ada semakin banyak konsensus-konsensus internasional yang di muka tampak manis, namun sebenarnya menjadi kedok ekspoitasi lingkungan yang lebih parah demi memenuhi kebutuhan pasar (dan tentunya demi uang). Contoh yang tepat adalah solusi yang marak di kalangan dunia internasional belakangan ini untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan lingkungan yang melanda banyak wilayah di muka bumi ini. Solusi ini adalah model kemitraan atau multi-stakeholder . KTT Bumi+10 di Johannesburg, Afsel banyak menelorkannya. Dalam teks pidato-pidato selama sidang-sidang PBB pun hampir selalu dijumpai pernyataan-pernyataan yang memuji pendekatan kemitraan ini. Dalam kerangka ini, perusahaan-perusahaan -terutama yang telah memiliki nama jelek sebagai perusak lingkungan dan pelanggar HAM- turut ambil bagian dalam kemitraan dengan ornop. Masalahnya, terdapat hubungan ketidakseimbangan dalam kemitraan sehingga dapat memunculkan bias liberal yang mendalam dan dapat memperlemah kemauan politik untuk mengatasi krisis-krisis sosial dan lingkungan. Jadi, pendekatan kemitraan dapat menjadi kendaraan untuk menghindari hasil-hasil konsensus yang dapat mengikat mereka secara hukum yang dapat memberikan dampak negatif pada kepentingan bisnis mereka. Lebih parah lagi, dengan modal kriteria yang diberlakukan dalam kemitraan yang terlalu lemah, tidak ketat sementaraan itu terdapat bias neoliberal kepemimpinan PBB, solusi kemitraan akan menjadi bibit bencana. Kemitraan akan menjadi ajang untuk membersihkan nama baik perusahaan dan selanjutnya, keberpihakan pada masalah-masalah sosial dan lingkungan itu minim dan diragukan. Kemitraan dapat menjadi kedok untuk mengeksploitasi lebih jauh (baca: memperkosa lingkungan lebih ngeri). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4. Peningkatan Konsumsi BBF&lt;br /&gt;Dengan keberadaan AFTA, tingkat konsumsi masyarakat akan meningkat. Peningkatan ini tentunya akan diikuti oleh meningkatnya permintaan akan energi (=energi listrik). Perhatikan tabel kenaikan permintaan energi pada bagian lampiran! &lt;br /&gt;Masalahnya, sumber pembangkit energi utama dan andalan yang dimiliki dunia kebanyakan, dan pada khususnya, Indonesia adalah pembangkit yang nonrenewable; yaitu menggunakan bahan bakar fosil (BBF) alias fossil fuel. Jadi, penggunaan BBF akan semakin meningkat, dan begitu pula dengan polusi yang dihasilkannya.&lt;br /&gt;Khusus untuk kasus Indonesia, PLN mengalami kesulitan memperoleh investasi. Sebelum krisis tahun 1997, investasi PLN mencapai 5-6 milyar US$. Namun, setelah krisis, investasinya hanya 300-400 juta US$ . Dengan kemampuan ini, PLN tidak akan mampu membangun pembangkit listrik baru, apalagi memanfaatkan sumber-sumber energi terbaharui. Alhasil, PLN hanya akan memperbanyak konsumsi BBF untuk menyuplai PLTU-nya.&lt;br /&gt;Padahal, penggunaan BBF akan menimbulkan pencemaran yang tidak sedikit. Karbondioksida yang diemisikan oleh pembangkit energi BBF ini akan menetap di atmosfer dan memperparah pemanasan global yang sudah mengancam bumi dan seluruh penghuninya. Selain itu, sudah berkali-kali lautan biru bumi menangis karena dicemari oleh cairan hitam lengket yang mematikan mikroorganisme, flora, dan fauna di sekitarnya. Terakhir, tanggal 13 November 2002, kapal tanker Prestise, milik Bahama menumpahkan 77.000 bahan bakar minyak dan mengotori pantai-pantai di utara kota Arteixo, Spanyol.&lt;br /&gt;Konsumsi BBF semakin berbahaya karena Indonesia adalah negara kepulauan. Indonesia memiliki sekian banyak daerah pedalaman (rural) dan terpencil (remote). Transfer energi menuju daerah-daerah ini hanya akan memakan biaya, belum lagi resiko kecelakaan yang tinggi berkat struktur topografis dan geografis yang sulit. &lt;br /&gt;Peningkatan konsumsi BBF tidak hanya terjadi pada sektor listrik, tapi juga sektor transportasi. AFTA akan semakin menggiatkan (menyibukkan) kegiatan ekonomi masyarakat. Distribusi barang dan jasa pun membutuhkan sarana-sarana transportasi. Padahal, sekali lagi, Indonesia masih bergantung pada alat-alat transportasi yang berbasiskan BBF yang dapat mencemari lingkungan. Karenanya dibutuhkan inovasi dibidang teknologi transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.5. Sektor Pertanian yang Dipenuhi Bahan Kimia&lt;br /&gt;Indonesia adalah negara agraris dengan potensi sektor pertanian yang menakjubkan. Namun, potensi yang memang belum digarap maksimal ini bisa jadi semakin terpuruk dalam kehancuran dengan adanya AFTA. &lt;br /&gt;Dengan diberlakukannya AFTA, akan ada tuntutan agar komoditi-komoditi memenuhi persyaratan sehingga kelak mampu bersaing dalam FTA. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mengidentifikasikan bahwa setidaknya terdapat 19 komoditas pertanian Indonesia yang tidak siap menghadapi AFTA. Sepuluh diantaranya begitu kritisnya sehingga memerlukan perlindugnan antara lima sampai sepuluh tahun agar kompetitivitas dan produktivitasnya meningkat. Sepuluh komoditas itu adalah beras, gula, kedelai, tembakau, jagung, buah-buahan, bawang merah, bawang putih, benih, dan ayam. (Kompas, 13 November 2002, 10 Komoditas Pertanian Tidak Siap Hadapi AFTA)&lt;br /&gt;Selanjutnya, demi memenuhi persyaratan, konsumsi bahan kimia seperti pupuk dan pembasmi hama menjadi berlebihan. Di satu sisi, memang hasilnya baik, namun sektor agraris yang bertumpu pada bahan-bahan kimia sintetik itu tidak akan mampu bertahan lama. Tanah akan cepat kehabisan unsur hara, sementara itu, pH tanah juga akan turun dengan cepat (tanah menjadi asam). Selain itu, diketahui pula bahwa sektor pertanian yang mengandalkan bahan-bahan kimiawi itu menghasilkan emisi karbondioksida yang besar . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6. Tantangan yang Semakin Besar dalam Penegakan Hukum Lingkungan &lt;br /&gt;Kelak, pada masa AFTA diberlakukan, penegakkan hukum lingkungan akan semakin ditantang untuk mampu dengan maksimal melindungi lingkungan hidup dari eksploitasi berlebihan. Ingat bahwa kelak, akan ada obsesi membangun yang gila-gilaan (lih. 2.1.). Juga, demi efisiensi dan efektifitas, akan ada pihak-pihak yang lalu mengesampingkan pertimbangan lingkungan hidup sehingga merugikan lingkungan hidup (lih. 2.2.).&lt;br /&gt;Dalam menganalisis mengenai law enforcement (penegakan hukum) lingkungan di Indonesia pada masa AFTA, baik kalau digunakan empat parameter, yaitu: (1) peraturannya, (2) lembaga yang menjalankan peraturan, (3) fasilitas pendukung peraturan, (4) dan kesadaran hukum masyarakat. &lt;br /&gt;Sebenarnya, Indonesia sudah memiliki peraturan-peraturan hukum lingkungan, baik di tingkat undang-undang, peraturan di tingkat bawahnya. Misalnya, UU No.4 tahun 1982 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 5 tahun 1982 tentang Perindustrian, Permenperind No. 254 tahun 1980 tentang Izin Industri, PP No. 51 tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, PP No. 20 tahun 1990 tentang Izin Kawasan Industri, SK MNKLH No. 02 tahun 1988 tentang Baku Mutu Lingkungan. Kendala yang ada, peraturan yang ada belum sepenuhnya aplikatif . Indonesia memerlukan peraturan pelaksanaan. Misalnya, mengenai tata cara ganti kerugian, pengelolaaan limbah B3, klasifikasi limbah B3, dsb. &lt;br /&gt;Sementara itu, pemerintah kecenderungannya hanya mencari kasus yang aman, misalnya yang berhubungan dengan industri skala kecil (contoh, kasus Sidoarjo). Sementara itu, kasus-kasus yang berat tidak jelas pengusutannya. Misalnya, kasus PT Pakerin. Setelah hampir berjalan dua tahun, Kejaksaan Negri Mojokerto secara resmi nan misterius menghentikan penuntutan pada tanggal 4 Juni 1993. Program Prokasih di Jawa Tengah dan DIY juga telah berhasil menjerat PT Budi Progo Perkasa  (Perusahaan Pengolahan Kulit) di Kabupaten Sleman dan PT Indo Acidatama (Perusahaan Bahan Kimia) di Karang Anyar. Namun, lagi-lagi, keduanya berbuntut menggantung . Beberapa kasus lain berkenaan dengan hukum lingkungan hidup yang tidak jelas penyelesaiannya, antara lain: kasus burung Cenderawasih (PN Sorong, 1984; PT Jayapura, 1985); kasus PT Inti Indorayon Utama (PN Jakarta Pusat, 1990); kasus PT Banyumas Washing Center (PN Bandung, 1990); kasus PT SSS (PN Surabaya, 1991); kasus Macan Kumbang (PN Banyuwangi, 1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.7. Akselerasi Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi &lt;br /&gt;Dengan keberadaan AFTA, ilmu pengetahuan dan teknologi akan berkembang dengan cepat. Di satu sisi, hal ini disebabkan karena adanya tuntutan untuk memenuhi syarat efisiensi dan efektivitas demi mampu bersaing dalam pasar bebas di ASEAN, pada khususnya, dan dunia pada umumnya. Selain itu, akselerasi IPTEK juga didapatkan melalui transfer teknologi dari luar region ASEAN, terutama dari negara-negara maju. Transfer teknologi dapat berlangsung cepat dan lacar berkat ICT dunia yang sudah maju. Ingat bahwa globalisasi terkenal dengan ciri information superhighway-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.8. Popularitas Isu-isu Lingkungan&lt;br /&gt;Di sisi lain, pada masa AFTA, isu-isu lingkungan juga akan menjadi populer. Dan tidak hanya berhenti pada popularitas, isu-isu lingkungan akan menjadi pertimbangan dalam pasar. Beberapa konsensus Internasional telah menetapkan peraturan-peraturan yang isinya sedemikian rupa sehingga melindungi lingkungan hidup alami. Misalnya, KTT bumi di Rio (1992) dengan agenda 21-nya; Protokol Montreal yang anti CFC; Protokol Kyoto yang hendak mengurangi emisi CO2; terakhir, KTT Bumi+10 di Johannesburg yang menindaklanjuti sustainable development, dsb. &lt;br /&gt;Organisasi-organisasi non-profit yang bergerak di bidang lingkungan juga makin marak dan makin banyak melakukan tindakan konkret demi menyelamatkan lingkungan, misalnya: NOAA, IPS, Ozone Action, Greenpeace, hingga Walhi. Mereka tergabung dalam NGO-International (Non Govermental Organization). &lt;br /&gt;Beberapa konsumen, terutama dari negara-negara maju juga akan menuntut produk-produk yang terbukti proses produksinya ramah lingkungan. Misalnya dengan adanya tuntutan ecolabelling dari pihak konsumen pada sektor industri kayu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Jadi, sebenarnya, bagi kualitas lingkungan, AFTA bersifat ambivalen. Di satu sisi, AFTA dapat menjadi trouble maker yang menyebabkan kualitas lingkungan hidup turun. Namun, di sisi lain, AFTA juga mengandung modal-modal yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Dua sub-bab terakhir adalah dua modal yang dapat digunakan untuk menunjang peningkatan kualitas lingkungan hidup. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bab III&lt;br /&gt;Solusi: Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Menunjang Peningkatan Kualitas Lingkungan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita (baca: bangsa Indonesia) tidak bisa membiarkan lingkungan Indonesia menjadi rusak. Selanjutnya, diperlukan usaha-usaha dari semua pihak untuk mengatasinya. Sebagai solusi, janganlah lalu, AFTA dihindari. AFTA, bagaimanapun juga, merupakan wujud ASEAN yang mengikuti arus globalisasi sehingga mampu mengimbangi negara-negara maju lainnya. Dan ini merupakan kesempatan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Di lain pihak, ternyata memang, AFTA, mau tidak mau, akan memberi imbas negatif pada kualitas lingkungan Indonesia. Nah, sekarang, yang perlu dilakukan adalah memanfaatkan sisi positif AFTA demi mereduksi sisi-sisi negatifnya. Dan sisi positif yang mampu menjadi senjata pamungkas adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. &lt;br /&gt;Sebelum memasuki lebih lanjut mengenai aplikasi nyata inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan untuk menunjang peningkatan kualitas lingkungan, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai prinsip utama dan semangat dasar yang harus menjadi pondasi usaha solusi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Prinsip Utama dan Semangat Dasar &lt;br /&gt;Sebelum membahas lebih lanjut mengenai solusi ini. Secara umum, terdapat dua prinsip utama dan sebuah semangat dasar yang harus melandasi semua usaha-usaha demi mempertahankan -dan bahkan meningkatkan- kualitas lingkungan. Kedua prinsip utama itu adalah sustainable development dan ecodevelopment . &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan sustainable development atau pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengabaikan kepentingan generasi mendatang. Artinya, pembangunan berkelanjutan adalah suatu konsep pembangunan yang bervisi jauh ke depan. Konsep pembangunan berkelanjutan turut mempertimbangkan bagaimana generasi mendatang dapat memenuhi kebutuhannya sama seperti -atau bahkan lebih baik daripada- generasi sekarang. Jadi, strategi utama pembangunan berkelanjutan adalah mengembangkan keselarasan antara manusia dengan manusia dan antara manusia dan alam. Konsep ini mulai dimunculkan dalam KTT Bumi di Rio de Janeiro (Earth Summit) tahun 1992.&lt;br /&gt;Sementara itu, yang dimaksud dengan ecodevelopment atau pembangunan berwawasan lingkungan adalah pembangunan yang selalu mengikutsertakan pertimbangan lingkungan sebagai bagian dari proses pengambilan kebijakan pembangunan. Konsep ini mulai dimunculkan dalam konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Stockholm tahun 1972. &lt;br /&gt;Selanjutnya, keduanya harus diinspirasikan dengan semangat dasar etika lingkungan hidup. Etika lingkungan hidup muncul saat manusia menyadari bahwa aksi-aksinya telah mengganggu kehidupan organisme lain dan lingkungannya. Berawal dari ini, etika lingkungan hidup mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan manusia terhadap segala yang diluar dirinya. &lt;br /&gt;Nah, kini, pertanyaan yang tersisa adalah teknologi macam apa yang dapat dijadikan strategi yang memiliki unsur sustainable development, ecodevelopment, dan berjiwa etika lingkungan hidup? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Inovasi Teknologi Eko-Efisien&lt;br /&gt;Dalam mengusahakan meningkatkan kualitas lingkungan dalam kerangka AFTA, harus dikembangkan teknologi eko-efisien. Teknologi ini tetap mendukung efisiensi yang menjadi tuntutan AFTA, namun, lebih-lebih, juga menopang kehidupan lingkungan alami (eko dari ecology) . Teknologi eko-efisien mulai dicanangkan oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) pada KTT Bumi di Rio de Janeiro. Dengan inovasi teknologi eko-efisien, penghematan faktor produksi dapat tercapai tanpa mengabaikan -bahkan malah mendukung- kelestarian lingkungan hidup. Teknologi eko-efisien memiliki empat prinsip, yaitu kurangi sumber daya, maksimumkan guna ulang  (re-use), daur ulang (re-cycle), serta tingkatkan kinerja.  &lt;br /&gt;Efisiensi juga amat diperlukan pada masa AFTA demi menekan tingkat kenaikan konsumsi listrik. Jika tingkat konsumsi listrik naik, maka PLN terpaksa menambah supply listrik. Sayangnya, dengan kondisi seperti sekarang, penambahan produksi listrik masih belum ramah lingkungan -masih menggunakan BBF.&lt;br /&gt;Contoh pengembangan teknologi eko-efisien, Perusahaan jus Del Monte di Filipina mampu menghemat 24.000 US$ tiap tahunnya dengan membuat saluran penampungan tetesan air nanas di bawah meja tempat nanas yang dikuliti, hanya dengan biaya 17.800 US$.  Perusahaan Xerox telah mengeluarkan buku panduan bagi seluruh karyawannya, Wasteless Office. Buku panduan mengenai efisiensi ini wajib dipatuhi seluruh karyawan. Misalnya, melaksanakan antar-jemput pegawai dengan angkutan massal, memanfaatkan telpon dan e-mail demi menghemat pengeluaran transportasi. Di Imperial College London dan Asian Development Bank, AC distel dengan suhu yang tidak terlalu dingin dan mereka menggunakan kertas di kedua sisinya, bahkan, amplop-amplop bekas digunakan kembali.&lt;br /&gt;Teknologi perkakas rumah tangga pun dapat menjadi wujud teknologi eko-efisiensi. Misalnya, lemari es dengan sistem pendinginan baru. Lemari es ini tidak menggunakan CFC, HCFC, ataupun HFC yang dapat menyebabkan penipisan lapisan ozon dan pemanasan global. Lemari es yang dikembangkan oleh Karl Gscheneider dari Iowa State University ini menggunakan prinsip magnetisasi dan demagnetisasi gandolium untuk menurunkan suhu . Gandolium adalah salah satu unsur kimia yang tidak terkenal. Jurnal The Economist mengungkapkan bahwa prototipe yang telah dibuat berdasarkan rancangan Gscheneider ini ternyata efisiensinya 60 persen. Ini artinya, 20 persen lebih efisien daripada lemari es konvensional.   &lt;br /&gt;Di bidang industri, teknologi eko-efisien dapat diwujudkan dengan memasang pengedap Cottrel pada unit terakhir yang berfungsi membuang limbah ke atmosfer.  Dengan instrumen ini, asap dan debu dari pabrik dapat digumpalkan. Jadi instrumen ini merupakan alat koagulasi. Kelak, yang dilepaskan ke atmosfer hanyalah emisi gas buangan yang bersih. Di sisi lain, dengan memasang instrumen ini, didapatkan pula kembali debu yang berharga, terutama debu logam. Jadi, selain ramah lingkungan, juga menguntungkan. Perhatikan bagan cara kerjanya pada bagian lampiran!&lt;br /&gt;Tehnik arsitektur juga dapat merupakan perwujudan teknologi eko-efisien. Misalnya, perusahaan Tokyo Gas Kohoku di Jepang memiliki sebuah gedung Atrium di Tsuzuki Ward, Yokohama. Atrium tersebut diberi jendela yang amat besar sedemikian rupa sehingga lampu tidak perlu dinyalakan karena sudah terang-benderang. Sementara itu, tanpa mengurangi kenyamanan, kantornya tidak menggunakan AC. Tiap ruangan diberi jendela tinggi yang miring di bagian atas dinding kaca. Jendela yang satu ini terpisah dengan jendela yang ada di daerah bawah. Cara kerjanya, udara luar yang menghembus ke dalam melalui jendela miring itu disalurkan sepanjang plafon yang dipasang miring ke atas pula. Kemudian, udara dihembuskan ke luar gedung dengan ventilator dalam ruangan tingkat paling atas yang diatur secara otomatis oleh komputer. Proses ini memungkinkan aliran udara ada terus-menerus. Alhasil, udara dalam kantor terjaga kesejukannya. Dengan begini, efisiensi energi dapat dicapai. Dan sekali lagi, efisiensi juga berarti ramah lingkungan sebab dengan begitu, beban PLN untuk memenuhi suplay listrik dengan BBF terkurangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Inovasi Teknologi Energi Terbaharukan (Renewable Energy)&lt;br /&gt;Keberadaan AFTA yang mendorong tingkat konsumsi listrik Indonesia akan semakin meningkatkan konsumsi BBF. Padahal, diketahui jelas bahwa BBF itu selain tidak terbaharukan, juga banyak merugikan lingkungan. Karenanya, dalam masa AFTA, Indonesia harus mempu mengembangkan teknologi energi terbaharukan (Renewable Energy = RE). Pada dasarnya, Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber energi terbaharukan, apalagi dibandingkan dengan negara-negara lain. Perhatikan tabel berikut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara Minyak Bumi (BBI) Gas Alam (TCF) Batu Bara (MMT) Hidro power (MW) Panas Bumi (MW) Kayu/ Biomassa (KTon)&lt;br /&gt;Indonesia 9,8 166 38.000  75.625 19.658 439.049&lt;br /&gt;Malaysia 3,42 64,4 1.024,5 25.000 - 137.301&lt;br /&gt;Thailand 0,156 12,2 1.240 - - 67.130&lt;br /&gt;Myanmar 0,20 12,07 - 108.000 - 129.935&lt;br /&gt;Vietnam 2,6 25 4.500 68.500 - 48.960&lt;br /&gt;Brunei 1,4 13,8 - - - -&lt;br /&gt;Filipina 0,281 4,6 346 9.150 2.047 89.267&lt;br /&gt;Kamboja - - - 10.000 - 81.565&lt;br /&gt;Laos - - 600 26.500 - 45.006&lt;br /&gt;Singapura - - - - - -&lt;br /&gt;sumber: www.aseanenergy.org/publications_statistic/statistic/resources/page_01.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat jumlah energi terbaharukan yang sedemikian menakjubkan itu, PLN masih menggantungkan perolehan energi melalui BBF. Perhatikan tabel berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi BBF Energi Terbaharukan &lt;br /&gt;Batu bara  32,67 % Hydropower 10,35 %&lt;br /&gt;Gas Alam 32,73 % Geothermal 3,13 %&lt;br /&gt;Minyak Bumi 16,79 % Lain-lain 0,5 %&lt;br /&gt;Lain-lain  1,83 %  &lt;br /&gt;total 86,2 % total  13,92 %&lt;br /&gt;sumber: Abdulkadir, Ariono, Ir., MSME, Ph.D., P.E. Perkembangan PLTN Saat Ini dan Kesempatan bagi Indonesia. Energi. No. 17. September-November 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya di Indonesia, beberapa RE telah dikembangkan dan dimanfaatkan untuk memperoleh tenaga listrik. Hanya saja pemanfaatannya jauh dari maksimal. Dari sekian banyak potensi RE yang ada, yang telah dimanfaatkan baru 0,34 persennya. Perhatikan tabel berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber RE Kapasitas yang Dimanfaatkan (MW) Potensi (MW) Persentase Penggunaan (%)&lt;br /&gt;Panas Bumi 589 19650 3,00&lt;br /&gt;Hidropower Mikro 21 458,75 4,58&lt;br /&gt;Surya 5 156487 3,20&lt;br /&gt;Angin 0,5 9286 5,38&lt;br /&gt;Biomassa 178 49807 0,36&lt;br /&gt;Biogas 10 684,83 1,46&lt;br /&gt;Total 803,5 236373,58 0,34&lt;br /&gt;sumber: Oktaufik, M.A.M, dan Abdullah, Kamaruddin. Cooperation Opportunities to Promote Renewable Energy. Energi. No. 17. September-November 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Energi Jumlah proyek Kondisi operasional Keterangan&lt;br /&gt;1. Solar 34  sebagian besar Solar Home System (SHS)&lt;br /&gt;a. Kelistrikan 14 1 tidak beroperasi &lt;br /&gt;b. Panas 16  &lt;br /&gt;c. Pemompaan Air 3 1 tidak beroperasi &lt;br /&gt;d. TV repeater 1  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;2. Hidropower Mikro 70  4 KW - 3,85 KW&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;3. Biomassa 82 17 tidak beroperasi 1,4 KW - 120 KW&lt;br /&gt;a. Kelistrikan 69  &lt;br /&gt;b. Biogas 4  &lt;br /&gt;c. Shaft Power 2  &lt;br /&gt;d. Process heat 17  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;4. Wind Energy 22  1,5 KW - 29,5 KW&lt;br /&gt;a. Kelistrikan 8 3 tidak beroperasi  &lt;br /&gt;b. Pembuat Es dan battery charging 6 5 tidak beroperasi &lt;br /&gt;c. Irigasi 8 8 tidak beroperasi &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;4. Panas Bumi 16  0,2 MW - 110 MW&lt;br /&gt;a. kelistrikan 11 5 beroperasi  &lt;br /&gt;b. Steam (uap) 5  2 beroperasi &lt;br /&gt;sumber: Oktaufik, M.A.M, dan Abdullah, Kamaruddin. Cooperation Opportunities to Promote Renewable Energy. Energi. No. 17. September-November 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat data-data itu, niscaya akan menggeleng-gelengkan kepala. Yah, Indonesia memiliki potensi yang begitu besar, namun hanya sedikit yang dimanfaatkan. Di sisi lain, dengan diberlakukannya AFTA, tuntutan Indonesia untuk mengembangkan sektor RE-nya semakin besar. &lt;br /&gt;Sebuah contoh nyata rasanya dapat mengena di hati. Sebuah penelitian oleh Departemen Teknik Listrik Universitas Hasanudin telah mampu mengembangkan RE di daerah rural dan terpencil. Ada tiga power generator yang didesain dan beroperasi saling melengkapi dan mencapai efisiensi yang maksimal, yaitu tenaga surya, tenaga angin, dan tenaga air. Ketiganya, yaitu, photovoltaic electric power generation system (PEPGS), wind turbine generator power system (WTGPS), mini hydropower system (MHPS) . Setelah mengadakan riset lebih lanjut dan perbaikan di sana-sini, proyek ini berhasil memproduksi listrik yang lebih murah daripada listrik yang dihasilkan oleh PLN, yaitu Rp. 800,-/KWH. Sementara itu, harga listrik dari PLN -tanpa subsidi pemerintah- adalah Rp. 880,-/KWH. Jadi, sebenarnya, menggunakan energi terbarui itu selain menguntungkan dari segi ekonomi, namun, lebih-lebih, juga mempertahankan kualitas lingkungan hidup. Dan juga, sistem ini cocok, mengingat bahwa Indonesia adalah negara kepulauan di mana terdapat banyak wilayah pedalaman yang terpencil dan sulit terjangkau. &lt;br /&gt;Indonesia sebenarnya juga memiliki daerah-daerah potensial untuk dipasang pembangkit listrik tenaga angin. Utamanya, mengingat bahwa indonesia adalah negara bahari yang memiliki garis pantai yang terpanjang kedua (54.176 km ) setelah Kanada. Daerah pantai dengan anginnya yang kencang dapat menjadi daerah potensial. Selain itu, potensial pula di Medan, di mana terdapat angin Bohorok, juga di Nganjuk dan Probolinggo dengan angin Gending-nya.&lt;br /&gt;Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) juga telah mengembangkan teknologi pembangkit listrik tenaga surya. Desa Ujunggagak, Segara Arakan, kecamatan Kawungaten, Cilacap, Jateng telah sukses menjadi Proyek Percontohan Listrik Tenaga Surya (PPLTS). PPLTS itu terdiri dari 16 unit berkekuatan 50 watt. Dengan modal murni teknologi Indonesia, masing-masing unit hanya menelan biaya tiga juta rupiah. Selain itu, juga dibangun unit PLTS di kabupaten Sibolga (Sumut), P. Pengoh (Babel), Kebumen (Jateng), desa Sulamo (Kupang, NTT), Pitung. Hiri (Ternate, Maluku), dan Sonoihe (Sulut).&lt;br /&gt;Untuk tenaga surya, Indonesia juga memiliki potensi yang baik karena merupakan negara tropis sehingga jumlah penyinaran mataharinya tinggi, yaitu sekitar empat jam efektif per harinya. Pemanfaatannya juga banyak, untuk kebutuhan rumah tangga, pemanas air, lampu jalan, pompa air, dsb. Pembuatan sebuah sel fotovoltaik pun tidak rumit. Energi surya, pada prinsipnya, dapat dibuat menjadi sumber arus searah dengan menggunakan silikon tipis. Silikon harus diubah menjadi penghantar (konduktor) dengan proses pemanasan pada tekanan tertentu. Lalu, dipotong menjadi kristal dengan tebal 0,3 mm. Jadilah sel fotovoltaik. &lt;br /&gt;Upaya-upaya riset terhadap RE harus terus dikembangkan. Selama Juli-Agustus 2002 lalu, Pusat Studi Energi UGM bekerja sama dnegan Pusat Litbang Energi dan Ketenagalistrikan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Pemerintah Kabupaten Bantul mengadakan studi kelayakan di beberapa sungai di Bantul yang potensial untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Inovasi Teknologi Kendaraan Bermotor&lt;br /&gt;Kendaraan bermotor akan marak baik di desa maupun di kota, apalagi dengan keberadaan AFTA. Dan jelas bahwa tidak dapat seenaknya kendaraan bermotor dilarang karena mengemisikan polusi yang dapat merusak lingkungan, menyebabkan pemanasan global, membuat sumpek, dsb. Yang dapat dilakukan adalah melakukan inovasi-inovasi supaya kendaraan bermotor dapat menjadi lebih efisien sekaligus ramah lingkungan. &lt;br /&gt;Salah satu inovasi untuk merendahkan emisi gas buangan kendaraan bermotor adalah dengan menggunakan catalytic converter. Catalytic converter diletakkan di bagian dalam pipa pembuangan yang terdekat dengan mesin. Ketika aliran emisi melewatinya, platina, rhodium, dan palladium yang ada dalam cataliytic converter bereaksi dengan gas-gas emisi dan menyaringnya. Material-material yang tidak terbakar, seperti hidrokarbon, dan nitrogen oksida akan diumah menjadi karbondioksida, air, dan nitrogen. Dengan tambahan biaya produksi hanya sebesar 95 US$ sampai 200 US$, emisi kendaraan bermotor dapat berkurang hingga 50 persen . &lt;br /&gt;Selain itu, solusi lain adalah dengan menggunakan bahan bakar alternatif, misalnya: bahan bakar gas (BBG), tenaga listrik, dan biofuel. Kandungan karbon BBG adalah yang terendah diantara BBF. Dengan kemampuan yang sama, BBG jauh lebih menguntungkan, mengingat harganya yang hanya Rp. 275,-/liter. Beberapa contoh kendaraan elektrik komersial, antara lain, Toyota Rav4, Nissan Motor’s Praire Joy, Honda EV Plus, Honda City Pal; Toyota e-com, dan Nissan Hypermini. Sementara itu, biofuel didapatkan dari biomassa, mahluk hidup. Misalnya, etanol berasal dari tanaman jagung; dengan sedikit campuran, dapat menjadi gasohol. Dengan bahan bakar alternatif semacam ini, kendaraan bermotor dapat menjadi lebih efisien, sekaligus ramah lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Inovasi Teknologi Pertanian&lt;br /&gt;Indonesia adalah negara agraris. Keberadaan AFTA pun tidak dapat mengubah kenyataan itu. Sayangnya, kecenderungan yang ada, sektor agraris banyak yang terjebak dalam obat-obatan sintetis yang tidak alamiah dan tidak mendukung lingkungan hidup; menyebabkan pencemaran lingkungan. Yang harus dilakukan adalah back to nature. Pertanian organik adalah jawabannya. Inovasi dalam teknologi agraris harus mengembangkan cara-cara bagaimana agar sektor pertanian dapat berkembang dan mampu bersaing dalam pasar bebas AFTA tanpa merusak lingkungan hidup. PHT atau Pengelolaan Hama Terpadu juga merupakan perwujudan pertanian organik. Metode ini memanfaatkan semaksimal mungkin predator alami hama dan meminimalkan penggunaan pestisida. Misalnya menggunakan serangga Diagegma untuk memberantas ulat hama kubis, Plutela. &lt;br /&gt;Selain itu, juga dilaksanakan dengan pola tanam yang rasional, yaitu dengan penggiliran tanaman (rotasi tanaman). Dengan PHT penggunaan pestisida dapat ditekan hingga 50 persen. Di lain pihak, hasil pertanian tetap terjaga, bahkan meningkat.&lt;br /&gt;Pertanian organik cenderung tidak menggunakan pestisida, melainkan bio-insektisida. Pestisida ini menggunakan bakteri yang dapat membunuh serangga, tanpa membuat lingkungan menjadi tercemar. Misalnya, menggunakan bakteri bacillus thuringiensis untuk membunuh hama, seperti, Plutella xylostella, Helicoverpa armegera, Spodoptera litura. Bakteri ini menghasilkan racun ICP (Insecticide Chrystal Protein) yang menyerang saluran pencernaan hama sehingga hama berhenti makan dan mati. &lt;br /&gt;Salah satu contoh pertanian organik adalah dengan teknik hidroponik, yakni memberikan unsur hara yang dilarutkan. Lalu, larutan ini dijadikan sebagai medium tanam. Dengan teknik ini, sayuran dan buah-buahan yang dihasilkan akan lebih higienis. Lebih baik lagi, sistem ini dilengkapi dengan fasilitas rumah kaca (greenhouse) sehingga dapat berproduksi sepanjang tahun dan tidak terpengaruh musim. &lt;br /&gt;Dengan mewujudkan inovasi pertanian organik, hasil pertanian tetap dapat bersaing di pasar AFTA, namun sekaligus tidak mencemari lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. Inovasi Ilmu Lingkungan Hidup (Edukasi Lingkungan) &lt;br /&gt;Pendidikan lingkungan hidup adalah pendidikan yang memberikan bekal sehingga seseorang mampu melakukan tindakan untuk menyelamatkan lingkungan. Karena itu, pendidikan lingkungan memiliki posisi poros dalam usaha menunjang kualitas lingkungan hidup pada masa AFTA. &lt;br /&gt;Selanjutnya, pendidikan lingkungan hidup harus tidak semata-mata memberikan pengetahuan dan kemampuan analitis dan sintesis tentang kasus lingkungan. Pendekatan yang digunakan harus merupakan pendekatan empiris, langsung pada lingkungan itu sendiri. Maka, dalam kerangka ini, contoh-contoh kasus konkret berperan. &lt;br /&gt;Pendidikan lingkungan hidup tidak boleh hanya mengandalkan pendidikan formal saja. Justru, pada masa AFTA diperlukan inovasi pendidikan lingkungan hidup dalam kerangka pendidikan informal. Dan lebih-lebih, pendidikan lingkungan hidup baik jika diberikan semenjak dini. Bentuknya bisa berupa ekstrakurikuler, pramuka, kegiatan pencinta alam, survival, SAR, dsb. Pada masa AFTA, dibutuhkan manusia-manusia yang cinta dan mampu melindungi lingkungannya. Pertanyaan yang tersisa, bagaimana para policymakers pendidikan lingkungan mampu menginternalisasikan pendidikan lingkungan hidup pada generasi-generasi selanjutnya.&lt;br /&gt;Ekowisata alias ecotourism adalah salah satu wujud nyata pendidikan lingkungan hidup informal. Fungsi rekreasi dapat disatukan dengan fungsi pendidikan lingkungan. Seringkali, ekowisata dapat lebih menyentuh karena peserta langsung terjun ke lapangan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7. Inovasi Ilmu Hukum Lingkungan&lt;br /&gt;Dalam upaya environmental law enforcement, ilmu hukum lingkungan harus mengembangkan inovasi ilmu hukum lingkungan demi melindungi lingkungan. Beberapa hal di bawah ini hanyalah secuil ide demi mengembangkan ilmu hukum lingkungan.&lt;br /&gt;Ada metode yang dapat dikembangkan. Yang pertama adalah promosi penataan (compliance promotion). Metode ini sifatknya mendorong, memberi motivasi pada industri untuk mealukan program penataan secara sukarela (voluntary compliance). Kemudian, enforcement responce to violation; metode inimengandalkan ancaman hukuman (sanksi) yang mengancam industri untuk memenuhi persyaratan-persyaratan perlindungan lingkungan. &lt;br /&gt;Penegakkan hukum lingkungan juga tidak boleh hanya mengandalkan pengadilan. Seharusnya, penegakkan hukum lingkungan, lebih-lebih, mengutamakan usaha-usaha represif, yaitu secara administratif. Jangan sampai perusakan/pencemaran lingkungan itu terjadi terlebih dahulu. &lt;br /&gt;Diperlukan suatu konsensus nasional para policymakers hukum lingkungan dalam merumuskan usaha-usaha penegakkan hukum lingkungan. Selanjutnya, diformulasikan sebagai suatu kebijakan nasional tentang penegakkan dan penataan lingkungan (environmental law enforcement and compliance of national policy). Semuanya ini pun harus didukung oleh (1) perencanaan pembaruan di bidang peraturan perundang-undangan; (2) perencanaan dan pendanaan di bidang sumber daya manusia; (3) perencanaan penguatan dan pembaruan kelembagaan. &lt;br /&gt;Demi inovasi hukum lingkungan lebih lanjut, perlu dibentuk environmental law society yang aktif, yang terdiri dari penegak hukum negara, Bapedal, Kantor Meneg LH, dan LSM. Wujudnya dapat berupa pelatihan, diseminasi informasi, diskusi, lokakarya, tukar pikiran kritis-alternatif lewat mass media. Selain itu, perlu pula adalah public pressure. Masyarakat memiliki peranan penting dalam kerangka ini, sebagai external control. Sementara itu, LSM wajib menjadi pembimbing. &lt;br /&gt;Peraturan yang aplikatif dan tegas diperlukan demi melindungi kualitas lingkungan. Misalnya,  Environmental Protection Agency (EPA), Badan Perlindungan Lingkungan milik AS telah menetapkan standar nasional emisi modil dan truk ringan yang ketat. Tiap produk mobil wajib mengurangi 70 persen emisi nitrogennya dan mengurangi 50 persen emisi hidrokarbonnya. &lt;br /&gt;Hukuman denda menurut peraturan yang berlaku sekarang (UU no. 4 tahun 1982 tentang Lingkungan Hidup) juga tampaknya terlalu kecil. Maksimum denda saat ini adalah Rp. 100.000.000,- untuk pencemaran yang dilakukan secara sengaja dan Rp. 1.000.000,- untuk pencemaran yang dilakukan karena kelalaian. Hal ini tentunya tidak akan menimbulkan efek penjera (deterrent) terutama bagi perusahaan skala besar.  Sekarang, penegakkan persyaratan administratif juga dirasa sulit dan selalu diabaikan karnea tidak ada sanksi terhadap perbuatan itu. Hukuman denda juga hendaknya diberlakukan jika suatu perusahaan tidak memenuhi persyaratan administratif, seperti self monitoring, pelaporan dan penyediaan fasilitas keadaan darurat, dsb. &lt;br /&gt;Perangkat hukum yang ada harus dibuat sederhana. Pasalnya, selama ini, perangkat hukum yang ada tidak sederhana. Contohnya, pasal 22 UU No. 4 tahun 1982, yang mengatur ancaman pidana bagi pencemar dan perusak lingkungan. Untuk membuktikan seseorang melanggar pasal tersebut, penegak hukum dituntut untuk membuktikan masuknya komponen cemaran (polutan) ke dalam lingkungan sehingga kualitas lingkungan menjadi turun sampai ke tingkat tertentu dan sekaligus, harus membuktikan lingkungan menjadi kurang atau tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Dalam kasus Sidoarjo, hal ini menyebabkan silang pendapat . &lt;br /&gt;Hukum lingkungan juga harus menetapkan standardisasi dan sertifikasi. Hal ini signifikan dalam usaha penegakkan hukum lingkungan karena dengan ini, mereka yang memanfaatkan alam dipaksa hanya boleh mengeksploitasi alam dalam batas-batas tertentu -tentunya, diatas ambang toleransi. Contoh usaha ini di bidang lingkungan hidup adalah ISO 14000 dan ecolabelling. Ingat bahwa umumnya, negara-negara maju, lebih memilih produk-produk yang terakui sebagai produk ramah lingkungan. Contoh lain, EPA telah melakukan proses standardisasi dan sertifikasi dengan memberi label energy star pada produk-produk yang terbukti ramah lingkungan.&lt;br /&gt;Hukum lingkungan juga harus waspada terhadap sikap-sikap manis yang tampaknya menawarkan solusi demi meningkatkan kesejahteraan atau kelestarian lingkungan, namun sebenarnya menjadi kedok ekspoitasi lingkungan yang lebih parah demi memenuhi kebutuhan pasar (dan tentunya demi uang). Bentuk-bentuk privatisasi harus diwaspadai. Jangan sampai Indonesia bernasib seperti Orissa. &lt;br /&gt;Hukum-hukum yang sudah baku juga harus terus difungsikan sebagai alat untuk melindungi lingkungan hidup, misalnya UU No. 4 tahun 1982 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; UU No. 5 tahun 1982 tentang Perindustrian; PP No. 20  tahun 1990 tentang Izin Kawasan Industri, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.8. Inovasi Ilmu Planologi (Perencanaan dan Tata Ruang Kota)&lt;br /&gt;Seperti yang diindikasikan pada Bab II, pada masa AFTA kota-kota akan mewujud menjadi global cities yang dingin; tidak ramah lingkungan. Karenanya, diperlukan inovasi-inovasi baru dalam mengatasi hal ini. Salah satu yang urgen adalah melepaskan keberpihakan pada kendaraan bermotor. Kota-kota harus mulai memihak pada angkutan masal. Caranya, angkutan masal harus diberikan insentif, berupa peningkatan kualitas kendaraan, dan penambahan fasilitas-fasilitas, misalnya, terminal, bengkel, stasiun, dsb, serta tentu, penurunan harga. Untuk kendaraan tidak bermotor, misalnya sepeda, dokar, becak, dsb harus disediakan jalur khusus, baik berupa jalur lambat, maupun ditandai dengan marka khusus. (Ingat bahwa kendaraan semacam ini pun dapat menarik minat wisatawan.) &lt;br /&gt;Tata ruang kota harus public transport oriented demi menjaga efisiensi sekaligus menjadi kota ramah lingkungan. Di Inggris, ada konsep kiss and ride untuk transportasi antar pekerja atau pelajar yang tinggal di pinggir kota atau di kota satelit. Ibu dapat mengantar anak dan suaminya menuju ke stasiun atau terminal. Menciumnya, dan membiarkan mereka pergi. Atau, bisa juga menitipkan kendaraannya. Konsep park and ride diberlakukan di daerah-daerah pusat perbelanjaan dan perkantoran. Mereka yang menggunakan kendaraan pribadi harus memarkir kendaraannya di lahan parkir di luar kompleks pusat-pusat itu kecuali kendaran umum dan pejalan kaki. &lt;br /&gt;Selain itu, baik kalau dilakukan pedestrianisasi. Wujudnya, mengubah shopping street menjadi shopping pretinct. Aspal di ruas-ruas jalan shopping street dibongkar, dan diganti conblock yang umumnya digunakan pada trotoar. Lalu, yang boleh memasukan kompleks pusat perbelanjaaan itu hanyalah pejalan kaki. Di Jakarta, baru Pasar Baru yang berani.   &lt;br /&gt;Ilmu planologi juga harus mewujudkan kota yang sejuk dan segar. Idealnya, 40 persen wilayah kota dipakai sebagai kawasan hijau . Kota Portland mengubah bekas sebuah jalan tol menjadi Taman Tom McCall Waterfront.  Konsep garden city harus diwujudkan. Wujudnya, ada daerah rural tertentu yang membatasi kota sehingga kota tidak berkembang ke luar secara tidak beraturan. Kota Portland, AS dan Curitiba, Brazil melaksanakan hal ini , hasilnya jumlah penduduk tidak membludak dan lahan-lahan dalam kota menjadi efisien dan hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.9. Inovasi Teknologi Komunikasi dan Informasi&lt;br /&gt;Inovasi Tekonologi di bidang ICT (Information and Communication Technology) amat diperlukan untuk mendukung sekian banyak teknologi yang ada. Peran utama ICT terletak pada proses transfer dan sosialisasi teknologi. Terutama di Indonesia yang merupakan negara kepulauan, diperlukan basis ICT yang kuat, sehingga teknologi-teknologi yang menunjang kualitas lingkungan yang telah diaplikasikan di suatu daerah dan sukses dapat di aplikasikan pula di daerah-daerah lain. &lt;br /&gt;Untuk yang satu ini, perlulah dicontoh Jepang. Jepang adalah salah bangsa yang sukses menyosialisasikan IPTEK-nya. Stasiun-stasiun televisi berlomba-lomba menyajikan acara yang berbau ilmiah dan berbau sains dan teknologi . Atau Filipina yang menyiarkan hasil penelitian-penelitian para penelitinya melalui radio. &lt;br /&gt;Di Indonesia, hasil teknologi umumnya masih terpusat pada basis Internet. Padahal, baru sebagian kecil rakyat Indonesia yang memiliki akses ke Internet. Kalau hal ini diteruskan, bisa-bisa inovasi dan perkembangan teknologi yang menunjang kualitas lingkungan itu tidak dapat diketahui oleh daerah-daerah lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Keberadaan AFTA perlu diakui dengan lapang dada bahwa akan mengancam kualitas lingkungan Indonesia. Namun, jangan lalu, Indonesia melepaskan kesempatan emas ini. Inovasi dan mengembangkan Iptek adalah jalan alternatif yang tepat. Di satu sisi, Indonesia tetap dapat mengikuti AFTA, dan di sisi lain, kualitas lingkungan akan tetap terjaga. Ada sekian banyak perkembangan dan inovasi teknologi yang dapat digunakan untuk menunjang peningkatan kualitas lingkungan. Namun, semuanya bergantung pada manusia, sang inovator sekaligus operatornya. Mampukah manusia terus mengadakan inovasi Iptek yang berunsurkan sustainable development, ecodevelopment dan disemangati oleh moral lingkungan hidup? Mampukah manusia menjadi operator-operator teknologi yang bijaksana? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tinjauan Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi (tahun depan -pen.), Indonesia akan memasuki masa diberlakukannya AFTA di seluruh negara ASEAN. Hal ini merupakan wujud negara-negara ASEAN dalam turut mengikuti arus globalisasi. Dengan AFTA, ASEAN berharap dapat menyaingi pasar RRC dan membentuk pasar internal yang lebih solid. Lalu, bertitik tolak dari hal ini, negara-negara ASEAN dapat meningkatkan kemakmurannya. &lt;br /&gt;Diberlakukannya AFTA akan memberi imbas yang, memang, positif; namun, juga negatif, terutama mengancam kualitas lingkungan hidup Indonesia. Obsesi membangun dapat meracuni manusia-manusia Indonesia sehingga mengabaikan pertimbangan-pertimbangan ekologis. Selain itu, tuntutan AFTA berupa efisiensi dan efektivitas yang tinggi dapat mendorong manusia gelap mata dan melupakan pertimbangan-pertimbangan lingkungan. Konsumsi BBF terutama oleh sektor listrik dan transportasi akan meningkat pesat, dan ini akan memberi imbas negatif pada lingkungan, karena BBF dapat menyebabkan polusi. Sebagai negara agraris, sektor agraria Indonesia akan semakin dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar, sekaligus dapat bersaing. Lalu, kecenderungan yang ada adalah berusaha memenuhi target itu dengan menggantungkan pada berbagai macam bahan kimia.  Sektor hukum lingkungan, karena itu semua, akan tertantang. Ada banyak sekali kasus-kasus yang menggambarkan masih lemahnya hukum lingkungan Indonesia. &lt;br /&gt;Di sisi lain, keberadaan AFTA akan mendatangkan modal yang cukup untuk tetap mempertahankan lingkungan, yaitu akselerasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Di pihak lain, popularitas isu-isu lingkungan semakin meningkat, dan ini akan semakin baik lagi pada masa AFTA. &lt;br /&gt;Dalam usaha mengembangkan dan menginovasi Iptek, diperlukan prinsip utama dan semangat dasar yang melandasi usaha-usaha pengembangan dan inovasi Iptek supaya yang dihasilkan tetap berwawasan lingkungan. Prinsip utamanya adalah sustainable development dan ecodevelopment. Sementara itu, keduanya harus dijiwai oleh semangat dasar moral (etika) lingkungan hidup. &lt;br /&gt;Ada sekian banyak Iptek yang dapat dikembangkan dan diinovasi sehingga menunjang pengembangan kualitas lingkungan hidup. Baik melalui teknologi eko-efisien, inovasi di bidang renewable energy. Inovasi di bidang teknologi transportasi juga diperlukan. Selain itu,     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ---. Ancaman Global terhadap Keselamatan Hutan. WALHI. 10 April 2002 (www.walhi.com)&lt;br /&gt;2. ---. Free Trade Area to boost co-operation. China Daily. 17 Mei 2002. www.china-daily.com&lt;br /&gt;3. ---. Hiroyuki Yoshino: Delivery, Tenaker, Titik Lemah Indonesia. Www.satulelaki.com&lt;br /&gt;4. ---. Izin Pengeboran Tak Sesuai Kenyataan. KOMPAS. 1 November 2002 &lt;br /&gt;5. ---. Pembangunan Pabrik Semen atau Konservasi Kawasan Karst. Kompas. 1 November 2002&lt;br /&gt;6. ---. Pertanian Organik Kurangi CO2. Kompas. 24 November 2002&lt;br /&gt;7. ---. Prinsip Pendinginan Baru dengan Medan Magnet. Kompas. 25 Mei 1997&lt;br /&gt;8. ---. Status Ikan Karang dan Karang Hidup di Indonesia. IMA-Indonesia. www.ima-indo.org/Indonesia/mozaik/geo01.html&lt;br /&gt;9. ---. Surfing The Third Wave. www.walhi.com &lt;br /&gt;10. ---. Southeast Asian Free Trade Area Begins Quietly But Has Potential. 4 Januari 2002. www.aftaonline.com&lt;br /&gt;11. Brown, Lester R. (Editor). 1993. Jangan Biarkan Bumi Merana. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia&lt;br /&gt;12. Chang, William, Dr., OFMCap. 2001. Moral Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Kanisius&lt;br /&gt;13. Ginting, Longgena. PrepCom IV dan Privatisasi: ‘Pembangunan Berkelanjutan’. www. walhi.com&lt;br /&gt;14. Hariadi, Untoro dan Arizal. Memanfaatkan Tenaga Matahari di Tengah Krisis Listrik. Energi. No. 17. November-Desember 2002&lt;br /&gt;15. Harun, Nadjamuddin dan Palantei, Elyas.  Consideration on the Development of Utilizing Renewable Energy for Electricity Generation in Remote Agreements as Substitution of Fossil Energy Resources. Energi. No. 17. September-November 2002&lt;br /&gt;16. Helianti, Is. Memasyarakatkan Iptek , Belajar dari Jepang. Kompas. 16 November 2001&lt;br /&gt;17. Heroepoetri, Arimbi, S.H. LL.M. Peran Serta Masyarakat dalam Penegakan Hukum Lingkungan. Jurnal Hukum Lingkungan. Tahun I No. 1/1994&lt;br /&gt;18. Institute for Policy Studies, Halifax. The World Bank and the G-7: Changing Earth’s Climate for Bussiness. August 1997. USA: Institute for Policy Studies&lt;br /&gt;19. Jemadu, Aleksius. Globalisasi: Antara Tantangan dan Peluang. Kompas. 12 Desember 2000&lt;br /&gt;20. Murti, Krisna. 2002. Pemanasan Global (A Nutshell). Magelang: SMU Seminari Mertoyudan&lt;br /&gt;21. Ozone Action Roundtable. 2000. Global Warming. www.semcog.org/ozoneaction&lt;br /&gt;22. Poespowardojo, Soerjanto (Editor). 1994. Pendidikan Wawasan Kebangsaan. Jakarta: Grasindo&lt;br /&gt;23. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. 1479K/Pid/1989, tertanggal 20 Maret 1993&lt;br /&gt;24. Prasidono, dkk. Yang Tenggelam setelah Air Surut. Tempo. 17 Februari 2002&lt;br /&gt;25. Prawirohartono, Slamet, dkk. 1991. Biologi 3A. Jakarta: Erlangga&lt;br /&gt;26. Pratiwi, D.A. 2001. Biologi 3. Jakarta: Erlangga &lt;br /&gt;27. Rulianto, Agung, dkk. Basah di Hulu, Banjir di Jakarta. Tempo 17 Februari 2002&lt;br /&gt;28. Santosa, Mas Achmad, S.H. LL.M. Penegakan Hukum Lingkungan: Kajian Praktek dan Gagasan Pembaruan. Jurnal Hukum Lingkungan. Tahun I No. 1/1994 &lt;br /&gt;29. Soemarwoto, Otto. Potret Suram Lingkungan Hidup Indonesia, “Adakah Jalan Keluarnya?”. CIDES (Center for Information and Development Studies). 23 April 2001 (www.parwa.co.id/cides-online/)&lt;br /&gt;30. Soemarwoto, Otto. 1992. Indonesia Dalam Kancah Isu Lingkungan Global. Jakarta: Gramedia&lt;br /&gt;31. Soemarwoto, Otto. Teknologi Eko-Efisien. Kompas. 14 Agustus 1999&lt;br /&gt;32. Sumbogo, Priyono, dkk. Dan Banjir Tak Bisa Ditolak. Forum. 10 Februari 2002&lt;br /&gt;33. Syamsuri, Istamar, dkk. 2000. Biologi 2000. Jakarta: Erlangga&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lampiran&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188943407179484?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188943407179484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188943407179484' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188943407179484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188943407179484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2003/10/inovasi-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi.html' title='Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Menunjang Peningkatan Kualitas Lingkungan dalam Menghadapi AFTA 2003'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188908005191642</id><published>2003-07-13T05:37:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:38:05.136-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Menopang Nasionalisme Generasi Muda</title><content type='html'>Jika dipikirkan secara seksama dengan sedikit kreativitas dalam mengutak-atik pemahaman, rasanya mempertahankan eksistensi sebuah tim sepak bola serupa tapi tak sama dengan mempertahankan eksistensi sebuah negara. Dalam kesempatan ini, secara khusus saya akan membahas mengenai negara bangsa alias nation state, yang mengakui bahwa negara bangsa adalah milik bangsa, bukan perseorangan; jadi bisa dapat dikatakan pula berdasarkan demokrasi. Mengapa saya menyatakan bahwa keduanya serupa? Setidaknya ada dua gagasan yang melatarbelakangi pemikiran ini sekaligus menjadi dua unsur utama yang hendak saya bagikan pada kesempatan ini. &lt;br /&gt;Pertama, mempertahankan keberadaan sebuah tim sepak bola dibutuhkan suatu regenerasi. Pemain-pemain yang sudah tua dan layak gantung sepatu mau tidak mau harus dipensiunkan. Lalu, diganti dengan pemain-pemain muda yang berbakat dan berpotensi. Regenerasi bukan hanya demi mempertahankan sebuah eksistensi, lebih dari itu, regenerasi juga berarti kesempatan untuk mewujudkan ambisi sebuah tim, menjuarai sebuah kompetisi misalnya. Seperti layaknya sebuah tim sepak bola, sebuah negara bangsa juga mau tidak mau harus terus beregenerasi demi eksistensinya sebagai sebuah negara bangsa. Namun, bagi sebuah negara bangsa regenerasi dilakukan terhadap seluruh generasi mudanya. Sebab mau tidak mau, yang tua akan kehilangan kompetensinya dalam menopang negara bangsa akibat segi fisik yang makin menurun seiring dengan bertambahnya usia. Karena itulah, generasi muda memiliki posisi yang penting dan menjadi poros bagi punah atau tidaknya sebuah negara. Selain itu, juga seperti layaknya sebuah tim sepak bola, generasi muda menjadi harapan terwujudnya cita-cita sebuah negara. &lt;br /&gt;Kedua, mempertahankan sebuah tim sepak bola dibutuhkan rasa kesatuan sebagai tim. Harus seperti itu karena sepak bola bukanlah permainan antar individu melainkan antar kelompok. Esensi bermain sepak bola adalah bermain dalam tim. Jadi sikap yang dibutuhkan bukan sikap egoistik melainkan sikap mau bekerjasama. Perasaan kesatuan ini hendaknya dimiliki oleh setiap unsur dari tim sepak bola tersebut, termasuk para offisial dan manajernya. Begitu pula dengan sebuah negara, mempertahankan integritas sebuah negara bangsa diperlukan rasa kebangsaan alias nasionalisme. Integritas sebuah bangsa tidak akan bisa dipertahankan dengan kekerasan atau lewat jalan militer, kalaupun ada yang seperti itu, integritas yang terbentuk sangatlah rapuh. Jadi yang penting adalah membentuk rasa kebangsaan itu. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mewujudkan rasa kebangsaan. Dalam pembahasan ini, saya akan menekankan pentingnya unsur pendidikan dalam proses menumbuhkan rasa kebangsaan alias nasionalisme. &lt;br /&gt;Dari dua kesamaan yang menjadi dasar pengungkapan loncatan ide ini, dapat dilihat adanya hubungan yang erat dan nyata, yaitu antara “generasi muda” dengan “pendidikan”. Dan keduanya menjadi perhatian utama dalam usaha mempertahankan integritas sebuah negara bangsa.  Mengapa? Secara gamblang, rentang waktu yang disebut masa “generasi muda” itu adalah “masa pendidikannya”. Sebaliknya, “masa pendidikan” terutama diikuti oleh para “generasi muda”. Dan masa pendidikan ini dilihat sebagai sebuah kesempatan dan sarana untuk menumbuhkan rasa nasionnalisme dalam diri generasi muda yang notabene menjadi stake holders-nya (baca: anak didiknya).&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan dari pengantar ini, saya akan memberikan dua poin penting. Pertama, rasa kesatuan atau kebangsaan atau nasionalisme adalah penting demi mempertahankan integritas sebuah negara bangsa; tentunya tanpa mengabaikan regenerasi. Tapi, pada kesempatan ini, saya menjuruskan pemikiran saya pada masalah nasionalisme karena adanya realitas yang memperlihatkan bahwa rasa nasionalisme yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia itu tampaknya sudah dianggap tidak relevan lagi; non sense . Lebih parahnya lagi, banyak dari yang berpendapat seperti itu adalah generasi muda, "a generation who will one day become our national leader" begitu kata Benjamine Fine dalam bukunya 1.000.000 Deliquents .  Padahal, sekali lagi, nasionalisme itu kunci integritas suatu negara bangsa. Tampaknya berbagai konflik dari berbagai daerah yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, sudah menjadi suatu bukti yang jelas bahwa nasionalisme Indonesia sudah pudar. Semangat yang dulu begitu menggebu-gebu dari founding fathers (baca: para bapa-bapa bangsa) kita dan terejawantah dalam Sumpah Pemuda serta pergerakan perjuangan selanjutnya seakan-akan hilang termakan waktu; tidak diteruskan.&lt;br /&gt;Kedua, jadi dibutuhkan suatu usaha untuk merevitalisasi sense of nationalism dalam diri generasi muda pada khususnya, sebagai calon penerus bangsa. Salah satu cara yang dianggap mengena adalah jalur pendidikan karena masa generasi muda merupakan masa belajar. Perlu diperhatikan pendidikan yang akan sering muncul dalam bahasan ini adalah pendidikan dalam arti formal. Sayangnya, realitas yang ada tampaknya mereduksi semangat revitalisasi karena realitas pendidikan di Indonesia masih tergolong jelek, bahkan majalah Hidup dalam tajuk rencananya mengungkapkan bahwa pendidikan di Indonesia tergolong kelas kambing . &lt;br /&gt;Dari kedua kesimpulan besar diatas, saya terdorong untuk sekedar membagikan ide-ide baik dari pengalaman maupun dari sumber referensi saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme Generasi Muda&lt;br /&gt;Sebelum masuk pada bagian inti, rasanya perlu kalau pemahaman akan nasionalisme diperjelas kembali. Seperti yang telah diungkapkan dalam pengantar singkat diatas, nasionalisme amatlah penting kalau bangsa kita mau bertahan. Tapi pertanyaan yang kemudian muncul adalah nasionalisme macam apa yang hendak dipupuk. Untuk menjawab pertanyaan ini kiranya penting jika kita melihat ke belakang; meninjau ulang perjalanan sejarah bangsa ini (baca: bangsa Indonesia). Harus begitu karena nasionalisme founding fathers kita itu adalah nasionalisme yang masih fresh dan belum tercampur apa-apa. Bak ayam goreng yang baru saja matang; aromanya menggugah selera. Kiranya ada tiga poin penting yang menjadi ciri khas nasionalisme mereka.  nasionalisme mereka. &lt;br /&gt;Pertama, nasionalisme mereka adalah nasionalisme yang didasari oleh rasa sukarela dan tulus. Tidak ada satu pun yang merasa terpaksa untuk menganut nasionalisme. Justru pemaksaan itu dihindari. Ini tercermin dalam cara yang mereka (baca: para nasionalis) lakukan dalam bertukar pikiran dan menentukan pendapat, yaitu dengan berdialog, bahkan hingga berdebat, tapi debat yang dilakukan sama sekali tidak mempengaruhi rasa kesatuan mereka. &lt;br /&gt;Selanjutnya, nasionalisme mereka adlah nasionalisme yang berorientasi pada nilai. Bagi mereka, bersatu bukanlah suatu tujuan melainkan sarana. Tujuan utama mereka amatlah luhur, yaitu keutamaan manusiawi. Sebagai contoh konkret, baiklah kita mengambil contoh ungkapan generasi '28 yang diwakili Mohammad Yamin: "...menyumbang pada kebudayaan dunia dan dunia universal." Atau bahasa generasi '45: "...ingin melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab dan keadilan sosial..."&lt;br /&gt;Terakhir, nasionalisme para nasionalis itu adalah nasionalisme yang dewasa. Manifestasi dari ciri ini adalah sikap mereka yang tidak meremehkan harkat dan martabat bangsa lain. Hal itu juga tampak dalam perang pasca-kemerdekaan, para bapa bangsa kita itu lebih mendahulukan cara damai melalui usaha-usaha diplomasi dan perundingan daripada cara perang. Para bapa bangsa kita itu tidak sampai pada sikap nasionalisme yang ekstreme berupa chauvinisme atau bahkan jinggoisme. &lt;br /&gt;Rasanya amatlah penting jika nasionalisme generasi muda Indonesia itu mengadopsi ketiga karakteristik dari nasionalisme para bapa bangsa kita itu. Karakteristik nasionalisme seperti itu sudah terbukti dapat mempertahankan eksistensi bangsa Indonesia walau ditekan oleh kekuatan asing, menjadi dasar semangat bangsa Indonesia dalam berjuang  dan bahkan bisa mengantarkan bangsa Indonesia mencapai cita-citanya, yaitu kemerdekaan. &lt;br /&gt;Pendapat yang mengatakan bahwa nasionalisme tidak relevan lagi adalah amat salah. Sekarang pun nasionalisme penting. Tanpa itu bangsa kita sudah lenyap dari muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari Sejarah&lt;br /&gt;Kita mulai pemahaman ini dari suatu pemahaman dasar bahwa setiap bangsa terformat dari pengalaman bersama di masa lampau. Bahkan suatu ungkapan yang amat sering kita dengan pun mendukung pemahaman ini: experience is the best teacher. Jadi terminologi "belajar dari sejarah" bukahlah hal yang sepele, justru sebaliknya lewat sejarah itulah identitas seorang warga negara diperkokoh. Pelajaran sejarah memberikan jawaban atas pertanyaan mendasar: "siapakah aku?"; "Siapakah bangsa Indonesia?"&lt;br /&gt;Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo mengungkapkan demikian: "Tidak perlu disangsikan lagi bahwa pengajaran sejarah memiliki tujuan menanamkan kesadaran nasional. Kesadaran nasional akan tumbuh melalui perkembangan politik nasional dengan gerakan-gerakan partai-partai politik yang mempunyai tujuan nasional; memupuk patriotisme degnan lambang-lambang nasional, seperti bendera, lagu kebangsaan, mata uang, dan sebagainya. Sudah tentu sejarah nasional mempunyai fungsi penting dalam soal perkembangan identitas nasional." &lt;br /&gt;Seorang siswa akan mengerti bagaimana sulitnya merebut kedaulatan dengan penjajah yang begitu licik, apalagi dengan persenjataan yang jauh lebih baik. Ia juga akan memahami bagaimana proses integrasi bangsa ini, dari suatu archipelago dengan berbagai kerajaan, hingga terbentuk yang namanya hindia Belanda, Pax Nerlandica, RIS, hingga akhirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seorang siswa juga akan belajar memahami bagaimana usaha-usaha pemberontakan itu mau meluluhkan cita-cita negara kesatuan. Semuanya itu akan membentuk suatu penghargaan alias appreciation akan bangsanya (baca: bangsa Indonesia). Afeksi dari seorang siswa niscaya akan tergugah  tatkala ia mengerti bagaimana para pendahulunya berjuang hingga titik darah penghabisan demi suatu tujuan yang mulia yaitu demi kesejahteraan hidup para generasi selanjutnya. &lt;br /&gt;Itulah sebabnya mengapa pada zaman kolonial hampir-hampir tidak ada pelajaran sejarah Indonesia. Malahan, yang diberikan pada siswa-siswi saat itu -termasuk para inlander- adalah Vaderlandse Geschiedenis (baca: Sejarah Tanah Air), yaitu pelajaran sejarah mengenai negeri Belanda. Pelajaran sejarah itu tampak sekali mengabaikankan peran tokoh-tokoh pribumi. Dalam buku sejarah karangan W.F. Stapel, yang ditonjolkan adalah para tokoh-tokoh Belanda dan para Gubernur Jendral.  Seolah-olah para tokoh pribumi hanyalah figuran yang tidak ada artinya. Bahkan, pelayaran Cornelis de Houtman ke Banten (1596) menjadi salah satu peristiwa yang dianggap mengawali zaman modern, tanpa menjelaskan keramaian perdagangan sejak ratusan tahun sebelumnya. Dengan begitu, para inlander tidak akan memiliki rasa nasionalisme, sebaliknya justru bingung akan identitasnya. &lt;br /&gt;Namun tidak hanya itu, harus ada reformasi dalam pelajaran sejarah. Jangan sampai pelajaran sejarah menekankan penghapalan tahun, peristiwa, dan tokoh-tokoh saja. Namun lebih dari itu, pelajaran sejarah harus menjadi sarana para anak didik untuk menemukan identitasnya sebagai seorang warga negara Indonesia. Selanjutnya, pelajaran sejarah juga harus sampai pada pemahaman akan nilai-nilai reflektif yang terkandung dalam sejarah bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi Pancasila&lt;br /&gt;Suatu hal yang amat disayangkan karena orang sudah mulai anti terhadap refleksi Pancasila. Salah satu usaha dalam rangka itu adalah maraknya pendapat-pendapat bahwa pelajaran PPKn harus ditiadakan. Padahal sikap batin yang telah terwujud itu merupakan suatu refleksi dan rangkuman pengalaman historis Indonesia. Lebih lagi, ideologi ini sudah terlanjur dijadikan falsafah, dasar dan norma umum kehidupan bangsa Indonesia. Hanya saja, ideologi ini menjadi terkesan buruk tatkala orde baru berkuasa atas bumi Indonesia. Pada masa itu, usaha-usaha indoktrinasi lewat P4 dan PPKn amat tampak jelas menjadi metode pengajaran Pancasila. Dan karena dilakukan melalui suatu proses indoktrinasi, suatu proses yang hanya mementingkan kuantitas bahan dan hasil, Pancasila hingga kini masih sebatas hafalan, dan belum tercermin dalam kehidupan nyata. Tampak jelas pemahaman Pancasila hanya sebatas kulitnya saja, tidak mendalam. &lt;br /&gt;Dalam usaha merevitalisasi "refleksi Pancasila", diperlukan suatu pemahaman terlebih dahulu mengenai latar belakangnya, sesuai yang dikatakan Bung Hatta (1978): "...maka Pancasila itu perlu dipahami sejarah pembentukannya. Dengan mengetahui itu, akan terasa makna dan tujuannya."  Selanjutnya karena P4 telah ditiadakan, tampaknya PPKn dapat menjadi solusi yang tepat. Walaupun sebenarnya penataran P4 itu baik asal tidak dengan metode indoktrinatif. Sayangnya lagi, hingga saat ini, banyak siswa yang menganggap PPKn sebagai pelajaran yang membosankan. Karenanya, perlu diperhatikan bahwa pengajaran PPKn haruslah aktual, fleksibel, dinamis, kontekstual dan lebih mengutamakan metode dialog dan diskusi daripada ceramah. Bersifat aktual, artinya nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan suatu pengandaian. Bersifat fleksibel, artinya tidak terlalu tegang dan terikat pada buku paket, bisa dari koran atau sumber referensial yang lain. Bersifat dinamis, artinya sesuai dengan perkembangan jaman. Bersifat kontekstual, artinya sesuai dengan konteks lingkungan dan sistem sosial yang ada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188908005191642?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188908005191642/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188908005191642' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188908005191642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188908005191642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2003/07/pendidikan-menopang-nasionalisme.html' title='Pendidikan Menopang Nasionalisme Generasi Muda'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188644777936894</id><published>2003-06-17T04:53:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T04:54:07.836-08:00</updated><title type='text'>Menyelami dan Memaknai Kearifan Borobudur: Belajar tentang Hidup</title><content type='html'>(Secuil Permenungan mengenai Eksistensi Candi Borobudur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Borobudur merupakan kebanggaan tersediri bagi bangsa Indonesia. Arsitekturnya khas, berbeda dengan bangunan kontemporer masa Hindu-Budha pada akhir abad ke-8 dan awal abad ke-9. Di dalamnya tidak terdiri atas serangkaian bangunan suci di ruang bawah, atau alas, seperti pada Candi Prambanan; melainkan terdiri atas sebuah punden berundak-undak raksasa. Lebih dari sekedar keajaiban arsitektur itu, Borobudur menyimpan kearifan tersendiri yang layak diselami dan dimaknai oleh manusia-manusia Indonesia yang akhir-akhir ini di deru berbagai masalah. Sayangnya, Borobudur seringkali hanya diperlakukan sebagai tumpukan batu mati. Separah itukah?  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bergeming di Tengah Deru Zaman&lt;br /&gt;Di tengah kesemrawutan dunia ini, Candi Borobudur hanya bergeming. Tendensi kehidupan manusia memang selalu dipenuhi oleh polemik dan konflik yang tidak sehat. Dan tendensi ini semakin memburuk saat zaman globalisasi yang semakin menghembuskan nafas hedonisme serta semangat individualisme hingga ke pedalaman hati manusia Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Borobudur bisa bercerita, ia pasti akan menguraikan panjang lebar mengenai hal itu. Bahkan sekarang pun, di sekelilingnya banyak masalah-masalah ada: mulai dari konflik pedagang atau pengasong, ketidakpuasan pengunjung, keinginan pihak pengelola yang selalu bertentangan dengan masyarakat, kesemrawutan lalu lintas, dan belum ada kesepahaman antara tempat ibadah dengan sebuah kawasan wisata yang profit-oriented.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai masalah itu muncul silih berganti, seakan tidak memperdulikan tentang keberadaan Borobudur. Lagi-lagi, saya katakan, Borobudur hanya dipandang sebagai tumpukan batu yang tidak bernyawa dan tidak bermakna. Kalau Anda tidak percaya, datanglah ke sana. Hitung berapa banyak pengunjung yang mampu menguraikan makna arsitektur Borobudur, sejarah singkat mengenai Borobudur, atau setidaknya arti kata Borobudur ! Niscaya persentasenya amat sedikit (baca: sangat memprihatinkan). Hitung berapa banyak orang yang tahu bahwa pintu masuk utama terletak di bagian tengah tampak timur! Terutama pada masa liburan, bahkan anak-anak sekolah hanya datang ke Borobudur hanya untuk bersenang-senang (dan juga mewariskan sampah). &lt;br /&gt;Sekali lagi, Borobudur hanya bergeming. Memang, hanya itulah yang mampu ia lakukan. Kitalah (baca: manusia Indonesia) yang mampu menyelami dan memaknai keberadaannya, bukan hanya demi Borobudur, tapi lebih-lebih demi kebaikan manusia Indonesia yang tampaknya memerlukan pelajaran tentang hidup sehingga dapat mewujudkan bumi Indonesia yang serasih dan nyaman.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar tentang Kearifan Hidup &lt;br /&gt;Tenang-tenang menghanyutkan, demikianlah kiranya gambaran mengenai Borobudur. Di balik ketenangannya, Borobudur menyimpan kearifan yang mendalam mengenai kehidupan manusia. Sayangnya, hanya sedikit yang mengetahui hal ini, dan meaplikasikannya ke dalam kehidupan real.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudur terdiri dari sepuluh tingkat. Bentuk ini merupakan tiruan alam semesta. Alam semesta, menurut filsafat agama Budha, terdiri dari tiga bagian besar, yaitu, Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Kamadhatu terletak pada bagian kaki; Ruphadhatu di gambarkan pada empat tingkat selanjutnya, kemudian diselingi oleh satu tingkat peralihan; kemudian tingkat Arupadhatu digambarkan oleh tiga tingkat selanjutnya berberbentuk bundar melingkar serta tingkat teratas berupa stupa induk. &lt;br /&gt;Kamadhatu adalah alam bawah tempat manusia biasa hidup. Letaknya ada di bagian kaki (tingkat pertama). Sayangnya, bagian ini sudah tidak dapat dilihat lagi karena bagian ini sudah ditopang oleh 11.600 meter kubik batuan. Batuan ini menutupi bagian Kamadhatu  ketika bangunan itu longsor sebelum pembangunannya rampung. Untunglah, J. W. Ijerzam, pada tahun 1885, menemukan bagian ini dan sempat menggambarkannya. Bagian ini berisi 160 relief yang menggambarkan adegan yang menggambarkan hukum Karma.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruphadhatu adalah alam antara tempat manusia meninggalkan segala keduniawian. Di Borobudur, penjelasan tentang hal itu terdapat di empat tingkat berbentuk bujur sangkar yang merupakan lorong-lorong. Tiap lorong ditutup pagar langkan (pagar yang membatasi tiap tingkat/lorong). Pada tiap dinding lorong serta pagar langkan terdapat relief yang mengandung cerita tentang kehidupan sang Budha di masa lalu, perjalanan Sang Budha di Surga sampai pada pertamakalinya beliau mengajar Budha Dharma di taman Lumbiri, perjalanan Bodhisattwa Sudhana yang berkelana untuk berguru ke macam-macam orang sehingga mencapai pengetahuan tertinggi, dan masih banyak lagi cerita-cerita yang penuh dengan nilai-nilai moral tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arupadhatu adalah alam atas tempat diam para dewa. Sebelum sampai ke tingkat Arupadhatu, orang harus melewati tingkat yang disebut tingkat peralihan. Pada tingkat Arupadhatu, yaitu tiga tingkat teratas yang berbentuk lingkaran berserta stupa teratas, sama sekali tidak terdapat relief atau hiasan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsitektur ini  menggambarkan usaha sang Budha mencapai Arupadhatu. Keberadaan Borobudur seharusnya menjadi sumber refleksi bagaimana manusia mencapai Arupadahtu, dalam artian umum, mencapai kebahagiaan sejati. Seperti dalam bahasa Aristoteles: eudaimonia  – yang kemudian disejajarkan dengan etika rasa slamet jawa oleh Magnis Suseno dalam bukunya Etika Jawa (2001:217). Jadi hidup ini sepenuhnya demi kebahagiaan yang eternal, surgawi. Dalam hal ini berarti bertolakbelakang dengan kenyataan tendensi manusia (Indonesia) zaman sekarang yang banyak diwarnai oleh keserakahan, kekerasan. Korupsi merajalela, perebutan kedudukan dengan curang ada dimana-mana; seakan sifat-sifat KKN memang telah menjadi bagian dari DNA manusia (Indonesia). Pelajar menyontek atau mahasiswa plagiator sudah menjadi tradisi dalam dunia persekolahan Indonesia. Berita-berita mengenai pemerkosaan, penganiayaan, pem-bacok-an, perampokan, pembunuhan, dan banyak kejadian mengerikan lagi selalu mewarnai media massa. Dan kita hanya menerima berita-berita itu seakan sudah terbiasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, manusia Indonesia belajar mengenai kearifan hidup melalui Borobudur. Dengan menelusuri perjalanan sang Budha semenjak masih terkungkung dalam alam kamadhatu hingga ke rupadhatu, sampai puncaknya pada tingkat arupadhatu. Tentunya tidak begitu saja dengan mudah sang Budha mencapai tingkat tertinggi. Dari relief-relief yang dipenuhi nilai-nilai moral kehidupan, seharusnya manusia Indonesia banyak belajar bagaimana harus menjalani hidup secara arif.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang Sudi Berguru pada Borobudur?&lt;br /&gt;Borobudur, ditengah-tengah terpaan deru zaman dan gelombang masalah yang bertubi-tubi, tetap menyimpan kearifannya. Kini, pertanyaan yang tersisa adalah adakah manusia-manusia (terutama manusia Indonesia) yang sudi berguru pada Borobudur. &lt;br /&gt;Sudahkah ada pengunjung yang melangkah mengitari candi lalu menangkap pergulatan hidup sang Budha berjuang dari tahap hidup yang masih terkungkung kama (nafsu liar) hingga ke puncak tertinggi arupadhatu – digambarkan dari tingkat yang penuh dengan relief dan hiasan hingga makin sederhana dan akhirnya habis, tanpa aksesoris: Budha tanpa pakaian istana dikelilingi batu-batu tanpa ukiran? Akan menjadi sesuatu yang amat disayangkan jika kearifan Borobudur tidak diselami dan dimaknai, dan Borobudur hanya dianggap batu tak bernyawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudur tidak hanya milik para penganut agama Budha, bukan pula milik warga kabupaten Magelang. Borobudur adalah miliki kita semua (semua yang merasa sebagai homo sapiens) –dalam kerangka ini saya tetap menekankan peran serta manusia Indonesia. Sudah selayaknya manusia -yang juga disebut homo significans - tidak hanya membiarkan Borobudur menjadi tumpukan batu mati. Ada banyak kearifan yang bisa digali dan dimaknai dari Borobudur. Kalau begitu, bahkan masalah-masalah seperti konflik pedagang, keluhan pengunjung, tidak adanya kesepahaman antar  antara tempat ibadah dengan sebuah kawasan wisata, dsb tidak perlu terjadi. Kenapa? Karena berawal dari penyelaman reflektif eksistensi Borobudur, kearifan pelajaran tentang hidup itu dapat diaplikasikan untuk mewujudkan bumi yang nyaman dan tentram, persis seperti alam arupadhatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekali lagi: adakah yang sudi berguru pada Borobudur? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertoyudan, 6 Juni 2003,&lt;br /&gt;Antonius Krisna Murti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188644777936894?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188644777936894/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188644777936894' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188644777936894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188644777936894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2003/06/menyelami-dan-memaknai-kearifan.html' title='Menyelami dan Memaknai Kearifan Borobudur: Belajar tentang Hidup'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188850904589545</id><published>2003-01-14T05:27:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:28:29.096-08:00</updated><title type='text'>Signifikansi Pelajaran PPKn</title><content type='html'>Kala pelajaran PPKn berlangsung, umumnya, suasana kelas lesu, tidak bersemangat. Pasalnya, PPKn, selama ini, dianggap sebagai pelajaran yang mboseni, tidak menarik, dan bahkan, tidak relevan lagi. Ngerinya lagi, ada tanggapan bahwa PPKn dihapuskan saja. &lt;br /&gt;Padahal, sebenarnya, pelajaran PPKn itu memiliki peran penting yang tidak tergantikan oleh pelajaran lain. Hebatnya lagi, tidak semua negara memberlakukan pelajaran semacam PPKn. Benarkah PPKn memiliki posisi yang signifikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunjang Demokratisasi&lt;br /&gt;Pada hakekatnya, PPKn adalah pelajaran penunjang demokratisasi. Dalam PPKn didapatkan pelajaran politik seorang warga negara. Dengan adanya PPKn tata cara, nuansa, dan nilai-nilai positif demokrasi Pancasila dibina semenjak Warga Negara Indonesia (WNI) masih berusia dini. Ia akan mengetahui hak-haknya, kewajiban-kewajiban, dan larangan-larangannya sebagai WNI. Diharapkan kelak, saat ia dewasa nanti, ia akan memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai demokrasi di Indonesia dan mampu berperan secara positif demi kemajuan dan pembangunan bangsa. &lt;br /&gt;Jadi intinya, keberadaan PPKn menunjang usaha-usaha demokratisasi. Tanpa keberadaan PPKn bisa-bisa generasi depan tidak memiliki pengetahuan dan wawasan demokrasi yang memadai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi Pancasila&lt;br /&gt;Pancasila adalah falsafah, dasar, sekaligus norma umum kehidupan bangsa Indonesia. Melihat itu, diperlukan sosialisasi Pancasila. PPKn adalah wadah yang tepat dalam usaha sosialisasi Pancasila. Dalam kerangka sosialisasi ini, hakekatnya, PPKn tidak hanya semata memberi materi tentang Pancasila, tapi yang terpenting, PPKn memberikan refleksi Pancasila.&lt;br /&gt;Ingat, bung Hatta pernah berkata: “... maka, Pancasila itu perlu dipahami sejarah pembentukannya. Dengan mengetahui itu, akan terasa makna dan tujuannya.” Refleksi Pancasila yang disumbangkan melalui PPKn akan memaknai Pancasila sehingga Pancasila bukan semata-mata menjadi pajangan, melainkan menjadi bagian dari hidup setiap WNI.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode Baru&lt;br /&gt;Jadi, sekarang, semuanya sudah jelas, PPKn memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Karenanya tidak sepantasnya PPKn dianggap tidak relevan dan bahkan, dihapuskan. Respon negatif semacam itu muncul karena metode penyampaian pelajaran PPKn tidak tepat dan tidak mengena di kalangan anak didik. &lt;br /&gt;Yang perlu dibenahi adalah metode penyampaian pelajaran PPKn. Pembelajaran PPKn harus bersifat aktual, fleksibel, dinamis, kontekstual, dan lebih mengutamakan metode dialog dan diskusi daripada ceramah. Aktual berarti nyata dan masih hangat dalam kehidupan sehari-hari, bukan suatu pengandaian. Bersifat fleksibel, maksudnya tidak terlalu tegang, terpancang pada satu metode dan satu sumber buku. Dinamis, artinya sesuai dengan perkembangan jaman. Bersifat kontekstual, berarti sesesuai dengan konteks lingkungan dan sistem sosial yang berlaku. &lt;br /&gt;Jangan sampai pelajaran PPKn berkutat pada hapalan semata. Jika hanya hapalan, artinya pelajaran PPKn selama ini masih dangkal dan belum menyentuh dua fungsi utama di atas. Pelajaran PPKn harus mencapai dasar-dasar yang bersifat reflektif. &lt;br /&gt;Sekaligus dalam kerangka kurikulum berbasis kompetensi, siswa juga perlu diberdayakan. Jangan sampai model ceramah yang membosankan mendominasi metode pembelajaran PPKn. Baiknya, model yang digunakan adalah model yang membuat siswa aktif. Siswa harus mencari dan menemukan sendiri nilai-nilai demokrasi Indonesia dan hakekat Pancasila. Metode yang dipakai bisa dalam bentuk presentasi kelompok, diskusi atau dengan metode yang lebih menarik seperti metode debat.&lt;br /&gt;Sumber yang digunakan juga jangan berkutat pada sumber buku paket dari pemerintah. Itu akan menyebabkan kebosanan. Akan lebih baik jika digunakan sumber-sumber lain selain buku paket yang aktual dan menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan negatif pelajaran PPKn di mata siswa harus dihapuskan. Pada dasarnya, PPKn dapat menjadi pelajaran yang menyenangkan. Hanya saja, untuk itu diperlukan metode pendekatan pembelajaran yang tepat.&lt;br /&gt;Dari pihak siswa juga diharapkan ada respon positif akan metode baru yang ditawarkan. Sikap negative thinking terhadap PPKn harus dihindari. Sebaliknya, harus disadari peran penting PPKn dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus hijauku yang  indah nan permai, &lt;br /&gt;Mertoyudan, 5 Desember 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188850904589545?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188850904589545/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188850904589545' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188850904589545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188850904589545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2003/01/signifikansi-pelajaran-ppkn.html' title='Signifikansi Pelajaran PPKn'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188768919812992</id><published>2003-01-14T05:14:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:14:49.250-08:00</updated><title type='text'>Saat Idola menjadi Berhala</title><content type='html'>Simaklah properti kaum muda usia SLTP dan SMU, di kamarnya, di lemarinya, di meja belajarnya, di kelasnya, di dompetnya, dsb. niscaya akan ditemukan foto-foto, poster public figure yang bisa jadi aktor/aktris, penyanyi, atlet olah raga hingga tokoh kartun. Ada apa gerangan foto-foto mereka ada di sana? Anggota keluarganya? Bisa jadi, namun, kemungkinannya kecil. Orang-orang itu, tidak lain, adalah idola para muda.  &lt;br /&gt;Namun, seringkali dijumpai kejadian di mana idola menjadi alasan sehingga seorang muda berbuat negatif. Misalnya, tidak belajar, hanya demi menonton F-4 di TV. Melalaikan tugas hariannya karena pergi ke mall untuk jumpa fans, dsb. Jadi idola hanya semata-mata berhala? Baik kalau sejenak kita menyelami pemaparan berikut ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idola: Sebuah Kewajaran dan Kewajiban&lt;br /&gt;Mengapa kaum muda memiliki sosok idola dalam hidupnya? Baik kalau kita sejenak menyelami hal ini melalui pendekatan psikologis. &lt;br /&gt;Menurut teori perkembangan moral Kohlberg, masa muda ini digolongkan ke dalam tahap konvensional. Pada masa ini, kaum muda mulai sadar akan adanya dunia lain di luar dirinya. Selanjutnya, kesadaran akan adanya orang lain dan lingkungan lain yang lebih luas di luar dirinya itu diejawantahkan dalam bentuk penyesuaian. Pada masa konvensional ini, secara psikologis, seorang muda menjadi pribadi yang konformis. Nah, dalam kerangka penyesuaian inilah, ia membutuhkan sosok seorang idola. &lt;br /&gt;Menurut teori perkembangan identitas Erickson, masa muda merupakan masa kekaburan identitas, alias krisis identitas. Memasuki masa muda, muncul pertanyaan besar dalam dirinya, who am I? Selanjutnya, dalam menapaki perjalanan hidupnya mencari identitas dirinya, ia membutuhkan sosok seorang idola sebagai acuan yang akan mengarahkan dan menyemangati hidupnya.&lt;br /&gt;Jadi, kaum muda yang memiliki sosok idola dalam hidupnya merupakan suatu kewajaran, dan bahkan, bisa dikategorikan sebuah kewajiban. Melalui idola, ia dapat mencapai pribadi yang sehat, dewasa, dan tentunya, sukses.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idola menjadi Berhala?&lt;br /&gt;Bisakan idola menjadi berhala? Tentu bisa! Bahkan secara etimologis, idola berasal dari kata benda bahasa Latin, idolium yang hartinya orang halus, bayangan, hantu, arca berhala, dan berhala. &lt;br /&gt;Ketika seorang penggemar F-4 melalaikan tugasnya untuk belajar dan mengutamakan menonton Meteor Garden, padahal keesokan harinya, ia akan menghadapi ujian, ia telah menjadikan idolanya F-4 sebagai berhala. Sosok idola juga akan menjadi berhala saat seorang kakak yang menggemari sepakbola bola menonton pemain bola idamannya dengan menghiraukan permohonan adiknya yang minta pertolongannya dalam mengerjakan PR. Pada fase ini, idola tak lebih dari sebuah berhala; persis seperti berhala yang membuat orang-orang kafir mengabdikan diri padanya tanpa ada suatu kegunaanpun. &lt;br /&gt;Idola dapat menjadi berhala saat orang muda dengan idola itu bukannya terbantu dalam beradaptasi dalam kehidupan sosialnya dan menemukan identitas dirinya, tapi malahan menjelma menjadi pribadi yang egoistik dan tidak sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuai Buah dan Be Yourself!&lt;br /&gt;Wajib diingat bahwa idola itu hanyalah sebatas sebagai sarana, bukan tujuan. Melalui sosok, idola, kaum muda dapat mencapai pribadi yang sehat, dewasa, dan berhasil. &lt;br /&gt;Seorang idola akan sungguh-sungguh menjadi sosok idola saat kita telah menghayati dan memiliki nilai-nilai positif yang dimilikinya. Intinya, kita harus menuai buah-buah positif yang dimiliki oleh sosok idola kita. Selanjutnya, buah-buah itu harus mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;Jadi, janganlah kita terikat pada idola kita masing-masing supaya suatu saat, bila sosok idola kita berubah drastis ke arah negatif, kita tidak tergoncang dan jadi turut terhanyut dalam kenegatifannya. Idola berbeda dengan diri kita. Jadi, be yourself!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok idola akan berguna bila melaluinya, pribadi seorang muda dapat berkembang menuju pribadi yang sehat, dewasa, dan sukses. Nah, dengan idolamu masing-masing, sudahkah pribadimu mencapai kedewasaan dan meraih sukses? Atau, malahan, idola kita menjadi berhala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My home sweet home,&lt;br /&gt;Mertoyudan, 3 Desember 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188768919812992?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188768919812992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188768919812992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2003/01/saat-idola-menjadi-berhala.html' title='Saat Idola menjadi Berhala'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188858940650095</id><published>2002-12-20T05:29:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:29:49.500-08:00</updated><title type='text'>Restorasi Nurani</title><content type='html'>(sebuah renungan akhir tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira empat tahun lalu, mahasiswa menggelar spanduk-spanduk yang didominasi oleh kata “reformasi total” di mana-mana. Gedung MPR/DPR bahkan menjadi galeri seni rupa yang hampir semuanya bertuliskan: reformasi! Dan memang, selanjutnya, bangsa ini segera sibuk melakukan reformasi ini-itu. Tapi, kok, sampai sekarang, kondisi Indonesia masih belum lepas dari keterpurukan. Bahkan, kelihatannya, masalah-masalah yang ada bertambah rumit? Lalu, sebuah pertanyaan logis muncul: mengapa? Jawabannya: Kita membutuhkan sebuah restorasi.&lt;br /&gt;Reformasi? Semenjak 21 Mei 1998 (ditandai dengan mundurnya Soeharto), bangsa Indonesia memasuki pembabakan baru yang so-called masa reformasi. Semenjak inilah, secercah harapan muncul dari tiap nurani bangsa Indonesia akan Indonesia baru yang lebih baik, mampu lepas dari penderitaan dan mencapai kemakmuran.&lt;br /&gt;Memang betul banyak sekali perubahan yang terjadi di Indonesia semenjak frase itu menggaung di seluruh sudut Indonesia, mulai dari penerbitan dan revisi peraturan Undang-undang, hingga reformasi UUD’45. Dan banyak pula hasil yang sudah dipetik.&lt;br /&gt;Namun, walaupun sudah lebih dari empat tahun gema reformasi menggaung di Indonesia, masih ada seabrek masalah-masalah yang menggempur bahtera Indonesia ini: PHK, demonstrasi RUU, kasus suap, buloggate, rusaknya lingkungan, bom di mana-mana, dsb. Malahan krisis multidimensional ini cenderung makin parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Sebelum memahami benar maksud perlunya restorasi dalam kerangka reformasi Indonesia, baik kalau sejenak kita merefleksikan perjalanan restorasi Jepang karena restorasi macam inilah yang seharusnya juga diwujudkan di Indonesia. Persis tanggal 19 November 1867, Shogun Yoshinobu menyerahkan kepemimpinan pemerintahan Jepang kepada Tennoo (Kaisar Jepang yang oleh pandangan Shinto adalah seorang dewa Amaterasu). Selanjutnya, tanggal 14 Desember 1867, Meizi Tennoo resmi memegang tampuk pemerintahan Jepang, menandakan berakhirnya pemerintahan Bakufu yang feodalistik dan melanggar jiwa Shinto, menghantarkan Jepang pada zaman baru yang gemilang. Inilah peristiwa super-bersejarah bagi Jepang yang disebut dengan restorasi Meizi. &lt;br /&gt;Dan dalam rentang waktu 50 tahun ke depan, Jepang menjadi negara kuat dan mengerikan hebatnya, hingga negara-negara Barat pun kewalahan (Ingat kekalahan besar-besaran Rusia tahun 1905; jatuhnya Cina tahun 1931; serangan 7 Desember 1941 di Pearl Harbour; dsb). Itulah hebatnya sebuah restorasi! Tapi, restorasi yang satu ini restorasi yang serupa tapi tak sama dengan restorasi Jepang.&lt;br /&gt;Berkat restorasi Meizi, shintoisme di Jepang yang sebelumnya surut, berkembang kembali dan menjadi semangat bangsa, termasuk ajaran hakko-ichi-u. Hakko-ichi-u adalah ajaran Jimmu Tennom (Tennoo pertama, 600 SM) sebagai keturunan Ameterasu untuk membentuk kekeluargaan yang meliputi seluruh dunia, tentu saja, dengan Jepang sebagai kepala keluarganya. Titah dewa inilah yang menjadi semangat yang mendasari imperialisme Jepang. &lt;br /&gt;Identik dengan hal itu, Indonesia juga memerlukan sebuah restorasi, yaitu restorasi nurani. Hakekat bangsa Indonesia adalah bangsa dengan budaya Timur yang kuat, terkenal dengan sopan santun, tindak tanduk, dan tutur katanya. Tentu saja hal ini dipondasi oleh sikap patuh pada nurani yang kuat. Namun, makin lama, kepatuhan pada nurani ini semakin tergeser oleh ambisi buta dan terkubur oleh sifat workaholic apalagi diperparah dengan deru globalisasi yang makin mengumbar egoisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Gema reformasi di Indonesia begitu besar, menggambarkan kondisi sebuah bangsa yang baru saja lepas dari kekangan. Reformasi dinilai sebagai solusi yang paling tepat, kunci satu-satunya untuk lepas dari keterpurukan. Memasuki masa reformasi, Indonesia adalah seorang pemuda yang baru saja dilepaskan dari penjara bawah tanah, penuh dengan kotoran dan luka-luka, namun juga penuh dengan semangat untuk maju, apalagi melihat mentari globalisasi bersinar cerah. Ia memiliki 1001 macam cita-cita untuk mengembangkan potensinya demi membersihkan dirinya dan menutupi luka-lukanya. “Saya akan berbenah!” teriaknya.&lt;br /&gt;Maka, dengan semangat bertubi-tubi, ia sungguh melakukan banyak perubahan, berbenah menuju lebih baik. Demokratisasi dan transparansi disanjung-sanjung dan diusahakan. KKN dan kejahatan dikutuk. Reformasi dilaksanakan, terutama di bidang hukum dan politik. &lt;br /&gt;Sayangnya, pemuda yang bernama Indonesia ini melupakan satu hal yang paling signifikan dan substansial. Satu hal itu adalah nurani. Nurani adalah pedoman hidup yang harus (baca: conditio sine qua non) dipegang setiap homo sapiens untuk dapat hidup serasi dengan lingkungannya (dengan sesamanya dan dengan kosmos, secara keseluruhan). &lt;br /&gt;Ada tiga fungsi nurani, yaitu sebagai penunjuk (index), hakim (iudex), penghukum (vindex). Nuranilah yang menunjukkan bahwa di ujung jalan ada seorang buta hendak menyeberang dan menasehati “tolonglah ia!”. Nuranilah yang meneriakkan “Kamu telah berbuat baik, hebat!” saat Anda membantunya menyeberang jalan. Nuranilah yang memberikan perasaan lega dan bahagia sehabis Anda menuntun seorang buta menyeberang jalan.  &lt;br /&gt;Nurani dapat dianalogikan dengan segitiga sama sisi yang terus-menerus berputar dalam rongga dada kita. Saat kita (baca: manusia) hendak melakukan sesuatu (masih dalam taraf berpikir) yang tidak sesuai dengan nurani, segitiga itu akan menggesekkan sudut tajamnya dalam diri manusia, memperingatkan manusia akan perbuatan jahat yang memenuhi otaknya. Ketika manusia mengabaikan suara nuraninya, dinding hatinya mengeras hingga tidak terasa lagi gesekan segitiga. Semakin sering suara hati diabaikan, semakin tumpullah segitiga itu hingga pada akhirnya ia bukanlah segitiga lagi dan tidak punya kegunaan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * * &lt;br /&gt;Kala reformasi ini-itu dilakukan --kendati dengan semangat menggebu-gebu-- tanpa disertai oleh nurani, reformasi itu menjadi hambar dan tidak berguna. Ketika nuraninya diabaikan, pemuda yang bernama Indonesia ini membersihkan dirinya dengan air keruh, mengobati luka-lukanya dengan perban bekas. Demokratisasi diperjuangkan dibalik rasa gila kuasa dan gila uang. Transparansi dilakukan demi menjatuhkan lawan, sementara keburukan diri ditutupi. Reformasi ini-itu dilakukan dengan semangat-semangat egoistik tertentu. Pembangunan ini-itu dilakukan tanpa disertai pertimbangan dampak lingkungan dan sosial-kemasyarakatan yang mendalam. KKN, dan berbagai bentuk kejahatan dikutuk tanpa disertai refleksi dan perbaikan diri sendiri. Inilah bentuk-bentuk reformasi yang membuktikan nurani tidak digubris, terlupakan oleh bisingnya teriakan “ayo, reformasi total!” Alhasil, masalah dan konflik muncul di mana-mana hingga Indonesia terus berkubang dalam keterpurukan.    &lt;br /&gt;Yang diperlukan sekarang -sekali lagi- adalah sebuah restorasi nurani. Kita semua pasti memiliki nurani. Hanya saja, sering kali, dalam kerangka reformasi, nurani itu diabaikan. Maka, diperlukan usaha-usaha restorasi nurani; menempatkan kembali nurani dalam posisi prioritas. &lt;br /&gt;Percayalah, saat restorasi nurani dilakukan oleh seluruh WNI dan semua yang berdomisili di Indonesia, Indonesia ini akan menjelma menjadi Firdaus dunia yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman. Tidak akan ada lagi reformasi ini-itu dengan latar belakang kepentingan tertentu. Wakil rakyat sungguh menjadi wakil rakyat, pemimpin sungguh menjadi pemimpin dan rakyat pun mampu menjalankan hak dan kewajibannya sebagai WNI dan penduduk Indonesia dengan baik. Reformasi menuju Indonesia baru yang lebih baik dapat tercapai dan Indonesia dapat bangkit dari keterpurukan.&lt;br /&gt; Jangan berpendapat bahwa itu tidak mungkin, itu artinya kalah sebelum berperang. Tetapi, mengutip ungkapan dalam iklan sebuah produk, just do it! Di akhir tahun ini, harus dimulai restorasi nurani supaya di tahun-tahun mendatang, reformasi sungguh membawa perubahan yang dapat mengangkat Indonesia dari keterpurukan. Reformasi harus dibarengi dengan restorasi nurani!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjara suciku yang indah-permai,&lt;br /&gt;Mertoyudan, 1 Desember 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188858940650095?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188858940650095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188858940650095' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188858940650095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188858940650095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2002/12/restorasi-nurani.html' title='Restorasi Nurani'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113168896236118672</id><published>2002-08-13T21:58:00.000-07:00</published><updated>2005-11-10T22:02:42.380-08:00</updated><title type='text'>Cinta, Memberikan Mata yang Enak Dipandang</title><content type='html'>(Analisis Cerita Pendek "Mata yang Enak Dipandang" karya Ahmad Tohari)&lt;br /&gt;oleh :  Krisna Murti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan dikira cinta datang dari keakraban yang lama dan karena pendekatan yang tekun, cinta adalah kecocokan jiwa, dan jika itu tidak pernah ada, cinta tidak akan pernah tercipta dalam hidungan tahun, bahkan abad” &lt;br /&gt;(Khalil Gibran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak semula Tuhan Allah menciptakan manusia itu setara, buktinya, Hawa dirakit dari rusuk Sang Adam, bukan dari tulang kering atau dari tengkoraknya. Sayangnya, sejarah hidup manusia mengungkapkan yang lain. Rasanya, abad kegelapan alias dark ages yang berlangsung pada 450-1450 SM di Eropa dapat menjadi deskripsi yang jelas. Saat itu, pembedaan, atau lebih frontalnya, diskriminasi benar-benar terasa. Struktur masyarakat terbagi menjadi tiga kelas dan masing-masing dipisahkan oleh jurang yang dalam dan lebar; antara kaum bangsawan, para rohaniwan, dan kaum jelata (selanjutnya terkenal dengan sebutan proletar). Yang terakhir inilah yang terus-terusan menderita. Masing-masing serasa tidak peduli dengan yang lain. Bangsawan sibuk berpesta di kastil-kastil, rohaniwan sibuk berdoa di biara-biara, rakyat jelata sibuk bekerja di ladang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya sejarah mencatat adanya negasi terhadap kenyataan itu. Gerakan bercorak demokratis yang berhasil menjatuhkan kaum feodal dan sistem monarki absolut bermunculan sejak dipicu oleh Revolusi Prancis. Selanjutnya, bahkan bentuk-bentuk paham sosialisme yang mencita-citakan masyarakat tanpa kelas juga bermunculan sehingga menjatuhkan rezim penguasa yang dianggap menindas rakyat. Bahkan diantaranya ada yang berwujud ekstrem yaitu komunis, revolusi fisik di Rusia misalnya. Bagaimanapun juga, masa pasca-Perang Dunia II adalah masa di mana ada banyak negara-negara baru lahir, tentunya dengan corak nation-state, termasuk Indonesia. Kali ini, mereka menentang para penjajah yang lewat kolonialisme dan imperialismenya menindas dan menyedot kekayaan negara jajahannya sewenang-wenang. Demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan  berpendapat (bebas yang bertanggungjawab)  dan penghargaan HAM, termasuk persamaan derajat antar manusia semakin bergaung seiring dengan terbentuknya PBB. Buktinya, baru-baru ini, negara kita juga telah berhasil menumbangkan pemerintahan yang telah dianggap melewati kapasitasnya sebagai sebuah lembaga eksekutif (baca: pelaksana undang-undang). Semuanya itu berkat kesadaran mewujudkan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sejarah mencatat peristiwa semulia itu, tetaplah di Bumi tercinta ini, terdapat orang-orang yang tertindas, tertekan, tersingkirkan, terendahkan, ter-cuekkan, tersepelekan. Yang membedakan hanyalah bentuknya yang telah ikut berubah karena perubahan zaman.  Kalau dulu ada diskriminasi bercorak rasialis berdasarkan warna kulit di AS atau di Afrika Selatan, sekarang mungkin diskriminasinya berdasarkan klasifikasi status ekonomi atau sosial dalam masyarakat. Mungkin sekarang tidak ada negara yang nyata-nyata menerapkan feodalisme, namun rezim pemerintahan bercorak otoriter dengan jalan kekerasan masih ada, di beberapa negara Balkan misalnya. Mungkin sekarang negara yang terang-terangan melakukan invasi tidak ada, namun penindasan berupa tekanan militer, politik, atau ekonomi masih berlaku antara negara adidaya dan negara inferior, embargo ekonomi di Irak misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beragam bentuk ketidakadilan, ketidakpedulian, penindasan, kekejian, dan diskriminasi di muka Bumi ini. Namun, yang paling menonjol, aktual, dan kontekstual dalam dunia saat ini adalah bentuk-bentuk diskriminasi di bidang ekonomi. Sejak perang dingin berakhir dengan runtuhnya raksasa Uni Sovyet, Amerika Serikat, sebagai negara adidaya yang tersisa, mengubah strategi konfrontasi menjadi strategi rekonsiliasi karena dunia amat merindukan pembaruan, perdamaian, kesejahteraan, dan perikemanusiaan setelah dua perang besar-besaran yang dilanjutkan dengan perlombaan teknologi senjata. Selanjutnya, AS mengkampanyekan konsep globalisasi dengan tiga sasaran utama yaitu perwujudan HAM, kemerdekaan, dan ekonomi liberal.   Sayangnya, globalisasi yang terjadi di muka bumi ini rasanya malah menambah parah orang-orang tersingkir, tertindas di muka bumi ini. Pada tahun 1800, 74% penduduk dunia terkategori miskin dan hanya meniknati 44% GDP dunia. Pada tahun 1995, keadaan bertambah parah. Jumlah penduduk dunia yang miskin malah mencapai 80% dan mereka hanya menikmati 20% GDP. Sisanya, 20% penduduk dunia yang kaya menikmati 80% dari GDP dunia.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tadi hanyalah sebatas latar belakang dan pengantar mengenai analisis cerita pendek berjudul Mata yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari, seorang novelis yang kondang tahun '80-an disamping Pramudya Ananta Toer dan Budi Dharma. Dalam cerita pendeknya yang pernah di muat dalam harian Kompas tahun 1992 ini, beliau tampak hendak mengekspresikan gambaran keprihatian sosial yang berangkat dari keprihatinan yang terjadi pada waktu-waktu belakangan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kita harus berangkat dari pemahaman dasar bahwa setiap karya sastra itu merupakan hasil refleksi sosial realitas yang ada. Dalam cerita pendeknya kali ini, Ahmad Tohari menggambarkan jurang yang lebar nan dalam antara kaum kelas bawah dengan kaum kelas atas dengan jelas, walau secara implisit. Ini tampak dari pendapat Mirta yang bersikeras bahwa meminta-minta dari penumpang kereta kelas utama itu percuma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… Apa kau lupa kereta yang baru datang? Kereta utama bukan? Kita tidak akan bisa masuk kereta seperti itu. Ngemis jendela pun payah. Tunggu saja kereta kelas tiga.”&lt;br /&gt;“Percuma ngemis di kereta api utama. Aku sudah berpengalaman. Jadi turutilah apa yang kubilang. Tunggu saja kereta kelas tiga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pengemis yang telah berpengalaman, ia mengerti bahwa orang yang suka memberi sedekah memiliki pandangan mata yang berbeda, walaupun ia buta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Perhatikan mata mereka. Orang yang suka memberi receh punya mata lain. “&lt;br /&gt;“…Mata orang yang suka memberi tidak galak. Mata orang yang suka memberi kata teman-teman yang melek enak dipandang. Ya, kukira betul; mata orang yang suka memberi memang enak dipandang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terminologi globalisasi nampaknya sudah sering kita dengar. Memang tujuan dari globalisasi tampak positif. Jelas setiap manusia akan dengan senang hati mendukung yang namanya perwujudan HAM, dan kemerdekaan. Namun untuk yang terakhir, yaitu ekonomi liberal dengan manifestasinya berupa pasar bebas, rasanya ini perlu dipertanyakan lagi. Apakah setiap bangsa sudah siap untuk menghadapi pasar bebas. Masalahnya, dari data yang telah diungkapkan diatas, rasanya globalisasi bukannya menambah kesejahteraan manusia, tapi malah makin memperparah keadaan. Jurang antara kaum kelas bawah alias proletar, termasuk gelandangan dengan kaum kelas atas semakin dalam dan lebar. Hal ini mau tidak mau harus diakui sebagai buah dari globalisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, selayaknya, globalisasi dengan konsep pasar bebasnya tidak bisa disalahkan sepenuhnya dalam kasus ini. Sebenarnya,  yang namanya pembedaan dalam masyarakat itu wajar dan bahkan dapat dipastikan selalu ada, dalam masyarakat sosialis ekstrem (baca: komunis) sekalipun. Dalam ilmu sosiologi, pembedaan atau lebih tepatnya pelapisan alias stratifikasi sosial   dapat dipastikan ada kerean stratifikasi sosial mempunyai beberapa fungsi, yaitu:&lt;br /&gt;1. Stratifikasi sosial merupakan alat bagi masyarakat dalam mencapai tugas utama dengan jalan mendistribusikan prestise atau hak-hak dalam jumlah yang berbeda bagi setiap stratum yang ada. &lt;br /&gt;2. Stratifikasi sosial menyusun dan mengatur serta mengawasi hubungan di antara anggota masyarakat.&lt;br /&gt;3. Stratifikasi sosial berfungsi sebagai pemersatu dengan mengkoordinasi unit-unit yang ada dalam struktur sosial.&lt;br /&gt;4. Stratifikasi sosial mengkatagorikan manusia dalam stratum yang berbeda, sehingga memudahkan manusia saling berhubungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen "Mata yang Enak Dipandang", Ahmad Tohari menunjukkan stratifikasi sosial berbentuk sistem kelas, berdasarkan kriteria ekonomi karena yang ditampakkan dalam cerpennya kali ini adalah kisah mengenai penderitaan gelandangan, kelompok masyarakat yang berada pada urutan terbawah dalam status ekonomi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen "Mata yang Enak Dipandang", Ahmad Tohari mengekspose semacam perbandingan atau tepatnya pertentangan relalitas antara dua dunia yang berbeda, yang satu diwakili oleh kereta kelas utama yang didominasi oleh penumpang yang sudah pasti kaya namun tidak mau memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Melalui jendela ia sering melihat berpasang-pasang mata di balik kaca tebal itu; mata dingin seperti mata bambu, mata yang menyesal karena telah tertatap sosok kere picek dan penuntunnya; mata yang … membawa kesan (berasal) dari dunia yang amat jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok selanjutnya adalah dari golongan gelandangan sebagai kaum proletar yang tidak mempunyai daya apa-apa dalam meningkatkan taraf kesejahteraan dirinya (baca: mengentaskan diri dari kemiskinan), apalagi dihadapkan dengan atmosfer ekonomi yang begitu keras, bercorak hukum rimba, seperti sekarang. Kedua kubu itu digambarkan dengan dramatis sehingga berkesan ironis: yang satu dalam kesenangan dan kebahagiaan, sementara yang lain dalam kelaparan, menderita, sekarat. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Menariknya, Ahmad Tohari memberikan sintesis dari pertentangan kedua realitas hidup yang amat tajam itu. Sintesisnya adalah "mata yang enak dipandang". Ing atase, keadaan mayoritas seperti itu, masih ada orang yang dengan mata yang enak dipandang  sudi memberikan sebagian dari miliknya demi kelangsungan hidup saudara-saudaranya yang tidak beruntung. Sedekah, kendati sedikit sekalipun dan tidak terbandingkan dengan korupsi yang berjumlah triliyunan itu, menjadi sebuah harapan hidup bagi gelandangan; bak setetes embun di padang pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ tampaklah ajakan yang begitu mulia yang mendasari cerpen ini, yaitu bahwa kita pun harus peduli terhadap nasib mereka yang kurang beruntung. Kita harus ingat tentang teori eksistensialisme dalam filsafat mengajarkan bahwa manusia ada itu berarti manusia ada bersama. Harus begitu sebab, mau tidak mau, manusia itu mahluk sosial. “Manusia tidak menjadi AKU kecuali dengan dan dalam hubungannya dengan AKU LAIN” (Roger Troisfontaines, De l’existence a l’etre, Lovain-Paris, hal. 10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, stratifikasi sosial itu tidak bisa dihindari, bahkan sejarahpun membuktikan hal ini. Tidak ada suatu masyarakat pun yang bisa benar-benar menciptakan masyarakat tanpa stratifikasi sosial.  Maka justru karena itulah, yang dituntut dari pihak kita adalah kesadaran dan kesediaan untuk membantu, entah dalam bentuk apapun. Kita harus memberikan mata yang enak dipandang  bagi mereka dan jangan malah memberikan mata dingin bak mata bambu; buatlah diri kita dekat jangan sampai kita terasa dari dunia yang amat jauh. Kita harus memberikan kesan bagi mereka yang kurang beruntung, kasih, sebab itu akan menjadi harapan dan semangat untuk terus hidup dalam dunia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka butuh teman, dan kita, yang sudah diberikan karunia berkecukupan, bahkan berkelimpahan, wajib membantu mereka. Menjadi seorang teman butuh sebuah kecocokan jiwa. Selanjutnya dari situlah akan muncul yang namanya cinta (bdk. kutipan Khalil Gibran di awal). Jika semua  manusia berlaku seperti ini, manusia tidak perlu lagi bermimpi masuk surga sebab Bumi ini sudah menjadi surga. Jadi berikanlah mata yang enak dipandang, cintailah mereka, walaupun yang hina dina sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yagn tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” &lt;br /&gt;(Mat 25:45)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113168896236118672?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113168896236118672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113168896236118672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2002/08/cinta-memberikan-mata-yang-enak.html' title='Cinta, Memberikan Mata yang Enak Dipandang'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188654743360486</id><published>2002-08-13T04:54:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T04:55:47.480-08:00</updated><title type='text'>Mengharapkan Generasi Muda Urban dalam Menggapai Global City</title><content type='html'>Bagi umat manusia, dimensi waktu telah berubah menuju suatu rentang waktu yang amat kontradiksional dengan zaman-zaman sebelumnya. Rentang waktu ini kita sebut dengan terminologi globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menginjak lebih jauh mengenai permasalahan ini, baik kalau konsep globalisasi itu diketahui terlebih dahulu. Jenderal (Pur.) TNI Soemitro menganggap bahwa globalisasi ini adalah konsep semu pengisi kevakuman setelah perang dingin berakhir . Seiring dengan runtuhnya hegemoni Blok Timur, dunia dilanda kevakuman konsepsi, strategi, dan kepemimpinan politik. Amerika Serikat (AS), sebagai negara adidaya yang tersisa, mengkampanyekan konsep globalisasi dengan tiga sasaran utama, yaitu: perwujudan HAM, kemerdekaan, dan ekonomi liberal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi memiliki dua ciri utama yaitu kebebasan dan keterbukaan. Pasar bebas adalah wujud paling real kebebasan dalam era globalisasi. Usaha-usaha deregulasi dilakukan di tingkat internasional dan regional dalam mengurangi biaya atau pajak. Kemudian, keterbukaan juga mengambil tempat yang penting. Dengan adanya internet, misalnya, seseorang dapat mengakses berbagai macam informasi dari yang paling bermutu tinggi, penting, dan luhur hingga informasi yang ecek-ecek, main-main,  dan bahkan, bejat dan porno. Dalam era globalisasi inilah batas-batas antar wilayah atau negara hilang. Orang dapat dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain, walaupun dipisahkan oleh samudera. Para liga calcio dapat mengikuti setiap pertandingan tanpa harus pergi ke Italia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua sifat globalisasi ini memang di satu sisi membawa banyak sisi positif, Namun, bagaimanapun juga, globalisasi bersifat ambivalen. Globalisasi akan membawa dampak negatif pula bagi manusia secara individual maupun dalam sebuah komunitas.  Budaya lokal akan langsung ditantang oleh budaya global yang muncul sebagai akibat dari globalisasi. Setiap orang ditantang untuk dapat memilah dari sekian banyak informasi yang tersedia. Menyerap infromasi yang berguna, membuang informasi yang tidak berguna. Secara implisit, hukum rimba berlaku dalam era ini: siapa yang kuat, dialah yang akan terus hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada sapaan awal dalam artikel ini, zaman globalisasi ini, disebut kontradiksional karena memang dengan memasuki fase ini, kehidupan manusia berubah oleh karena keterbukaan dan kebebasan yang luar biasa. Komunitas masyarakat yang akan langsung terkena adalah komunitas masyarakat kota karena masyarakat kota, secara umum, adalah masyarakat yang sudah berbudaya modern, berpikiran terbuka, cenderung rasional. Kota adalah komunitas yang terbuka lebar-lebar bagi berbagai macam budaya global.  Bukti imbas globalisasi di kota misalnya, banyak mall-mall bermunculan di kota-kota bak jamur di musim hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih tajam lagi, lapisan masyarakat kota yang paling rentan terkena imbas globalisasi adalah generasi muda urban. Dalam sebuah mall Anda dapat melihat seorang remaja dengan potongan rambut lurus ala F4, berbusana United Color of Benetton, lengkap dengan asesoris Spyderbilt dan jam tangan Army yang sedang asyik menikmati pemandangan berbagai busana Versace yang dipajang sambil mendengarkan musik blues AS dari CD-Player Sony-nya. Saat ia lapar, ia akan menyantap Coca-cola plus D’Creepes; lalu mengakhiri acara makannya dengan sebatang Malboro Lights. Kemudian, ia pulang dengan Hyundai  barunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kengerian imbas globalisasi dalam diri generasi muda urban, muncul pertanyaan besar: apa jadinya kota-kota ini kelak? Tentu, pertanyaan ini muncul dengan berawal dari kesadaran bahwa generasi muda adalah tulang pungung suatu komunitas, termasuk komunitas kota. Persis dengan manager sebuah tim sepakbola yang terus mengadakan regenerasi, demi kelangsungan timnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi yang melanda dunia ini menuntut kota-kota untuk berevolusi menjadi global city. ...........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188654743360486?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188654743360486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188654743360486' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188654743360486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188654743360486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2002/08/mengharapkan-generasi-muda-urban-dalam.html' title='Mengharapkan Generasi Muda Urban dalam Menggapai Global City'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188842840177109</id><published>2002-07-13T05:26:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:27:08.483-08:00</updated><title type='text'>Kemurtadan Nurani (a 30 minutes drama)</title><content type='html'>BABAK I&lt;br /&gt;Layar masih tertutup, suasana masih gelap. Narator membacakan prolog drama ini yang merupakan kutipan dari Kematian Sebuah Bangsa, karya Khalil Gibran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamilah Putra-putra Penderitaan&lt;br /&gt;sedang kalian Putra-putra Keriaan&lt;br /&gt;Ya,  Kamilah Putra Penderitaan&lt;br /&gt;dan Penderitaan adalah bayangan&lt;br /&gt;Tuhan tunggal.&lt;br /&gt;yang mendiami kawasan hati dengki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamilah Putra Penderitaan; kamilah&lt;br /&gt;para penyair&lt;br /&gt;Dan nabi dan pemain musik. Kami&lt;br /&gt;menenun busana sang dewi&lt;br /&gt;dari benang hati kami dan kami penuhi&lt;br /&gt;tangan para bidadari &lt;br /&gt;dengan bijian nurani kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kemudian, dari suasana gelap, lampu mulai menyala, memperlihatkan suasana sebuah ruangan yang mewah; perabotan-perabotan berlapiskan emas; Semerbak bau wangi-wangian yang khas memenuhi ruangan. Tidak ada musik yang mengiringi. Didalam ruangan itu terdapat dua jendela besar berteralis besi yang dapat dibuka. Di tengah-tengah terdapat sebuah tahta berlapiskan emas dengan beberapa bongkah permata di atas dudukan tangan tahta itu. Joknya berwarna ungu, terbuat dari sutra. Di belakang tahta itu terdapat lambang kerajaan Zergopaxi, perisai bergambarkan naga yang menunjukkan gigi-gigi runcingnya. Di depan tahta itu terdapat karpet merah bermotifkan naga terhampar hingga pintu besar nan kokoh yang tegak lurus dengan tahta itu. Pintu itu besar. Gagangnya berkilauan, membentuk motif kepala naga. Di depan pintu itu berdiri dua penjaga.  Selain pintu itu, terdapat pintu lain di sebelah kanan tahta yang menghubungkan langsung dengan kamar Raja.&lt;br /&gt;Di luar terdengar sayup-sayup gemuruh masa yang marah. Terdengar teriakan-teriakan penuh emosi yang tidak jelas. Di antara tahta itu terdapat dua orang penjaga berbadan bongsor berdiri. Selain itu, terdapat sederetan petinggi istana. Tiga tangan kanan langsung Raja Protos hadir, yaitu: Zeratul, Penasehat Utama Raja sekaligus sang Hakim Agung, Sesoster, sang Imam Besar, Zambara, Panglima Besar Militer beserta ajudannya Yarigan.&lt;br /&gt;Suasananya hening dan tegang. Ketiga pejabat tertinggi istana itu hening, menanti dengan tenang.&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Seorang muda gagah berpakaian mewah keluar dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan mahkota dan ditangannya terdapat cicin emas dengan mata berlian, tanda kekuasaan raja. Keduanya terbuat dari emas yang berhiaskan permata. Jubahnya ungu dengan bordiran benang emas Ia bergegas menuju tahta dan mendudukinya. Seorang ajudan mengikutinya. Menyadari kehadiran sang raja ketiganya bersiap.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protos (Pr):Zambara, apa yang terjadi di luar sana? Sebagai panglima besar militer kerajaan Zergopaxi ini kau bertanggungjawab atas keamanan di kerajaan ini, terutama di ibukota ini! Apakah istana Nexus ini terlalu memanjakanmu sehingga kau lalai pada tugasmu? (Nada marah)&lt;br /&gt;Zambara (Zbr): (maju ke depan tahta dan berlutut sambil menundukkan kepala) Maaf beribu maaf bagi Yang Mulia Protos yang Agung! Yang Mulia, kekacauan itu hanyalah bersifat sementara. Segalanya masih di bawah kendali pasukan kerajaan. Itu hanyalah segelintir orang barbar yang mengacau di luar gerbang Timur kota. Saya telah mengirimkan sejumlah besar pasukan ke sana untuk menanganinya. Yang Mulia harap tenang, kami.... (belum selesai berbicara namun sudah dipotong)&lt;br /&gt;Pr: Tenang! Kamu mengharapkan aku tenang setelah dua tahun terakhir ini aku tidak bisa tidur memikirkan pemberontakan Medoza yang nyalanya kian besar. Dan sekarang kota Wotan yang indah ini, ibukota kerajaan Zergopaxi yang menakjubkan ini mulai terusik kedamaiannya. Ingat Zambara, kau sudah gagal mempertahankan Boratos dari tangan Medoza, pemberontak barbar itu.  Dan, aku tidak mau lagi mendengar berita-berita mengenai pemberontakan ini.  &lt;br /&gt;Sesoster (Sst.): Yang Mulia, walau demikian, kiranya apa yang dikatakan Zambara tepat, sebaiknya Yang Mulia menenangkan diri. Serahkan semuanya pada kami. Kami akan mengabdikan diri kami sepenuhnya demi kemuliaan dan kejayaan Zergopaxi selama-lamanya. &lt;br /&gt;Zeratul (Zrt): Betul, Yang Mulia, hamba paham keadaan sekarang ini amat memprihatinkan. Justru karena itulah Yang Mulia harus tenang. (Nada berwibawa)&lt;br /&gt; Pr: Baiklah.. kurasa aku harus berkepala dingin. Aku hendak beristirahat sejenak. Tapi ingat Zambara, aku tidak mau mendengar kerusuhan yang berjalan malam ini terulang lagi suatu saat!&lt;br /&gt;Zbr: Daulat tuanku! (Berlutut satu kaki) ini adalah terakhir kalinya Yang Mulia mendengarkan keributan. &lt;br /&gt;Pr: Baik. Satu lagi, panggilkan Dorakles, Tabib Istana untuk memeriksa kondisiku. Punggungku terasa nyeri kembali. &lt;br /&gt;Ajudan raja: baik tuanku, Protos Agung! (menunduk)&lt;br /&gt;(Yang Mulia Protos meninggalkan ruangan utama istana Nexus, ajudannya mengikutinya. Setelah Protos pergi. Sesoster mendekati Zambara.)&lt;br /&gt;Sst.: Bagus Zambara! yang jelas, jangan sampai Yang Mulia Protos tahu bahwa pemberontakan dipicu oleh karena aturan Korazam. Biarlah kita saja yang mengatasinya!&lt;br /&gt;(Zambara mengangguk. Ia, kemudian, mendekati ajudannya. Dan memberikan perintah kepadanya. Zeratul, Penasehat Raja, mendengarkan pembicaraan mereka.)&lt;br /&gt;Zbr: Yarigan, perintahkan pasukan untuk membunuh semua demonstran, jangan hanya ditangkap. Semua orang yang terlibat, pokoknya, harus mati. Penggal kepala mereka. Biarkan tubuhnya membusuk di sekitar gerbang Timur. Lalu, gantung kepala mereka di tiap gerbang ibukota Wotan ini. (Zambara menginstruksikan ajudannya; Zeratul yang ada disampingnya mendengarnya)&lt;br /&gt;Zrt: (mendekati Zambara dan berkata kepadanya dengan pelan namun tegas) Ingat Zambara, tentara kita sudah bosan membunuh rakyat sendiri. Watonga yang sudah mati itu kini hidup lagi dalam diri putranya, Medoza. Dan, Medoza membawa misi yang sama, menghancurkan aturan Korazam. Kau juga sudah punya nilai minus dihadapan Protos dengan kegagalanmu mempertahankan Boratos dan bahkan kau tidak bisa merebut kembali Propinsi Boratos ke pangkuan Zergopaxi. Sudah dua tahun terakhir ini api pemberontakan di Zergopaxi untuk menentang Korazam semakin menjadi-jadi. Tentara kita sudah bosan membunuh Zambara... bosan!&lt;br /&gt;Zbr: Kau mengancamku Zeratul? (Berkata dengan suara tertahan) Kau kira aku takut padamu? Akulah Panglima Perang tertinggi di seluruh Zergopaxi, ratusan ribu pasukan menaati perintahku! Kalaupun Boratos berhasil direnggut dari pangkuan Zergopaxi... itu karena faktor geografis. Propinsi Boratos dibatasi oleh Pegunungan Alturis dan laut Waralabon di sebelah tenggaranya... Jadi itu bukan kesalahanku! Kalaupun mereka bosan membunuh, persetan! Mereka adalah alat yang akan menghukum pengkianat negara semacam Medoza dan kawan-kawannya. Seluruh warga Zergopaxi juga sudah tahu, siapa yang menentang Korazam akan mati, termasuk para prajurit. Jadi, merekapun akan dengan senang hati memenggal kepala siapapun yang menentang Korazam kendati ibunya sendiri. Atau kau ikut-ikutan menentang Korazam...&lt;br /&gt;Zrt.: Kau memang sudah kehilangan nuranimu!&lt;br /&gt;Sst.: Sudah, hentikan! (Mendekat lalu melerai)&lt;br /&gt;Zrt.: Sesoster, tidakkah kau pahami, tahun-tahun pertama aturan Korazam diberlakukan, keadaan memang baik, teratur, tertib. Tapi, lihatlah setelah beberapa tahun! Aku sendiri muak menangani kasus-kasus yang berakhir dengan keji. &lt;br /&gt;Sst.: Demi En Tora Amaran yang Mahasuci, apa yang kiranya ada dalam benakmu? Apa kau sudah murtad? Korazam adalah wahyu langsung dari yang mahasuci kepada umatNya melalui Rasul Xeba sang Mahaguru. Kau pun menentang Korazam yang suci itu? (Nada meninggi)&lt;br /&gt;Zrt.: (nada tersinggung) Murtad? Sama sekali tidak. Nuraniku sudah terikat oleh En Tora Amaran. Lagian, aku adalah penasehat utama Protos sekaligus Hakim Agung di Zergopaxi. Kemakmuran Zergopaxi tak lepas dari ide-ideku dan kebijaksanaanku sudah dikenal hingga seantero tanah Eilenes ini.&lt;br /&gt;Zbr.: Cukup! Sudah banyak masalah yang harus kita hadapi demi kelangsungan Kerajaan Zergopaxi ini. Jangan menambah masalah dengan pertikaian ini. (Zeratul dan Zambara masih saling menatap) Ayo tunggu apalagi? Sudah! (Zambara merentangkan tangan antara mereka berdua!)&lt;br /&gt;(musik sedih terdengar, lampu meredup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAK II&lt;br /&gt;(Keesokan harinya, sejumlah kepala digantung di atas gerbang timur ibukota Zergopaxi, Wotan. Sementara itu, mayat-mayat tanpa kepala ditumpuk di dekat gerbang, menyisakan bau busuk yang mengundang ratusan lalat. Beberapa burung pemakan bangkai juga datang memenuhi undangan pesta makan gratis itu. Bekas pertumpahan darah masih berceceran, membuat setiap orang yang lewat membayangkan betapa ngerinya pembantaian malam sebelumnya. Pada sore hari, di kedai-kedai, beberapa orang membicarakan tentang kerusuhan tadi malam diam-diam.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Itu bukanlah kerusuhan. Mereka semata-mata berdemonstrasi... menentang Korazam; tapi kenapa bisa seperti itu nasibnya?&lt;br /&gt;B: Mereka bodoh, di Propinsi Anxera minggu lalu pun ada usaha semacam itu dan mereka pun berakhir dengan nasib buruk yang sama; hanya saja, mayat mereka dikuburkan; dan kali ini tidak.&lt;br /&gt;C: Ya, kali ini sudah keterlaluan. Dalam demonstrasi di Anxera minggu lalu itu, ada beberapa yang hanya ditangkap. Namun, sekarang, semuanya dibantai, mayat-mayat dibiarkan begitu saja dan kepala-kepala digantung... tidak berperikemanusiaan! Kelihatannya pemerintahan Protos V benar-benar marah terhadap siapa saja yang mau menetang Korazam. &lt;br /&gt;A: Betul, ingatkah kamu dengan buku Wahyu Sang Ilahi yang menyinggung mengenai segi-segi negatif Korazam... akhirnya Marco, penulisnya, dipenjara seumur hidup dan bukunya dibredel. &lt;br /&gt;B: Kejam! Tapi apa yang bisa kita lakukan, aturan Korazam itu sudah keburu tertanam kuat dalam benak wangsa Protos. Semenjak Sesoster menjadi Imam Besar, Protos IV menetapkan aturan Korazam. Jadi, Protos V pasti sudah hidup dalam lingkungan yang taat benar dengan aturan Korazam. Makanya, dia begitu kuat mempertahankan Korazam. Ia sudah kehilangan nuraninya! &lt;br /&gt;C: Yah, Protos enak... tinggal di Istana Nexus yang begitu mewah dan megah. Ia tidak perlu bersusah payah untuk mencari makan. Tidak seperti kita, harus berkeringat baru bisa hidup. Dan jelas sekali, aturan Korazam itu amat menyulitkan kita. Bayangkan, istri-istri dan anak perempuan tidak boleh membantu kita. Dan Zergopaxi menjadi seperti kuburan pada malam hari; begitu matahari terbenam, semua harus di rumah. Dan juga tentang pajak untuk Kuil En Tora Amaran yang besarnya sepertiga dari penghasilan kita. Apa En Tora Amaran yang Mahasuci butuh uang sebanyak itu? &lt;br /&gt;A: Sedih hatiku mendengarkan hal-hal itu. Bulan lalu, Krena, putriku yang bungsulah yang kena undi. Ia harus mengabdi di Kuil En Tora Amaran selamanya; tidak boleh keluar dari kompleks kuil. Hidupnya akan sebatang kara selamanya. Dan aku tidak akan dapat bertemu lagi dengannya.  &lt;br /&gt;B: Maaf, aku turut bersedih...Aturan Korazam sungguh keji, kemarin putra tetanggaku dipotong tangannya hanya karena ketahuan mencuri buah di perkebunan. Kejam, padahal ia baru berumur 10 tahun. Masih kecil!  &lt;br /&gt;(Hening sejenak)&lt;br /&gt;B: Tapi, kurasa kita masih punya harapan. Kita masih punya Medoza.&lt;br /&gt;C: Maksudmu, pemberontak itu?&lt;br /&gt;B: (nada agak meninggi) bukan...bukan pemberontak. Medoza bukan pemberontak. Dia adalah pahlawan. Dia akan menyelamatkan seluruh Zergopaxi dari kekangan Korazam. &lt;br /&gt;C: Betul, Watonga, ayahnya pun, dulu ketika menjabat sebagai ketua Senat pada masa pemerintahan Protos IV, amat kuat menentang diberlakukannya Korazam. Sayangnya, ia harus mati... ia dan kudanya jatuh ke dalam jurang Zunga di sebelah barat pegunungan Alturis. &lt;br /&gt;A: Aku yakin kematiannya bukan karena kecelakaan. Watonga adalah pensiunan komandan pasukan Kavaleri Zergopaxi. Aku yakin itu adalah pembunuhan.&lt;br /&gt;B: Ya... pembunuhan diotaki oleh Sesoster. &lt;br /&gt;A: Kenapa Sesoster?&lt;br /&gt;B: Sesoster adalah pencetus pertama diberlakukannya kembali Korazam. Dan Watonga adalah penghalang utamanya. Dengan kematian ketua senat yang pengaruhnya amat besar itu, ia bisa leluasa mempengaruhi Protos IV. &lt;br /&gt;C: Dan sekarang, Medoza akan balas dendam atas kematian ayahnya...&lt;br /&gt;B: Tidak, tujuannya jauh lebih mulia daripada itu! Ia hendak membebaskan seluruh rakyat Zergopaxi dari aturan Korazam. Kurasa Watonga adalah ayah yang baik, ia telah mengajarkan banyak keutamaan pada Medoza anaknya sehingga Medoza tumbuh sebagai pemimpin yang bijaksana. Buktinya, ia dan pasukannya telah berhasil merebut Propinsi Boratos dari kuasa Protos dan membebaskan para penduduknya dari kekangan Korazam. &lt;br /&gt;A: Seharusnya Protos menyadari bahwa Korazam itu menghambat kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi. Lihat saja, Dalam waktu satu setengah tahun saja, perekonomian Boratos langsung melesat. &lt;br /&gt;C: Andai saja, Medoza turut membebaskan kita dari belenggu aturan Korazam ini. (Memelas)&lt;br /&gt;B: Pasti, aku dengar selama dua tahun terakhir ini, dia sudah melatih pasukannya di Boratos dan bermaksud menundukkan Protos. &lt;br /&gt;C: Gila! Itu kan tindakan makar... subversif! Menurut Korazam, dia bisa dibakar hidup-hidup.&lt;br /&gt;B: Tapi, itu satu-satunya cara untuk melepaskan kita dari belenggu Korazam.&lt;br /&gt;A: Ah, apapun caranya, aku yakin dia akan berhasil sebab En Tora Amaran besertanya!&lt;br /&gt;(B dan C mengangguk)&lt;br /&gt;C: Yah, kurasa kau benar, aku sendiri berharap demikian. Aku sudah tidak tahan lagi hidup dibawah kekangan Korazam. &lt;br /&gt;(Terdengar dentang bel yang berdentang 12 kali)&lt;br /&gt;B: Dengar bel suci sudah dibunyikan. Kita harus segera pulang, jam suci Korazam akan segera diberlakukan!&lt;br /&gt;(B menghabiskan minumannya; A, B, C saling berpamitan dengan menundukkan tangan lalu bubar dengan terburu-buru. Musik sedih kembali mengalun, lampu meredup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAK III&lt;br /&gt;(Halaman belakang kantor Gubernur Propinsi Boratos yang telah disulap menjadi Istana sekaligus Markas Besar Medoza di Propinsi Boratos, di bagian Tenggara Zergopaxi. Medoza berjalan-jalan bersama dengan penasehatnya, sekaligus pamannya, Anexus. Latar belakangnya prajurit yang sedang berlatih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mdz.: Paman Anexus, bagaimana persiapan militer kita hingga akhir bulan ini?&lt;br /&gt;Anexus (Anx): Kekuatan pasukan infanteri sekitar 160.000 pasukan. Sementara itu ada 50.000 pasukan kavaleri. Dan 1.100 unit altileri. Pusat litbang telah mengembangkan baju zirah yang lebih kuat namun ringan namun belum diproduksi masal. Selain itu, pusat litbang juga telah mengembangkan unit altileri baru. Tapi, di atas kertas kita masih kalah, Protos, menurut badan intelejen kita, memiliki sekitar 700.000 tentara infanteri, belum termasuk unit kavaleri dan altilerinya. &lt;br /&gt;Mdz.: Ya, ya, saya paham Paman, sebenarnya Boratos yang indah ini bisa bertahan selama dua tahun dari invasi pasukan Protos yang mau merebutnya kembali karena keberadaan Pegunungan Alturis dan laut Waralabon.&lt;br /&gt;Anx.: Jangan patah semangat begitu Medoza. (Bersemangat) Lihatlah Boratos. Kini, Boratos hidup... hidup yang sesungguhnya. Para penduduk lepas dari beban Korazam. Semenjak Watonga, kakakku dan ayahmu, dicelakai oleh Sesoster sehingga ia dengan leluasa ia mempengaruhi Protos untuk memberlakukan kembali aturan Korazam, aku sudah putus asa. Namun, semangatmu yang membara itu yang menginspirasikan diriku untuk turut berjuang melawan Korazam, demi masa depan Zergopaxi yang lebih baik. (Mulai menunjuk-nunjuk) lihatlah tentara-tentara itu, mereka berlatih dengan teguh. Di benak mereka, mereka sadar bahwa kelak, mereka akan berperang demi kemanusiaan, demi membebaskan saudara-saudara sebangsanya dari aturan Korazam yang keji itu. Dan lihatlah para petani, pedagang, dan seluruh penduduk Boratos, mereka kini tidak tertekan batinnya. Kita harus membuat seluruh bangsa Zergopaxi, bukan hanya Boratos ini, mengalami nasib yang sama... merasa bebas, tidak tertekan oleh aturan. &lt;br /&gt;Mdz.: Paman, paman terlihat begitu bersemangat; sama sekali tidak mencerminkan usia anda yang hampir 69. (Mereka tertawa bersama-sama)&lt;br /&gt;Mdz.: (kembali serius) Tapi, kita pun harus tetap mencari dukungan dari rakyat Zergopaxi. Dengan jalan militer, di atas kertas, kita memang sudah kalah. Namun, bagiku, kekuatan terbesar berada di tangan rakyat. Simbol kerajaan Zergopaxi pun sudah menggambarkan demikian. Naga. Naga menggambarkan dua sifat yang amat mengagumkan. Yang pertama adalah kemuliaan; yang seharusnya diwujudkan dalam pribadi Raja yang baik, bukan seperti Protos yang sudah kehilangan nurani, menyiksa rakyatnya melalui aturan Korazam. Dan sifat kedua adalah kepahlawanan yang muncul dari rakyatnya. Semangat kepahlawanan rakyat ini dapat mengalahkan pasukan sekuat apapun. Walaupun ia mati sekalipun, ia tetap menang....&lt;br /&gt;Anx.: Betul, aku amat setuju denganmu! Medoza... kau sendiri tahu, semenjak kita berhasil merebut Boratos ini, banyak terjadi demonstrasi anti-Korazam yang sporadik di beberapa wilayah Zergopaxi. Awalnya, Pemerintahan Protos hanya menangkapi mereka. Namun, seiring dengan makin maraknya demonstrasi itu, penanganannya kian keji. Demonstrasi di ibukota Wotan beberapa hari lalu adalah buktinya. Puluhan demonstran dibantai dengan keji. Kemudian mereka dipenggal. Kepalanya digantungkan di tiap gerbang ibukota, dan mayatnya dibiarkan membusuk di tepi jalan. &lt;br /&gt;Mdz: Biadab... Protos dan kroni-kroninya sudah seperti hewan! Mereka sungguh telah kehilangan nurani mereka!&lt;br /&gt;Anx.: Ya, mereka adalah manusia-manusia tanpa nurani. Kekecewaan rakyat terhadap Korazam semakin meningkat. Aturan pajak yang memberatkan; aturan jam suci Korazam tiap malam; wanita-wanita yang tidak boleh keluar rumah; hukum tangan ganti tangan, semuanya membuat bangsa Zergopaxi mundur peradabannya. Rakyat Zergopaxi mulai menyadari bahwa Korazam itu bukan jalan menuju kesempurnaan. Kita tidak akan bisa mencapai Konos dan tinggal bersama En Tora Amaran yang Mahasuci kalau kita menuruti aturan Korazam. Korazam sudah tidak cocok lagi dengan zaman sekarang. Mendiang ayahmu memiliki visi ini. Ketika Korazam diwahyukan kepada Xeba sang Mahaguru, mungkin amat tepat diberlakukan untuk masyarakat saat itu. &lt;br /&gt;Mdz.: Betul, menurut literatur sejarah, seluruh daratan Eilenes memberlakukan Korazam. Tapi saat sekarang ini memang betul pendapatmu paman, bahwa Korazam itu tidak lagi relevan. &lt;br /&gt;Anx.: Yah, buktinya, dari sekian banyak kerajaan di daratan Eilenes ini, hanya kerajaan Zergopaxi yang memberlakukan aturan Korazam. Dan hasilnya, perekonomian Zergopaxi langsung jatuh; rakyat sengsara. Aku yakin, rakyat Zergopaxi pasti mendukungmu. Lihat sja pengalaman ketika merebut Boratos. Puluhan rakyat menjadi prajurit sukarela dan membantu pasukan kita melawan pasukan, Odenis, gubernur Boratos. Entah dengan jalan militer ataupun dengan jalan damai, rakyat Zergopaxi pasti akan mendukungmu!&lt;br /&gt;Mdz.: Hmm...kurasa kau betul paman Anexus! (Mengangguk-angguk)&lt;br /&gt;(tiba-tiba datang seorang prajurit Boratos dengan tergesa-gesa menuju ke arah mereka berdua. Di hadapan Medoza, prajurit itu membungkuk lalu tegak dan sambil meletakkan kepalan tangan kanan di dada kiri, ia menyampaikan laporan.)&lt;br /&gt;Prajurit: Pemimpin Tertinggi, kita kedatangan tamu.&lt;br /&gt;Anx.: Pasti Adun, Menteri Perdagangan dari kerajaan Krania yang membicarakan mekanisme perdagangan bebas antara kita dengan mereka. &lt;br /&gt;Prajurit: Bukan tuanku, Anexus, tamu kita kali adalah Zeratul. &lt;br /&gt;(Anexus dan Medoza kaget)&lt;br /&gt;Mdz.: Demi En Tora Amaran, angin apa yang membawa Hakim Agung dan Penasehat Utama Protos datang ke tanah Boratos? &lt;br /&gt;Anx.: Prajurit, perketat keamanan. Keselamatan Medoza harus diutamakan! (Memegang bahu Medoza) Apa dia bawa pasukan?&lt;br /&gt;Prajurit: Tidak, dia hanya datang ke sini dengan kusir dan ajudannya. Kereta kudanya juga tidak dikawal oleh seorang prajurit pun. &lt;br /&gt;Mdz.: Paman, jangan berlebihan. Aku yakin kedatangannya bermaksud baik. Buktinya, ia sama sekali tidak membawa pengawal. Ayo kita temui dia.&lt;br /&gt;(Mereka bertiga berjalan. Prajurit berjalan mendahului; musik mars yang lincah tapi tegas mengalun, lampu redup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAK IV&lt;br /&gt;Sebuah ruangan yang luas dan amat megah, membujur dari utara ke selatan kira-kira 10 meter. Seluruh ruangan itu dialasi oleh karpet yang amat indah. Di sisi barat dan timur, terdapat jendela-jendela raksasa yang dihiasi oleh tirai yang disingkap, membiaskan sinar matahari sore memasuki ruangan itu. Di tengah-tengah ruangan terdapat satu set sofa dan meja. Meja dan sofa itu berlapiskan emas dengan motif naga. Sebuah pintu masuk raksasa terdapat di sisi Utara dan Selatan. Di kiri dan kanan pintu itu terdapat berbagai macam lukisan. Masing-masing pintu dijaga oleh dua orang penjaga elit istana Boratos. Zeratul duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu. Ia sedang berpikir. Matanya memandang sesuatu yang kelihatannya amat jauh. Kerutan-kerutan di dahinya tampak jelas. Ajudannya berdiri tidak jauh dari situ, memegang sebuah buku besar yang berisi agenda kegiatan Zeratul. &lt;br /&gt;Pintu sebelah Utara terbuka. Medoza, Anexus, Komandan Pengawal Elit Istana masuk ke ruangan itu. Dua tentara pengawal pribadi Medoza mendahului didepan. Tangan kirinya menenteng perisai dan tangan kanannya memegang gada, senjata khas pasukan Boratos. Rombongan itu berjalan menuju Zeratul yang duduk di sofa. Menyadari kedatangan sang tuan rumah, Zeratul berdiri. Tubuhnya tegap, karakternya semakin kuat dengan kostumnya yang berwarna hitam serta jubah berwarna keemasan dengan bordiran membentuk gambar Naga serta jambang yang menutupi kulit di sekitar mulutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeratul: Ah...Medoza! Sudah lama kita tidak berjumpa. (Mendekati Medoza dan hendak memeluknya. Tapi, para pengawal pribadi Medoza maju dan menghalanginya dengan gada mereka.)&lt;br /&gt;Mdz.: Hei, jangan berlebihan... (kedua tangannya mendorong gada para pengawalnya ke arah luar. Pengawalnya menunduk dan mundur) Zeratul...terimakasih kau sudi datang ke gubuk kami. (Sambil berjabat tangan. Kemudian, mempersilahkan duduk) &lt;br /&gt;Zrt.: Kau mirip ayahmu, Medoza, selalu rendah hati dan punya daya tarik yang besar. Bekas kantor gubernur yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Istana Nexus di Wotan telah kau sulap menjadi istana yang super mewah, melebihi istanan Nexus hanya dalam waktu dua tahun belakangan ini. Dan kau menyebutnya sebagai gubuk... (tertawa ramah)&lt;br /&gt;Anx.: Itulah kemakmuran yang didapat Boratos setelah Korazam dicabut. Istana ini hanya sebagian kecil dari bukti-bukti keberhasilan kami hidup tanpa aturan Korazam. Zeratul, lihatlah juga rakyat Boratos, mereka semua ceria, bahagia, tidak tertekan...(agak menyombong)&lt;br /&gt;Zrt.: Ah, Anexus..... Yah, betul, aku tahu betul mengenai hal itu. Berita mengenai kesuksesan Boratos yang melesat hanya dalam waktu dua tahun memang sudah tersebar ke seantero Eilenes. Dan identik dengan itulah maksud kedatanganku ke sini, Medoza. (Nada simpati)&lt;br /&gt;Mdz.: Apa maksudmu itu Zeratul?&lt;br /&gt;Zrt.: Aku pun muak dengan Korazam! (Pelan, tapi tegas dan dingin)&lt;br /&gt;Anx.: Demi En Tora Amaran, Zeratul, penasehat utama Protos dan Hakim Agung Zergopaxi tidak setuju dengan Korazam? (Nada tinggi dan meremehkan) Apa aku tidak salah dengar?&lt;br /&gt;Zrt.: Kau tidak tahu, Aku bukan termasuk dalam bilangan orang-orang yang menyetujui Korazam. Anexus, kau sendiri pasti sudah tahu pasti bahwa Sesoster, Imam Besar itulah yang meracuni pikiran Protos IV. Sesosterlah yang mendorong Protos IV supaya memberlakukan aturan Korazam. Sebagai Imam Besar, ia tahu bahwa Xonon yang Agung, murid sekaligus penerus Rasul Xeba  sendiri yang mencabut aturan Korazam setelah menerima titah dari En Tora Amaran melalui mimpinya. Dan memang keputusan itu tepat karena aturan Korazam mulai tidak cocok lagi diterapkan dalam masyarakat. Namun, Sesoster mengaku bahwa ia telah menerima penglihatan dari En Tora Amaran sendiri bahwa Korazam harus diberlakukan kembali dengan dalih yang terdengar amat suci, yaitu supaya kelak seluruh rakyat Zergopaxi dapat masuk ke dalam Konos dan bersatu dalam persekutuan abadi dengan En Tora Amaran yang Mahasuci. Medoza, saudaraku, Watonga, ayahmu, adalah orang yang paling keras menolak diberlakukannya kembali. Posisinya sebagai ketua senat rakyat pada masa itu membuat pendapatnya menjadi pertimbangan utama Protos IV. Sesoster tahu bahwa ia tidak akan berhasil membujuk Protos IV untuk memberlakukan Korazam selama ayahmu masih hidup. Karena itu, ayahmu kemudian difitnah hendak mempertahankan posisinya sebagai ketua senat sebab menurut aturan Korazam, senat itu tidak ada. Ayahmu begitu marah dan karena berbagai tekanan, akhirnya ia mengundurkan diri. Dan, hari itu juga, saat ia pulang, Sesoster menyuruh seseorang untuk menyuntikkan obat gila ke tubuh kudanya. Obat itu bereaksi tepat saat mendiang ayahmu melewati jalan setapak di pinggir jurang Zungga di sebelah Barat pegunungan Alturis. Kuda itu menjadi gila dan terperosok ke dalam jurang, bersama dengan ayahmu. &lt;br /&gt;Anx.: Cukup, jangan kau ulangi lagi ceritamu mengenai peristiwa duka itu! (Memotong pembicaraan Zeratul)&lt;br /&gt;Mdz.: Paman.... (memegang bahu Anexus)&lt;br /&gt;Zrt.: Maafkan kelancanganku... tapi aku hendak memberitahukan yang sebenarnya. &lt;br /&gt;Mdz.: Lanjutkan (dingin)&lt;br /&gt;Zrt.: Aku tidak setuju karena aku tahu bahwa Sesoster berbohong. Aku tahu Imam Besar munafik dan najis itu tidak pernah mendapat penglihatan dari En Tora Amaran. Mana mau En Tora Amaran yang Mahasuci menyampaikan titahnya melalui perantaraan manusia busuk semacam itu. Sesoster adalah Imam Besar yang najis, pemimpin yang buruk, dan manager yang gagal. Laporan keuangan kuil selalu bermasalah. Banyak sekali kasus-kasus pelecehan seksual terhadap para perawan yang melayani En Tora Amaran oleh para imam-imam Kuil walaupun kasus-kasus itu belum pernah terbukti. Yang jelas, saat itu Sesoster terancam dicabut dari kedudukannya. Dengan memberlakukan aturan Korazam, dia akan memperoleh segudang keuntungan. Posisinya akan menjadi posisi seumur hidup. Dan kekuasaannya semakin besar. Ia punya hak menghukum mati mereka yang ketahuan tidak datang ke kuil selama seminggu. Dia kemudian memiliki pasukan sebesar 1.000 orang yang loyal padanya. Dan dia akan menjadi kaya. Setiap keluarga di Zergopaxi harus menyumbangkan sepertiga dari penghasilannya bagi keperluan kuil. Sudah pasti, sebagian besar uang itu akan mengalir ke kantongnya. Kekuasaan agama menjadi amat besar dengan adanya aturan Korazam. Bahkan raja sekalipun tidak punya hak untuk mencampuri urusan keagamaan. Menurut salah seorang informanku yang berhasil menyusup ke sana, Sesoster dan beberapa imam dengan setia menggiliri para perawan yang melayani Kuil En Tora Amaran. &lt;br /&gt;Mdz.: Kurang ajar (setengah berteriak, mengepalkan tangan) binatang, sungguh-sungguh binatang. Tidak berperikemanusiaan. Tidak bernurani! Ia sebenarnya telah murtad! Tak ada suatu ajaran En Tora Amaran pun yang ia penuhi!&lt;br /&gt;Anx.: Mereka harus membusuk dalam api Odineus. (Nada mengecam)&lt;br /&gt;Zrt.: Itulah sebabnya aku tidak menyetujui Korazam. &lt;br /&gt;Mdz.: Tapi akhirnya kau malah mengabdi pada Protos IV dan kini, Protos V. Itu sama saja dengan kau menyetujui Korazam. &lt;br /&gt;Zrt.: Kuakui dulu aku aku mengambil jalan yang salah; aku begitu terjepit. Kini, aku tidak dapat lagi menahan gejolak dalam hatiku. Kurasakan En Tora Amaran menyuruhku supaya segera menyudahi penderitaan rakyat Zergopaxi ini. &lt;br /&gt;Anx.: Dan kau mau apa? Memeranginya, bahkan aku yakin pasukanmu tidak ada seperseratus dari pasukan Zergopaxi. &lt;br /&gt;Zrt.: Aku tahu itu; dan aku pun tahu bahwa pasukanmu tidak ada apa-apanya dibandingkan pasukan Zergopaxi.&lt;br /&gt;Komandan Pengawal: Jaga mulutmu (hendak menghunuskan pedang)&lt;br /&gt;Mdz.: Komandan (berteriak) hentikan; hormati tamu kita!&lt;br /&gt;Komandan Pengawal: (berlutut satu kaki dan kepalan tangan kiri menepuk dada kanan) Maaf Pemimpin Tertinggi, saya hanya bermaksud membela martabat Anda dan Boratos. &lt;br /&gt;Mdz.: Martabat seseorang atau sebuah masyarakat itu ditentukan dari tindak-tanduk, tutur kata, dan sopan santunnya! (Tegas dan berwibawa)&lt;br /&gt;Komandan Pengawal: Maaf sekali lagi Pemimpin Tertinggi!&lt;br /&gt;Mdz.: Sudahlah, lanjutkan kembali Zeratul (Komandan itu berdiri kembali)&lt;br /&gt;Zrt.: Protos akan semakin kuat setelah ia menyewa tentara bayaran dari Knosos. Kau tahu pasukan Serigala Merah yang legendaris itu? Aku yakin, curamnya tebing-tebing dan lebatnya hutan di pegunungan Alturis tidak akan sanggup menahan keganasan mereka. Mereka adalah pasukan spesialis pembantaian. Tidak ada satu nyawapun yang berhasil lolos saat mereka menyerbu. &lt;br /&gt;Anx.: Curang!&lt;br /&gt;Zrt.: Karena itulah, Medoza, aku akan menempuh jalan damai. Aku akan mengadakan perundingan dengan Protos. Aku hendak mengundangmu untuk turut membantuku meyakinkan Protos bahwa Korazam harus dicabut. &lt;br /&gt;Anx.: Kenapa harus Medoza?&lt;br /&gt;Zrt.: Medoza adalah putra Watonga, ketua senat. Seorang yang amat disegani dan dihormati orang banyak sayang hidupnya berakhir dengan terlalu cepat. Namun, kharisma dan wibawanya ternyata diwariskan pula kepada putranya Medoza. Ialah yang terang-terangan menentang Protos dengan aturan Korazamnya. Anexus, aku yakin bahwa kau pun tahu betapa rakyat banyak sudah mengagumi Medoza dan mengharapkan ia menjadi pemimpin Zergopaxi, menggantikan Protos. Medoza adalah sosok yang disegani. Pengetahuannya begitu luas dan kemampuannya dalam berdiplomasi begitu hebat. Dengan kharisma dan wibawanya yang begitu hebat, aku yakin kita dapat memperoleh simpati yang lebih banyak dari rakyat dan terutama, meyakinkan Protos untuk mencabut Korazam. Lalu, dengan begitu, kita bisa mengubah pandangan Protos sehingga mencabut Korazam dan menyingkirkan Imam Besar munafik itu. &lt;br /&gt;Mdz.: Apa kau yakin dengan usahamu itu? Bagaimana dengan militer Zergopaxi. Mereka masih setia melindungi Protos dan Korazam!&lt;br /&gt;Zrt.: Kita berjuang bersama dengan rakyat. Kau pun tahu, seluruh rakyat Zergopaxi sudah muak akan aturan Korazam. Dan mengenai militer, kau kira militer Zergopaxi loyal pada Protos? Kalau kau menganggap begitu, kau salah! Protos adalah raja yang buruk. Dia terlalu muda saat diangkat jadi raja. Dalam usianya yang muda itu dia sudah sombong dan merasa yang paling hebat. Dia bukanlah tipe pemimpin yang baik. Bawahannya mulai tidak bersimpati padanya, termasuk pihak militer. Aku sudah melobi beberapa perwira militer yang tidak menyukainya, dan mereka berjanji akan membantu bila diperlukan. &lt;br /&gt;Mdz.: bagaimana kalau aku menolak?&lt;br /&gt;Zrt.: Kalau kau rela tanah Boratos yang indah ini menjadi neraka dan dipenuhi darah oleh pasukan Serigala Merah, tak usah kau gubris undanganku ini. Tapi, Medoza, aku mengetahui betul sifatmu. Ayahmu dan aku dulu bersahabat karib ketika kami menjalani pendidikan Hukum dan Politik di Sekolah Tinggi Nexus. Aku tahu benar bahwa kau tidak akan membiarkan Boratos ini jadi neraka. Dan aku pun tahu bahwa kau hendak membebaskan seluruh Zergopaxi dari aturan Korazam. Demi kemuliaan En Tora Amaran dan demi kesejahteraan rakyat Zergopaxi,  bantulah kami! (tegas)&lt;br /&gt;(hening....)&lt;br /&gt;Mdz.: Baiklah aku akan datang dengan membawa pasukanku. &lt;br /&gt;Zrt.: Jangan, jangan kau bawa pasukan. Ini adalah perundingan damai. Anexus, akupun mempertaruhkan nyawaku dalam perundingan ini. &lt;br /&gt;Anx: Kau harus memberi kami jaminan bahwa Medoza akan baik-baik saja. Resikonya terlalu besar! Mengikuti perundingan di sarang musuh tanpa kawalan.&lt;br /&gt;Zrt.: Aku tidak dapat memberikan jaminan apapun selain kehormatanku!&lt;br /&gt;Anx.: Kehormatanmu tidak akan memberi jaminan keselamatan apapun bagi Medoza!&lt;br /&gt;Mdz.: Tidak apa-apa Paman Anexus, perundingan ini didukung oleh rakyat, dan rakyat adalah tentara yang paling hebat. &lt;br /&gt;Zrt.: Aku setuju dengan pendapatmu Medoza! Aku telah mengutus orang-orangku untuk secara diam-diam mengumumkan mengenai perundingan ini. Nanti, mereka akan berkumpul di depan istana Nexus untuk mendukung kita!&lt;br /&gt;Mdz.: Kapan perundingan ini akan dilaksanakan?&lt;br /&gt;Zrt.: Tanggal 46 bulan Rexi, tepat bersamaan dengan perayaan 10 tahun diberlakukannya aturan Korazam&lt;br /&gt;Anx.: Medoza, aku tetap tidak setuju membiarkan kamu datang ke sana tanpa kawalan yang memadai!&lt;br /&gt;Mdz.: Paman Anexus, mereka tidak bisa seenaknya membunuh aku ataupun Zeratul, dalam aturan Korazam sendiri ada tertulis mengenai bolehnya warga negara mengajukan pendapat secara langsung pada raja.&lt;br /&gt;Zrt.: Ya, itu benar....&lt;br /&gt;(hening....)&lt;br /&gt;Zrt.: Baiklah, Medoza, sahabatku, keselamatan dan kesejahteraan seluruh Zergopaxi ada di tanganmu. Aku berharap supaya kau bergabung bersamaku, demi menyadarkan Protos! Aku hendak pamit.... ada banyak urusan yang harus kuselesaikan. Terimakasih karena kau mau menyambutku dengan begitu baik. &lt;br /&gt;(Medoza dan Zeratul berjabat tangan)&lt;br /&gt;Mdz.: Aku adalah hamba keadilan dan kebenaran. Siapapun yang berkehendak baik, membela kebenaran dan keadilan, terutama demi rakyat Zergopaxi ini, adalah saudaraku.&lt;br /&gt;(Zeratul dan Medoza saling menunduk, hormat. Zeratul berbalik dan pulang.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak V&lt;br /&gt;(Ruang rapat di istana Boratos. Berkumpul di situ, Medoza dan beberapa penasehatnya dan pejabat tinggi yang terkait dengan keputusannya pergi berunding dengan Protos. Hadir di sana, Anexus, penasehat utama; Rogan, penasehat militer; Auriel, penasehat ekonomi dan keuangan; Tola, penasehat politik dan hubungan luar negri; Gabo, panglima besar tentara Boratos)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rogan: Pemimpin Tertinggi, dari lubuk hati saya yang terdalam, saya tetap tidak setuju, Pemimpin Tertinggi berangkat memenuhi undangan Zeratul tanpa kawalan. Keselamatan Pemimpin Tertinggi harus diutamakan demi kelangsungan perjuangan kami. &lt;br /&gt;Tola: Ingat Rogan.. tujuan perjuangan kita adalah demi seluruh Zergopaxi. Boratos ini hanyalah sebuah langkah awal, sepercik api kecil. Perundingan ini akan mewujudkan impian kita bersama. Kedamaian di seluruh Zergopaxi dan bahkan di seluruh daratan Eilenes akan tercapai. Aku yakin bahwa Pemimpin Tertinggi dapat meyakinkan Protos untuk mencabut Korazam.&lt;br /&gt;Rogan: Aku tahu, pasti begitu... tapi caranya tidak melalui perundingan itu. Ingat kita masih punya pasukan memadai. Kita...&lt;br /&gt;Tola: Memadai apanya, jangan kau menutupi kenyataan Rogan, dalam hal jumlah, pasukan kita masih kalah jauh dengan pasukan Protos. &lt;br /&gt;Auriel: Dan lagi, kekerasan bukan jalan keluar. Kekerasan tidak pernah menghasilkan kedamaian. Saya setuju jika Pemimpin Tertinggi memenuhi itikad baik Zeratul. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh dibuang-buang. Dengan dicabutnya Korazam, aku yakin ekonomi Zergopaxi akan melesat, sama seperti ekonomi Boratos. &lt;br /&gt;Wago: Tapi aku masih curiga. Kebaikan Zeratul bagiku terlalu mendadak. Bisa jadi, ia hendak memanfaatkan situasi ketidakpuasan rakyat terhadap Korazam... termasuk memanfaatkan Pemimpin Tertinggi Medoza untuk ambisinya. &lt;br /&gt;Anx.: Betul, bisa jadi ia hanya memanfaatkanmu Medoza...&lt;br /&gt;Gabo: Sebentar, Paman Anexus,....pasukan elit Boratos akan siap di gerbang ibukota Wotan. Kami mampu bergerak secepat serigala dan dengan kekuatan sebesar beruang. Mengenai keselamatan Pemimpin Tertinggi, serahkan pada kami. (Nada bangga)&lt;br /&gt;Rogan: Tidak semudah itu, Gabo, saat kau dan pasukanmu mencapai istana Nexus, bisa jadi, Pemimpin Tertinggi sudah diamankan atau...&lt;br /&gt;Gabo: Kau adalah penasehat militer. Bagaimana bisa-bisanya kau meremehkan kekuatan pasukan Boratos? &lt;br /&gt;Rogan: Tidak, aku tidak meremehkan... hanya saja aku tidak setuju. &lt;br /&gt;Tola:  Kita harus mementingkan kepentingan Zergopaxi. Perjuangan kita adalah perjuangan supaya seluruh rakyat Zergopaxi bebas dari aturan Korazam... rakyat sudah menderita dengan Korazam... itikad baik Zeratul...(pembicaraannya dipotong oleh Anexus)&lt;br /&gt;Anx.: Tapi Zeratul tidak memberikan jaminan keselamatan. Lebih baik kita menggunakan kekuatan militer kita.&lt;br /&gt;Auriel: Jangan, jalan kekerasan tidak pernah membuahkan hasil. &lt;br /&gt;Rogo: Aku tetap tidak setuju... terlalu berbahaya...&lt;br /&gt;(mereka semua lalu riuh berdebat...)&lt;br /&gt;Mdz.: Cukup! (Menggebrak meja pertemuan; yang lain diam bergeming) Biarlah keputusan ada di tanganku untuk perkara ini. Dan aku telah memutuskan untuk datang dalam perundingan itu, demi melepaskan rakyat Zergopaxi dari belenggu Korazam. Apapun resikonya, aku tanggung. (Hening sejenak...) Karenanya, Wago, ketua Senat, beritahu pada anggota senat bahwa aku akan berangkat ke ibukota untuk berunding dengan Protos demi melepaskan rakyat Zergopaxi dari belenggu Korazam. (Wago menunduk, hormat) Tola, penasehat politik, sekaligus menteri dalam negri, sementara ini, kekuasaan pemerintahan Boratos kumandatkan padamu. (Tola menunduk, hormat) Auriel, bantulah ia. (Auriel menunduk, hormat) Paman Anexus akan menggantikanku sebagai kepala negara Boratos. &lt;br /&gt;Gabo: Bagaimana dengan pengawalan Anda, Pemimpin Tertinggi?&lt;br /&gt;Mdz.: bawa 10 orang untuk mengawal keretaku dan sisanya berjaga-jaga di gerbang ibukota Wotan. Paman Anexus, tolong beritahu Zeratul secepatnya mengenai kesediaanku. Lusa kita harus berangkat. Saudara-saudara, aku yakin bahwa kebenaran akan menang, dan yang utama, En Tora Amaran akan selalu menaungi semua orang yang berpihak padaNya.  &lt;br /&gt;(Musik yang membawa suasana tegang mengalun....lampu meredup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAK VI&lt;br /&gt;(suasana di salah satu kedai di Propinsi Boratos. Ada empat penduduk Boratos yang sedang menikmati istirahat sorenya sambil minum-minum. Mereka bercakap-cakap mengenai kepergian Pemimpin Tertinggi Medoza ke istana Nexus untuk berunding dengan Protos.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Kau dengar, Pemimpin Tertinggi kita akan pergi ke ibukota Wotan untuk menemui Protos.&lt;br /&gt;B: Ya, aku tahu...&lt;br /&gt;C: Hah..? Yang benar saja! Buat apa?&lt;br /&gt;B: Yang kutahu, beberpa hari yang lalu, Hakim Agung Zergopaxi, Zeratul datang menemui Pemimpin Tertinggi dan mengajaknya berunding dengan Protos.&lt;br /&gt;D: Gila... untuk apa berunding dengan musuh?&lt;br /&gt;B: Perundingan itu dimaksudkan untuk membujuk Protos supaya aturan Korazam dihapus.&lt;br /&gt;C: Apa bisa? Membujuk Protos?&lt;br /&gt;A: Kurasa bisa saja. Kabar angin mengatakan bahwa nanti tanggal 46 bulan Rexi, bertepatan dengan peringatan 10 tahun ditetapkannya Korazam, rakyat Zergopaxi akan berkumpul di alun-alun depan istana Nexus. Mereka akan mendukung untuk dicabutnya aturan Korazam. Dewan militer Zergopaxi juga katanya terpecah menjadi dua kubu. Jadi, ada rakyat dan sebagian pihak militer yang akan mendukung Pemimpin Tertinggi dan Zeratul. &lt;br /&gt;D: Gila... bisa-bisa ada pertumpahan darah tuh... dan Pemimpin Tertinggi kita bisa terbunuh...&lt;br /&gt;B: Itulah yang kutakutkan... apalagi ia pergi ke sana hanya dengan membawa beberapa pengawal. &lt;br /&gt;D: Gila... benar-benar gila!&lt;br /&gt;C: Eh, tapi, kenapa dalam benak Zeratul muncul pikiran mengadakan perundingan... Apa Zeratul turut memberontak? Dan... dan lagi, itikad baiknya itu terlalu mencurigakan?&lt;br /&gt;A:  Benar juga, bisa jadi, ini adalah rencana busuk Zeratul. Setahuku, Zeratul itu dulu berambisi jadi Pemimpin Tertinggi Zergopaxi. Hmm... dulu itu, dengan adanya Korazam, sistem kenegaraan kita beralih dari Monarki Konstitusional menjadi Monarki Absolut. Jadi, dengan adanya Korazam, otomatis, jabatan Pemimpin Tertinggi praktis hilang. Padahal, waktu itu, salah satu calon Pemimpin Tertinggi yang paling bernafsu menduduki kursi Pemimpin Tertinggi adalah Zeratul...&lt;br /&gt;(B, C, D, mengangguk)&lt;br /&gt;D: Gila! Gila!&lt;br /&gt;C: Betul..., betul juga... ini bahaya, berarti Pemimpin Tertinggi diperalat. Kenapa ia mau memenuhi undangan itu ya...?&lt;br /&gt;A: Kurasa ia punya pertimbangan yang lebih mulia... pertimbangan seorang Medoza&lt;br /&gt;B: Apa maksudmu?&lt;br /&gt;A: Pemimpin Tertinggi Medoza datang memnuhi undang Zeratul karena dia tahu bahwa perjuangannya adalah demi seluruh Zergopaxi. Kau kan tahu, dari segi militer, kekuatan Boratos belum mampu menandingi pasukan Protos...&lt;br /&gt;D: Gila! Dia rela, nyawanya terancam demi kita...&lt;br /&gt;C: Itulah pemimpin sejati...satu-satunya….&lt;br /&gt;A: Ya… pemimpin yang bernurani Semoga En Tora Amaran selalu besertanya!&lt;br /&gt;(A, B, C, D, mengangguk. Lampu meredup. Musik bercorak kepahlawanan mulai mengalun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAK VII&lt;br /&gt;(ruang utama Istana Nexus di mana tahta Protos berada. Sayup-sayup terdengar gemuruh masa yang sedang marah. Di situ tampak beberapa petinggi Zergopaxi yang cemas. Raja Zergopaxi, Protos V masuk ke ruangan utama melalui pintu pribadinya dengan tergesa-gesa. Wajahnya merah karena cemas bercampur marah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pr.: Apa-apaan ini Sesoster? Di mana Zeratul? Di saat genting seperti ini seharusnya ia ada di istana. Di mana Zambara?&lt;br /&gt;Sst.: Mengenai Zeratul Hamba tidak tahu ia ke mana. Sudah tiga hari belakangan ini ia tidak tampak di istana. Tapi, Zambara sedang mengamankan keadaan. Tentang semua ini, hamba tidak tahu apapun Yang Mulia. Tahu-tahu masa berkumpul dalam waktu singkat. Padahal, pagi tadi, alun-alun depan istana tampak tenang. Untung mereka tidak masuk, mendobrak istana...&lt;br /&gt;Pr.: Untung... ?? bagaimana kau bisa bilang untung? Rakyat ibukota marah pada hari peringatan 10 tahun Korazam? Seharusnya, mereka mendatangi kuil En Tora Amaran dan mempersembahkan kurban besar baginya. Buat apa mereka malah marah-marah dan berteriak-teriak menentang Korazam.... ini tidak lepas dari tanggung jawabmu Sesoster! Sebagai, imam besar, kau bertanggungjawab pada moral bangsa ini. &lt;br /&gt;Sst.: Ampun Yang Mulia, hamba...&lt;br /&gt;(tiba-tiba pintu utama terbuka. Zambara masuk ke dalam ruangan diikuti oleh ajudannya, Yarigan.)&lt;br /&gt;Zbr.: (segera mendekati Protos dan berlutut di satu kaki, sambil menunduk) Yang Mulia, semuanya sudah dalam keadaan aman terkendali!&lt;br /&gt;Pr.: Aman terkendali? Kau kira aku bisa dibohongi semudah itu? Ratusan ribu rakyat yang marah-marah itu kau kira aman? Demi En Tora Amaran, apa yang terjadi pada kerajaan ini... (duduk di tahta, lesu, tangan kanannya menutupi mata dan keningnya) Apa salahku... hingga rakyatku marah?&lt;br /&gt;Zbr.: Yang Mulia, seluruh pasukan kita sudah kukerahkan untuk mengamankan seluruh ibukota dan terutama di sekitar istana Nexus ini. &lt;br /&gt;(Protos hanya diam saja; ia tetap terduduk di tahtanya sambil memegangi keningnya. Seluruh pejabat tinggi istana yang ada diam, menyisakan gemuruh masa yang semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba, gemuruh masa itu meneriakkan “Zeratul...Zeratul...Zeratul...” dan “Medoza...Medoza...Medoza...” Seorang kapten prajurit masuk ke ruangan dan menghadap para petinggi istana, melaporkan kedatangan tamu.)&lt;br /&gt;Prajurit: Kemuliaan dan hormat selama-lamanya  bagi Protos V yang agung! (Hormat, memberi salam). Yang Mulia, kereta Zeratul datang. &lt;br /&gt;Sst.: Aku mencium bau pengkhianatan! (geram)&lt;br /&gt;Pr.:Suruh Zeratul secepatnya datang menghadapku! &lt;br /&gt;(Prajurit itu keluar. Beberapa saat kemudian, pintu utama terbuka lagi. Zeratul berjalan berdampingan dengan Medoza.)&lt;br /&gt;Pr.:Demi En Tora Amaran yang mahasuci! Terkutuklah kau Zeratul, pengkhianat tengik, jahanam. Kau harus dihukum!&lt;br /&gt;Zrt.: Yang Mulia Protos, apa maksud Anda? Saya tidak bermaksud apa-apa? Saya adalah seorang nasionalis sejati. Hidup saya saya abdikan sepenuhnya bagi Zergopaxi. Kenapa Yang Mulia marah-marah pada hamba?&lt;br /&gt;Sst.: Kau bermasih saja berpura-pura. Teriakan rakyat yang menyebutmu itu buktinya. Pasti kaulah yang mengorganisir mereka. Dasar, tidak tahu malu! Hakim Agung Zergopaxi sekaligus penasehat utama Raja ternyata berkhianat! &lt;br /&gt;Pr.: Ya.. kau adalah otak dari dibalik segala kekacauan ini!! Zambara, tangkap mereka! Zeratul sudah terbukti jelas bahwa kau bekerjasama dengan Medoza, pemberontak.&lt;br /&gt;Zrt.: Tunggu dulu, Protos, memang benar bahwa aku berunding dengan Medoza; tapi, walaupun demikian, kau tidak bisa asal melakukan hal itu!&lt;br /&gt;Sst.: Tentu saja Yang Mulia bisa, Yang Mulia adalah Raja Zergopaxi, ia berkuasa atas kamu!&lt;br /&gt;Mdz.: Yang Mulia Protos, Anda adalah orang yang menghargai dan begitu mematuhi aturan Korazam. (Protos sedikit mengangguk). Menurut aturan Korazam ayat 33 tentang hak warganegara, diperbolehkan warganegara Zergopaxi untuk menyampaikan usul dan perasaannya kepada sang Raja secara langsung. Bukankah begitu, Sesoster?&lt;br /&gt;(Sesoster hanya diam, tidak mampu berbicara apapun.)&lt;br /&gt;Pr.: Tidak bisa, pokoknya kalian berdua harus dihukum mati. Zambara, ayo tangkap mereka!&lt;br /&gt;Zbr.: Maaf, Tuanku, Hamba amat menghormati dan taat pada Korazam. Wahyu En Tora Amaran yang terwujud dalam Korazam harus diutamakan. Benar, bahwa kita tidak berhak menangkap mereka. Mereka adalah warganegara yang hendak menyatakan perasaan mereka.&lt;br /&gt;Pr.: Kurang ajar, kau Zambara, kau pun menolak perintahku. Kau telah gagal mempertahankan Boratos, kau juga telah gagal menangani demonstrasi menentang diriku, dan kini kau menolakku. Kini, ibukota dipenuhi oleh orang-orang barbar yang tidak beradab. &lt;br /&gt;Zrt.: Tunggu dulu... kalian semua penuh dengan emosi! Yang Mulia Protos, rakyat yang berkumpul di alun-alun itu bukanlah sebuah kekacauan. Mereka adalah rakyat Zergopaxi yang sedang melampiaskan... Hmm... bukan... lebih tepat bila saya sebut, mengekspresikan isi hatinya. Dan lagi, saya tetaplah Zeratul, Hakim Agung dan Penasehat Raja, hanya saja sekarang saya melepas atribut dan pangkat saja dan datang ke hadapan Raja Protos! Saya dan Medoza datang ke hadapan anda sebagai wakil rakyat yang hendak menyampaikan aspirasi kami. &lt;br /&gt;Zbr.: Demi kedamaian Zergopaxi, Anda sebaiknya mendengarkan perasaan mereka....&lt;br /&gt;Mdz.: Yang diinginkan oleh rakyat Zergopaxi adalah dicabutnya aturan Korazam! (Tegas dan dingin)&lt;br /&gt;Pr.: (marah besar) Apa? Mencabut Korazam? Apa maksudmu? Korazam adalah aturan suci yang harus dipertahankan. &lt;br /&gt;Sst.: Betul Yang Mulia (tampak mulai gelisah) Korazam adalah wahyu En Tora Amaran kepada kita, umat pilihannya. Tujuan korazam adalah suci. En Tora Amaran telah memerintahkan supaya Korazam dijadikan pedoman hidup utama.... supaya kita kelak bisa sampai ke Konos dan hidup bersatu dengan En Tora Amaran, bahagia selamanya! Rasul Xeba, sang Mahaguru sendiri begitu menekankan pentingnya Korazam. &lt;br /&gt;Mdz.: Imam Besar Sesoster, saya benar-benar yakin bahwa seluruh rakyat Zergopaxi mengetahui pentingnya Korazam, dan betapa mulia tujuannya. Bangsa Zergopaxi adalah pengikut setia En Tora Amaran... tapi, keberadaan Korazam malah menjadi belenggu bagi mereka!&lt;br /&gt;Pr.: Kenapa belenggu? Sejak kecil aku dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan Korazam. Dan dalam pendidikanku aku menyadari bahwa ajaran En Tora Amaran selalu terwujud dalam Korazam. Korazam adalah pedoman hidup yang begitu indah, penuh dengan makna rohani; dambaan setiap orang yang merindukan dirinya bersatu dengan En Tora Amaran. Bagaimana Korazam yang begitu luhur itu dirasakan sebagai beban?&lt;br /&gt;Zrt.: Protos, Anda tidak dapat merasakan Korazam sebagai sebuah belenggu karena Anda tinggal dalam istana. Anda tidak pernah keluar dan mengunjungi rakyat Anda. Anda tidak menyadari betapa sulitnya kehidupan dengan adanya Korazam. &lt;br /&gt;Pr.: Tapi dahulu....?&lt;br /&gt;Mdz.: Dulu, mungkin Korazam begitu berhasil tapi, tidak untuk sekarang. Kini, Korazam tidaklah relevan lagi?&lt;br /&gt;Sst.: Tidak mungkin Korazam tidak relevan lagi... Korazam selalu relevan. Korazam adalah wahyu En Tora Amaran yang Maha-abadi. &lt;br /&gt;Mdz.: Situasi dan kondisi pada masa-masa awal Korazam diberlakukan di seluruh dataran Eilenes oleh Rasul Xeba Sang Mahaguru sekitar 500 tahun yang lalu, amat berbeda dengan situasi dan kondisi yang sekarang. Dahulu seluruh dataran Eilenes ini dipenuhi oleh kebusukan dan dosa. Peperangan yang membawa pertumpahan darah terjadi hampir setiap hari, tanpa berhenti. Setiap klan bermusuhan satu smaa lain. Usaha-usaha maksiat berkembang pesat. Wanita-wanita sundal ada di mana-mana, menawarkan kenikmatan birahi sesaat. Perjudian merebak di kota-kota besar, memicu perkelahian di setiap malam. Kemudian, melalui Xeba sang Mahaguru, En Tora Amaran yang prihatin akan kebejatan umatnya mewahyukan Korazam. Dan tepat bahwa saat itu aturan Korazam benar-benar sukses...membawa seluruh daratan Eilenes kepada kedamaian dan kesejahteraan, hanya dalam jangka waktu 50 tahun. Namun, 250 tahun kemudian, Xonon, sang Maha guru, penerus Xeba, mencabut kembali aturan Korazam karena memang Korazam saat itu dirasakan tidak relevan lagi dan bahkan membelenggu rakyat... tepat seperti keadaan sekarang.&lt;br /&gt;Zrt.: Betul...amat tepat... apa yang kau kira aturan jam suci itu relevan. Dulu, memang; demi menghindari dari praktek-praktek pelacuran dan perjudian. Kini, saat praktek-praktek maksiat itu memang sudah tidak ada, aturan jam suci hanya membuat Zergopaxi seperti kuburan di setiap malam. Dari segi ekonomi, berapa banyak kerugian yang didapat seharusnya.... ketimbang diam di rumah, tidak melakukan apa-apa. Lalu mengenai pajak sepertigaan bagi En Tora Amaran. Jumlah sepertiga itu terlalu besar untuk dibebankan pada masa sekarang. Perdagangan bebas memaksa orang untuk bertahan hidup dengan biaya hidup yang lebih tinggi. Dengan sisa 2/3 penghasilannya, rata-rata setiap keluarga masih dapat hidup. Tapi, dalam kesengsaraan. Nilai kesederhanaan yang hendak dicapai dengan adanya pajak ini tidak akan tercapai... karena, kesederhanaan sejati, menurut Mahaguru Xeba, akan membuahkan kegembiraan.... Tapi, lihatlah, kesengsaraan yang timbul oleh pajak ini; apakah ini yang dinamakan serikat. Nasib para wanita lebih mengenaskan. Sejak lahir, mereka hanya boleh berkeliaran di dalam rumah dan di pekarangan sekitar rumah. Mereka terkekang, tidak pernah mengenal membaca, menulis; bahkan, tentang negaranya sendiri mereka jadi buta. Lalu, kehidupan juga menjadi aneh. Di mana-mana, yang ada hanyalah laki-laki. Bahkan hingga penata-rambut dan penari pun laki-laki. Ingatlah... perempuan pun memiliki hak. Mereka berhak untuk mendapatkan pelajaran. Mereka berhak untuk keluar rumah, bergaul dengan teman-temannya, membantu suami atau ayahnya bekerja. Dulu memang perempuan dianggap sebagai sumber dosa tetapi tidak lagi... untuk sekarang.&lt;br /&gt;Pr.: (agak cemas) Tapi, kita harus memberlakukan Korazam karena yang Mahasuci En Tora Amaran-lah yang memerintahkan kita untuk menjalani Korazam... En Tora Amaran sendirilah yang telah memerintahkan ini melalui perantaraan Sesoster, Imam Besar pada masa pemerintahan ayahku. Itulah sebabnya, ayahku memberlalukan Korazam kembali. &lt;br /&gt;Sst.: Betul... aku telah memperoleh penglihatan dari En Tora Amaran yang Mahasuci sendiri 10 tahun yang lalu. Dan Yang Mahasuci telah mengutus aku untuk memerintahkan umat pilihannya yaitu seluruh rakyat Zergopaxi untuk melaksanakan aturan Korazam... supaya kelak seluruh rakyat Zergopaxi dapat mencapai Konos dan bersatu dengan Yang Mahasuci!&lt;br /&gt;Zrt.: Hai kau imam munafik, kau adalah sumber Kejahatan yang telah membelenggu Zergopaxi. Kau telah membohongi seluruh rakyat Zergopaxi demi kesenanganmu pribadi. Aku tahu bahwa kau tidak pernah menerima penglihatan dari En Tora Amaran! Bahkan, kau begitu tega menyingkirkan Watonga, ayah Medoza yang saat itu menghalangi usahamu untuk membuat Protos IV percaya bahwa Korazam harus diberlakukan. Dan dengan kematian Watonga, Protos IV berhasil kau pengaruhi... sejak saat itulah mimpi buruk Zergopaxi dimulai... semuanya gara-gara kamu! Pembohong besar! &lt;br /&gt;Sst.: Lancang kau! (Panik) Kau menghina kemampuanku dan wibawaku sebagai seorang Imam Besar? Kau meragukan bahwa aku menerima wahyu dari En Tora Amaran? Dan aku membunuh Watonga? Fitnah macam apa ini? Dasar kurang ajar. Aku adalah Imam Besar yang telah ditahbiskan oleh En Tora Amaran yang Mahasuci sendiri. Aku adalah orang suci yang selalu mematuhi ajaran-ajaran Yang Mahasuci... termasuk aturan Korazam...&lt;br /&gt;Zrt.: Suci? Kau sebenarnya adalah imam yang murtad. Nuranimu telah mati! Pentahbisanmu sudah menjadi sebuah kebusukan... karena dengan pengaruh dan kuasamu sebagai Imam Besar, kau telah menyengsarakan Zergopaxi selama 10 tahun terakhir... Dasar, imam tak bernurani.&lt;br /&gt;Pr.: Apa maksud pembicaraan kalian? Sesoster bohong bahwa dirinya menerima penglihatan dari En Tora Amaran....?&lt;br /&gt;Mdz.: Betul Yang Mulia, Sesoster tidak pernah menerima penglihatan dari En Tora Amaran. Ia hanya mengarang cerita bahwa En Tora Amaran mewahyukan supaya aturan Korazam diberlakukan kembali di seluruh Zergopaxi.... Sebenarnya, ia hanya hendak menyelamatkan posisinya. Sesoster adalah Imam Besar yang buruk... dan karenanya, jabatannya terancam dicabut oleh senat....&lt;br /&gt;Sst.: Kurang ajar kau... fitnah... Itu adalah fitnah Yang Mulia!&lt;br /&gt;Pr.: Diam kau Sesoster! (Menghardik dengan wibawa yang besar)&lt;br /&gt;Mdz.: Dengan diberlakukannya Korazam, jabatannya selamat karena jabatan Imam Besar, menurut Korazam adalah jabatan seurmur hidup. Dan juga, dia mampu menyingkirkan penghalang utamanya yaitu ayahku, sang ketua senat yang selalu mengkritiknya. &lt;br /&gt;Sst.: Yang Mulia Protos yang Agung, demi En Tora Amaran hamba, tidak pernah berpikir atau bertindak seperti itu, itu semua adalah fitnah yang mereka rekayasa supaya ada perpecahan di antara kita. &lt;br /&gt;Zrt.: Sesoster, jangan kira kami berdua bicara di sini tanpa fakta. Aku punya informan-informan yang dapat dipercaya di seluruh penjuru dan lorong-lorong Zergopaxi... termasuk informan di dalam kuil En Tora Amaran. Aku bisa menghadirkan kesaksian mereka dengan segera. (Nada mengancam) Aku tahu segala kebusukanmu Sesoster, termasuk pelecehan seksual yang kau lakukan terhadap pelayan suci yang melayani kuil En Tora Amaran.&lt;br /&gt;Pr.: (berdiri dengan wajah kaget, nada marah besar) Demi En Tora Amaran, pelecehan seksual terhadap para pelayan suci??&lt;br /&gt;Zrt.: Tepat!&lt;br /&gt;Sst.: Bohong... ini fitnah... fitnah! &lt;br /&gt;Pr.: Ini sudah kelewatan... sungguh kelewatan... (marah besar) Pelayan Suci En Tora Amaran adalah gadis-gadis perawan... ini adalah tindakan asusila yang... yang.... yang amat memalukan dan tidak berperikemanusiaan. Tidak pantas menjadi Imam Besar.... kau benar-benar sumber Kejahatan dan petaka bagi Zergopaxi!! Sesoster, kau memang binatang!&lt;br /&gt;Sst.: Yang Mulia, ampun beribu ampun, Yang Mulia, Hamba....(terpotong)&lt;br /&gt;Pr.: Zambara, tangkap orang ini! Masukan ia ke penjara Grotos! Lucuti pakaiannya, ia tidak pantas mengenakan pakaian kebesaran Imam Agung. Ia adalah binatang dan sumber malapetaka bagi Zergopaxi!! &lt;br /&gt;Zbr.: Dengan senang hati yang mulia... Prajurit tangkap binatang ini! (Ia memerintahkan prajuritnya)&lt;br /&gt;(Dua orang prajurit segera menangkap Sesoster. Sesoster berteriak-teriak dan meronta-ronta)&lt;br /&gt;Sst.: Yang Mulia, percayalah, ini semua bohong!&lt;br /&gt;Pr.: Tidak, kaulah yang memang busuk Sesoster. Sebenarnya, aku pun pernah mendengar laporan ini. Tapi, aku masih percaya padamu, sebagai mantan guruku. Namun, mendengar kesaksian Zeratul, kini kepercayaanku padamu runtuh! Prajurit, jangan sungkan-sungkan membelenggu imam busuk ini! Besok pagi, kau akan di bakar hidup-hidup di depan seluruh rakyat Zergopaxi.&lt;br /&gt;(Sesoster yang terus-menerus berteriak-teriak diseret keluar dari ruangan utama Istana Nexus. Setelah itu, suasana hening. Protos duduk dengan lesu di tahtanya. Kepalanya tertunduk, matanya ditutupi oleh telapak tangannya yang menopang pada bahu tahtanya.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pr.: Apa salahku... Aku tidak menyangka semuanya akan berakhir begini. Aku tidak bisa membayangkan betapa rakyatku membenci diriku...&lt;br /&gt;Mdz.: Yang Mulia Protos, semuanya ini berawal dari aturan Korazam. Karenanya, Yang Mulia harus segera mencabutnya! &lt;br /&gt;Pr. : Ya, kurasa kau benar, Medoza. Maafkan aku, selama ini aku mencapmu sebagai pemberontak. Seharusnya, aku peka pada rakyatku... Imam busuk itu telah menipu ayahku, aku, dan seluruh Zergopaxi ini. Baiklah... aku akan mengeluarkan pernyataan resmi untuk mencabut Korazam... (Protos berdiri dan bermaksud memaklumkan dicabutnya Korazam)Wahai seluruh Zergopaxi, kalian adalah saksi dari semuanya ini, bahwa diberlakukannya Korazam adalah tipu daya Sesoster, Imam Agung busuk itu. Karenanya pula, aku, Protos V, Raja Kerajaan Zergopaxi yang Mulia ini, menyatakan bahwa aturan Korazam, mulai hari ini, tidak berlaku lagi! (pernyataan ini disambut gembira oleh para petinggi Zergopaxi di sana, termasuk prajurit.)&lt;br /&gt;Mdz.: Syukurlah!&lt;br /&gt;Zrt.: (dengan nada tegas dan dingin) Protos, rakyat Zergopaxi sudah keburu sakit hati dan marah, sebagai penasehat Anda, saya mengusulkan supaya Anda mengundurkan diri. Ini semua demi kebaikan Anda, dan terlebih lagi... demi kebaikan seluruh Zergopaxi! Anda pasti tahu hal ini.&lt;br /&gt;(Hening. Protos terduduk di tahtanya, memandangi Zeratul dengan wajah bingung, lalu memandang ke atas, merenung)&lt;br /&gt;Mdz.: Zeratul, apa maksudmu, kita tidak bermaksud sampai sejauh itu. Yang Mulia Protos sudah mencabut Korazam, lalu apalagi... kenapa ia harus...&lt;br /&gt;Zrt.: (tiba-tiba dipotong oleh Zeratul dengan nada keras) Diam Medoza! Kau tidak tahu apa-apa tentang hal ini...apalagi di usiamu yang masih belia ini!&lt;br /&gt;Prt.: Kurasa nasehatmu itu tepat, Zeratul. Baik rasanya kalau aku mundur... kurasa, aku sudah banyak bersalah bagi rakyat Zergopaxi dan harus menebus kesalahanku.... Lagi pula, aku memang berniat menenangkan diri. Aku bukanlah seperti ayahku yang gemar berpolitik. Aku lebih suka berdiam di Kuil En Tora Amaran dan berdoa padanya. &lt;br /&gt;Mdz.: Yang Mulia,... &lt;br /&gt;Pr.: Ya, aku akan bertapa di Hutan Sora Bora... merenungi hidupku... dan mencoba mendalami ajaran-ajaran En Tora Amaran... &lt;br /&gt;Mdz.: Tidak bisa Yang Mulia, bagaimana dengan pemerintahan Zergopaxi? Ini malah akan memperkeruh suasana politik! Kau tidak bisa...&lt;br /&gt;Zrt.: Medoza, adalah hak asasi Protos untuk menentukan nasibnya, kau tidak bisa memaksanya...&lt;br /&gt;Mdz.: Tapi...&lt;br /&gt;Pr.: Yah... betul, Medoza, ini adalah cara yang tepat untuk menebus kesalahanku dan juga mungkin kesalahan ayahku selama 10 tahun ini pada rakyat Zergopaxi.... Saudara-saudara sekalian, para petinggi Zergopaxi, saya akan mengundurkan diri sebagai raja Zergopaxi. Sementara senat baru dibentuk dan sebelum senat melantik raja baru, tampuk pemerintahan saya percayakan pada Zeratul, penasehatku yang amat bijaksana dan setia... &lt;br /&gt;(Protos menanggalkan jubah kebesarannya dan melepas cincin Raja, meletakkannya pada tahtanya, ia menuruni tangga dan berlutut satu kaki, menghormat pada relief Naga, lambang Kerajaan Zergopaxi yang ada di atas tahtanya. Zeratul bergegas menuju tahta Zergopaxi dan mengambil kedua lambang kebesaran raja yang ada di atas tahta.)&lt;br /&gt;Zrt.: Cincin ini ada ditanganku sekarang, dan jubah ini telah kupakai. Kini, akulah raja Zergopaxi! Dan karenanya, aku berkuasa penuh di seluruh Zergopaxi. &lt;br /&gt;Pr.: (panik) Zeratul, apa-apaan ini? Apa maksudmu...&lt;br /&gt;Zrt.: Zambara, tangkap orang ini. Ia dan seluruh nenek moyangnya, wangsa Protos telah menyengsarakan bangsa Zergopaxi! Ia tidak pantas hidup. Tangkap ia dan bakar ia hidup-hidup besok pagi bersama dengan Sesoster. Aku yakin, rakyat akan bersenang-senang, menyaksikan dua orang sampah masyarakat dibakar...&lt;br /&gt;Zbr.: Dengan senang hati, Yang Mulia Zeratul, Raja Kerajaan Zergopaxi Baru.... Prajurit, seret pula orang ini ke penjara.... (menunjuk pada Protos.)&lt;br /&gt;(Dua prajurit segera menangkap Protos.)&lt;br /&gt;Mdz. : Apa maksudmu... kau tidak bisa berbuat ini, ini inkonstitusional. Ingat, Zeratul, Korazam sudah dicabut, dan ini artinya hanya senat yang berhak melantik raja baru... kau tidak bisa berbuat seperti ini... (hendak membela Protos)&lt;br /&gt;Zbr.: Prajurit, belenggu juga Medoza... jangan sampai ia melindungi pengkhianat Zergopaxi.&lt;br /&gt;(Dua prajurit memegangi tangan Medoza, membuatnya tidak bisa membantu Protos. Medoza tetap meronta-ronta.)&lt;br /&gt;Pr.: Zeratul... kurang ajar kau... kau adalah binatang yang paling hina di seluruh Eilenes ini! Kau busuk.... busuk.... kurang ajar... pengawal, aku adalah Protos, raja kalian, tangkap ia.&lt;br /&gt;Zbr.: Jangan ragu-ragu prajurit, kau sendiri lihat ia sudah melepaskan jabatannya sebagai raja. Lagian, ialah yang menyebabkan kau dan seluruh keluargamu, dan tetanggamu, dan seluruh saudaramu, bangsa Zergopaxi ini menjadi menderita....&lt;br /&gt;Pr.: Zambara, ada apa denganmu? Kau sudah gila? Mau-maunya kau menurutinya... &lt;br /&gt;Zbr.: Ya... kami sekarang adalah teman. Ternyata, kami berdua memiliki cita-cita yang sama terhadap Zergopaxi ini. Bukankah begitu, Zeratul... &lt;br /&gt;(Zambara dan Zeratul tertawa. Protos diseret keluar ruangan utama Istana Nexus. Ia masih meronta-ronta.)&lt;br /&gt;Mdz.: Gila! Kau gila Zeratul... Aku tidak percaya kau bisa merencanakan hal sekeji dan sebusuk ini...  Kau tak lebih buruk dari Sesoster, bahkan lebih buruk… lebih tidak bernurani!&lt;br /&gt;Zbr.: Kau memang terlalu lugu Medoza...&lt;br /&gt;Zrt.: Betul, Zambara saudaraku, tapi, jangan lupa, jasanya amat besar! &lt;br /&gt;Zbr.: Ya...  kita harus mengganjarnya...&lt;br /&gt;Zrt.: Medoza... kau masih muda dan terlebih lagi, kau amatlah berbakat dalam berpolitik. Bergabunglah bersama kami! Kalau kau mau bergabung dengan kami, kau akan kujadikan penasehat utamaku...&lt;br /&gt;Mdz.: Tidak! Tidak! Kau adalah pengkhianat! Selama ini aku mempercayaimu, Zeratul, sebagai rekan yang sama-sama memperjuangkan kebenaran dan keadilan; kukira perjuangan kita adalah demi kesejahteraan seluruh Zergopaxi... demi membebaskan seluruh Zergopaxi dari belenggu Korazam. &lt;br /&gt;Zrt.: Yah, justru yang kulakukan sekarang ini adalah demi kebenaran dan keadilan, demi kesejahteraan seluruh Zergopaxi.&lt;br /&gt;Mdz.: Tidak dengan cara ini, tidak dengan membakar Protos, rakyat pasti akan marah?&lt;br /&gt;Zrt.: Marah, tidak, tidak, rakyat tidak akan marah. Justru mereka memiliki dendam terhadap Protos. Ingat, yang diketahui rakyat hanyalah kebebalan dan kekejaman Protos dengan aturan Korazamnya. Maka, mereka akan gembira melihat Protos dibakar bersama-sama dengan Sesoster. Lalu, kami akan tampil sebagai suksesi Protos....&lt;br /&gt;Mdz.: Rakyat tidak mungkin sebodoh itu... mempercayai kalian sebagai suksesi Protos.&lt;br /&gt;Zbr.: Kami akan membentuk kerajaan Zergopaxi yang baru, yang jauh lebih kuat, yang akan dikenang sepanjang masa. Karena itulah, kami yakin seratus persen, rakyat Zergopaxi pasti akan mendukung kami...&lt;br /&gt;Mdz.: Apa maksudmu dengan kerajaan Zergopaxi yang baru? &lt;br /&gt;Zrt.: Medoza... kau tahu, kemunduran Zergopaxi bukanlah semata-mata karena Korazam... tapi juga karena En Tora Amaran. Walaupun Korazam dicabut, seluruh Zergopaxi masih terbelenggu oleh aturan-aturan lain... gara-gara En Tora Amaran. &lt;br /&gt;Zbr.:Ya! En Tora Amaran hanyalah akan menjadi kuk bagi Zergopaxi. &lt;br /&gt;Mdz.: Hah? Aku tidak mengerti maksudmu? Kau telah murtad! En Tora Amaran adalah pencipta kita, Dialah yang selalu menjaga kita! &lt;br /&gt;Zrt.: En Tora Amaran? Siapa dia? Atau, apa dia? Dia itu tidak ada! Pernahkan kau melihatnya? &lt;br /&gt;Mdz.: Bukan masalah itu... Kita terlalu hina jika En Tora Amaran mewujudkan dirinya pada kita. &lt;br /&gt;Zbr.: Kaulah yang hina!&lt;br /&gt;Zrt.: Medoza, tidak mengertikah kau... yang kau nyatakan itu adalah bukti nyata bahwa ketergantungan kita pada En Tora Amaran dengan segala kewajibannya menjadikan manusia-manusia Zergopaxi tidak bisa berkembang.&lt;br /&gt;Mdz.: Aku tidak percaya kau bisa berpikiran seperti itu! Di manakah nuranimu? Kau akan membusuk dalam api Odineus... En Tora Amaran sendirilah yang akan mencampakkanmu ke dalam api abadi Odineus, membuatmu menderita tanpa henti!&lt;br /&gt;Zbr.: Pikiranmu itu tidak masuk akal! Kau terlalu irrasional. Manusia-manusia sepertimu itulah yang tidak pantas bagi Zergopaxi. Zergopaxi yang akan kami bangun adalah Zergopaxi yang baru... tidak perlu ada Korazam, bahkan tidak perlu percaya pada En Tora Amaran.&lt;br /&gt;Zrt.: Medoza, aku menawarkan ini untuk yang terakhir kalinya. Apakah kau mau bergabung dengan kami? Kau akan kujadikan penasehatku! Tapi kalau kau menolak....&lt;br /&gt;Mdz.: Tidak! Tidak! Aku tidak akan bergabung dengan manusia-manusia tak bernurani sepertimu. &lt;br /&gt;Zbr.: Kalau kau menolak... kau akan mati, mati dengan cara yang sangat menderita... terlalu mengenaskan untuk seorang muda yang gagah sepertimu.&lt;br /&gt;Mdz.: Persetan. Pasukanku di luar tembok ibukota Wotan ini dan seluruh penghuni Boratos akan melawanmu. &lt;br /&gt;Zbr.: Oh, itu... pasukanmu telah mati... keracunan. Mereka begitu senang ketika kami memberi mereka pasokan makanan. Mereka makan dengan lahapnya tanpa sadar bahwa itu adalah saat terakhir mereka makan. Dan Boratos... Seluruh desa Boratos akan hancur lebur oleh pasukan Serigala Merah... Kau tidak akan bisa menghalangi kami... &lt;br /&gt;Mdz.: Biadab... Hewan! Bajingan! Licik.... &lt;br /&gt;Zrt.: Medoza... &lt;br /&gt;Mdz.: Tidak... apapun yang terjadi padaku dan apapun yang kau lalukan pada pasukanku dan seluruh Boratos... aku tidak akan berubah pikiran. Aku tidak akan bergabung dalam usahamu yang busuk itu... Akulah Medoza, Putra Watonga yang seumur hidupnya mengabdikan diri pada Kebenaran dan Keadilan. Walaupun aku menderita dan bahkan, mati, aku tidak akan mengabdi pada kekuasaan yang picik dan buta. &lt;br /&gt;Zbr.: Ha...ha.... kau benar-benar terlalu lugu, Medoza... terlalu dini bagimu mengenal aslinya dunia ini. &lt;br /&gt;Zrt.: Karena kau menolak... kau akan mati!&lt;br /&gt;Mdz.: Bajingan kau! Suatu saat nanti, kau akan jatuh... dan kau akan menyadari kekuatan En Tora Amaran.... Kekuatannya belum kau sadari. Nuranimu telah mati! Nuranimu telah murtad!&lt;br /&gt;Zrt.: Kuliti dia dan cincang tubuhnya!&lt;br /&gt;Zbr.: Pengawal, lakukan sesuai yang diperintahkan Zeratul!&lt;br /&gt;(Dua pengawal yang membelenggu Medoza menyeret Medoza, Medoza berteriak-teriak, meronta-ronta)&lt;br /&gt;Mdz.: Kau akan menyesal.... En Tora Amaran akan menegakkan kebenaran dan keadilan di atas seluruh Zergopaxi dan kau akan dicampakkan ke dalam api abadi Odineus.  Aku akan terus memperjuangkan kebenaran dan keadilan… kesejahteraan seluruh Zergopaxi! &lt;br /&gt;(Zeratul dan Zambara tertawa, tawa penuh kemenangan.... Musik sedih mengalun dan semakin membesar. Lampu mulai meredup seiring dengan musik yang juga semakin pelan.  Panggung semakin gelap. seraya itu, narator membacakan epilog drama yang juga merupakan kutipan dari Kematian Sebuah Bangsa, karya Khalil Gibran.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menghampirimu sebagai teman&lt;br /&gt;tapi kalian menyerang kami sebagai&lt;br /&gt;musuh; antara persahabatan&lt;br /&gt;kami dan permusuhan kalian, terbentang &lt;br /&gt;jurang dalam&lt;br /&gt;yang dialiri darah dan air mata&lt;br /&gt;kami menegakkan istana kalian, tapi&lt;br /&gt;kalian menggali&lt;br /&gt;kuburan kami; antara kemegahan istana&lt;br /&gt;dan kemuraman&lt;br /&gt;kuburan, perikemanusiaan berjalan &lt;br /&gt;hilir-mudik sebagai pengawal bersenjata besi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamilah Putra-putra Penderitaan dan &lt;br /&gt;derita adalah mega&lt;br /&gt;keemasan, menyirami umat manusia&lt;br /&gt;dengan pengetahuan&lt;br /&gt;dan kebenaran. Kalian Putra-putra Keriaan&lt;br /&gt;betapapun tinggi jangkauan keriaan kalian&lt;br /&gt;menurut Hukum Tuhan ia akan binasa&lt;br /&gt;oleh sapuan angin dari surga dan&lt;br /&gt;diporak-porandakan menjadi kehampaan&lt;br /&gt;karena hakikatnya dia tak lain&lt;br /&gt;sekepul asap tipis yang gemetar di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(setelah epilog selesai dibacakan, layar  ditutup)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188842840177109?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188842840177109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188842840177109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2002/07/kemurtadan-nurani-30-minutes-drama.html' title='Kemurtadan Nurani (a 30 minutes drama)'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188684718057516</id><published>2002-06-13T04:59:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:00:47.230-08:00</updated><title type='text'>Ekspresi Kesuskesan, Haruskah seperti Itu?</title><content type='html'>Kira-kira pukul 10-an, lalu lintas tanggal 21 Juni besok berbeda dari hari-hari biasanya; malah lebih mirip seperti lalu lintas masa kampanye. Konvoi motor dan mobil mengeluarkan deru yang menusuk telinga. Kepulan asap buangan kovoi kendaraan bermotor itu membuat udara menjadi keruh; menambah padatnya polusi yang sudah ada; menyesakkan paru-paru. Isinya tak lain adalah para pelajar SMU yang sudah tidak mirip seperti pelajar lagi. Seragam SMU putih - abu-abu dipenuhi oleh corat-coret cat semprot (pilox) bak pakaian pantai yang tak terurus; bahkan ada yang merobek-robeknya. Belum lagi ada yang sampai hati rambut dan kulitnya turut diwarnai cat semprot. Mereka bersorak-sorai seolah pulang dari perang. Itu cuma secuil gambaran keadaan seusai pengumuman kelulusan siswa SMU, terutama di kota-kota besar.&lt;br /&gt;Ekspresi kesuksesan menjalani pendidikan SMU? OK, mengekspresikan diri dengan kegembiraan setelah selesai menjalani pendidikan SMU itu tidak ada salahnya dan wajar! Karena para fresh-graduate SMU ini masih dalam kategori remaja (kira-kira usia 17-19 tahun), baik kalau masalah ini kita simak dari aspek psikologi remaja. Teori psikologi remaja mengungkapkan bahwa masa remaja adalah masa taufan badai. Maksudnya, emosi mereka belum stabil; ketegangan emosi meninggi akibat perubahan fisik dan kelenjar-kelejar. Dalam keadaan seperti ini, merupakan kewajaran jika mereka meluapkan (baca: mengekspresikan) dengan kegembiraan yang sangat, apalagi setelah sukses melewati fase pendidikan formal di SMU. Tapi, yang perlu dikritisi adalah sejauh mana kegembiraan yang wajar sebagai ekspresi kesusksesan menyelesaikan SMU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencorat-coret seragam, bahkan anggota tubuh sudah jelas-jelas akan merugikan. Pertama, dalam cat semprot terdapat zat kimia yang bisa saja membawa dampak negatif bagi kulit; bisa jadi membuat iritasi. Lalu, alangkah baiknya jika seragam SMU itu tidak dicorat-coret tapi diberikan pada adik atau diserahkan kepada mereka yang membutuhkan, seperti di panti asuhan, LSM di bidang sosial-kemasyarakatan, penyalur bantuan korban bencana, dan banyak lagi. Banyak sekali saudara-saudara kita sebangsa yang tidak mampu membeli seragam untuk sekolah atau bahkan terkena bencana hingga tidak punya sandang lagi selain yang dikenakan. Kemudian, konvoi kendaraan bermotor itu pun akan mengganggu lalu lintas, membuat kemacetan. Belum lagi, gas buang kendaraan bermotor itu semakin memperparah kondisi udara yang sudah sesak oleh polusi. Bayangkan, besarnya kerugian yang bakal ditimbulkan hanya karena kita (baca: para fresh-graduate SMU) mengekspresikan kesuksesannya. Bayangkan betapa banyak yang seharusnya bisa dihemat dan bahkan, diubah menjadi sesuatu yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi kegembiraan karena sukses melewati medan laga di SMU dapat diwujudkan dengan cara yang jauh lebih positif, artinya lebih berguna dan tidak mengganggu kepentingan umum tapi tetap mengasyikkan. Bisa jadi berupa kegiatan amal seperti mbersihin lingkungan sekolah dan sekitarnya, donor darah masal, dsb. Ekspresi kesuksesan ini mungkin juga bisa berupa kegiatan pesta ekspresi seni, baik berupa band-band, seperti Luvero-nya SMU St. Ursula, atau pagelaran drama seperti West Side Story-nya SMU Kanisius dan SMU Theresia. Lebih baik lagi kalau hasil keuntungannya disumbangkan bagi mereka yang membutuhkan. Masih banyak kegiatan ekspresi kesukesan lain yang juga mengasyikkan. Hasilnya, kita (baca: para lulusan SMU) malahan meninggalkan kesan yang baik bagi masyarakat, sekaligus menimbulkan imej yang baik bagi alma mater kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, haruskah ekspresi kesukesan ditandai dengan corat-coret baju plus konvoi? Nggak usah, khan! Mendingan kita cari kegiatan lain yang tetap mengekspresikan kesuksesan kita melewati medan laga SMU tapi yang positif, berguna, dan tidak merugikan kepentingan umum. Betul nggak…!?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)siswa kelas III IPA &lt;br /&gt;SMU Seminari St. Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188684718057516?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188684718057516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188684718057516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2002/06/ekspresi-kesuskesan-haruskah-seperti.html' title='Ekspresi Kesuskesan, Haruskah seperti Itu?'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188816164460759</id><published>2002-05-23T05:21:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:22:41.736-08:00</updated><title type='text'>Kisah Kasih Seorang Pelacur Mencari Cinta</title><content type='html'>You have many lovers, and yet I alone love you. Other men love themselves in your nearness. I love you in yourself. Other men see a beauty in you that shall fade away sooner than their own years. But I see in you a beauty that shall fade away, and in the autumn of your days that beauty shall not be afraid to gaze at itself in the mirror, and it shall not be offended. I alone love the unseen in you.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kutipan ucapan Yesus pada Maria Magdalena hasil kontemplasi Khalil Gibran dalam bukunya Jesus, The Son of Man. Maria Magdalena menyadari selama ini ia tidak pernah memperoleh cinta sejati dari seorang lelaki. Semua lelaki yang pernah tidur dengannya tidak sungguh mencintainya. Mereka hanya hendak memuaskan nafsu birahinya pada Maria. Semenjak pertemuan itulah Maria Magdalena, pelacur kelas kakap di Yerusalem, terbuka matanya, menyadari kehinaan hidupnya dan bertobat. Dalam pribadi Yesus, ia menemukan cinta sejati, yang tidak pernah ia temukan dalam diri laki-laki lain dalam hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan kisah itu, Dorothea mewujudkan dengan keharuan yang sama dalam puisinya: Nikah Pelacur Tak Punya Tubuh. Dalam puisinya ini, ia menghadirkan seorang pelacur yang sedang meratapi profesinya sebagai pelacur. Pelacur ini -senasib dengan Maria Magdalena- merasa bahwa selama ini tak ada seorang lelaki pun yang sungguh-sungguh mencintainya. Kini pelacur ini haus akan cinta, bukan cinta yang sekedar diumbar selama ia melayani para konsumennya, melainkan cinta sejati yang ia temukan hanya pada pribadi Yesus. Bagi pelacur itu, Yesus adalah sang Cinta Sejati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hakekat Cinta dan Hubungan Seksual&lt;br /&gt;Selayaknya, mobil yang bisa berfungsi kalau ada bensin dan accu sebagai sumber tenaganya, manusia pun memiliki sumber tenaga sehingga bisa berfungsi dengan baik. Cinta adalah sumber tenaga manusia. Ahli psikoanalisis, Sigmund Freud menyebutnya dengan libido. Sayangnya, Freud hanya membatasinya dalam fungsi kelamin (hubungan seksual). Tenaga seksual itu sebenarnya tidak hanya sesempit itu. Ia juga meliputi rasa cinta, belas kasih, lembut hati, keberanian, rela berkorban demi orang lain, berhubungan dengan orang lain dan Tuhan. Philomena Agudo dalam bukunya Aku  Memilih Engkau menyatakan bahwa kekuatan seksual memiliki dua pesan penting:&lt;br /&gt;•  “Rasailah kegembiraan dan kepuasan dalam cinta, lembut hati dalam kemurnian dan penyerahan diri.”&lt;br /&gt;• “Rasakanlah kesenangan dalam pengalaman daging lewat alat kelamin.”&lt;br /&gt;Keduanya pesan ini berinteraksi satu sama lain dan saling melengkapi. Jadi, hubungan seksual pun merupakan ungkapan cinta yang sakral dan tidak main-main. Pelacuran adalah salah satu deviasi sosial di mana nilai kesakralan hubungan seksual dirusak. Benang merah antara cinta dan hubungan seksual diputus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan seksual bagi seorang pelacur adalah menu sehari-hari. Bagi mereka, baik yang melakukan tindakan asusila ini karena terpaksa atau karena keinginan sendiri, hubungan seksual hanyalah semata-mata alat untuk mendapatkan uang (dan tidak menutup kemungkinan, juga demi memenuhi hasrat birahi). Hal ini mengakibatkan adanya degradasi penghayatan hubungan seksual dalam diri para pelacur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebuah analogi semoga dapat membantu. Para djeuness d’ore  yang amat konsumtif, tidak memahami sulitnya mencari uang. Pasalnya, orang tua mereka terus menghibahkan gajinya yang tinggi bagi mereka. Saking mudahnya mengeluarkan uang untuk beli ini-itu tanpa harus kesulitan untuk mendapatkannya kembali, mereka menjadi tidak memahami prinsip-prinsip hidup yang hemat. Dalam kasus ini, para pelacur juga mengalami situasi yang senada. Mereka sudah terlampau sering melakukan hubungan seksual tanpa di dasari rasa cinta di mana nilai sakral hubungan seksual luntur. Pria-pria pelanggannya, sama dengan kontemplasi di awal permenungan ini, hanyalah memberikan cinta gombal yang didasarkan atas keinginan berhubungan seksual dengan si pelacur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, seperti yang digambarkan puisi ini, para pelacur itu tidak kehilangan kodratnya sebagai wanita. Sebagai wanita, mereka memiliki perasaan yang lebih dalam daripada pria, terutama masalah cinta. Akan ada titik puncak di mana seorang pelacur... atau lebih baik saya katakan... seorang wanita yang melacur merasakan kejenuhan. Setiap hari mereka selalu melayani (beberapa) pria yang ingin memuaskan nafsu birahinya semata-mata tanpa disertai rasa cinta . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kodrat wanita menuntunnya pada suatu pertanyaan dan refleksi tentang kehidupan yang dijalaninya selama ini: diwarnai oleh pria-pria yang tidak mencintainya namun berhubungan seksual dengannya. Ia pun pada akhirnya memahami bahwa selama ini, pria-pria pelanggannya itu hanya mencintainya fisiknya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Pelacur Mencari Cinta Sejati&lt;br /&gt;Dalam kondisi yang rumit semacam itu, muncullah kerinduan akan cinta yang sejati. Bukan hanya kata-kata cinta gombal yang umumnya keluar dari para pelanggannya yang hanya hendak memanfaatkan fisik pelacur itu demi memuaskan nafsu birahinya. Ia merindukan seseorang yang akan memberikannya cinta secara seutuhnya, bukan hanya karena kecantikan fisik, tapi terutama karena inner beauty seorang wanita. &lt;br /&gt;Dalam puisi ini, terasa betul bahwa pelacur ini melihat Yesus sebagai Sang Cinta Sejati. Pada bait yang pertama dan kedua, ia menyatakan pengalamannya bersama dengan Yesus, mengkontemplasikan Yesus membawanya ke Golgota, tempat yang awalnya merupakan wujud kekalahan namun, sebenarnya merupakan wujud kemenangan. Di bait kedua, pelacur itu mengungkapkan kesulitannya dalam mencari Sang Cinta Sejati itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait ke tiga dan keempat, pelacur itu merefleksikan kehinaan dirinya. Ia menggambarkan hidupnya dengan mengenaskan. Ia melihat hidupnya dengan hina.  &lt;br /&gt;Bait kelima tampak sebagai puncak dari puisi ini. Sang pelacur berteriak dengan lantang, menyatakan kerinduannya akan cinta yang sejati. Namun, dalam kalimat terakhirnya ia menyatakan tapi bukan surga! Ada nada bahwa pelacur ini menghendaki semata-mata cinta sejati dari Yesus saja, tidak perlu lebih dari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pada bait ke enam dan ketujuh, nada ratapan pelacur itu kembali merendah. Kali ini, ia merasa tidak pantas mendapatkan cinta yang sejati, apalagi setelah melihat kenyataan kehidupannya. Puisi ini ditutup oleh nada pesimistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki Alam Keharuan&lt;br /&gt;Puisi ini terasa hidup. Ratapan pelacur itu tampak dinamis, dari bait ke bait. Apalagi, dengan tema kisah kasih sang pelacur yang mencari cinta ini, pembaca pun akan terhanyut dalam suatu keharuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ini hendak memberikan sentakan bahwa bagaimanapun juga pandangan negatif dan hina masyarakat terhadap profesi pelacur, para pelacur ini pun masih seorang wanita. Dan, ia memiliki kerinduan terhadap cinta yang sejati, yang selama ini tidak ia dapatkan dalam hidupnya. Cinta yang mencintainya bukan hanya karena fisiknya, tapi lebih-lebih pribadinya secara keseluruhan. Jadi, pada dasarnya, ia pun memahami bahwa cinta tidaklah sesempit berhubungan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ini adalah serangkaian kisah kasih seorang pelacur yang mencari cinta, cinta yang sejati. Yesus adalah Cinta Sejati baginya. Dia sungguh merindukan adanya cinta sejati. Namun, ia pun selalu terbentur pada perasaan-perasaan bahwa dirinya hina, membuatnya merasa tidak pantas memperoleh cinta sejati pada Yesus. Sayang, padahal, seperti yang dikontemplasikan Khalil Gibran, Yesus pun menyatakan cinta sejati-Nya pada Maria Magdalena. Yesus mencintai Maria Magdalena karena pribadinya, bukan karena kecantikan fisiknya. “I alone love the unseen in you.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasih itu sabar, kasih itu murah hati&lt;br /&gt;ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri;&lt;br /&gt;ia tidak sombong,&lt;br /&gt;ia tidak melakukan yang tidak sopan.&lt;br /&gt;Cinta itu tidak mencari keuntungan sendiri, &lt;br /&gt;ia tidak pemarah,&lt;br /&gt;dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.&lt;br /&gt;Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, &lt;br /&gt;tapi karena kebenaran.&lt;br /&gt;Citna itu mencukupi segala sesuatu,&lt;br /&gt;percaya segala sesuatu,&lt;br /&gt;mengharapkan segala sesuatu,&lt;br /&gt;sabar menanggung segala sesuatu.&lt;br /&gt;Kasih itu tidak berkesudahan...&lt;br /&gt;Kejarlah kasih itu...” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kau bawa aku ke bukit asing&lt;br /&gt;pengembaraan matahari&lt;br /&gt;yang menyebar harum keringat golgota,&lt;br /&gt;kematian dan &lt;br /&gt;kebangkitan: ekstatse dari perjalanan &lt;br /&gt;abjad dan kitab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yesus, Kaupetakan nikmat pencarian &lt;br /&gt;dan ziarah.&lt;br /&gt;Perjalanan berabad di antara doa dan &lt;br /&gt;mazmur tak &lt;br /&gt;diucapkan. Kucari Peta dan kubaca arah &lt;br /&gt;yang mengabur &lt;br /&gt;di telapak tangan dan sabda nabi-nabi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku cuma palacur yang tak punya&lt;br /&gt;surga. Kubawa tubuh &lt;br /&gt;kemana-mana. Kutawarkan geliat &lt;br /&gt;kekosongan dan &lt;br /&gt;dongeng-dongeng cinta. Dalam sebait&lt;br /&gt;nafas dan keringat.&lt;br /&gt;Serigala yang melolong, dendam malam&lt;br /&gt;di antara gigil&lt;br /&gt;ketakutan hewan-hewan liar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku membawa hati di antara &lt;br /&gt;kekosongan cinta yang&lt;br /&gt;amat kusut. Kutawarkan kepada semua&lt;br /&gt;lelaki.&lt;br /&gt;Yang melukis angin di matanya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yesus, beri aku kenikmatan cinta yang &lt;br /&gt;asing&lt;br /&gt;beri aku ledakan-ledakan dan derak&lt;br /&gt;ranjang yang asing. &lt;br /&gt;Beri aku segala yang tak dipunyai lelaki.&lt;br /&gt;Tapi bukan surga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merangkak di bukit-bukit entah apa.&lt;br /&gt;Segala habis&lt;br /&gt;di antara kekosongan angin dan &lt;br /&gt;kata-kata. Di antara suara &lt;br /&gt;gumam para pembaca ayat-ayat malaikat&lt;br /&gt;dan lonceng-lonceng&lt;br /&gt;berkelenengan. Aku cuma pelacur yang&lt;br /&gt;enggan mencari pintu&lt;br /&gt;dan derak bangku-bangku di antara doa. &lt;br /&gt;Aku cuma pelcur yang &lt;br /&gt;menawar-nawarkan dosa, tapi kusimpan&lt;br /&gt;di antara ayat-ayat yang tak pernah &lt;br /&gt;dibaca, yang mencari ladang&lt;br /&gt;dan membajak bukit-bukit, menanam&lt;br /&gt;keringat dan gemetar.&lt;br /&gt;Luka yang tumbuh jadi kebun mawar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lelaki, mencibirlah di antara dekapanku!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188816164460759?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188816164460759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188816164460759' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188816164460759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188816164460759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2002/05/kisah-kasih-seorang-pelacur-mencari.html' title='Kisah Kasih Seorang Pelacur Mencari Cinta'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188846057611823</id><published>2002-04-20T05:27:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:27:40.626-08:00</updated><title type='text'>Waspada AFTA 2003: Pendidikan Pragmatistik</title><content type='html'>Memasuki tahun 2003, bagi Indonesia, adalah memasuki fase baru yang membuat seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara ini semakin mengglobal. Semenjak tahun 2003, ASEAN Free Trade Area (AFTA) diberlakukan di seluruh negara-negara ASEAN, termasuk di Indonesia. Ada aksi pasti ada reaksi, begitulah hukum Newton yang juga kiranya dapat berlaku untuk isu yang satu ini. Keberadaan AFTA, mau tidak mau, pasti akan memberi imbas bagi Indonesia di berbagai bidang kehidupan, baik positif maupun negatif. &lt;br /&gt;Keberadaan AFTA akan semakin memprioritaskan keberhasilan ekonomi di atas segalanya. Duia ekonomi dianggap sebagai faktor yang urgen dan menempati posisi poros dalam memajukan negara. Indonesia, semenjak Orba sebenarnya telah memulai usahanya untuk mengutamakan ekonomi yang berpusat pada industri. Kini, dengan keberadaan AFTA industrialisasi akan semakin gencar. Bila tidak diwaspadai, sektor pendidikan dapat menjadi salah satu korban.&lt;br /&gt;Sektor pendidikan akan menghadapi tantangan -lebih saya bahasakan dengan, godaan- yang berat dengan keberadaan AFTA ini. Dunia pendidikan Indonesia yang selalu menjadi kegelisahan sepanjang zaman, akan tergoda untuk mengabdi pada kepentingan AFTA. &lt;br /&gt;Pendidikan Indonesia dapat jatuh dalam pragmatisme pendidikan. Pendidikan akan mengalami dekandansi dari sebuah usaha luhur menjadi sekedar komoditi yang mendatangkan uang serta pabrik penghasil tenaga kerja ahli. Artinya, pendidikan harus bisa memenuhi permintaan tenaga kerja dari sektor industri sebagai sektor ekonomi yang diutamakan pada zaman globalisasi ini. Industrialisasi yang marak pada masa AFTA dapat menyeret pendidikan sehingga hanya berorientasi pada hasil. Orientasi pada proses ditinggalkan; tidak ada lagi penghargaan akan internalisasi (pembatinan) yang prosesnya tidak instan. &lt;br /&gt;Pendidikan pragmatistik hanya mengutamakan aspek-aspek kognitif dan psikomotorik demi menghasilkan tenaga kerja; dan melupakan aspek afektif sehingga manusia yang dihasilkan tidak memiliki pegangan nilai dalam hidupnya. Hendaknya, diingat kata Comenius dalam bukunya Unum Necessarium: apa yang diperlukan anak muda? Sebuah pendidikan yang baik. Sejak kecil orang mesti diajari tentang apa yang diperlukan dalam hidupnya, dan dijaga terhadap apa yang tidak diperlukan hidupnya. (Sannekamp, Dorris, 2000: 37) &lt;br /&gt;Hasil pendidikan pragmatistik mengerikan. Bayangkan seorang pakar bahan peledak genius namun tidak bermoral. Ia akan potensial menjadi anggota teroris Al-Qaeda dan merusak ketentraman dunia, ketimbang menjadi anggota satuan Gegana. Contoh nyata adalah pakar teroris-teroris yang marak di dunia belakangan ini. Mereka ahli dalam berbagai bidang: kimia, biologi, fisika, ekonomi, manajemen, dsb namun keahliannya digunakan untuk mewujudkan aksi tidak berperikemanusiaan. &lt;br /&gt;Supaya bencana pendidikan ini tidak berlanjut yang perlu dilakukan adalah setia berpegang pada filosofi dasar pendidikan. Pendidikan adalah suatu tindakan fundamental, yaitu perbuatan yang menyentuh akar-akar hidup kita sehingga mengubah dan menentukan hidup manusia. Menurut Driyarkara SJ, Pendidikan adalah suatu bentuk hidup bersama yang membawa manusia muda ke tingkat manusia purnawan. Pendidikan itu me-manusia-kan manusia muda. (Driyarkara, 1991). Corak pendidikan Indonesia pada masa AFTA harus non scholae sed vitae discimus. Artinya, kita belajar bukan untuk sekolah, tapi untuk kehidupan.&lt;br /&gt;Dalam kerangka kembali ke filosofi dasar pendidikan, Indonesia perlu merevitalisasi pendidikan nilai. Salah satu konsep filosofi dasar pendidikan menurut Theodore Bramelt adalah bahwa pendidikan harus mampu menjadi agen yang menanamkan nilai-nilai yang ada dalam jiwa stake holdernya (Barnadib, 1990). Dan untuk menyeimbangkan supaya pendidikan tidak jatuh dalam pragmatisme, pada masa AFTA ini, pendidikan nilai perlu dikedepankan. Persis seperti kata Driyarkara, SJ, mendidik juga berarti memasukkan anak ke dalam alam nilai-nilai atau memasukkan dunia nilai-nilai ke dalam jiwa anak (Driyarkara, 1991). &lt;br /&gt;Saat pendidikan jatuh dalam pragmatisme, pendidikan berpotensi menghasilkan manusia-manusia pekerja tanpa memiliki pegangan nilai hidup. Dicanangkannya AFTA 2003 seharusnya menjadi pemicu bagi pemerintah untuk mengedepankan pendidikan nilai, sebagai penopang, supaya pendidikan tidak tergoda, jatuh dalam pragmatisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antonius Krisna Murti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188846057611823?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188846057611823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188846057611823' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188846057611823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188846057611823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2002/04/waspada-afta-2003-pendidikan.html' title='Waspada AFTA 2003: Pendidikan Pragmatistik'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188924199030727</id><published>2001-11-19T05:40:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:40:42.046-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>The Generation of Hope&lt;br /&gt;(a contemplation for youngsters)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Each nation have to regenerate in order to be survive and to keep his existence in this world. A nation needs their successor to replace the old ones. Guess, who will be the successor!! The answer’s  we. Yes! We are the one; we will inherit this beautiful archipelago. We, as he young generation, is the only heir of  Indonesia. We are the generation of hope. &lt;br /&gt;Therefore, as the consequences, whether we wants to or not, we will  find and face many obstacles and challenges in our effort to fulfilled this noble task. The obstacles and challenges not just come from the external aspect but also from the internal aspect. To tell you the truth, to manage obstacles which came from the intern aspect is more hard instead which came from the extern aspect because obstacles from intern aspect means that the obstacles came from ourselves. It’s difficult to defeat an enemy which is in the fort.  &lt;br /&gt;The foundation to be a good successor for this huge archipelago is the sense of nationalism. The sense of nationalism is  an ideology or concept of a citizen of a country which place the existence, safety and prosperity of his country and nation in the highest place of his heart and mind. A nationalist have a huge loyalty upon his nation. The primary priority of is life is to make his live useful for his country. If every of young generation of this country has the sense of nationalism, this country won’t worry about its future. But, unfortunately, there’s many problem which are contaminated in our youngsters. &lt;br /&gt;The external problem which is starting to ruin our youngsters come from the phase of globalisation and industrialism. The globalisation and industrialism which have spread all over the world have brought many effects to human civilization. The majority of effects which are brought by them is negative. In the economic aspect, it has known that on the year of 1800, only 74% of the world citizen which are poor. But, on the year of 1995, the poor increase into the percentage of 80%. &lt;br /&gt;In the other point of view, globalisation and industrialism also have brought changes in human culture, attitude and livestyle. Those changes is dangerous for the existence of a nation because these changes can make the sense of nationalism faded and ruined. The changes are the concept of profanism, such as hedonism, conformism, consumerism and westernism. &lt;br /&gt;Hedonism is a kond of lifestyle which deify secular pleasure. A hedonistic doesn’t think about school for his future; but on the contrary, he only think how to make himself feel happy. Consumerism is a kind of attitude which always buys anthing to fulfill his desire. Conformism is a lifestyle which directly imitate other people’s habitual or buy other people’s goods in order to follow the trend at that time.  Westernism is an attitude which imitate western culture directly without any conscience consideration or other further judgement. Whereas western culture is not always fit with east livestyle. &lt;br /&gt; All of those bad seeds have infected the young generation of this country. Even, maybe, you have one of those above in yourself.  If you pay attention to those ‘viruses’, you’ll agree that all of those will make the sense of nationalism of our young generation faded, or even ruined. If that’s happen, how gonna be our nation in the future? This nation will extinct. The word ‘extinct’ is consider to be rude and impolite, but an extinction will really happen if we, as the young generation don’t have the sense of nationalism. How do we inherit this country? How do we fulfilled our noble task? There’s no other answer except to bring to life the sense of nationalism in the heart of the young generation as the generation of hope. &lt;br /&gt;The effort to rekindle the concept of nationalism isn’t an easy job to do. We, as the generation of hope itself, need to have the sense of belonging, first. If we have the sense of belonging for this nation, automatically, we’ll take care this nation and conserve its culture. But to build a sense of belonging isn’t easy at all. First of all, we must to know well our nation. We need to build the Archipelago concept in ourselves. In this case, the  education institution must takes part in it. The institution of education must build a curiculum in which young generations can know well their own nation. Last but not least, one thing which must be implanted in heart of the young generation is the sense of proud. Indonesia must be the pride of all its citizen, especially the generation of hope. With all of those above, it will emerge the etnosentrism and the sense of patriotism at the heart of young generation. &lt;br /&gt;To block the bad seeds from globalisation, the young generations need to have pure conscience and integrity between mind (rasio) and feeling (emotion). Those are the main weapon to defend our self from the concept of profanism. &lt;br /&gt;There’s still much what we can do, there’s no place for the word ‘late’. The most importing point is having the same aim; that is to be a good sucessor for this beautiful archipelago. The future of this nation depends on ourselves, as the generation of hope. Remember what President Kennedy have said! “Ask not what your country can do for you, but ask what you can do for your country.“ So, now the question’s what can we do for the sake of Indonesia?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188924199030727?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188924199030727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188924199030727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2001/11/generation-of-hope-contemplation-for.html' title=''/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188915321174618</id><published>2001-09-29T05:38:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:39:13.266-08:00</updated><title type='text'>Utilitarianism vs. Ethics of Natural Live</title><content type='html'>We are living in a postmodernism ages. The progress of science and technology is rapid. The world looks smaller and live seems to be easier. The progress of science and technology has made much ease for human activities. &lt;br /&gt;Nevertheless, science and technology has characteristic of ambivalence. Although we have felt many advantages as science and technology improved and grow rapidly, we also face bad results of science and technology themselves. One of the bad results the damages of natural live, whether abiotic or biotic elements. Huge exploration upon forest, irresponsible mining, etc. has occurred and became worse after the Industrial Revolution. Many species, whether animals or plants, or even human tribes, became victims and some of them were extinct because they cannot afford to adapt to the rapid change made by human being. &lt;br /&gt;What made progress of science and technology have bad results on natural live? It is fact that the concept of utilitarianism is due to bring the negative results of science and technology. Irresponsible businessman and other human mind oriented to the profit only own this kind of concept. &lt;br /&gt;Fortunately, natural live is protected by ethics of natural live which provided the basis of laws related to the existence of natural live. Each country should have this kind of manner, which manifested on each law of the country controlling and regulating the exploitation of natural live. Environmentalists are one of the supporters of it. &lt;br /&gt;Now it is clear that there are two sides contradictory each other. Ethics of natural live will defend the existence of pure wild natural live and reject the exploitation supported by the concept of utilitarianism. However, are we really understand well about the term utilitarianism and the meaning of ethics of natural live? Then, the big question is who will the winner of this big match. Let us find it out trough following descriptions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Essence of Utilitarianism&lt;br /&gt;Utilitarianism, the ethical theory, which holds that an action is right of it, achieves the greatest good of the greatest number of people . The term of utilitarianism derived from Latin adjective: utilis, which means useful, beneficial, advantageous, expedient, profitable. &lt;br /&gt;The encyclopedia Britannica wrote that the theory of  “greatest happiness” first appears as a formula for a moral standard in Richard Cumberland’s De Legibus Naturae (1672) where its authority is derived from God. John Gay, Abraham Tucker and William Paley further developed the theological version. Actually, the theory of utilitarianism became well known and influential since Principles of Morals and Legislation  (1789) and Deontology (1834) written by Jeremy Bentham were published.  He took the term of utilitarianism as a criterion for distinguishing good laws from bad laws. Bentham defends it as a moral theory. He held that each man must pursue as and end is happiness, that is, pleasure and the absence of pain. &lt;br /&gt;The concept of utilitarianism is classified in the theory of teleologistic universalistic. It called teleologistic because the concept of utilitarianism measures the truth or wrong of an action from the results, which is occurred. It classified on universalistic theory because the positive results of norm ethics prevail not just for the sake of human who did it but also for the sake of other people, wider society or even the whole world. &lt;br /&gt;Utilitarianism brings human to a comprehension of ethics, which is different to comprehension of deontologist ethics .  The theory demands that on each action whom a human do, human should able to give logical reasons and consider the positive and negative impacts. Therefore, in short, utilitarianism is a theory talking about good things and bad things. &lt;br /&gt;Utilitarianism demand maximizing the good results. But the word “good” is relative so the most difficult part of the application of utilitarianism is on accounting the results, because the characteristic of the results is different each other. &lt;br /&gt;As the conclusion, the term of utilitarianism has a major weakness, that is, utilitarianism only concern about the proportion (comparison) within the sum of the good results and the sum of the bad results. Therefore, utilitarianism does not guarrantie the implementation of human rights and further, God’s creature rights. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Ethics of Natural Live?&lt;br /&gt;The ethics of natural live was borne from background of a concern that the pure and wild natural live is being raped by human actions. A great crisis of natural live is being occurred. Many anthropogenic action either it is materialized in form of agricultural activities, extractive activities or manufacturing activities, has made many damages upon the natural live. The activity influences maybe are intentionally (in particular purpose) or maybe are not intentionally. The Earth Conference held on 1992 at Rio de Janeiro, Brazil, concluded that our Earth is facing a global disaster. It means it has and it will be many disasters in each part of Earth, either relating with winds, waves, tectonically actions, volcanically actions, weather, etc. Unfortunately, the disasters were stimulated by anthropogenic action.  At last, the crisis, as the realization of an ecological problem, since 1970’s started to take part in ethics views. Therefore, basically, the moral of natural live derived from a human consciousness facing the reality of his live and his environment.&lt;br /&gt;The moral of natural live realized that there are many mistakes made by human upon the environment. Many utilitiarist thinks that human are the one and only God’s Creature who deserved get the consideration of ethics meanwhile the other God’s creature only have instrumental value as means for the sake of human’s happiness. Whereas, such view is a huge mistake.&lt;br /&gt;First, we need to know what ethics of natural live is. According to Fr. William Chang, OFM, there are four definitions about ethics of natural live. &lt;br /&gt;1. Ethics of natural live is a philosophy and biological consideration. Ethics of natural live is an n evolution of ethics concepts. It means, ethics gradually concern and pay many attentions upon the universal and ecological problem, besides social interactions among individuals and between a society and individual. Eugene P. Odum from the university of Georgia, USA defined ethics of natural live as a philosophy and biological consideration about the relationship between human and other creatures and the biosphere. Ethics of natural live guides human to review his ideas and plans, which related to the environments and other creatures. &lt;br /&gt;2. Ethics of natural live is an ethics of love and affection. Ethics of natural live based its concept to an attitude of appreciation and respect upon all God’s creatures. Each God’s creature is worthy and valuable. The sense of appreciation and respect derived from ethics of natural live will emerge positive anthropogenic action upon other creatures and abiotic environment. In short, ethics of natural live as a moral of love and affection take important role in preserving and maintaining the natural live. &lt;br /&gt;3. Ethics of natural live is and expansion of every ethics branch. Ethics of natural live is not an ethics concept talking only about ecology merely. It means ethics of natural live is not a branch of ethics theory or minor subject such as medical ethics. On the contrary, ethics of natural live is really and expansion of every branch of ethics concepts. For example, the ethics of business should not just consider from the point of view of sociology and economics, but also consider about sense of responsibility of any anthropogenic action related to ecological problem. &lt;br /&gt;4. Ethics of natural live is a requirement to act. Actually, human, with his mind can do whatever he imagines and wants to do. However, human must review, reconsider and choose the best idea, which emerge advantages to every creatures or elements involved.  In this case, ethics of natural live takes part.&lt;br /&gt;I think from all the explanation above there is one basic conclusion, which is ethics of natural live is very urgent to be done in this dying Earth. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Objections and Solutions&lt;br /&gt;There are three general objection from the ethics of natural live pointed to the concept of utilitarianism according to Robert E. Goodin, the writer of Ethical Principles for Environmental Protection (19…..), that is:&lt;br /&gt;1. The concept of utilitarianism based on nothing other than individual tendency and desire. It motivate human to act unconcerned to others beyond him. It only relies on individual or certain groups’ advantages. &lt;br /&gt;2. The concept of utilitarianism demand equality of values. The concept of utilitarianism related with anthropogenic action considering the use of different organism. The concept of utilitarianism does not hare any objective basis except may be some ethical necessity. Besides, it also emerge some confliction demands. For example, haw can we confront economic demands with natural live conservation. &lt;br /&gt;3. The concept of utilitarianism is immune against prosperity distribution. The concept of utilitarianism able to allow one man or society felt comfort and happy while the others suffers and dying. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is one action urgently should be done, that is, modifying and reforming the concept of utilitarianism so that there will be reconciliation between the ethics of natural live and the concept of utilitarianism.  In order to manifestate the idea, I propose some ideas:&lt;br /&gt;1. The theory of intrinsic value. The concept of utilitarianism contains an understanding telling that only human which possess the value of intrinsic. As the solution, the concept of utilitarianism must adapt the consideration that the God’s entire creature owns intrinsic value. The theory of intrinsic value is the answer. Its consists of two fundamental components:&lt;br /&gt;• Each God’s creature has goodness naturally so mankind uses and takes advantages from them in accordance of his desire and necessity.&lt;br /&gt;• The goodness of other creatures beyond human is not merely that the creatures have consciousness or intelligence. It is necessary to be remembering that the goodness of non-human creature is emerged and decided by the progress of biological power.&lt;br /&gt;G.E. Moore, trough his book Principia Ethica (1903), was the pioneer of the theory. Then Robin Attfield and Paul Taylor further develop it. &lt;br /&gt;2.    Emphasizing in quality instead of quantity on every consideration especially related to the ecological problems. Up until now, the concept of utilitarianism owns the view that the most important and taking the primary priority in considering anthropogenic action is the greatest number. It means the concept of utilitarianism give precedence to quantity only. The concept of utilitarianism should be reformed into a concept, which not only account the quantity but also the quality; not merely “the greatest number” but especially “the greatest good”. G.E. Moore, in his latter book: Ethics (1972) pose the idea, that concept of utilitarianism should adapt consideration of greatest good. Nevertheless, at this occasion, I stress that the greatest good must be given the priority; not just adding it. &lt;br /&gt;3. Utilizing the methods of thinking of reflective and clarificative. It is a basic and urgent need to think reflective and clarificative in each consideration related to ecological problem caused by anthropogenic action. Thinking reflective represent the way of thinking which is deep and intensive; full of consideration and review. Thinking clarificative represent the way of thinking which is critical, logical, and tested the virtues, such as: truth, justice, goodness, worthiness, etc. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As the closing, I will not give any further conclusion, I just wonder if this paper can stimulate our mind, as the candidates of leader which I am convinced will be very influential to many people, in order to emerge an action saving the dying earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The green college, &lt;br /&gt;Friday, September 15, 2001&lt;br /&gt;Writer,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisna Murti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188915321174618?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188915321174618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188915321174618' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188915321174618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188915321174618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2001/09/utilitarianism-vs-ethics-of-natural.html' title='Utilitarianism vs. Ethics of Natural Live'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188919311198141</id><published>2001-07-13T05:39:00.000-07:00</published><updated>2005-11-13T05:39:53.173-08:00</updated><title type='text'>Ut Omnes Unum Sint</title><content type='html'>(Analisis Cerita Pendek Tak Ada Bulan Malam Ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti-bukti prasejarah membuktikan bahwa nenek moyang manusia alias manusia prasejarah itu hidupnya berpindah-pindah. Mereka hidup dengan sistem foodgathering atau mengambil makanan yang ada di alam. Bila di suatu tempat, makanan habis, mereka berpindah ke tempat lain yang sekiranya banyak terdapat makanan. Tidak terpikir olehnya cara hidup menetap dan mengolah tanah secara berkala. &lt;br /&gt;Baru ketika evolusi memasuki level homo, manusia mulai belajar hidup menetap. Ia mulai belajar untuk tinggal di suatu tempat tertentu yang baginya menunjang kehidupannya. Lalu mulai mengolah tanah sehingga menghasilkan makanan demi kelangsungan hidupnya. Manusia yang satu ini telah beralih dari foodgathering ke foodproducing. Cara hidup ini berlangsung hingga sekarang. Secara umum, manusia modern lebih memilih hidup secara sedenter daripada nomaden. &lt;br /&gt;Namun, bagaimanapun juga, Allah menciptakan manusia itu unik, tiada duanya. Masing-masing bangsa atau bahkan pribadi memiliki karakteristiknya masing-masing. Itu sebabnya dalam kenyataan, ada pula manusia-manusia yang tampaknya lebih cocok dengan cara hidup yang berpindah-pindah; kendati hidup manusia sudah begitu maju akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka kita kenal dengan sebutan bangsa pengembara. Ada bermacam-macam bangsa pengembara di muka bumi ini, mereka tersebar di berbagai pelosok bumi dengan sejarah bangsanya yang berbeda satu sama lain, misalnya bangsa Badui (Afrika), bangsa Eskimo (Amerika Utara), bangsa Gipsi (India). Umumnya, bangsa pengembara hidup dari beternak, berdagang, atau berburu. Selain itu, mereka juga sering memperoleh pendapatan secara insindental, misalnya, dari menjual sampah logam atau menawarkan tenaga menuai hasil panen.&lt;br /&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gipsi mengacu pada kelompok pengembara ras Asia di Eropa yang tidak ingin mempunyai rumah dan tempat tinggal yang tetap. Ensiklopedi Nasional mencatat bahwa gipsi adalah bangsa pengembara yang terdapat tidak hanya di Eropa, tapi juga di Asia Barat. Suku bangsa ini ada sejak abad 13. Gipsi diperkirakan berasal dari derah lembah sebelah selatan kaki Peg. Himalaya di India. Mereka memiliki ras kaukasoid-indik. Mata pencaharian orang Gipsi adalah dengan berjualan barang kelontong, seniman (musisi, pelukis, penari keliling, rombongan sirkus), atau ahli nujum. Hebatnya, orang-orang gipsi selalu mempertahankan kebudayaannya dan budaya daerah yang dilewatinya dalam pengembaraan. Menurut data tahun 1980, jumlah orang gipsi sebesar tiga juta jiwa. Perbedaan cara hidup, prilaku, dan mentalitas yang mereka punyai sering kali menjadi pemicu timbulnya persepsi buruk dan kecurigaan hingga berakhir pada tindakan-tindakan tidak adil dan sewenang-wenang yang dilakukan para penduduk lokal terhadap mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas tanggal 16 September 2001 yang lalu, memuat cerpen terjemahan Marianne Gruber, seorang penulis dari Jerman, yang berjudul Tak Ada Bulan Malam Ini. Cerpen dengan judul asli Kein Mond, O Mond ini menyiratkan ketidakadilan yang dialami oleh bangsa pengembara; dalam cerpen ini diwakili oleh sekeluarga gipsi. Marianne Gruber merangkaikan keseluruhan cerita ini dengan amat dramatis dan menyentuh.  &lt;br /&gt;Kepedihan mereka diawali dengan “pemaksaan” untuk menetap yang membawa korban: Wizur dan Killa, saudara sang Ayah. Sang neneklah yang paling tersiksa karena sebagai ibu, ia harus kehilangan dua dari tiga anaknya.&lt;br /&gt; “... Tetapi itu tidak adil, kita dihadiahi sebuah rumah setelah kehilangan dua nyawa - itu suatu pertukaran yang buruk.”&lt;br /&gt;Mereka sempat menetap selama sembilan bulan. &lt;br /&gt;“Kami tinggal di sini sejak tiga perempat tahun yang lalu”&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan, mereka sekeluarga: Ayah, Nenek, Grela, Paman Gogo, Tante Boza, Conchi, dan si kembar Zina dan Letscha, pergi selama enam minggu. Namun, setelah mereka kembali, mereka menemukan rumah mereka sudah menjadi puing-puing. &lt;br /&gt;“Rumah itu tidak ada lagi.”&lt;br /&gt;“Tampaknya orang telah merobohkannya,” kata sopir&lt;br /&gt;Purdi, penjaga rumah mengatakan bahwa rumah itu telah dirobohkan atas perintah pengusaha karena mereka berpikir bahwa orang gipsi akan selalu berpindah-pindah. &lt;br /&gt;“Sepuluh hari yang lalu. Dua buldoser dan tujuh orang pekerja”&lt;br /&gt;Ketika berangkat kerja, Purdi melihat mereka. Tiga rumah di tepi jalan dirobohkan. Malamnya, ia datang mendapatkan rumah keluarga Grela di sini, tetapi sudah sangat terlambat.&lt;br /&gt;Yang lebih menyakitkan, mereka melakukannya dengan sengaja, tanpa persetujuan, dan tidak memberi ganti rugi, kecuali maaf dan tawaran untuk kembali ke tempat penampungan.&lt;br /&gt;“...Lalu mereka memberiku sebuah alamat, tempat kalian dapat bermalam sementara.” Ia mengambil secari kertas dari saku jaketnya. “Ini.”&lt;br /&gt;“Mereka melakukannya dengan sengaja?”&lt;br /&gt;Purdi meludah, “Mereka menyampaikan maaf.”&lt;br /&gt;Lebih lagi, Sang nenek menyimpan barang kenangan Wizur dan Killa dalam sebuah kardus di rumah itu. Sekarang yang dapat ia lihat hanyalah tumpukan puing-puing.&lt;br /&gt;“Di mana orang telah membawa pergi barang-barang kita?”&lt;br /&gt;Grela mengimpit lengan nenek. Ia merasakan tanpa melihat bagaimana Purdi menjadi pucat  dan Ayah membungkuk di tong sampah. Di atasnya, menggunung tumpukan kertas dan sampah,...”&lt;br /&gt;Seluruh kejadian ini, ditambah kenangan mengerikan tentang masa lalu, membuat sang nenek menjadi frustasi. &lt;br /&gt;“A menjatuhkan tongkat dan mulai memukulkan tinju... sambil menggumamkan sesuatu yang mula-mula tak seorang pun mengerti. Kemudian, sepertinya Wizur dan Killa bersuara. Akhirnya, ia menaikkan suaranya dan menjerit dan menjerit. Sesuatu suara keluhan yang panjang yang mengingatkan Grela tidak pada sesuatu apa pun.” &lt;br /&gt;Akhirnya, demi mengembalikan kenangan akan kedua anaknya, ia menggali puing-puing itu demi mencari kardus berisi barang kenangan Wizur dan Killa. Ini menjadi akhir yang dramatis dan tragis.&lt;br /&gt;“Ia berusaha kembali menghidupkan anak-anaknya”&lt;br /&gt;[...]&lt;br /&gt;Di sana ada sebuah kardus dengan seekor kuda-kudaan kecil dari kayu dan mungkin sehelai pita rambut, sebuah batu. &lt;br /&gt;[...] &lt;br /&gt;“Dan ia ingin menggalinya sekarang?”&lt;br /&gt;[...]&lt;br /&gt;Grela membisu dan menatap wanita tua itu kembali yang menggali dan menggali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ini hendak memberikan secuil gambaran lika-liku kehidupan manusia yang dipenuhi penindasan, ketidakadilan, perkosaan hak, pemerasan, dan sebagainya. Sketsa yang diberikan oleh Marianne Gruber kali ini menyoroti perlakuan tidak adil terhadap orang-orang Gipsi. Dulu mereka dipaksa untuk hidup menetap. Parahnya, pemaksaan itu membawa korban. Setelah mereka hidup menetap, rumah mereka dirobohkan tanpa ijin dan ganti rugi yang jelas. Lebih lagi, barang kenangan akan Wizur dan Killa (korban) telah menjadi satu dengan puing-puing rumah. &lt;br /&gt;Tuhan memang menciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing. Antara satu manusia dengan manusia yang lain berbeda. Justru maksudnya supaya manusia itu saling melengkapi, saling bekerja sama sebab pada dasarnya, Tuhan menciptakan manusia itu dengan derajat dan martabat yang sama. Sayangnya, sejarah manusia mencatat yang lain. Banyak sekali penindasan dan bentuk-bentuk ketidakadilan dilakukan manusia yang satu terhadap manusia yang lain. Perbedaan yang memang sengaja dibentuk oleh Tuhan sedemikian rupa malahan menjadi pemicu pertentangan dan permusuhan. Dunia bukan lagi taman Firdaus, bukan karena manusia diusir oleh Tuhan, melainkan karena manusia menciptakan taman lain. Ungkapan homo homini lupus menjadi konkret di sini. &lt;br /&gt;Cerpen ini hendak menggugah perasaan kita melalui gambaran bagaimana perihnya penderitaan yang dialami oleh mereka-mereka yang diperlakukan tidak adil, yang dirampas haknya, yang disingkirkan, yang diremehkan, yang ditindas. Harus ada manusia yang sadar tentang keprihatinan ini dan melakukan pembaharuan. Jangan sampai perbedaan menjadi sumber perpecahan, melainkan haruslah perbedaan justru menjadi alat persatuan; ingat semboyan negara kita (baca: Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang sebenarnya terdiri dari ribuan suku yang berbeda-beda dengan budanyanya masing-masing: Bhinneka Tunggal Ika. Ingat pula bahwa Romo Mangun paling senang mengatakan: ut unum sint (biarlah semuanya menjadi satu). Supaya hidup ini terasa lebih indah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan budi dan hendaknya bergaulsatu sama lain dalam persaudaraan. (Deklarasi sejagat tentang HAM, pasal 1)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188919311198141?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188919311198141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188919311198141' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188919311198141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188919311198141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2001/07/ut-omnes-unum-sint.html' title='Ut Omnes Unum Sint'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188787459149427</id><published>2001-03-05T05:17:00.001-08:00</published><updated>2005-11-13T05:17:54.680-08:00</updated><title type='text'>KPP dan KPA perlu nggak sih..?</title><content type='html'>Pro dan Kontra&lt;br /&gt;Masing-masing lembaga pendidikan calon iman tingkat menengah memiliki caranya yang tersendiri dalam membentuk pribadi para kandidat imamnya lewat proses formatio-nya. Bahkan ini bisa dikatakan sebagai keunikan masing-masing seminari. Dalam pembahasan ini, kita langsung mengambil contoh pada Seminari Menengah St. Petrus Canisius; atau yang lebih dikenal sebagai Seminari Mertoyudan.   &lt;br /&gt;Dalam proses formationya, seminari menengah terluas di dunia ini, memiliki program KPP dan KPA. Program KPP adalah program persiapan bagi para seminaris yang masuk Seminari Mertoyudan setelah lulus SLTP sebelum ia mengikuti kurikulum SLTA yang sebenarnya. Sementara itu KPA adalah probram persiapan seminaris yang masuk seminari setelah lulus SMU atau tingkat pendidikan diatasnya sebelum masuk novisiat.&lt;br /&gt;Namun seperti halnya kebijakan pemerintah sekarang, kebijakan Seminari Mertoyudan ini tidak lepas dari sikap pro dan kontra baik dari pihak staff, siswa, orangtua siswa, maupun sebagian umat secara umum. Eksistensi dari program KPP dan KPA disetujui oleh sebagian pihak. Namun dari pihak lain, ada pula yang mempertanyakan efektivitasnya. &lt;br /&gt;Artikel ini dibuat dengan tujuan untuk mempejelas pro dan kontra tersebut dengan melihat dari dua aspek yang paling erat hubungannya dalam proses pembinaan (formatio) di lembaga pendidikan calon imam tingkat menengah. Yang pertama adalah dari aspek pengembangan spiritual dan yang kedua adalah dari sudut pandang  pengembangan intelektualitas. Artikel ini hanya memaparkan fakta-fakta dan opini-opini yang didapat dari beberapa pihak serta observasi dan refleksi empiris yang cukup memadai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Pengembangan Rohani&lt;br /&gt;Kehidupan rohani bagi seorang imam adalah hal yang amat esensial sebab pondasi utama dari kehidupan selibat (tidak menikah) adalah kehidupan rohani. Kehancuran dari kehidupan spiritualitas sama artinya dengan runtuhnya kehidupan imamat seorang selibater; sama halnya dengan Menara Pisa di Italia yang miring akibat pondasi yang tidak kuat. Oleh karena itu, seminari menengah sebagai lembaga pendidikan dasar dari para kandidat imam diharapkan dengan sangat untuk dapat memberikan pondasi yang kuat bagi para kandidat imam sehingga kelak dapat menjadi imam yang tangguh; apalagi di tengah-tengah badai globalisasi dan kemajuan teknologi ini. &lt;br /&gt; Program KPP dinilai mendukung dalam pengenalan hidup rohani. Dengan adanya program KPP, para seminaris diberi waktu selama satu tahun untuk mengenal lebih jauh kehidupan rohaninya. Ia akan mulai menyesuaikan diri untuk  terbiasa mengolah, mengembangkan dan memelihara hidup rohaninya. Dan selain itu, dalam waktu satu tahun itu pula, ia dapat menggali lebih jauh mengenai kepribadiannya. Ia akan belajar untuk mensyukuri segala bakat dan talenta yang telah Tuhan berikan kepadanya dan terlebih, ia akan belara menerima segala kelemahan dan keterbatasan yang dimilikinya. Dan dengan bekal pengenalan dirinya itu, ia akan semakin mudah dalam mengembangkan hidup rohaninya. Hidup rohaninya menjadi ‘baterai’ alias sumber kekuatannya dalam menapaki jenjang pendidikan imamat berikutnya. Khusus bagi para seminaris KPP, program KPP ini dapat digunakan sebagai kesempatan untuk memurnikan motivasinya untuk menjadi imam. Dengan motivasi yang murni seorang kandidat imam akan dapat mengikuti jalan panggilannya dengan lancar sebab ia sudah menemukan mengapa Tuhan memanggilnya.&lt;br /&gt;Sama halnya dengan KPP, program KPA juga amat mendukung seseorang kandidat imam dalam mengembangkan hidup rohaninya. Apalagi, kandidat imam yang mengikuti program KPA adalah kandidat imam yang memang sudah mantap dalam keputusan menjadi seorang selibater. Program KPA dapat dikatakan sebagai pra-novisiat sebab program satu tahun ini menjadi persiapannya untuk mendalami lebih jauh mengenai hidup rohani. Ia diberi kesempatan untuk memahami arti imamat lebih mendalam. &lt;br /&gt;Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa KPP bisa menyebabkan “kebohongan”. Seorang seminaris KPP sebenarnya memutuskan tidak ke jalan imamat bisa saja memilih jalan bohong supaya dirinya bisa naik ke kelas satu daripada harus jujur bahwa dirinya tidak berminat menjadi imam lagi. Pertimbangannya biasanya bermula dari segi finansial. Bila ia mengundurkan diri, ia harus mencari sekolah yang mau menerimanya, belum lagi biaya gedung dan SPP yang tinggi serta uang untuk beli buku cetak. Tentu saja semua ini akan bergantung pada pribadi dari seminaris tersebut. Namun bisa saja hal ini terjadi.&lt;br /&gt;Ada pula pendapat lain yang mengkritisi keberadaan KPA yang disatukan dengan kelas III di Medan Utama. Perlu diwaspadai bahwa kedua angkatan ini amatlah berbeda. KPA adalah seminari yang baru saja masuk seminari dan mencoba untuk mengolah lebih dalam kehidupan rohaninya. Sementara itu, kelas III adalah seminaris tahun keempat; artinya, mereka sudah mengalami empat tahun hidup di seminari. Belum lagi tiap angkatan memiliki cirinya masing-masing. Hal yang ditakutkan adalah adanya interaksi yang buruk yang mengakibatkan keduanya tidak bisa mengembangkan hidup rohaninya; terutama KPA yang baru saja masuk seminari. Sekali lagi, semua ini memang bergantung pada masing-masing pribadi. Namun bisa jasa hal ini terjadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Pengembangan Intelektualitas&lt;br /&gt;Imam-imam jaman sekarang ini sebagai pemimpin umat dituntut untuk memiliki kemampuan intelektualitas yang memadai. Apa jadinya jika seorang pemimpin lebih bodoh dari anggotanya. Perlu diingat bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang pesan pada jaman ini. Taraf umat yang berpendidikan meningkat pesat, apalagi bagi umat yang tinggal di kawasan perkotaan. Oleh karena itu, sekali lagi seminari menengah dalam kapasitasnya sebagai lembaga calon imam tingkat dasar dituntut untuk dapat memberikan bekal kemampuan intelektualitas yang memadai bagi para calon imamnya.&lt;br /&gt;Dalam buku pedoman yang diterbitkan Seminari Mertoyudan, salah satu arah pedoman dari pendidikan KPP adalah program remidiasi mata pelajaran SLTP.  Namun yang nyata di lapangan, program KPP tidaklah sepenuhnya remidiasi SLTP. Hanya sebagian kecil dari mata pelajaran SLTP yang diulang; ada pula yang mempersiapkan bahan-bahan untuk kelas satu kelak. &lt;br /&gt;Namun pada dasarnya, tetaplah konsep KPP diperlukan. Bagi seorang kandidat imam tahun pertama, dibutuhkan proses adaptasi cara belajar. Proses adaptasi diperlukan karena metode belajarnya saat SLTP belum tentu dapat disesuaikan dengan ketentuan belajar di seminari. Sebagai contoh, seorang remaja yang biasa belajar pada malam hari atau pada dini hari akan sulit untuk mengembangkan intelektualitasnya sebab jam belajar di seminari adalah pukul 18.00-19.00 dan 20.00-20.15. Karena itu diperlukan adanya suatu masa dimana seorang seminaris tahun pertama dapat beradaptasi mengenai metode belajarnya. Proses adaptasi tidak hanya mengenai metode belajar, namun juga cara hidup berasrama. Ia harus terbiasa bangun pukul 04.15 dan tidur pukul 22.00 tanpa harus tertidur saat Misa atau saat pelajaran. Setelah ia terbiasa dengan rutinitas seminari secara umum, maka niscaya ia akan dapat mengembangkan talentanya dengan lebih baik; walau dengan kurikulum yang cukup berat sekalipun. &lt;br /&gt;Dalam hal yang sama pula, program KPA dinilai penting. KPA sebagai “pra-novisiat” menjadi kesempatan untuk beradapatasi dengan rutinitas asrama. Hal ini diperlukan mengingat kelak ia akan menjalani masa novis yang bersistem asrama. Selain itu, program KPA dilengkapi dengan pelajaran-pelajaran yang akan mendukung masa novis yang akan dilaluinya; misalnya: pelajaran Agama, Imamat, Liturgi, Pengantar Kitab Suci, Sejarah Gereja. Dengan keberadaan pelajaran-pelajaran tersebut dipercaya bahwa seminaris KPA akan dibekali dengan pengetahuan yang memadai. Sehingga kelak di masa novisnya, ia dapat mengembangkan intelektualitasnya dengan lebih dalam lagi. &lt;br /&gt;Tidak kalah dengan KPA, program KPP pun disertakan pelajaran-pelajaran yang akan mendukung jenjang pendidikan imamatnya kelak. Pelajaran-pelajaran ini pun sama dengan yang diberikan di KPA; hanya saja seminaris KPP tidak mendapatkan pelajaran Imamat. Dengan bekal pelajaran-pelajaran itu seminaris KPP diyakini akan mudah mengembangkan intelektualitasnya lebih dalam lagi kelak di jenjang pendidikan imam selanjutnya. Misalnya, pelajaran Pengantar Kitab Suci menjadi pondasi dari Pelajaran Kitab Suci Perjanjian Lama di kelas satu dan Pelajaran Kitab Suci Perjanjian Baru di kelas dua dan tiga. Pelajaran Sejarah Gereja di KPP pun akan lebih diperdalam dalam pelajaran Sejarah Gereja di kelas dua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188787459149427?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188787459149427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188787459149427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2001/03/kpp-dan-kpa-perlu-nggak-sih_05.html' title='KPP dan KPA perlu nggak sih..?'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188785145666937</id><published>2001-03-05T05:17:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:17:31.513-08:00</updated><title type='text'>KPP dan KPA perlu nggak sih..?</title><content type='html'>Pro dan Kontra&lt;br /&gt;Masing-masing lembaga pendidikan calon iman tingkat menengah memiliki caranya yang tersendiri dalam membentuk pribadi para kandidat imamnya lewat proses formatio-nya. Bahkan ini bisa dikatakan sebagai keunikan masing-masing seminari. Dalam pembahasan ini, kita langsung mengambil contoh pada Seminari Menengah St. Petrus Canisius; atau yang lebih dikenal sebagai Seminari Mertoyudan.   &lt;br /&gt;Dalam proses formationya, seminari menengah terluas di dunia ini, memiliki program KPP dan KPA. Program KPP adalah program persiapan bagi para seminaris yang masuk Seminari Mertoyudan setelah lulus SLTP sebelum ia mengikuti kurikulum SLTA yang sebenarnya. Sementara itu KPA adalah probram persiapan seminaris yang masuk seminari setelah lulus SMU atau tingkat pendidikan diatasnya sebelum masuk novisiat.&lt;br /&gt;Namun seperti halnya kebijakan pemerintah sekarang, kebijakan Seminari Mertoyudan ini tidak lepas dari sikap pro dan kontra baik dari pihak staff, siswa, orangtua siswa, maupun sebagian umat secara umum. Eksistensi dari program KPP dan KPA disetujui oleh sebagian pihak. Namun dari pihak lain, ada pula yang mempertanyakan efektivitasnya. &lt;br /&gt;Artikel ini dibuat dengan tujuan untuk mempejelas pro dan kontra tersebut dengan melihat dari dua aspek yang paling erat hubungannya dalam proses pembinaan (formatio) di lembaga pendidikan calon imam tingkat menengah. Yang pertama adalah dari aspek pengembangan spiritual dan yang kedua adalah dari sudut pandang  pengembangan intelektualitas. Artikel ini hanya memaparkan fakta-fakta dan opini-opini yang didapat dari beberapa pihak serta observasi dan refleksi empiris yang cukup memadai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Pengembangan Rohani&lt;br /&gt;Kehidupan rohani bagi seorang imam adalah hal yang amat esensial sebab pondasi utama dari kehidupan selibat (tidak menikah) adalah kehidupan rohani. Kehancuran dari kehidupan spiritualitas sama artinya dengan runtuhnya kehidupan imamat seorang selibater; sama halnya dengan Menara Pisa di Italia yang miring akibat pondasi yang tidak kuat. Oleh karena itu, seminari menengah sebagai lembaga pendidikan dasar dari para kandidat imam diharapkan dengan sangat untuk dapat memberikan pondasi yang kuat bagi para kandidat imam sehingga kelak dapat menjadi imam yang tangguh; apalagi di tengah-tengah badai globalisasi dan kemajuan teknologi ini. &lt;br /&gt; Program KPP dinilai mendukung dalam pengenalan hidup rohani. Dengan adanya program KPP, para seminaris diberi waktu selama satu tahun untuk mengenal lebih jauh kehidupan rohaninya. Ia akan mulai menyesuaikan diri untuk  terbiasa mengolah, mengembangkan dan memelihara hidup rohaninya. Dan selain itu, dalam waktu satu tahun itu pula, ia dapat menggali lebih jauh mengenai kepribadiannya. Ia akan belajar untuk mensyukuri segala bakat dan talenta yang telah Tuhan berikan kepadanya dan terlebih, ia akan belara menerima segala kelemahan dan keterbatasan yang dimilikinya. Dan dengan bekal pengenalan dirinya itu, ia akan semakin mudah dalam mengembangkan hidup rohaninya. Hidup rohaninya menjadi ‘baterai’ alias sumber kekuatannya dalam menapaki jenjang pendidikan imamat berikutnya. Khusus bagi para seminaris KPP, program KPP ini dapat digunakan sebagai kesempatan untuk memurnikan motivasinya untuk menjadi imam. Dengan motivasi yang murni seorang kandidat imam akan dapat mengikuti jalan panggilannya dengan lancar sebab ia sudah menemukan mengapa Tuhan memanggilnya.&lt;br /&gt;Sama halnya dengan KPP, program KPA juga amat mendukung seseorang kandidat imam dalam mengembangkan hidup rohaninya. Apalagi, kandidat imam yang mengikuti program KPA adalah kandidat imam yang memang sudah mantap dalam keputusan menjadi seorang selibater. Program KPA dapat dikatakan sebagai pra-novisiat sebab program satu tahun ini menjadi persiapannya untuk mendalami lebih jauh mengenai hidup rohani. Ia diberi kesempatan untuk memahami arti imamat lebih mendalam. &lt;br /&gt;Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa KPP bisa menyebabkan “kebohongan”. Seorang seminaris KPP sebenarnya memutuskan tidak ke jalan imamat bisa saja memilih jalan bohong supaya dirinya bisa naik ke kelas satu daripada harus jujur bahwa dirinya tidak berminat menjadi imam lagi. Pertimbangannya biasanya bermula dari segi finansial. Bila ia mengundurkan diri, ia harus mencari sekolah yang mau menerimanya, belum lagi biaya gedung dan SPP yang tinggi serta uang untuk beli buku cetak. Tentu saja semua ini akan bergantung pada pribadi dari seminaris tersebut. Namun bisa saja hal ini terjadi.&lt;br /&gt;Ada pula pendapat lain yang mengkritisi keberadaan KPA yang disatukan dengan kelas III di Medan Utama. Perlu diwaspadai bahwa kedua angkatan ini amatlah berbeda. KPA adalah seminari yang baru saja masuk seminari dan mencoba untuk mengolah lebih dalam kehidupan rohaninya. Sementara itu, kelas III adalah seminaris tahun keempat; artinya, mereka sudah mengalami empat tahun hidup di seminari. Belum lagi tiap angkatan memiliki cirinya masing-masing. Hal yang ditakutkan adalah adanya interaksi yang buruk yang mengakibatkan keduanya tidak bisa mengembangkan hidup rohaninya; terutama KPA yang baru saja masuk seminari. Sekali lagi, semua ini memang bergantung pada masing-masing pribadi. Namun bisa jasa hal ini terjadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Pengembangan Intelektualitas&lt;br /&gt;Imam-imam jaman sekarang ini sebagai pemimpin umat dituntut untuk memiliki kemampuan intelektualitas yang memadai. Apa jadinya jika seorang pemimpin lebih bodoh dari anggotanya. Perlu diingat bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang pesan pada jaman ini. Taraf umat yang berpendidikan meningkat pesat, apalagi bagi umat yang tinggal di kawasan perkotaan. Oleh karena itu, sekali lagi seminari menengah dalam kapasitasnya sebagai lembaga calon imam tingkat dasar dituntut untuk dapat memberikan bekal kemampuan intelektualitas yang memadai bagi para calon imamnya.&lt;br /&gt;Dalam buku pedoman yang diterbitkan Seminari Mertoyudan, salah satu arah pedoman dari pendidikan KPP adalah program remidiasi mata pelajaran SLTP.  Namun yang nyata di lapangan, program KPP tidaklah sepenuhnya remidiasi SLTP. Hanya sebagian kecil dari mata pelajaran SLTP yang diulang; ada pula yang mempersiapkan bahan-bahan untuk kelas satu kelak. &lt;br /&gt;Namun pada dasarnya, tetaplah konsep KPP diperlukan. Bagi seorang kandidat imam tahun pertama, dibutuhkan proses adaptasi cara belajar. Proses adaptasi diperlukan karena metode belajarnya saat SLTP belum tentu dapat disesuaikan dengan ketentuan belajar di seminari. Sebagai contoh, seorang remaja yang biasa belajar pada malam hari atau pada dini hari akan sulit untuk mengembangkan intelektualitasnya sebab jam belajar di seminari adalah pukul 18.00-19.00 dan 20.00-20.15. Karena itu diperlukan adanya suatu masa dimana seorang seminaris tahun pertama dapat beradaptasi mengenai metode belajarnya. Proses adaptasi tidak hanya mengenai metode belajar, namun juga cara hidup berasrama. Ia harus terbiasa bangun pukul 04.15 dan tidur pukul 22.00 tanpa harus tertidur saat Misa atau saat pelajaran. Setelah ia terbiasa dengan rutinitas seminari secara umum, maka niscaya ia akan dapat mengembangkan talentanya dengan lebih baik; walau dengan kurikulum yang cukup berat sekalipun. &lt;br /&gt;Dalam hal yang sama pula, program KPA dinilai penting. KPA sebagai “pra-novisiat” menjadi kesempatan untuk beradapatasi dengan rutinitas asrama. Hal ini diperlukan mengingat kelak ia akan menjalani masa novis yang bersistem asrama. Selain itu, program KPA dilengkapi dengan pelajaran-pelajaran yang akan mendukung masa novis yang akan dilaluinya; misalnya: pelajaran Agama, Imamat, Liturgi, Pengantar Kitab Suci, Sejarah Gereja. Dengan keberadaan pelajaran-pelajaran tersebut dipercaya bahwa seminaris KPA akan dibekali dengan pengetahuan yang memadai. Sehingga kelak di masa novisnya, ia dapat mengembangkan intelektualitasnya dengan lebih dalam lagi. &lt;br /&gt;Tidak kalah dengan KPA, program KPP pun disertakan pelajaran-pelajaran yang akan mendukung jenjang pendidikan imamatnya kelak. Pelajaran-pelajaran ini pun sama dengan yang diberikan di KPA; hanya saja seminaris KPP tidak mendapatkan pelajaran Imamat. Dengan bekal pelajaran-pelajaran itu seminaris KPP diyakini akan mudah mengembangkan intelektualitasnya lebih dalam lagi kelak di jenjang pendidikan imam selanjutnya. Misalnya, pelajaran Pengantar Kitab Suci menjadi pondasi dari Pelajaran Kitab Suci Perjanjian Lama di kelas satu dan Pelajaran Kitab Suci Perjanjian Baru di kelas dua dan tiga. Pelajaran Sejarah Gereja di KPP pun akan lebih diperdalam dalam pelajaran Sejarah Gereja di kelas dua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188785145666937?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188785145666937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188785145666937' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188785145666937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188785145666937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2001/03/kpp-dan-kpa-perlu-nggak-sih.html' title='KPP dan KPA perlu nggak sih..?'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188884078413587</id><published>2001-02-17T05:33:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:34:00.866-08:00</updated><title type='text'>Musik Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang  dan Masalah &lt;br /&gt;Musik adalah salah satu cabang seni yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Bahkan sejak kita masih bayi, mungkin, kita sudah dikenalkan dengan ‘seni musik’ oleh ibu kita, yaitu lewat nyanyian-nyanyian sederhana, misalnya: lagu Nina Bobo, Pelangi, Pak Pos, dan banyak lagi. Nyanyian-nyanyian itu juga menyemarakkan hidup kita hingga memasuki masa pendidikan prasekolah maupun awal-awal sekolah. Selama pendidikan sekolah formal maupun di lingkungan kita masing-masing, kita pun selalu dikenalkan yang nyanyian-nyanyian yang makin lama makin rumit seiring dengan makin bertambahnya tingkat pendidikan kita. Musik yang kita kenal pun bukan lagi hanya sekedar musik vokal tapi, lebih dari itu, kita pun mengenal instrumen-instrumen musik baik itu instrumen ritmis maupun melodis. Dan musik akan selalu mengiringi hidup kita hingga kita dewasa bahkan hingga kita kembali ke pangkuan-Nya. &lt;br /&gt;Musik yang kita kenal pun tidak terbatas sebagai sarana hiburan saja melainkan juga musik sebagai salah satu bagian dari sebuah kebudayaan dari suatu bangsa,  musik sebagai salah satu bagian dari ritus keagamaan, musik sebagai sarana peluap emosi, dan sebagainya. &lt;br /&gt;Lebih dari semua hal diatas, musik adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari suatu kebudayaan. Lahirnya dan berkembangnya suatu kebudayaan oleh manusia sudah dipastikan tidak akan terlepas dari unsur musik. Pendek kata, setiap kebudayaan pasti memiliki musik tersendiri. Jadi sekali lagi dapat disimpulkan bahwa manusia tidak akan bisa terlepas dari musik! &lt;br /&gt;Tapi yang perlu mendapat perhatian dan sekaligus menjadi keprihatinan yang mendasar adalah bahwa musik di Indonesia selama ini hanyalah sebagai hegemoni hiburan. Padahal fungsi dan manfaat musik tidaklah sesempit seperti yang ‘dihayati’ oleh kebanyakan orang Indonesia. Pemahaman dan penghayatan musik yang seperti itulah yang membuat penulis terdorong untuk mengungkapkan pikiran dan ide-ide demi peningkatan terhadap pemahaman dan penghayatan musik bagi bangsa Indonesia, yaitu pemanfaatan musik sebagai alat peningkat sumber daya manusia Indonesia. Sebab kita tahu pula bahwa sumber daya manusia Indonesia secara umum masih kalah dengan banyak bangsa-bangsa lain, terutama bangsa barat. Kerusuhan, pertikaian karena masalah SARA, ancaman generasi kurang gizi, tawuran pelajar, pergaulan dan seks bebas di kalangan remaja, narkotika, dan banyak permasalahan lagi, rasanya sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa sumber daya manusia Indonesia secara umum sebaik banyak bangsa-bangsa di dunia ini. Dengan bertitik tolak dari keprihatinan itu semua, maka penulis mau menawarkan salah satu solusi untuk peningkatan sumber daya manusia Indonesia melalui pendidikan musik.   &lt;br /&gt; Namun terdapat hal yang mendasar dan penting dalam pengungkapan pemikiran serta ide-ide penulis dalam makalah ini. Penulis melihat musik disini dalam konteks musik seni barat yang bersifat diatonis; dan bukannya musik Indonesia yang bersifat pentatonis. Hal ini dikarenakan musik seni barat adalah musik yang lebih sistematis dan teratur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;Oleh karena latar belakang dan bertitik tolak dari masalah serta keprihatinan yang ada dalam masyarakat Indonesia itu (lih. Sub-bab diatas), penulis pun terdorong untuk mengungkapkan pemikiran serta ide-ide dalam makalah kali ini. Tujuan penulis menyelesaikan makalah ini adalah untuk menyadarkan para pembaca makalah ini bahwa musik bukanlah sekedar sarana hiburan melainkan, lebih dari itu, musik adalah sarana untuk meningkatkan sumber daya manusia. Sehingga penulis berharap agar makalah ini, dapat memperluas pemahaman dan penghayatan musik dalam kehidupan manusia. Dan makalah ini dapat ditindak lanjuti secara serius sehingga dapat benar-benar meningkatkan sumber daya manusia Indonesia. Selain itu, makalah ini juga dibuat untuk diikutsertakan dalam lomba membuat makalah musik dalam rangka Malam Musik Seminari (MAMURI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Metode dan Teknik Penulisan&lt;br /&gt;Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode studi kepustakaan. Sumber data didapatkan dari perpustakaan Seminari Menengah St. Petrus Kanisius, Mertoyudan. Penulis menganalisis,  mengumpulkan, serta memahami data-data yang ada sebagai bahan utama penulisan makalah ini. Selain itu, penulis juga mengikutsertakan pemikiran serta pengalaman penulis sendiri selama mendapatkan pendidikan musik di Seminari Menengah  Mertoyudan sebagai bahan penunjang dan pelengkap penulisan makalah ini.  Data-data yang telah dipahami penulis ditambah pemikiran serta pengalaman penulis itu diungkapkan kembali oleh penulis dalam bentuk makalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. Sistematika Penulisan&lt;br /&gt;Makalah ini dibagi menjadi enam (6) bab. Pada bab 1, yaitu Pendahuluan, dijelaskan mengenai latar belakang penulisan makalah ini serta masalah yang mendorong penulis untuk menulis makalah ini. Setelah itu dipaparkan mengenai tujuan dari penulisan makalah ini dan dilanjutkan dengan metode serta  teknik penulisan makalah ini. Terakhir, dijelaskan bagaimana sistematika penulisan dari makalah ini.&lt;br /&gt;Bab 2 diberi judul Antara Kecerdasan dan Musik. Disana akan dijelaskan bagaimana hubungan antara kecerdasan manusia dengan musik sebagai sarana peningkat kecerdasan manusia. Diikutsertakan pula hasil dari penelitian-penelitian yang memperkuat pernyataan itu. Pada bab ini, penulis mau menjelaskan musik sebagai peningkat sumber daya manusia dari segi kualitas kecerdasan. &lt;br /&gt;Pada bab 3, yaitu Antara Kepribadian Manusia dengan Musik, akan dijelaskan bagaimana pribadi manusia yang terbentuk dari pendidikan musik, terutama dilihat dalam konteks peningkatan sumber daya manusia. Berbeda dari bab 2, pada bab ini, penulis mau menjelaskan musik sebagai peningkat sumber daya manusia dari segi pembentukan kepribadian; kualitas kepribadian.&lt;br /&gt; Pada Bab 4, yaitu Musik Instrumental, akan dijelaskan bahwa pendidikan musik dengan instrumen lebih unggul daripada sekedar pendidikan musik vokal. Dalam hal ini, kita perlu mencontoh Jepang. Pernyataan itu akan diperkuat dengan pendapat ahli musik Jepang. &lt;br /&gt;Selanjutnya pada bab 5, yaitu Kendala yang Ada  serta Alternatif Penyelesaian dijelaskan mengenai kendala yang merintangi pendidikan musik di Indonesia. Kemudian penulis memberikan kemungkinan alternatif penyelesaian sebagai solusi atas kendala-kendala yang ada itu. &lt;br /&gt;Terakhir pada bab Kesimpulan dan Penutup, penulis akan menyimpulkan keseluruhan isi dari pemikiran penulis dalam konteks musik sebagai alat peningkat sumber daya manusia Indonesia. Kemudian ucapan terimakasih serta permohonan maaf sebagai penutup.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 2&lt;br /&gt;Antara Kecerdasan dan Musik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1938, M. Dide memulai penelitian mengenai hubungan antara otak kanan dengan musik. Selanjutnya dilakukan penelitian yang lebih intensif dan mendalam oleh Dr. Roger W. Sperry pada tahun 1981. Ia membagi wilayah otak manusia menjadi dua, berdasarkan fungsinya . &lt;br /&gt;Otak kiri (left hemisphere) merupakan pusat pengendali fungsi intelektualitas. Misalnya logika, daya analitis, daya ingat, pemikiran konvergen, bahasa, perhitungan. &lt;br /&gt;Otak kanan (right hemisphere) berdasar pada spontanitas dan pengendalian fungsi mental. Misalnya emosi, intuisi, hubungan ruang dan dimensi, pemikiran divergen, gambar, musik dan irama, gerak dan tari. &lt;br /&gt;Dari hasil penelitian Dr. Roger W. Sperry itu, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, musik dapat digunakan untuk menyeimbangkan dengan otak kiri.  Dan keseimbangan antara kedua bagian otak tersebut dapat mempengaruhi kecerdasan kita. Pendek kata, musik bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kecerdasan kita. &lt;br /&gt;Penelitian-penelitian mengenai hubungan antara kecerdasan manusia dan musik banyak dilakukan dan semuanya makin menguatkan kesimpulan tadi, yaitu bahwa musik bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kecerdasan kita.&lt;br /&gt;Seorang biofisikawan dari Sekolah Musik di Providence, Rhode Island yang bernama Martin Garinder menyimpulkan bahwa pendidikan kesenian dapat berinteraksi dengan kecepatan seseorang menyerap mata pelajaran lainnya, misalnya menulis, membaca, maupun berhitung. Pernyataan itu didapatkannya dari penelitiannya terhadap 96 anak sekolah yang berusia antara lima sampai tujuh (5-7) tahun. Empat puluh delapan (48) siswa pertama didikutkan dalam pelajaran ekstra tentang musik dan seni visual. Sedangkan 48 siswa sisanya hanya mengikuti pelajaran musik dan menggambar sesuai kurikulum standar. &lt;br /&gt;Pada tahun yang pertama, keempat puluh delapan siswa yang mendapatkan pelajaran ekstra musik itu belajar untuk bernyanyi dalam sebuah paduan suara sekaligus melatih ketepatan menembak nada dan irama. Pelajaran itu menjadi pelajaran yang menyenangkan bagi mereka, sekaligus melatih kepekaan emosional mereka. Kemudian pada tahun kedua, Garinder memberikan kepada mereka pelajaran membaca partitur not balok. &lt;br /&gt;Dari penelitiannya selama dua tahun itu, secara mengejutkan, Garinder menemukan peningkatan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang pesat pada keempat puluh delapan siswa yang mendapat jam ekstra. Dan hebatnya lagi, hal tersebut terjadi pada seluruh anak-anak baik yang tingkat kecerdasannya kurang maupun pas-pasan. Di lain pihak, pada anak-anak yang tidak mendapat jam ekstra, Garinder tidak menemukan perkembangan yang berarti dalam hal membaca, menuis, dan berhitung; apalagi jika dibandingkan dengan mereka yang mendapat jam ekstra musik.  &lt;br /&gt;Penelitian lain mengenai hubungan antara kecerdasan dengan otak dilakukan oleh Frances Rauscher dan Shaw. Mereka memberikan pelajaran piano dan bernyanyi kepada 19 anak selama kurang lebih delapan ( 8) bulan. Setelah itu, Shaw  memberikan tes mengenai pelajaran trigonometri dan menggambar blok dua warna. Dan ternyata keterampilan anak-anak itu meningkat. Jadi terdapat respon positif dari pelajaran seni musik yang diberikan kepada mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 3&lt;br /&gt;Antara Kepribadian Manusia dengan Musik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan musik menyumbangkan banyak hal dalam perkembangan pribadi seseorang, apalagi jika pendidikan musik itu mulai dikenalkan pada anak sejak usia dini. Mereka yang mengikuti pendidikan musik terutama sejak dini akan memiliki kepribadian yang berkualitas. &lt;br /&gt; Salah satu dari hasil dari pendidikan musik adalah bahwa dalam mencapai segala sesuatu dibutuhkan waktu serta proses, tidak bisa langsung jadi. Seseorang yang seperti itu, dalam kehidupannya sehari-hari memiliki prinsip untuk selalu berada pada jalan yang benar dan legal dalam mencapai keberhasilan hidupnya; ia tidak akan mencari jalan pintas yang buruk. Di zaman ini, banyak  orang-orang menghalalkan segala cara untuk mencapai keberhasilan termasuk cara yang buruk, misalnya dengan cara menyontek, nepotisme, menyogok, dan banyak lagi. &lt;br /&gt;Dan karena proses dan waktu yang harus dilalui itu tidak selamanya menyenangkan; bahkan kebanyakan menghasilkan rasa bosan dan malas,  ia akan terbiasa dan belajar untuk menghadapi banyaknya tantangan serta rintangan dalam mencapai tujuannya. Orang yang terbiasa menghadapi banyak tantangan serta rintangan tidak akan mudah mengeluh dan berputus asa dalam menghadapi tantangan serta rintangan itu. Sebaliknya, ia akan terus  berusaha mengatasi tantangan itu tanpa merugikan orang lain dengan caranya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Jadi pendidikan musik juga sekaligus membuat seseorang menjadi pribadi yang mandiri dan tidak mudah goyah dalam prinsip. Mengapa? Sebab ia sudah memiliki cara-cara tersendiri dalam menghadapi tantangan dan rintangan melalui pengalamannya selama pendidikan musik. &lt;br /&gt;Dalam pendidikan musik terdapat sejumlah besar peraturan yang menjadi konsensus (persetujuan) bersama. Terlebih pendidikan musik barat yang bersifat diatonis dan sangat sistematis  Jadi seseorang yang belajar musik sudah tentu dan mau tidak mau, akan berhadapan dengan aturan-aturan itu. Ia akan terbiasa dan dididik untuk mematuhi aturan-aturan itu. Sikap ini akan meresap dalam pribadinya sehingga ia akan memiliki prinsip untuk selalu mematuhi serta menghormati peraturan-peraturan dan norma-norma yang ada dan berlaku dalam masyarakat tempat ia hidup. Ia pun akan menjadi pribadi yang memiliki disiplin yang tinggi. &lt;br /&gt;Pendidikan musik pun akan melatih ketelitian seseorang dalam membaca suatu partitur lagu serta ketepatannya dalam membidik nada suatu nyanyian, misalnya. Hasilnya, dalam kehidupannya sehari-hari pun ia akan terbiasa untuk teliti dan tepat. Misalnya teliti dalam mengerjakan tugas, tepat waktu dalam menepati janji, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Bagi mereka yang mengikuti pendidikan musik dalam kelompok orkestra, hasil pendidikan musik bagi pribadi seseorang akan tampak lebih nyata lagi. Mereka yang tergabung dalam orkestra akan dilatih untuk bekerja sama. Sikap ini pun akan meresap dalam pribadinya sehingga ia menjadi pribadi yang dapat diajak bekerja sama dengan orang lain dan tidak menjadi orang yang terlalu individualis. Lebih dari itu ia akan menjadi orang yang dengan senang hati membantu orang lain. &lt;br /&gt;Lewat musik-musik yang lembut dan harmonis, seseorang akan berkembang menjadi pribadi yang lembut dan harmonis pula. Karenanya seseorang  yang mempelajari musik akan mencapai integritas antara pikiran (rasio) dan perasaan (emosi). Dalam kehidupannya sehari-hari, ia tidak hanya mendasarkan setiap perbuatan yang ia lakukan dengan rasio saja atau bahkan dengan emosi saja. Lebih dari itu, ia akan melakukan perbuatannya berdasarkan pertimbangan rasio dan emosi yang seimbang antara keduanya. Sehingga setiap yang perbuatan yang ia lakukan benar-benar berdasarkan suatu kebijaksanaan. &lt;br /&gt;Musik juga dapat menjadi tempat pelampiasan emosi yang positif. Jadi bagi mereka yang mengikuti pendidikan musik, dapat melampiaskan emosi mereka secara positif, baik dengan memainkan alat musik maupun menciptakan suatu lagu. Terutama bagi mereka yang remaja, dimana emosinya masih labil, pelampiasan emosi secara positif sangatlah diperlukan. Jika remaja tidak memiliki tempat pelampiasan emosi secara positif maka mereka justru akan lari pada jalan yang buruk, misalnya dengan narkotika, mabuk-mabukan, dan banyak lagi.  &lt;br /&gt;Masih banyak lagi sumbangan pendidikan musik dalam perkembangan pribadi manusia ke arah yang lebih baik lagi, dan mungkin makalah ini tidaklah cukup untuk membahasnya satu persatu. Tapi yang jelas adalah bahwa pendidikan musik  mengembangkan kepribadian mereka yang mempelajarinya ke arah yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 4&lt;br /&gt;Pendidikan Musik Instrumental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pendidikan musik instrumental, sudah layak dan sepantasnya jika kita mencontoh bangsa Jepang sebagai sesama bangsa Asia. Berbeda dengan Jepang, Indonesia memulai pendidikan musik dalam bidang vokal. Sedangkan bagi kebanyakan masyarakat Jepang, pendidikan musik dengan instrumen sudah menjadi hal yang umum.  Sayangnya, hasil pendidikan musik vokal tidak semaksimal dan sebaik dari hasil pendidikan musik instrumental. Kesimpulan ini didukung oleh hasil dari penelitian yang dilakukan Masaru. &lt;br /&gt;Pernyataan sebagai hasil dari penelitian yang dilakukan Masaru Ibuka, seorang pemusik dari Jepang, agaknya sedikit berbeda dengan Garinder, Frances, dan Shaw (lih. Bab sebelummya). Dalam buku yang ditulisnya sendiri, yaitu: Kindergarten is Too Late, Masaru menyatakan bahwa pendidikan musik yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi kecerdasan anak adalah pendidikan musik instrumental. &lt;br /&gt;Masaru menawarkan dua macam metode dalam pendidikan musik instrumental untuk mengembangkan potensi kecerdasan anak. Metode yang pertama adalah dengan metode aktif. Alat-alat musik seperti piano, biola, ataupun gitar, seharusnya dikenalkan pada anak sedini mungkin; yang tepat adalah pada kurang lebih umur tiga sampai empat ( 3-4) tahun. Metode kedua adalah dengan metode pasif. Metode pasif diberikan pada anak-anak berumur kurang lebih lima sampai enam ( 5-6) bulan. Dalam metode pasif, anak hanyalah mendegarkan permainan musik atau rekaman musik tertentu. Karya-karya yang diusulkan oleh Masaru anatara lain, konserto-konserto Antonio Vivaldi, sonata-sonata Wolfgang Amadeus Mozart, konserto-konserto Ludwig van Beethoven, karya-karya Johan Sebastian Bach. &lt;br /&gt;Jadi seharusnya kita mengenalkan instrumen-instrumen musik kepada anak-anak sejak dini serta memasyarakatkan pendidikan musik instrumental dalam masyarakat Indonesia ini. Sehingga seperti halnya Jepang, kita bisa memiliki gererasi yang unggul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 5&lt;br /&gt;Kendala yang Ada serta Alternatif Penyelesaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mencapai sesuatu yang baik pasti ditemui kendala dan permasalahan yang merintangi tercapainya tujuan kita itu. Pendidikan musik di Indonesia juga memiliki banyak kendala.&lt;br /&gt;Kendala yang muncul dari anak didik biasanya berasal dari minat anak terhadap metode pendidikan musik yang didapatkannya. Kejadian ini kerap terjadi terutama bagi anak yang terlibat dalam pendidikan musik secara aktif (lih. Bab 3). Mungkin anak merasa bosan karena ia tidak menemukan sesuatu yang menarik. Oleh karena itu perlu diadakan suatu metode pendidikan musik yang membuat anak didik tertarik dan bersemangat dalam mengikuti pendidikan yang ada, misalnya sambil bermain-main. &lt;br /&gt;Perlu pula diperhitungkan kemampuan konsentrasi anak didik dalam menangkap pelajaran musik. Terdapat batas-batas tertentu yang tidak boleh dipaksakan jika mau mencapai hasil yang maksimal. Anak didik mungkin saja kelelahan, dan jika kita tetap memaksakan maka justru ia tidak akan menangkap pelajaran musik atau bahkan akan membencinya. Tapi tetap diperlukan dorongan semangat, terutama dari orang tua, jika anaknya malas untuk belajar musik. Perlu ditanamkan dalam dirinya bahwa segala sesuatu membutuhkan proses. Seorang komponis Hongaria, Zaltan Kodaly (1882-1967) berpendapat demikian: “Tidak ada anak yang tidak mempunyai kemampuan musikal. Yang sering terjadi adalah kemampuan itu tidak dikembangkan.” &lt;br /&gt;Kendala eksternal yang lain muncul dari kurikulum pendidikan formal di Indonesia. Kurikulum pendidikan formal untuk pelajaran seni musik hanya memberikan porsi jam pelajaran yang sedikit yaitu antara dua sampai empat ( 2-4) jam pelajaran tiap minggunya. Hal ini diungkapkan oleh seorang guru SD Bantul IV, DIY, bernama Drs. Suharyana . Ia memandang bahwa SD adalah alternatif wadah bagi pengembangan unsur-unsur kejiwaan anak dan memberikan dasar yang kokoh untuk pengembangan di tingkat yang lebih tinggi. Namun sangat disayangkan karena pelajaran kesenian sepertinya ‘dianaktirikan’ oleh kurikulum pendidikan kita. Sementara itu, pelajaran yang dianggap penting dan elit hanyalah PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS. Padahal dari sekian banyak uraian yang telah diungkapkan oleh penulis, terbukti bahwa pendidikan musik tidak kalah pentingnya dengan pelajaran-pelajaran ‘elit’ itu. &lt;br /&gt;Dari segi profesionalisme pendidik, kita pun (baca: bangsa Indonesia) kekurangan guru yang benar-benar ahli serta mampu dalam bidang musik. Hasilnya, guru-guru terutama di tingkat SD sering mengalami kesulitan dalam mengajarkan teori dan memberi contoh praktek instrumen musik.    &lt;br /&gt;Sementara itu, pengadaan fasilitas yang menunjang pendidikan musik di Indonesia pun tidak gampang. Dalam hal ini, perlu diakui bahwa masalahnya adalah masalah finansial; kita (baca: bangsa Indonesia) tidak mampu untuk mengadakan fasilitas-fasilitas secara merata di seluruh tanah air ini. Apalagi sekarang kita masih berada di tengah-tengah krisis ekonomi. Contoh fasilitas yang menjunjang pendidikan musik kita adalah instrumen musik itu sendiri, universitas-universitas kesenian, sekolah-sekolah menengah musik, gedung konser, gedung opera, buku-buku teori maupun praktek musik dan sebagainya. &lt;br /&gt;Namun pemerintah harus tetap concern terhadap pendidikan musik Indonesia. Banyak bangsa-bangsa maju dan berkembang pesat berawal dari pendidikan musik yang baik. Dan Indonesia pun sudah pasti akan mengalami nasib yang sama jika tidak meremehkan pendidikan musik. Karena itu, walaupun sedikit demi sedikit, namun pemerintah harus tetap membangun fasilitas-fasilitas yang menunjang pendidikan musik Indonesia. Dalam bidang kurikulum, pemerintah pun seharusnya memperbaiki kurikulum yang ada dan menambah jam pelajaran seni musik. Selain itu, pemerintah juga harus meningkatkan profesionalisme guru-guru dalam bidang musik, mungkin dengan mengadakan pelatihan-pelatihan. Ada pepatah berkata ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ maka jika gurunya tidak menguasai seni musik, apa yang mau diharapkan dari muridnya. Selain itu, untuk memacu minat anak-anak serta muda-mudi dalam bidang musik, baik jika banyak diadakan lomba-lomba serta festival-festival bertemakan musik. Ini cuma sekedar harapan bagai setetes air ditengah teriknya gelombang modernisasi.&lt;br /&gt;Mungkin masih ada kendala-kendala lain dalam bidang musik, namun semoga kendala-kendala yang diungkapkan penulis tadi cukup mewakili dari sekian banyak kendala-kendala yang terus menghalangi pendidikan musik Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 6&lt;br /&gt;Kesimpulan dan Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan, penulis sekali lagi mau menekankan pendidikan musik sebagai peningkat sumber daya manusia. Yang pertama dari segi kualitas kecerdasan manusia-manusia hasil dari pendidikan musik yang tinggi, terbukti bahwa pendidikan musik sangatlah penting. Sebab musik dapat menyeimbangkan otak kanan serta otak kiri manusia (lih. Bab 2).  Kemudian pendidikan musik juga menghasilkan manusia yang memiliki kepribadian yang berkualitas. Kembali dibuktikan bahwa pendidikan musik sangatlah penting. &lt;br /&gt;Manusia yang cerdas dan memiliki kepribadian yang baik, itulah cerminan manusia-manusia dari bangsa-bangsa yang sudah berhasil dalam mengembangkan sumber daya manusianya. Kombinasi dari kecerdasan yang tinggi serta kepribadian yang baik merupakan kata kunci dari sumber daya manusia yang unggul. Apakah bangsa Indonesia sudah mencapainya? Perlu diakui bahwa bangsa Indonesia belum mencapai sumber daya manusia yang unggul. Dari uraian pada bab-bab sebelumnya dan kesimpulan diatas, terbukti bahwa pendidikan musik dapat meningkatkan sumber daya manusia. Bahkan bangsa-bangsa yang maju bisa berkembang pesat berawal dari pendidikan musik yang baik. Maka kita (baca: bangsa Indonesia) pun perlu melangkah ke depan dengan bertitik tolak dari pendidikan musik yang baik. Sehingga pada akhirnya, kita bisa bisa menjadi bangsa dengan sumber daya manusia yang unggul yaitu generasi yang cerdas serta berkepribadian yang baik. &lt;br /&gt;Akhir kata, penulis mengucapkan terimakasih atas semua pihak yang telah membantu penulis sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Juga terimakasih kepada para pembaca yang telah memberikan perhatiannya yang begitu besar terhadap makalah ini. Penulis juga ingin menyampaikan permohonan maaf atas ketidaksengajaan yang dilakukan oleh penulis yang mungkin terdapat dalam makalah ini. Atas perhatiannya penulis sekali lagi mengucapkan banyak terimakasih. Viva music!   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar pustaka:&lt;br /&gt;Parto, Suhardjo, 1996, Musik Seni Barat dan Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar&lt;br /&gt;Theo, Donum, 1996, Sebuah Karya Tulis:Musik sebagai Peningkat Kecerdasan Anak, Magelang: Seminari Menengah St. Petrus Kanisius - Mertoyudan&lt;br /&gt;Howard, John Tasker dan Lyons, James, 1962, Modern Music, Chicago&lt;br /&gt;Paap, Wouter, 1923, Manusia dan Musik, Jakarta: Balai Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahku tercinta yang sedang direnovasi,&lt;br /&gt;Jakarta, 24 October 2000&lt;br /&gt;Penulis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188884078413587?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://krisnaster.blogspot.com/feeds/113188884078413587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15059325&amp;postID=113188884078413587' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188884078413587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188884078413587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.com/2001/02/musik-meningkatkan-kualitas-sumber.html' title='Musik Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia'/><author><name>krisnamurti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14484279311221915071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15059325.post-113188776088241107</id><published>2001-02-01T05:15:00.000-08:00</published><updated>2005-11-13T05:16:00.943-08:00</updated><title type='text'>MAMPUKAH UMAT KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA BERJALAN BERSAMA?</title><content type='html'>(Sebuah telaah kritis atas konsep komunitas basis di KAJ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab I Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Pada tanggal 1-5 November 2000 lalu, umat Katolik di Indonesia mengadakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI). Sidang Agung itu mencetuskan suatu cara menggereja pada masa mendatang, yaitu: komunitas basis. Komunitas basis pun dapat kita sebut sebagai paguyuban, suatu kata yang sering sekali diungkapkan oleh Mgr. Suharyo, Pr. Ide komunitas basis sebenarnya merupakan manifestasi dari ide Romo (alm.) Mangunwijaya, Pr. yang dicurahkan lewat bukunya: Gereja Diaspora. &lt;br /&gt;Lewat komunitas basis itu, terjadi perubahan dalam pola pastoral, dari yang berpusat pada paroki menjadi berpusat pada komunitas basis. Jadi pastorsentris dan ketergantungan pada hierarki akan dikurangi, sementara itu, awam akam mendapat porsi yang lebih besar. Itu sebabnya awam haruslah mandiri dan tidak tergantung pada hierarki. Awam, sebagai unsur mayoritas dalam Gereja Katolik haruslah bergotongroyong untuk membangun dan melestarikan Gereja di masa mendatang. Tanpa gotongroyong, awam akan terpecah-pecah dan bagaimana nasib Gereja di masa depan?&lt;br /&gt;Kali ini, Penulis akan membatasi ruang lingkup pembahasan makalah ini dalam batasan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). KAJ mempunyai daerah gembalaan meliputi Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Dengan melihat daerah gembalaan itu, kita mengerti bahwa KAJ memiliki tantangan yang berat dalam menggembalakan umatnya. Hal itu disebabkan karena daerah Jatabek (Jakarta, Tangerang dan Bekasi) merupakan suatu daerah perkotaan besar, alias megapolitan. &lt;br /&gt;Dalam hal ini, Penulis merumuskan bahwa KAJ punya tiga tantangan yang berat, yaitu rasa individualis, heterogensi, profanisme. Kita tahu bahwa komunitas basis yang nantinya amat memerlukan suatu gotong royong dari pihak awam. Jadi, gotong royong merupakan suatu manifestasi dari konsep komunitas basis.Padahal di sisi lain, ada tiga roh jahat yang dapat merusak kesadaran untuk bergotong royong.  Bahkan secara umum, komunitas basis belum terwujud di KAJ. Walaupun dengan tantangan semacam itu, KAJ, mau tidak mau, tetap punya misi untuk mensukseskan komunitas basis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;Berpijak dari kondisi dan tantangan KAJ untuk mewujudkan komunitas basis, Penulis ingin melihat lebih jauh tentang permasalahan yang kompleks ini. Dapatkah komunitas basis sudah terwujud di KAJ? Lalu, dari situ, Penulis akan mengutarakan ide-ide penulis dalam kerangka utama gotong royong supaya komunitas basis atau paguyuban yang telah lama diidam-idamkan Rm. Mangun dapat tercipta di keuskupan megapolitan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Metode Penulisan&lt;br /&gt;Dalam rangka memperdalam dan membahas lebih lanjut permasalahan ini, Penulis menggunakan metode kepustakaan sebagai pondasi teoritis maupun empiris. Data-data diambil dari artikel-artikel dan buku-buku referensi yang mendukung. Selain itu, Penulis juga melakukan observasi lingkungan dan refleksi empiris pada kehidupan di Jakarta dan sekitarnya. Selanjutnya, dari data-data yang ada, baik teoritis maupun empiris, baik dari referensi maupun hasil obeservasi, ditambah dengan pengetahuan umum serta ide-ide Penulis, Penulis melakukan kompilasi dan cross check.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. Sistematika Penulisan&lt;br /&gt;Makalah ini dibagi menjadi lima bab. Pembagiannya yaitu:&lt;br /&gt;Bab 1 : Pendahuluan&lt;br /&gt;Bab 2 : Gotong Royong sebagai Manifestasi Komunitas Basis&lt;br /&gt;Bab 3 : Kehidupan Menggereja di Ibukota Tantangan yang Menghadang&lt;br /&gt;Bab 4 : Langkah ke Depan&lt;br /&gt;Bab 5 : Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 2 Gotong Royong sebagai Manifestasi Komunitas Basis di KAJ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuk pada inti masalah, kita perlu mendalami apa yang mau kita bicarakan. Ada tiga hal yang penting dalam pembahasan makalah ini, yaitu: gotong royong, komunitas basis, dan sisi negatif kehidupan Jatabek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Gotong royong &lt;br /&gt;Pertama-tama, kita akan melihat pengertian gotong royong dari beberapa referensi yang didapat oleh Penulis. &lt;br /&gt;1. menurut Ensiklopedi Nasional, gotong royong berasal dari bahasa Jawa; artinya suatu aktifitas mewujudkan kerja sama, bersifat tolong menolong, saling membalas karena membutuhkan antar sesama warga suatu masyarakat.&lt;br /&gt;2. menurut DEPDIKBUD dalam Pedoman Penataran P4, kegotongroyongan adalah prinsip kerjasama, saling membantu untuk kepentingan bersama.&lt;br /&gt;3. menurut C.S.T. Kansil, gotong royong berasal dari bahasa jawa. Gotong berarti bersama-sama membawa suatu barang yang berat. Royong berarti membagi hasil kerja secara adil, sesuai dengan besarnya sumbangan yang diberikan. Jadi gotong royong memiliki dua pengertian yaitu bekerja bersama-sama, terutama pekerjaan yang berat yang sulit dikerjakan seorang diri, dan bersama-sama pula menikmati hasil perkerjaannya secara adil.  &lt;br /&gt;4. menurut DEPDIKBUD dalam PPKN untuk siswa kelas 1 SMU, gotong royong dapat bisa diartikan bekerja tanpa pamrih untuk menyelesaikan tugas yang hasilnya pun dapat dirasakan oleh semua orang yang ikut dalam kegiatan tersebut. &lt;br /&gt;Gotong royong dapat kita pandang sebagai suatu sistem nilai yang melatarbelakangi suatu kebiasaan untuk saling tolong menolong. Semangat gotong royong itu didorong oleh pandangan tertentu:&lt;br /&gt;1. Manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup bersama dengan orang atau lingkungan sosial lainnya. &lt;br /&gt;2. Pada dasarnya, manusia itu bergantung pada orang lain. &lt;br /&gt;3. Karena itu, manusia perlu menjaga hubungan baik dengan sesamanya dalam suasana persaudaraan. &lt;br /&gt;Bagi bangsa Indonesia, gotong royong seharusnya bukanlah sesuatu yang asing. Sebaliknya, sebagai sebuah bangsa timur yang memiliki ciri masyarakat yang bersifat kekeluargaan, gotong royong adalah suatu nilai yang sudah diwarisi dari dahulu. Hanya saja, dengan adanya berbagai pengaruh dari luar, nilai yang mulia itu semakin lama semakin tererosi, seiring dengan berjalannya sang kala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Komunitas Basis &lt;br /&gt;Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 1-5 November 2000 lalu telah menciptakan suatu konsep kehidupan menggereja di masa mendatang yaitu komunitas basis. Komunitas basis yang dicetuskan dalam SAGKI itu akan merubah kehidupan menggereja Indonesia dari wajah sebuah institusi kepada sebuah gerakan. Dari wajah klerikal kepada kebersamaan. Dari wajah patriarkal kepada kesamaan gender. Dari gereja piramidal kepada gereja dialogal. Dalam komunitas basis akan diwarnai dengan semangat mendengarkan (listening), saling menetahui (knowing), mempedulikan (caring), berbagi (sharing), dan kasih (loving). &lt;br /&gt;Dari situ, Penulis menyimpulkan bahwa komunitas basis dapat dimanifestasikan secara nyata dengan semangat gotong royong, sebab gotong royong sendiri memiliki nilai-nilai yang sama dengan konsep komunitas basis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3. Sisi Gelap Kehidupan di Ibukota&lt;br /&gt;Kehidupan kota megapolitan seperti Jakarta adalah kehidupan dengan tingkat heterogensi yang tinggi. Keadaan semacam itu mengakibatkan adanya kesenjangan antara yang miskin dengan yang kaya. Itu menyebabkan Jakarta memiliki potensi konflik yang tinggi. Hasilnya, warga ibukota secara umum boleh dikatakan memiliki rasa gotong royong yang rendah, dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. &lt;br /&gt;Kini, permasalahan itu bertambah parah seiring dengan berlangsungnya krisis moneter di Indonesia yang telah berlangsung kira-kira 4 tahun. Dengan krisis tersebut, ribuan orang kehilangan lapangan pekerjaan dan biaya hidup pun meningkat pesat. Sekarang orang berpikir lebih baik menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu, dari pada menyelamatkan orang lain. Jadi rasa individualis di Jatabek pun semakin besar pula. &lt;br /&gt;Lepas dari itu, kehidupan gelap kota Jakarta pun kian mengganas. Pencurian, pemerkosaan, perampokan, penganiayaan, pembunuhan, rasanya sudah terlalu sering masuk dalam media-media massa. Adalah suatu rekor dunia bila suatu hari, tidak ada tindak kriminalitas. Para kupu-kupu malam di kawasan HI atau Taman Suropati pun terus melakukan pekerjaannya. &lt;br /&gt;Di kalangan remaja, sudah mulai marak yang namanya durgs dan free sex. Bahkan di kalangan remaja Jakarta pun sudah muncul generasi muncul jeunesse d’ore (baca: generasi muda emas). Mereka adalah anak-anak pejabat dan kalangan atas lainnya. Generasi muda seperti ini adalah generasi muda yang manja dan tidak bisa menyumbang apa-apa bagi bangsanya. Hal itu pernah diungakapkan oleh Rm. Magnis Suseno (Kompas, 28 Oktober 1996). Generasi muda seperti ini juga bisa disebut sebagai kaum borjuis-nya Jakarta. &lt;br /&gt;Kesemuanya menambah marak permasalahan yang berseliweran di sela-sela hutan beton itu. Kehidupan menggereja di KAJ pun ikut terkena imbas, mau tidak mau. Hal itu disebabkan karena umat KAJ juga warga Jatabek. Mampukah KAJ mewujudkan komunitas basis di daerah operasinya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 3 Kehidupan Menggereja di Ibukota dan Tantangan yang Menghadang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis merumuskan tiga masalah yang dapat menghalangai terwujudnya komunitas basis dalam KAJ. KAJ punya tiga tantangan yang berat, yaitu rasa individualis, heterogensi, profanisme. Ketiganya saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. &lt;br /&gt;Ciri dari masyarakat kota – apalagi megapolitan – adalah individualis. Apalagi dengan adanya krisis moneter dalam time frame 4 tahun terakhir yang berakibat pada kenaikan harga, PHK, naiknya biaya hidup, dsb., masing-masing orang lebih memilih ‘menyelamatkan dirinya sendiri’ terlebih dahulu. &lt;br /&gt;Selain itu, kehidupan kota adalah kehidupan yang penuh dengan heterogensi. Dari orang dengan pendidikan rendah, bahkan tidak bersekolah, sampai pada yang berpendidikan tinggi dengan gelar P.hd, ada. Dari yang memiliki beberapa rumah mewah, plus villa-villa dengan beberapa mobil mewah eropa sampai yang hanya beratapkan kardus, di tepi sungai, hanya ditemani oleh lalat-lalat; dari yang berkantor di sebuah pencakar langit sampai kuli-kuli bangunan pun ada. Dari suku bangsa pribumi, blasteran, sampai eropean, african, ada. Dari Dari pluralisme yang ada itu, kehidupan kota erat dengan yang namanya kesenjangan, baik itu secara sosial, ras, ekonomi, agama. &lt;br /&gt;Lepas dari itu semua, sejak Perang Dingin berakhir dengan runtuhnya tembok komunis dan sosialis, Amerika Serikat sebagai negara adidaya yang tunggal mencetuskan sebuah konsep yang berdasarkan pada liberalisme dan kapitalis. Konsep itu tak lain dan tak bukan adalah globalisasi. Selanjutnya Amerika Serikat mengampanyekan konsep globalisasi dengan perwujudan HAM, kemerdekaan, dan ekonomi liberal sebagai sasaran utamanya. Tujuannya memang baik, namun hasilnya, globalisasi yang terjadi di seluruh dunia malah menambah parah orang-orang yang menderita di muka bumi ini. Pada tahun 1800, 74 % penduduk dunia  terkategori miskin dan hanya menikmati 44 % GDP dunia. Pada tahun 1995, keadaan bertambah parah. Jumlah penduduk dunia yang miskin malah mencapai 80 % dan mereka hanya menikmati 20 % GDP dunia. Sisanya, 20 % penduduk dunia yang kaya menikmati 80 % dari GDP dunia. Di sisi lain, proses yang masih berjalan itu juga membawa akibat yang tidak diinginkan bagi kehidupan bermasyarakat. Akibat itu adalah erosi munculnya perilaku-perilaku berciri profanisme; seperti konsumeris, hedonis, konformis dan apatis. Itu disababkan karena globalisasi membawa kita dalam borderless world (dunia tanpa batas) dengan information superhighway (informasi super cepat). Nah, di daerah Jatabek, sebagai daerah perkotaan modern, arus globalisasi dapat masuk dengan cepat dan mudah. Bahkan sikap-sikap yang bercirikan profanisme itu tadi pun melanda umat katolik di KAJ.&lt;br /&gt;Mau tidak mau, kehidupan menggereja di KAJ pun ikut terkena imbas masalah-masalah tersebut. Hal itu disebabkan karena umat KAJ juga warga Jatabek dan terlibat dalam interaksi sosial, budaya, ekonomi yang ada di Jakarta sendiri. Paulus Wirutomo, Ph.D. , seorang sosiolog berpendapat bahwa kehidupan beragama umat Katolik KAJ sudah menjadi kolompok yang minimalis dengan hanya mengikuti rutinitas yang formal. Jadi tidak bisa berinteraksi secara akrab dan intim. Kegiatan tingkat lingkungan maupun kategorial yang dilakukan gereja tidak menciptakan mekanisme interaksi yang efektif. Hasilnya, umat Katolik menajadi atomistik atau tidak mempunyai ikatan sehingga tidak terdorong untuk melakukan aksi-aksi bersama, termasuk membantu yang miskin. Bahkan tidak peduli lagi pada persoalan kemasyarakatan. Pada intinya, selama ini, umat berjalan sendiri-sendiri dan tidak menghadapi persoalan yang dihadapi, nervous.  &lt;br /&gt;Berikut ini, adalah pandangan Rm. Mangunwijaya tentang ciri Gereja metropolis. &lt;br /&gt;1. Komunitas amat heterogen. Wilayah orang Katolik minoritas kecil; serba tersebar dan terpencar. &lt;br /&gt;2. Umat di kota (urban) serba berjiwa terbuka dengan orang-orang yang serba berpindah, bermobilitas tinggi.&lt;br /&gt;3. Keluarga-keluarga serba terpencar, tercerai-berai, pergi ke tempat kerja yang terletak jauh, sekolah atau tugas-tugas lain yang saling memisahkan.  Ayah-ibu,  anak-anak hidup sendiri-sendiri dalam dunia mereka masing-masing; bahkan sering terpisah cukup lama. &lt;br /&gt;4. Umat kurang/tidak saling mengenal karena lapangan kerja, fungsi sosial, serta tempat rekreasi bertempat berjarak jauh; mengikuti aturan kantor, sekolah, instansi, perusahaan, selera pribadi, dsb yang bersifat non atau trans-teritorial. &lt;br /&gt;5. Umat berbudaya kota industrial/pasca-industrial yang sewaktu-waktu dapat berubah tugas. Kebanyakan orang terpaksa mengikuti instansi/perusahaan yang serba dinamis geraknya, dan karena itu, tidak pernah dapat diramal pasti arah dan modus operasionalnya. &lt;br /&gt;6. Dunia orang tua dan muda amat berselisih. Generasi muda tumbuh tanpa adat , tradisi, tanpa sopan santun, hari depan serba tidak jelas dan serba dicari; dicoba sendiri, entah apa jadinya nanti. &lt;br /&gt;7. Kaitan dengan hidup paroki tidak jelas karena batas-batas teritorium gereja tidak cocok lagi dengan lapangan kerja, fungsi sosial, fungsi fungsional, serta hubungan-hubungan pergaulan. Orang berganti-ganti memilih pastor pendamping yang cocok dan dianggap mampu memberi bekal rohani yang relevan; atau sama sekali lepas hubungan dari paroki dengan pastornya; kecuali bila terpaksa; demi ritus perkawinan yang sah, misalnya. Gereja yang dihayati real dicari dimana-mana, dicocokkan dengan fungsi dalam kehidupan modern yang real ia jalani. &lt;br /&gt;8. Yang penting ialah pelayanan fungsional yang mengikut acara-acara kantor, instansi, sekolah, organisasi sosial, politik, bisnis, dst. &lt;br /&gt;9. Yang diperhatikan ialah hidup manusiawi adil beradab. Itulah syarat tanah tumbuh yang baik bagi pengembangan iman, harapan, cinta kasih kristiani di tengah lingkungan yang mayoritas non-kristiani.&lt;br /&gt;10. Iman, harapan, dan cinta kasih kristiani yang serba melayani, itulah kunci keselamatan. Kerajaan Tuhanlah tujuan nomor satu, sedangkan Gereja hanyalah abdipunakawan Kerajaan Allah, tetapi abdi yang khas dan yang punya panggilan yang khusus. Yang dijaga: ortopraksis, yakni benarnya praktek kehidupan nyata yang beriman sesuai dengan hukum tertinggi: cinta kasih kristiani. &lt;br /&gt;11. Misioner berarti mewartakan dan menjalankan sikap-sikap dasar serta amanat cinta kasih Yesus Kristus, dengan menjadi pengikut setia dalam jalan salib Yesus demi kebangkitan kehidupan manusia baru secara kristiani; yang bermuara dalam perjuangan demi realisasi Kerajaan Tuhan dalam diri perorangan sendiri maupun masyarakat dan negara. &lt;br /&gt;12. Teladan utama dan simbol Gereja misioner di Asia khususnya di Indonesia ialah St. Theresia kecil dan banyak santo dan santa lain yang relevan situasional untuk peristiwa tertentu seperti Fransiskus Asisi, Vincentius, atau Mother Theresa di Calcuta; bahkan tokoh-tokoh emas dari agama lain seperti Mahatma Ghandi, Marten Luther King. Disesuaikan dengan fungsi dan situasi orang perorang atau kebutuhan masyarakat. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dengan melihat penjelasan diatas, dapat dimengerti bahwa perwujudan komunitas basis di KAJ tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Maka, dengan bertitik tolak dari keprihatinan diatas, sudah sangatlah tepat dicetuskannya komunitas basis sebagai solusi. Dan manifestasi dari komunitas basis yang dapat dilakukan secara nyata dan jelas adalah gotong royong. Maka sekarang, bagaimana mewujudkan gotong royong dalam kehidupan umat Katolik KAJ pada khususnya dan warga Jatabek pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 4 Langkah ke Depan&lt;br /&gt;Dalam membangun gotong royong sebagai manifestasi nyata komunitas basis, Penulis merumuskan beberapa solusi sebagai follow-up dari permasalahan ini. &lt;br /&gt;A. Mengedepankan peran awam&lt;br /&gt;Solusi ini sangatlah mencerminkan konsep komunitas basis Gereja Katolik. Awam dalam konsep komunitas basis adalah awam yang mandiri dan tidak tergantung pada kebijakan dan keputusan hierarki. Dalam hal ini, kaum awam harus semakin menyadari panggilan babtisannya dengan ikut ambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja (LG art. 31). Kaum awam juga harus bisa mengembangkan dirinya baik dalam kehidupan spiritualnya maupun dalam kehidupan pastoral, secara mandiri.  &lt;br /&gt;Selain itu, Gereja harus mencoba mengakomodasikan kelompok-kelompok kategorial yang mencipkatan mekanisme interaksi yang efektif. Hal ini perlu karena melihat kehidupan umat KAJ yang heterogen. Dalam kelompok-kelompok tersebut perlu ditanamkan jiwa komunitas basis yaitu: mendengarkan (listening), saling menetahui (knowing), mempedulikan (caring), berbagi (sharing), dan kasih (loving). Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang sesuai dan mendukung, misalnya, rekoleksi, aksi peduli pada korban bencana, dsb. Kiranya yang sangat urgen untuk ditekankan adalah masalah kepedulian; dengan melihat kenyataan-kenyataan bahwa banyak saudara-saudara kita yang kesulitan dan butuh bantuan kita. &lt;br /&gt;B. Keluarga sebagai ecclesia domestica&lt;br /&gt;Pemberdayaan fungsi keluarga juga menjadi hal yang esensial dalam mengusahakan komunitas basis. Keluarga memanglah unit Gereja yang paling kecil, tetapi keluarga merupakan unsur terpenting yang handal dan menentukan. Dalam keluarga ditumbuhkan semangat kebersamaan, kasih, penghormatan atas martabat pribadi dan solidaritas. Nilai-nilai tersebut akan terpancar keluar, ke masyarakat lokal di mana keluarga tersebut tinggal, dan masyarakta profesional/kategorial di mana keluarga tersebut berkiprah.&lt;br /&gt;C. Pimpinan yang memberi inspirasi&lt;br /&gt;Dalam permasalahan ini, peran hierarki pun diperlukan.  Hierarki, sebagai pemimpin gereja, harus memberikan inspirasi, bagaimana kita harus bersikap dalam menghadapi persoalan di tengah masyarakat. Umat bisa saja tahu masalah sosial dari media massa, tapi tidak tahu harus berbuat apa sebgai seorang Katolik. Yang terpenting, secara proporsional umat tahu masalahnya, tahu tantangan yang dihadapi bersama.&lt;br /&gt;Hierarki juga harus mengembangkan dan membudayakan dialog di kalangan Gereja. Selain itu, Hierarki pun harus mendukung, mendampingi, dan memfasilitasi para awam, penggerak komunitas basis. &lt;br /&gt;Itulah kiranya yang bisa dilakukan Gereja KAJ dalam mengusahakan Komunitas Basis di Jatabek. Dan itu tidaklah mudah dan membutuhkan suatu gerak bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 4 Kesimpulan&lt;br /&gt;Konsep komunitas basis memang merupakan ide yang briliyan, apalagi sangatlah tepat untuk diberlakukan dalam kondisi Gereja masa kini dan masa depan, di mana sudah banyak terjadi erosi-erosi nilai baik dalam hidup sosial maupun beragama. Di sisi lain, banyak sekali pengaruh-pengaruh negatif yang memenetrasi dalam kehidupan Gereja. Tantangan itu bertambah berat pada Gereja-Gereja yang umatnya adalah suatu komunitas urban (perkotaan), misalnya KAJ. Penulis merumuskan adanya tiga tantangan besar yang harus dihadapi KAJ dalam melaksanakan komunitas basis, yaitu: individualisme, profanisme, dan heterogensi.  &lt;br /&gt;Berpangkal dari keprihatinan itu, jelaslah sudah urgensi pelaksanaan komunitas basis dalam kehidupan KAJ. Maka Penulis juga telah merumuskan tiga langkah kedepan untuk mewujudkan komunitas basis dalam Gereja KAJ walau dengan keadaan sedemikian itu juga, yaitu: peran kaum awam, peran keluarga, dan peran hierarki. &lt;br /&gt;Memang lebih mudah bicara dari pada melaksanakannya. Namun ingatlah bahwa “rahmat Tuhan cukup bagimu!” Karenanya, marilah kita membangun Komunitas Basis dengan semangat gotong royong bermula dari komunitas kita sendiri. Per ecclesiam pro patria!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus Hijauku yang kurindu slalu,&lt;br /&gt;Mertoyudan, 27 Januari 2001,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi: &lt;br /&gt;Bobby, A, Pr., 1998, Harus Ada Pegangan untuk Umat, HIDUP no.4 25 Januari 1998&lt;br /&gt;Beding, Bona, 2000, Kerinduan Yang Tak Bertepi!!!, HIDUP no. 48, 26 November 2000&lt;br /&gt;Benediktus, 1998, “Pimpinan Gereja Harus Beri Inspirasi”, HIDUP no.4 25 Januari 1998&lt;br /&gt;Bintarto, R., Prof. Drs., 1983,  Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya, Ghalia Indonesia, Jakarta&lt;br /&gt;DEPDIKBUD, 1994, Pendidikan Pancasila dan KewarganegaraanSLTA, DEPDIKBUD, Jakarta&lt;br /&gt;DEPDIKBUD, 1992, Bahan Penataran P4 Bagi Siswa SLTP  dan SLTA, DEPDIKBUD, Jakarta&lt;br /&gt;Daldjoeni, Drs., dan Sastrosupomo, M. Suprihadi, Drs., 1981, Benturan Nilai dalam Kemajuan, Alumni, Bandung &lt;br /&gt;Hauser, Philip M. dan Gardner, Robert W. dan Laquian, Aprodicio A. dan El-Shakhs, Salah, 1985, Penduduk dan Masa Depan Perkotaan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta&lt;br /&gt;Poespowardojo, Soerjanto, Parera, Frans M., Pendidikan Wawasan Kebangsaan, Grasindo, Jakarta 1994&lt;br /&gt;Jemadu, Aleksius,”Globalisasi: Antara Tantangan dan Peluang”, KOMPAS, 12 Desember 2000, hal 4-5&lt;br /&gt;Kansil, C.S.T., 1994, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Erlangga, Jakarta&lt;br /&gt;Luhulina, C.P.F., “Globalisasi dan Demokrasi Indonesia”, KOMPAS, 20 Desember 2000, hal 68 &lt;br /&gt;Mangunwijaya, Pr, 2000, Gereja Diaspora, Kanisius, Yogyakarta&lt;br /&gt;Monteiro, Edmond, 1998, Panggilan Gereja KAJ, HIDUP no.4 25 Januari 1998&lt;br /&gt;Marsidi, Sylvia, 2000, Menyelisik Komunitas Basis, HIDUP no. 48, 26 November 2000&lt;br /&gt;Puramdari, Chatarina, 1998, Menggereja di Ibukota Makin Berat, HIDUP no.4 25 Januari 1998&lt;br /&gt;Puramdari, Chatarina dan W, Benediktus, 1998, Bersama Melihat dan Berbuat, HIDUP no.4 25 Januari 1998&lt;br /&gt;Redaksi HIDUP, 2000, Akhirilah Konflik-Konflik Berdarah,  HIDUP no. 46 12 November 2000&lt;br /&gt;Redaksi HIDUP, 2000, Rangkuman Hasil Sidang Agung Gereja Katolik tahun 2000, HIDUP no. 46 12 November 2000&lt;br /&gt;Redaksi HIDUP, 2000, Dambakan Pembaruan Kehidupan Berbangsa, HIDUP no. 46 12 November 2000&lt;br /&gt;Redaksi HIDUP, 2000, KWI Bertekad Kembangkan Komunitas Basis, HIDUP no. 47 19 November 2000&lt;br /&gt;Redaksi HIDUP, 2000, Refleksi Perjalanan KWI, HIDUP no. 47 19 November 2000&lt;br /&gt;Redaksi HIDUP, 2000, Sudahkah Umat KAJ Berjalan Bersama?, HIDUP no. 49, 3 Desember 2000&lt;br /&gt;Sanit, Arbi (editor), 1983, Strategi Pembangunan yang Berawal dari Desa, Universitas Nasional, Jakarta&lt;br /&gt;Siagia, F. Sihol, 2000, Agar Mutiara itu Tidak Hilang Begitu Saja, HIDUP no. 48, 26 November 2000&lt;br /&gt;Siahaan, F. Sihol, 2000, Menunggu Nabi “Yunus” Dimuntahkan Dari…, HIDUP no. 46 12 November 2000&lt;br /&gt;Sumarjono, Anton, 1998, Dinamika Umat KAJ,  HIDUP no.4 25 Januari 1998&lt;br /&gt;Suharto, A. Sandiwan, 2000, Komunitas Basis, Suatu Cara Menggereja Mendatang, HIDUP no. 47 19 November 2000&lt;br /&gt;Tim Wartawan Panitia SAGKI, 2000, Ketika Lentera Damai itu Telah Padam!!!, HIDUP no. 46 12 November 2000&lt;br /&gt;**********&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15059325-113188776088241107?l=krisnaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188776088241107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15059325/posts/default/113188776088241107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://krisnaster.blogspot.c
